{"id":5800,"date":"2025-03-19T09:21:05","date_gmt":"2025-03-19T02:21:05","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=5800"},"modified":"2025-03-19T09:21:05","modified_gmt":"2025-03-19T02:21:05","slug":"faktor-manusia-jadi-penentu-bencana-alam-ctis-bahas-peran-penting-teknologi-dan-inovasi-dalam-kebencanaan-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/faktor-manusia-jadi-penentu-bencana-alam-ctis-bahas-peran-penting-teknologi-dan-inovasi-dalam-kebencanaan-2\/","title":{"rendered":"Faktor Manusia Jadi Penentu Bencana Alam, CTIS Bahas Peran Penting Teknologi dan Inovasi Dalam Kebencanaan"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\">Ahli Kebencanaan\u00a0 dari Center for Environmental Disaster Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER), Universitas Indonesia Profesor Jan Sopaheluwakan\u00a0 menegaskan bahwa bencana terjadi karena ulah manusia, karena faktor manusia dan kebijakan yang dibuat oleh manusia sendiri.<\/p>\n<p class=\"p1\">Demikian dipaparkan oleh Profesor Jan Sopaheluwakan pada pada pertemuan Center For Technology &amp; Innovation Studies (CTIS), di Jakarta, Rabu 21 Juni 2023.<\/p>\n<p class=\"p1\">Dia menjelaskan bencana karena faktor alam itu tidak ada.\u00a0 Bila terjadi erupsi gunung api di wilayah tanpa penduduk bukanlah sebuah bencana, longsor di tengah hutan lebat tanpa penduduk juga bukan bencana, gempa bumi dan tsunami di pulau terpencil tanpa penduduk juga bukan bencana.<\/p>\n<p class=\"p1\">Namun bila banjir menerjang ibukota Jakarta akibat limpahan air sungai kiriman dari Bogor yang disebabkan manusia membangun vila-vila di Puncak, Bogor sehingga volume air hujan yang diserap tanah lebih kecil dibanding air yang mengalir ke sungai maka itu adalah bencana banjir, kata Profesor Jan Sopaheluwakan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5802\" aria-describedby=\"caption-attachment-5802\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5802 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/17419040927442-1024x768.jpeg\" alt=\"\" width=\"580\" height=\"435\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/17419040927442-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/17419040927442-300x225.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/17419040927442-768x576.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/17419040927442-16x12.jpeg 16w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/17419040927442.jpeg 1040w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5802\" class=\"wp-caption-text\">Apabila semua kegiatan umat manusia selalu memperhitungkan faktor\u00a0 \u201crisiko\u201d,\u00a0 maka bencana dapat dimitigasi hingga sekecil mungkin. (Dok BNPB)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Begitu pula, kegiatan\u00a0 pembalakan kayu di hutan tanpa mengikuti aturan, juga eksploitasi penambangan batubara secara serampangan bisa mengakibatkan bencana tanah longsor dan banjir.<\/p>\n<p class=\"p1\">Walaupun ada keuntungan ekonomi disitu. Penegasan Profesor Jan Sopaheluwakan ditanggapi oleh Sekretaris CTIS, Dr. Andi Eka Sakya, mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang menggaris-bawahi pernyataan Utusan Khusus Sekjen PBB Mami Mizutori bahwa bencana alam itu tidak ada.<\/p>\n<p class=\"p1\">Yang ada adalah bencana yang berdampak pada manusia, pada sosial-ekonomi masyarakat.\u00a0 Oleh sebab itu, Program PBB \u201cDecade for Natural Disaster Risk Reduction\u201d telah diubah menjadi \u201cDecade for Disaster Risk Reduction\u201d.\u00a0 Profesor Jan Sopaheluwakan juga menyampaikan bahwa Bencana memang bisa membawa \u201cRisiko\u201d namun juga memberikan \u201cRezeki\u201d.\u00a0 Ini seperti kutipan Alquran Surat Al Insyirah Ayat 94 (5-6) yang berbunyi \u201cBersama kesulitan pasti ada kemudahan\u201d.<\/p>\n<p class=\"p1\">Dia menjelaskan Apabila semua kegiatan umat manusia selalu memperhitungkan faktor\u00a0 \u201crisiko\u201d,\u00a0 maka bencana dapat dimitigasi hingga sekecil mungkin, lalu tingkat ketahanan terhadap bencana di masyarakat muncul, bahkan bisa memberikan \u201crezeki\u201d kepada pelakunya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5801\" aria-describedby=\"caption-attachment-5801\" style=\"width: 703px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5801 size-full\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3152262063.webp\" alt=\"bencana alam tidak ada tetapi adanya bencana yang menyebabkan dampak sosial.\" width=\"703\" height=\"375\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3152262063.webp 703w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3152262063-300x160.webp 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3152262063-18x10.webp 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 703px) 100vw, 703px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5801\" class=\"wp-caption-text\">Professor Jan Sopaheluwakan (No. 4 dari Kiri) pada FGD Kebencanaan yan digelar Center for Technology &amp; Innovation Studies (CTIS), Rabu, 21 Juni 2023 \/CTIS\/<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Dicontohkan, bencana akibat jalanan macet menghasilkan jenis pekerjaan baru ojek online. Lalu ada kehadiran pandemi Covid 19 yang justru membuat berkembangnya metoda belajar dari rumah, bekerja dari rumah, serta belanja secara daring.\u00a0 Dan masih banyak lagi.<\/p>\n<p class=\"p1\">Dia mengingatkan setiap program pembangunan harus memasukan faktor risiko, bagaimana memitigasinya, bila terjadi bencana bagaimana operasi tanggap daruratnya dan antisipasi membangun kembali kondisi yang rusak akibat bencana dengan membangun lebih baik lagi.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cBuild back better &amp; resilient development\u201d. Dalam diskusi tersebut juga dibahas tentang peran penting teknologi dan inovasi di sektor kebencanaan. Antara lain penerapan teknologi geospasial, sistem komunikasi darurat, Internet of Things, Big Data &amp; Analysis serta Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence-AI).<\/p>\n<p class=\"p1\">Pada pertemuan tersebut, Dewan Pengarah CTIS, Prof. Indroyono Soesilo memperagakan simulasi Chat Box AI dengan menetapkan lokasi Lintang-Bujur sebuah pusat gempa bumi dengan kekuatan 6,5 Skala Richter di wilayah Jawa Tengah.<\/p>\n<p class=\"p1\">Hanya dalam hitungan detik dapat dianalisis seberapa luas dampak bencananya, dan langkah-langkah darurat apa yang perlu diambil secara cepat oleh pihak otoritas maupun masyarakat.<\/p>\n<p class=\"p1\">Bila metoda Chatbox AI bisa menyebar ke seluruh Nusantara menggunakan sistem komunikasi darurat secara cepat\u00a0 maka dampak bencana dapat ditekan hingga sekecil mungkin.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ketua Komite Kebencanaan CTIS, Dr. Idwan Soehardi,\u00a0 menanggapi pentingnya Teknologi AI ini didukung sistem komunikasi cepat.\u00a0 Oleh sebab itu CTIS segera mengundang Direktur Satelit Pasifik Nusantara, Dr. Adi Adiwoso guna membahas implementasi Satelit Jasa Internet SATRIA-1, yang sukses diluncurkan pada 18 Juni 2023 lalu,\u00a0 untuk penanggulangan bencana.<\/p>\n<p>sumber : https:\/\/seputarcibubur.pikiran-rakyat.com\/humaniora\/pr-1786807202\/faktor-manusia-jadi-penentu-bencana-alam-ctis-bahas-peran-penting-teknologi-dan-inovasi-dalam-kebencanaan?page=2<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ahli Kebencanaan\u00a0 dari Center for Environmental Disaster Institute for Sustainable Earth and Resources (I-SER), Universitas Indonesia Profesor Jan Sopaheluwakan\u00a0 menegaskan bahwa bencana terjadi karena ulah manusia, karena faktor manusia dan kebijakan yang dibuat oleh manusia sendiri. Demikian dipaparkan oleh Profesor Jan Sopaheluwakan pada pada pertemuan Center For Technology &amp; Innovation Studies (CTIS), di Jakarta, Rabu [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":5803,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[21,39,64,66,65,67],"class_list":["post-5800","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-bmkg","tag-ctis","tag-kebencanan","tag-mitigasi-bencana","tag-penanganan-bencana","tag-risiko-bencana"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/IMG-20250309-WA0009_2.jpg.webp","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5800","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5800"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5800\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5804,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5800\/revisions\/5804"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5803"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5800"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5800"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5800"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}