{"id":5890,"date":"2025-03-27T11:12:56","date_gmt":"2025-03-27T04:12:56","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=5890"},"modified":"2025-03-27T11:12:56","modified_gmt":"2025-03-27T04:12:56","slug":"17-tahun-para-ahli-indonesia-tiongkok-menguak-fenomena-ilmiah-laut-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/17-tahun-para-ahli-indonesia-tiongkok-menguak-fenomena-ilmiah-laut-indonesia\/","title":{"rendered":"17 Tahun Para Ahli Indonesia-Tiongkok Menguak Fenomena Ilmiah Laut Indonesia"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\">Dari segi sains dan teknologi kelautan, wilayah perairan Indonesia sangat kaya dengan ragam topik riset yang bisa dikerjasamakan guna mendapatkan berbagai temuan-temuan ilmiah tentang kelautan dunia.<\/p>\n<p class=\"p2\">Beberapa fenomena iptek kelautan di perairan Indonesia yang bisa mendunia, antara lain Arus Lintas Indonesia (Arlindo), Segitiga Terumbu Karang, Indian Ocean Dipole (IOD), kolam panas pemicu variabilitas iklim El Nino dan La Nina, proses\u00a0<i>upwelling\u00a0<\/i>di laut tempat ikan berkumpul, juga prediksi cuaca monsoon dan pemantauan gempa di laut, serta tsunami.<\/p>\n<p class=\"p2\">Kerja sama iptek kelautan Indonesia \u2013 Tiongkok sudah dimulai sejak tahun 2006 lalu, dan sudah banyak hasil riset yang bisa dihilirisasi.\u00a0 Ke depannya, diprakirakan kerja sama riset kelautan Indonesia \u2013 Tiongkok dapat ditindaklanjuti melalui revitalisasi\u00a0<i>Indonesia \u2013 China Center for Ocean Climate<\/i>\u00a0yang dibentuk tahun 2012 lalu.<\/p>\n<p class=\"p2\">Di samping itu, kerja sama pengembangan kapasitas sumber daya manusia Indonesia dan Tiongkok melalui program Master dan Doktor, ekspedisi kelautan bersama, serta penerapan hasil hasil riset kelautan yang sudah terhimpun untuk program perubahan iklim global di laut, implementasi keanekaragaman hayati laut, ilmu perikanan dan ekonomi biru guna kemaslahatan penduduk Indonesia dan Tiongkok.<\/p>\n<p class=\"p2\">Demikian kesimpulan diskusi Center for Technology &amp; Innovation Studies (CTIS) dengan topik \u2018Kerjasama Kelautan Indonesia \u2013 Tiongkok Untuk Pemantauan Iklim Laut, ,Rabu 18 September 2024<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-5891 size-full\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-27-at-11.00.22.jpeg\" alt=\"Kerja sama iptek kelautan Indonesia \u2013 Tiongkok sudah dimulai sejak tahun 2006 lalu, dan sudah banyak hasil riset yang bisa dihilirisasi.\u00a0 \" width=\"961\" height=\"808\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-27-at-11.00.22.jpeg 961w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-27-at-11.00.22-300x252.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-27-at-11.00.22-768x646.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/WhatsApp-Image-2025-03-27-at-11.00.22-14x12.jpeg 14w\" sizes=\"auto, (max-width: 961px) 100vw, 961px\" \/><\/p>\n<p class=\"p2\">Berbicara pada diskusi adalah Professor Weidong Yu dari Sun Yat Sen University, Zhuhai, China, sedang bertindak sebagai moderator adalah Dr Marina Frederik, ahli geofisika Laut BRIN.<\/p>\n<p class=\"p2\">Professor Yu menyampaikan bahwa sejak kerja sama iptek kelautan Indonesia \u2013 Tiongkok ditandatangani, antara First Institute of Oceanography (FIO), China\u2019s State Oceanic Administration (SOA), dengan Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP) serta Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2006 lalu hingga tahun 2024 ini telah digelar 6 proyek proyek riset antara kedua negara.<\/p>\n<p class=\"p2\">Proyek riset pertama tentang:\u201dSouth China Sea and Indonesian Seas Throughflow and its Impacts on Fish Seasonal Migration (SITE)\u201d, menggunakan kapal riset Baruna Jaya BPPT, guna mengkaji peran Arus Lintas Indonesia (Arlindo) terhadap migrasi ikan dan kumpulan ikan di Perairan Laut China Selatan dan di Perairan Indonesia, mengingat fenomena Arlindo menegaskan bahwa arus laut bergerak dari Samudera Pasifik, melewati Kepulauan Nusantara menuju Samudera Hindia, ini berdampak pada pola migrasi ikan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_5892\" aria-describedby=\"caption-attachment-5892\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5892 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/93f62f4abcb1de09540e157f645044be588cc969-1024x640.jpg\" alt=\" Arus Lintas Indonesia (Arlindo) terhadap migrasi ikan dan kumpulan ikan di Perairan Laut China Selatan dan di Perairan Indonesia\" width=\"580\" height=\"363\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/93f62f4abcb1de09540e157f645044be588cc969-1024x640.jpg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/93f62f4abcb1de09540e157f645044be588cc969-300x187.jpg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/93f62f4abcb1de09540e157f645044be588cc969-768x480.jpg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/93f62f4abcb1de09540e157f645044be588cc969-18x12.jpg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/93f62f4abcb1de09540e157f645044be588cc969.jpg 1135w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5892\" class=\"wp-caption-text\">Jalur Masuk ARLINDO<br \/>(sumber: The Geological Society of London)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p2\">Proyek Riset kedua tentang: \u201cThe Java Upwelling Variations and Impacts on Seasonal Fish Migration\u201d pada tahun 2007 menggunakan kapal riset Baruna Jaya milik BPPT. Riset ini mempelajari tentang naiknya khlorofil dari dasar laut, yang merupakan sumber pakan ikan, sehingga dapat dipantau wilayah kaya ikan, serta migrasi ikan di perairan Indonesia.<\/p>\n<p class=\"p2\">Proyek Riset III tentang:\u201dMonsoon Onset Monitoring in the Tropical Eastern Indian Ocean and its Social and Ecological Impacts\u201d, tahun 2010.\u00a0 Pada ekspedisi ini mulai dipasang pelampung-pelampung bouy di Samudera Hindia, sebelah Barat Sumatera.<\/p>\n<p class=\"p2\">Pada 23 Maret 2012, disaksikan Presiden SB Yudhoyono dan Presiden Tiongkok Hu Jintao, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Cicip S.Soetardjo dan mitranya dari Tiongkok menandatangani pembentukan Indonesia \u2013 China Center for Ocean and Climate (ICCOC).<\/p>\n<p class=\"p2\">Menurut Professor Yu, keberadaan lembaga ini semakin memacu kerjasama iptek kelautan antara dua negara tadi.\u00a0 Berbagai kegiatan riset bersama yang digelar, antara lain: Proyek \u201cResponse of Marine Hazards to Climate Change in the Western Pacific (ROSE)\u201d.\u00a0 Lalu ada proyek:\u201d Marine Biotechnology and Biodiversity Joint Study\u201d, juga proyek: \u201cJoint Observation Station in Badong, West Sumatra\u201d dan proyek:\u00a0 Eastern Indian Ocean Geology and \u00a0Benthic Biology Joint Study.<\/p>\n<p class=\"p2\">Tidak hanya kerja sama antara dua negara, Indonesia dan Tiongkok berpartisipasi dan berkontribusi pada program program riset kelautan regional, seperti 2nd Internationl Indian Ocean Expedetion (IIOE-2).\u00a0 Juga pengkajian tentang sebaran serta migrasi ikan tuna sirip biru (Blue Fun Tuna) yang berada di Samudera Hindia antara selatan pulau Jawa dan perairan Australia Utara.<\/p>\n<p class=\"p2\">Melalui kerjasama Indonesia \u2013 USA \u2013 China, dibangun pula jarigan pelampung pemantauan laut, sebagai bagian dari Program \u201cGlobal Tropical Moored Buoy Array\u201d, untuk prediksi El Nino dan La Nina.\u00a0 Data ini sangat penting untuk prakiraan kehadiran El Nino, karena kehadiran El Nino bisa berdampak pada kebakaran hutan dan lahan, gagal panen serta meningkatnya beberapa penyakit seperti demam berdarah.<\/p>\n<p class=\"p2\">Investasi Tiongkok dalam riset kelautan terus ditingkat.\u00a0 Kerja sama dengan Indonesia, yang tadinya menggunakan kapal riset BPPT Baruna Jaya dan kapal riseet BRKP Madidihang, sekarang Tiongkok telah membangun kapal riset sendiri yang amat besar dan sangat modern, diberi nama R\/V Zhong Shan Da Xue.<\/p>\n<p class=\"p2\">Kapal yang panjangnya 115 meter, berarti dua kali panjang Kapal Riset Baruna Jaya.\u00a0 R\/V Zhong Shan Da Xue ini juga dilengkapi oleh kapal selam riset yang mampu menyelam hingga kedalaman 7000 meter.<\/p>\n<p class=\"p2\">Bermodalkan pengalaman bekerjasama lebih dari 17 tahun antara Indonesia dan Tiongkok di bidang riset kelautan ini, ditambah dengan ketersediaan infrastruktur yang semakin baik, terutama dari pihak Tiongkok, seperti kapal selam modern tadi, maka Professor Yu mengusulkan program yang telah terjalin sangat baik ini bisa dilanjutkan, terutama dengan merevitalisasi kerjasama Indonesia \u2013 China Center for Ocean and Climate (ICCOC) yang sudah mulai bekerja sejak tahun 2012 lalu.<\/p>\n<p class=\"p2\">Diharapkan , melalui ICCOC dapat dibuat program program unggulan kelautan untuk mengkaji dan mengimplementasikan permasalahan kelautan dan perubahan iklim Global, studi keanekaragaman hayati laut, riset tentang perikanan dan pembangunan ekonomi biru.<\/p>\n<p class=\"p2\">Para pakar CTIS sepakat untuk segera menyusun usulan program revitalisasi riset kelautan RI-Tiongkok, untuk diserahkan kepada Pemerintahan yang baru. ***<\/p>\n<p>Sumber : https:\/\/forestinsights.id\/17-tahun-para-ahli-indonesia-tiongkok-menguak-fenomena-ilmiah-laut-indonesia\/<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dari segi sains dan teknologi kelautan, wilayah perairan Indonesia sangat kaya dengan ragam topik riset yang bisa dikerjasamakan guna mendapatkan berbagai temuan-temuan ilmiah tentang kelautan dunia. Beberapa fenomena iptek kelautan di perairan Indonesia yang bisa mendunia, antara lain Arus Lintas Indonesia (Arlindo), Segitiga Terumbu Karang, Indian Ocean Dipole (IOD), kolam panas pemicu variabilitas iklim El [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":5893,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[127,126,39,129,130,128],"class_list":["post-5890","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-arlindo","tag-arus-lintas-indonesia","tag-ctis","tag-fenomena-ilmiah-laut-indonesia","tag-kerjasama-indonesia-tiongkok-bidang-kelautan","tag-laut-indonesia"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/db7bfaa66854f69e8db896ffe80ec197dcb8584f.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5890","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5890"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5890\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5894,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5890\/revisions\/5894"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5890"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5890"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5890"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}