{"id":6000,"date":"2025-04-07T17:07:38","date_gmt":"2025-04-07T10:07:38","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=6000"},"modified":"2025-04-07T17:26:57","modified_gmt":"2025-04-07T10:26:57","slug":"bantu-kendalikan-perubahan-iklim-pemanfaatan-potensi-panas-bumi-makin-berkembang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/bantu-kendalikan-perubahan-iklim-pemanfaatan-potensi-panas-bumi-makin-berkembang\/","title":{"rendered":"Bantu Kendalikan Perubahan Iklim, Pemanfaatan Potensi Panas Bumi Makin Berkembang"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\">Indonesia yang memiliki sekitar 400 gunung api dengan 124 diantaranya gunung api aktif, berpotensi membangkitkan 29.000 MegaWatt (MW) Listrik dari panas bumi. Saat ini\u00a0 pemanfaatan panas bumi sekitar 2000 MW saja.<\/p>\n<p class=\"p1\">Guna meningkatkan pemanfaatkan energi panas bumi di Indonesia, perlu dipertimbangkan tiga hal. Pertama layak secara teknis, kedua secara ekonomis menguntungkan, dan ketiga adanya regulasi yang ramah investasi.<\/p>\n<p class=\"p1\">Demikian kesimpulan diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) Tentang \u201cTantangan Penggunaan Teknologi Konvensional di Geothermal\u201d, Rabu, 6 Maret, 2024.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6002\" aria-describedby=\"caption-attachment-6002\" style=\"width: 696px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6002 size-full\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WhatsApp-Image-2024-03-09-at-18.10.41-696x340-1.jpeg\" alt=\"Indonesia yang memiliki sekitar 400 gunung api dengan 124 diantaranya gunung api aktif, berpotensi membangkitkan 29.000 MegaWatt (MW) Listrik dari panas bumi.\" width=\"696\" height=\"340\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WhatsApp-Image-2024-03-09-at-18.10.41-696x340-1.jpeg 696w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WhatsApp-Image-2024-03-09-at-18.10.41-696x340-1-300x147.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WhatsApp-Image-2024-03-09-at-18.10.41-696x340-1-18x9.jpeg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 696px) 100vw, 696px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6002\" class=\"wp-caption-text\">Dr. Arcandra Tahar (Duduk No.2 dari Kanan), Pada Diskusi Center for Technology &amp; Innovation Studies (CTIS) Tentang Teknologi Geothermal, Rabu, 6 Maret 2024.<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Berbicara dalam diskusi CTIS tersebut, Dr. Arcandara Tahar, mantan Menteri dan Wakil Menteri Energi &amp; Sumberdaya Mineral. Diskusi dimoderatori Ketua Komite Energi CTIS, Dr. Unggul Priyanto yang juga mantan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).<\/p>\n<p class=\"p1\">Arcandra menegaskan bahwa salah satu sumber energi ramah lingkungan dan berpotensi mengurangi dampak perubahan iklim adalah geothermal atau panas bumi. \u00a0\u00a0Lapisan kerak bumi yang panas, dikenal sebagai\u00a0<i>\u201cHot Rocks\u201d<\/i>\u00a0menghasilkan uap air, antara lain, digunakan sebagai tempat pemandian air panas.<\/p>\n<p class=\"p1\">Untuk skala besar, uap geothermal digunakan untuk memutar turbin dan membangkitkan Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP). Di tahun 2023, 60% energi panas bumi digunakan untuk pemanas dan sisanya untuk pembangkit listrik, menghasilkan listrik sekitar 16.000 MW. Pada tahun 2050, diperkirakan sekitar 80% energi geothermal akan digunakan untuk pembangkit listrik. Amerika Serikat, Indonesia, Filipina, Turki, dan Selandia Baru adalah beberapa negara yang sudah memanfaatkan geothermal untuk pembangkit listrik. Sementara China, Turki, Jepang dan Islandia memanfaatkan geothermal untuk pemanas.<\/p>\n<p class=\"p1\">Pemanfaatan geothermal untuk energi memerlukan inovasi.\u00a0 Arcandra menegaskan bahwa yang pertama harus dilakukan adalah menghitung seberapa besar cadangan terbukti\u00a0<i>(proven reserve)<\/i>\u00a0dari besaran potensi energi geothermal yang diprakirakan.\u00a0 Berbagai pemboran eksplorasi, survey geologi maupun survey geofisika diperlukan guna menghitung seberapa besar uap air yang dihasilkan agar dapat memutar turbin dan menghasilkan listrik.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6003\" aria-describedby=\"caption-attachment-6003\" style=\"width: 1024px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6003 size-full\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/PGE-Menggalang-Kolaborasi.webp\" alt=\"Indonesia yang memiliki sekitar 400 gunung api dengan 124 diantaranya gunung api aktif, berpotensi membangkitkan 29.000 MegaWatt (MW) Listrik dari panas bumi.\" width=\"1024\" height=\"671\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/PGE-Menggalang-Kolaborasi.webp 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/PGE-Menggalang-Kolaborasi-300x197.webp 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/PGE-Menggalang-Kolaborasi-768x503.webp 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/PGE-Menggalang-Kolaborasi-18x12.webp 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6003\" class=\"wp-caption-text\">Pertamina Geothermal Energy. (Dok Pertamina)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Sebuah reservoir panas bumi dapat dikembangkan apabila memiliki panas di atas 120 derajat Celcius, lokasi reservoir yang dangkal serta tingkat permeabilitas yang besar, yaitu tingkat kelolosan uap air yang mampu melewati celah-celah batuan di reservoir, dengan ukuran permeabilitas diatas 10 darcy-meter. Semakin tinggi angka permeabilitas maka semakin mudah uap air untuk mengalir.<\/p>\n<p class=\"p1\">Lokasi reservoir diupayakan sedangkal mungkin karena menyangkut biaya pemboran yang semakin mahal bila semakin dalam.\u00a0 Temperatur akan naik sekitar 30 derajat Celcius per-kilometer.\u00a0 Berarti, untuk mendapatkan temperatur diatas 120 derajat Celcius, diperlukan pengeboran sedalam 4 kilometer, atau 4000 meter.<\/p>\n<p class=\"p1\">Mempertimbangkan syarat reservoir geothermal yang harus memiliki temperatur di atas 120 derajat Celcius, tingkat permeabilitas batuan diatas 10 darcy-meter dan lokasi reservoir yang dangkal, maka ternyata hanya 0,6% reservoir panas bumi di Dunia yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui penerapan teknologi konvensional geothermal yang ada saat ini.\u00a0 Oleh sebab itu, hitung-hitungan dari potensi sumber daya panas bumi untuk menjadi cadangan terbukti (<i>proven reserve<\/i>) menjadi sangat penting agar dapat ditentukan tingkat keekonomiannya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Menurut Arcandra para ahli geothermal Dunia saat ini tengah memutar otak guna mengembangkan energi panas bumi tanpa tergantung keberadaan gunung api lagi.\u00a0 Yang penting dicari adalah keberadaan\u00a0<i>\u201cHot Rocks\u201d<\/i>\u00a0di kerak Bumi.<\/p>\n<p class=\"p1\">Para ahli mengkaji data dari\u00a0 45.000 sumur pemboran migas di seluruh Dunia guna menentukan lokasi lokasi berpotensi\u00a0<i>hot rocks<\/i>\u00a0untuk pembangkit listrik. \u00a0Dicobakan penerapan\u00a0<i>Advanced Geothermal System (AGS)<\/i>\u00a0dengan melakukan pemboran batuan di lapisan kerak bumi tadi guna mendapat batuan panas bertempartur tinggi di kedalaman, lalu dialirkan fluida ke arah batuan panas tadi sehingga memproduksi uap guna memutar turbin dan membangkitkan tenaga listrik.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ada juga\u00a0<i>Enhanced Geothermal Systems<\/i>\u00a0(EGS) dengan cara melakukan pemboran ke kerak bumi, hingga diperoleh batuan panas di kedalaman, kemudian dimasukkan air ke lubang sumur pemboran tadi agar menghasilkan uap air, lalu melalui saluran pipa lainnya maka uap air tadi dialirkan ke permukaan Bumi guna dipakai untuk memutar turbin pembangkit listrik tenaga panas bumi.\u00a0 Dengan demikian, potensi panas bumi tidak lagi harus bergantung pada panas dan uap air dari sumber gunung api, melainkan bisa dari sumber batuan panas di lokasi lapisan batuan dimana saja di Bumi.<\/p>\n<p class=\"p1\">Istilah\u00a0<i>\u201cGeothermal Anywhere<\/i>\u201d pun muncul.\u00a0 Selama kerak Bumi panas, maka pembangkit listrik tenaga panas bumi dapat dihasilkan di lokasi mana saja dimuka Bumi.\u00a0 Perkembangan teknologi mutakhir pemanfaatkan panas bumi tadi diharapkan segera muncul hasilnya dan mulai operasional diterapkan pada sekitar tahun 2025 mendatang.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6004\" aria-describedby=\"caption-attachment-6004\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6004 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WW-update-1024x321.jpg\" alt=\"Indonesia yang memiliki sekitar 400 gunung api dengan 124 diantaranya gunung api aktif, berpotensi membangkitkan 29.000 MegaWatt (MW) Listrik dari panas bumi. \" width=\"580\" height=\"182\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WW-update-1024x321.jpg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WW-update-300x94.jpg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WW-update-768x240.jpg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WW-update-1536x481.jpg 1536w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WW-update-18x6.jpg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WW-update-1200x376.jpg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/WW-update.jpg 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6004\" class=\"wp-caption-text\">PLTP Wayang Windu, Jabar, dengan daya \u00a0227 MW. (dok Star Energy)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Indonesia memang belum memulai konsep\u00a0<i>\u201cGeothermal Anywhere\u201d<\/i>\u00a0mengingat potensi panas bumi konvensional yang dimiliki Kepulauan Nusantara ini masih sangat berlimpah.\u00a0 Beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi yang telah beroperasi di tanah air, antara lain PLTP Kamojang, Jawa Barat dengan daya 235 Megawatt (MW), PLTP Wayang Windu, Jabar, dengan daya \u00a0227 MW, PLTP Darajat, Jabar dengan daya 270 MW, PLTP Gunung Salak, Jabar dengan daya 377 MW, PLTP Cibuni, Jabar dengan daya 85 MW, \u00a0PLTP Ulubelu, Lampung dengan daya 110 MW, PLTP Sarulla, Sumatera Utara dengan daya \u00a0330 MW dan PLTP Lahendong, Sulawesi Utara dengan daya 80 MW.<\/p>\n<p class=\"p1\">Mengingat riset tentang PLTP telah dilaksanakan BPPT sejak dekade 1980-an lalu, Dr. Unggul menyarankan kiranya PLTP BPPT di Kamojang dengan daya 3 MW dan PLTP BPPT Siklus Biner di Lahendong, dengan daya 0,5 MW dapat terus dipakai untuk uji coba penerapan beragam teknologi mutakhir energi geothermal, serta dipakai untuk memproduksi energi Hidrogen, selain juga bisa dipakai untuk kegiatan pengeringan produk produk pertanian guna memberikan nilai tambah produk pertanian di wilayah-wilayah tadi.\u00a0<b>***<\/b><\/p>\n<p>Sumber : https:\/\/agroindonesia.co.id\/bantu-kendalikan-perubahan-iklim-pemanfaatan-potensi-panas-bumi-makin-berkembang\/<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia yang memiliki sekitar 400 gunung api dengan 124 diantaranya gunung api aktif, berpotensi membangkitkan 29.000 MegaWatt (MW) Listrik dari panas bumi. Saat ini\u00a0 pemanfaatan panas bumi sekitar 2000 MW saja. Guna meningkatkan pemanfaatkan energi panas bumi di Indonesia, perlu dipertimbangkan tiga hal. Pertama layak secara teknis, kedua secara ekonomis menguntungkan, dan ketiga adanya regulasi [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":6005,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[39,179,180,181],"class_list":["post-6000","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-ctis","tag-pembangkit-listrik-tenaga-panas-bumi","tag-pltp","tag-teknologi-geothermal"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/DARAJAT-update.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6000","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6000"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6000\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6006,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6000\/revisions\/6006"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6005"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6000"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6000"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6000"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}