{"id":6129,"date":"2025-06-05T07:51:59","date_gmt":"2025-06-05T00:51:59","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=6129"},"modified":"2025-06-05T08:05:53","modified_gmt":"2025-06-05T01:05:53","slug":"pembangunan-indonesia-harus-libatkan-partisipasi-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/pembangunan-indonesia-harus-libatkan-partisipasi-masyarakat\/","title":{"rendered":"Pembangunan Indonesia Harus Libatkan Partisipasi Masyarakat"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\">Penggagas dan Ketua Umum Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, menegaskan bahwa pembangunan Indonesia harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Pemerintah, menurutnya, perlu membuka ruang keterlibatan publik dalam menentukan arah pembangunan, mengingat Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dan multikultural.<\/p>\n<p class=\"p1\">Pernyataan tersebut disampaikan Pontjo dalam diskusi bertema <i>&#8220;Peran Iptek dan Inovasi bagi Pembangunan Bangsa&#8221;<\/i> yang diselenggarakan oleh Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) pada Rabu, 4 Juni 2025.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<figure id=\"attachment_6140\" aria-describedby=\"caption-attachment-6140\" style=\"width: 1280px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6140 size-full\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-05-at-07.58.09-1.jpeg\" alt=\"Pmembangun Indonesia harus melibatkan partisipasi masyarakat.\" width=\"1280\" height=\"960\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-05-at-07.58.09-1.jpeg 1280w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-05-at-07.58.09-1-300x225.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-05-at-07.58.09-1-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-05-at-07.58.09-1-768x576.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-05-at-07.58.09-1-16x12.jpeg 16w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-05-at-07.58.09-1-1200x900.jpeg 1200w\" sizes=\"auto, (max-width: 1280px) 100vw, 1280px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6140\" class=\"wp-caption-text\">Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo (tengah) sebagai narasumber dalam diskusi bertema &#8220;Peran Iptek dan Inovasi bagi Pembangunan Bangsa&#8221; yang diselenggarakan oleh Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) pada Rabu, 4 Juni 2025.. (Dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">&#8220;Budaya dan kondisi alam Indonesia yang majemuk memerlukan satu faktor pemersatu, yaitu Pancasila. Pendekatan budaya dalam membangun peradaban bangsa harus dimulai dari pembangunan jiwa dan raga manusia Indonesia,&#8221; ujar Pontjo.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ia mengutip istilah dari mantan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudi Latif, yakni <i>ranah mental-kultural<\/i> atau tata nilai. Ranah ini secara simultan membangun sistem tata kelola negara (ranah institusional-politikal) serta sistem perekonomian yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat (ranah tata-sejahtera atau material-teknologikal).<\/p>\n<p class=\"p1\">Menurut Pontjo, paradigma Pancasila menjadi fondasi dalam membangun ketiga ranah tersebut. Karena itu, keterlibatan masyarakat dalam proses perumusan kebijakan publik sangat penting.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ia mencontohkan program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG), yang seharusnya melibatkan masyarakat secara lebih aktif.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cMBG dirancang untuk mencegah stunting. Namun jika masyarakat dilibatkan, misalnya dengan menyertakan pangan lokal, maka program ini bisa mendorong ketahanan pangan daerah dan ekonomi lokal,\u201d katanya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6132\" aria-describedby=\"caption-attachment-6132\" style=\"width: 1003px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6132 size-full\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-01-13-174730-1.jpg\" alt=\"pembangunan Indonesia harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat\" width=\"1003\" height=\"570\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-01-13-174730-1.jpg 1003w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-01-13-174730-1-300x170.jpg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-01-13-174730-1-768x436.jpg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/Screenshot-2025-01-13-174730-1-18x10.jpg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1003px) 100vw, 1003px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6132\" class=\"wp-caption-text\">Anak-anak sekolah menyantap menu makan siang program Makan Bergizi Gratis (MBG).<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Pontjo menambahkan, setiap daerah memiliki pangan lokal unggulan yang dapat dikembangkan dengan dukungan teknologi agar menjadi produk yang menarik, terutama bagi anak-anak.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ia juga menyoroti pentingnya diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan pada beras. Merujuk pada krisis beras di Jepang akibat gagal panen, Pontjo menilai pendekatan Jepang yang tidak membuka keran impor sebagai bentuk penghargaan terhadap petani lokal.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cIni bentuk partisipasi masyarakat. Pemerintah Jepang membiarkan harga naik sebagai bentuk penghormatan terhadap petani yang gagal panen. Dengan begitu, kerja sama antara pemerintah dan petani untuk mencegah kegagalan panen bisa terus ditingkatkan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Di sektor pendidikan, Pontjo mengkritik rencana pendirian sekolah unggulan baru seperti Sekolah Nusantara dan Sekolah Rakyat. Menurutnya, pemerintah seharusnya memaksimalkan peran sekolah-sekolah yang sudah ada, termasuk sekolah swasta.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cBiaya untuk meningkatkan kualitas sekolah swasta agar setara dengan standar nasional jauh lebih efisien dibandingkan membangun sekolah baru,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ia juga menyoroti eksklusivitas BUMN yang dianggap menutup ruang partisipasi bagi sektor swasta. &#8220;Pemerintah cenderung melihat badan usaha swasta sebagai pesaing, bukan mitra. Ini perlu diubah,&#8221; tegasnya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Pontjo menilai, tata kelola partisipatif di sektor pendidikan maupun BUMN bisa meniru model sistem pertahanan semesta yang diterapkan TNI. Dalam sistem tersebut, Panglima TNI berperan sebagai penentu ancaman dan strategi militer, sementara pelaksanaannya diserahkan kepada Kepala Staf Angkatan yang mengelola sumber daya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sistem perekonomian Indonesia harus berbasis pada pengetahuan. \u201cSains adalah proses memperoleh pengetahuan melalui observasi dan eksperimen, sedangkan teknologi merupakan penerapannya dalam kehidupan manusia,\u201d jelas Pontjo.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6141\" aria-describedby=\"caption-attachment-6141\" style=\"width: 1000px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6141 size-full\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/large_DSCN_2207_8aed7d8fec-1.jpeg\" alt=\"pembangunan Indonesia harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat\" width=\"1000\" height=\"667\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/large_DSCN_2207_8aed7d8fec-1.jpeg 1000w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/large_DSCN_2207_8aed7d8fec-1-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/large_DSCN_2207_8aed7d8fec-1-768x512.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/large_DSCN_2207_8aed7d8fec-1-18x12.jpeg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 1000px) 100vw, 1000px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6141\" class=\"wp-caption-text\">PT INKA memproduksi gerbong kereta KRL dengan muatan TKDN . (Dok PT INKA)<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p class=\"p1\">Namun, ia menilai kebijakan ekonomi pemerintah belum sepenuhnya mendukung perkembangan industri dalam negeri. Ia mengkritik strategi substitusi impor yang tidak selalu relevan.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cTidak semua barang impor harus diproduksi dalam negeri. TKDN untuk substitusi impor tidak otomatis mendorong kemajuan industri nasional,\u201d kata Pontjo.<\/p>\n<p class=\"p1\">Menutup diskusi, Pontjo mengajak CTIS dan Aliansi Kebangsaan bersama komunitas cendekiawan serta profesional Indonesia untuk merumuskan strategi pembangunan industri berbasis pengetahuan dengan paradigma Pancasila.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cHasil pemikiran ini nantinya akan disampaikan kepada pemerintah sebagai kontribusi intelektual,\u201d pungkasnya. ***<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penggagas dan Ketua Umum Aliansi Kebangsaan, Pontjo Sutowo, menegaskan bahwa pembangunan Indonesia harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Pemerintah, menurutnya, perlu membuka ruang keterlibatan publik dalam menentukan arah pembangunan, mengingat Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dan multikultural. Pernyataan tersebut disampaikan Pontjo dalam diskusi bertema &#8220;Peran Iptek dan Inovasi bagi Pembangunan Bangsa&#8221; yang diselenggarakan oleh Centre for [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":6130,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[228,39,45,229,44],"class_list":["post-6129","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-aliansi-kebangsaan","tag-ctis","tag-konsep-pembangunan-di-indonesia","tag-partisipasi-masyarakat","tag-pembangunan-indonesia"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/WhatsApp-Image-2025-06-04-at-12.24.13.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6129","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6129"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6129\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6143,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6129\/revisions\/6143"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6130"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6129"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6129"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6129"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}