{"id":6192,"date":"2025-07-02T20:37:02","date_gmt":"2025-07-02T13:37:02","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=6192"},"modified":"2025-07-02T20:38:53","modified_gmt":"2025-07-02T13:38:53","slug":"indroyono-bangsa-ini-harus-memalingkan-pandangan-ke-laut","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/indroyono-bangsa-ini-harus-memalingkan-pandangan-ke-laut\/","title":{"rendered":"Indroyono: Bangsa Ini Harus Memalingkan Pandangan ke Laut"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\">Sebelum Republik Indonesia berdiri, kerajaan-kerajaan besar di Nusantara telah menunjukkan kekuatan sebagai negeri bahari. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan.<\/p>\n<p class=\"p1\">Sejumlah kerajaan maritim seperti Sriwijaya, Majapahit, Gowa-Tallo, Ternate-Tidore, hingga Mataram berkembang pesat berkat jalur perdagangan laut. Kapal-kapal dagang dari India, Tiongkok, Arab, hingga Eropa rutin singgah di pelabuhan-pelabuhan strategis di Nusantara.<\/p>\n<p class=\"p1\">Pelabuhan seperti Sriwijaya, Majapahit, Tuban, Gresik, Barus, Banten, Banda, Ambon, dan lainnya menjadi simpul perdagangan rempah-rempah, emas, dan barang bernilai lainnya. Teknologi pelayaran pun telah dikuasai masyarakat Nusantara sejak lama melalui pembuatan kapal seperti jukung, pinisi, dan jong.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6193\" aria-describedby=\"caption-attachment-6193\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6193 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-02-at-20.06.04-1024x462.jpeg\" alt=\"\u201cIndonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kita harus memalingkan pandangan ke laut, membangkitkan budaya maritim yang sudah lama mati\" width=\"580\" height=\"262\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-02-at-20.06.04-1024x462.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-02-at-20.06.04-300x135.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-02-at-20.06.04-768x347.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-02-at-20.06.04-18x8.jpeg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-02-at-20.06.04.jpeg 1152w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6193\" class=\"wp-caption-text\">Prof. Indroyono Soesilo (duduk no 3 dari kiri), mantan Menko Kemaritiman RI sekaligus Dewan Pembina Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), sebagai narasumber diskusi bertema Laut Indonesia, Rabu, 2 Juli 2025. (dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Hal ini disampaikan oleh Prof. Indroyono Soesilo, mantan Menko Kemaritiman RI sekaligus Dewan Pembina Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) dalam diskusi bertema <i>Laut Indonesia<\/i>, Rabu, 2 Juli 2025.<\/p>\n<p class=\"p2\"><b>VOC Ubah Arah dari Laut ke Darat<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Menurut Indroyono, kejayaan maritim Nusantara perlahan memudar sejak kedatangan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada awal abad ke-17. VOC datang bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga memonopoli jalur laut dan perdagangan rempah.<\/p>\n<p class=\"p1\">VOC mendirikan pos dagang dan benteng di Batavia, Ambon, Banda, dan memaksa masyarakat beralih dari sektor kelautan ke sektor agraris. Perkebunan kopi, tebu, dan rempah-rempah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cVOC bahkan menekan raja-raja lokal untuk menutup pelabuhan agar monopoli dagang berjalan mulus. Sejak itu, orientasi bangsa berubah dari negeri bahari menjadi negeri daratan,\u201d tegasnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6194\" aria-describedby=\"caption-attachment-6194\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6194 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1-1024x576.jpg\" alt=\"\u201cIndonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kita harus memalingkan pandangan ke laut, membangkitkan budaya maritim yang sudah lama mati\" width=\"580\" height=\"326\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1-300x169.jpg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1-768x432.jpg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1-18x10.jpg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1-1200x675.jpg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1-1980x1114.jpg 1980w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/vlcsnap-2023-11-29-13h10m13s248-18-2048x1152-1.jpg 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6194\" class=\"wp-caption-text\">Kapal bantu rumah sakit produksi PT PAL Indonesia. (dok PT PAL)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p2\"><b>Deklarasi Djoeanda dan Visi Maritim Indonesia<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Indroyono mengingatkan bahwa semangat maritim sempat kembali menguat saat Perdana Menteri Ir. Djoeanda Kartawidjaja mendeklarasikan Deklarasi Djoeanda pada 13 Desember 1957. Deklarasi ini menegaskan bahwa laut di sekitar, di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan wilayah NKRI.<\/p>\n<p class=\"p1\">Deklarasi ini menjadi dasar pengakuan Indonesia sebagai negara kepulauan yang kemudian diperkuat dalam Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982.<\/p>\n<p class=\"p1\">Pada 1996, semangat pembangunan maritim kembali digaungkan oleh Presiden BJ Habibie (saat itu masih menjadi Menristek\/Kepala BPPT) melalui inisiatif pembangunan benua maritim Indonesia yang ditandatangani di Makassar oleh berbagai lembaga negara.<\/p>\n<p class=\"p1\">Presiden setelahnya, Abdurrahman Wahid, Megawati, hingga Susilo Bambang Yudhoyono ikut melanjutkan upaya pembangunan maritim. Di era Joko Widodo\u2013Jusuf Kalla pada 2014, visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia diperkenalkan, lengkap dengan lima pilar pembangunan maritim.<\/p>\n<p class=\"p1\">Presiden juga menerbitkan Perpres No. 16 Tahun 2017 tentang Kebijakan Kelautan Indonesia, yang mencakup tujuh pilar utama seperti pengelolaan sumber daya laut, infrastruktur, pertahanan, hingga budaya bahari dan diplomasi maritim.<\/p>\n<p class=\"p1\">Namun, kata Indroyono, implementasi kebijakan ini tidak berlanjut secara konsisten. Bahkan Kementerian Kemaritiman telah dilebur, dan banyak program kelautan terabaikan.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6195\" aria-describedby=\"caption-attachment-6195\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6195 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/arsip-berita-gunakan-lpg-biaya-operasional-melaut-jadi-lebih-ringan-btvuylk-1024x680.jpeg\" alt=\"\u201cIndonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kita harus memalingkan pandangan ke laut, membangkitkan budaya maritim yang sudah lama mati\" width=\"580\" height=\"385\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/arsip-berita-gunakan-lpg-biaya-operasional-melaut-jadi-lebih-ringan-btvuylk-1024x680.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/arsip-berita-gunakan-lpg-biaya-operasional-melaut-jadi-lebih-ringan-btvuylk-300x199.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/arsip-berita-gunakan-lpg-biaya-operasional-melaut-jadi-lebih-ringan-btvuylk-768x510.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/arsip-berita-gunakan-lpg-biaya-operasional-melaut-jadi-lebih-ringan-btvuylk-18x12.jpeg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/arsip-berita-gunakan-lpg-biaya-operasional-melaut-jadi-lebih-ringan-btvuylk-1200x797.jpeg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/arsip-berita-gunakan-lpg-biaya-operasional-melaut-jadi-lebih-ringan-btvuylk.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6195\" class=\"wp-caption-text\">Nelayan Indonesia penyangga budaya maritim. (Dok ESDM)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p2\"><b>Saatnya Kembali ke Laut<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cIndonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Kita harus memalingkan pandangan ke laut, membangkitkan budaya maritim yang sudah lama mati,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ia menyoroti pentingnya pendidikan dan pelestarian sejarah maritim untuk generasi muda. Salah satunya melalui kunjungan ke Museum Bahari atau pelajaran sejarah tentang armada laut kerajaan seperti pasukan Sultan Agung yang dulu menyerbu Batavia melalui laut.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ia juga menyinggung sosok Laksamana Alfonso de Albuquerque, arsitek ekspansi Portugis ke Asia Tenggara melalui laut yang berhasil menjalin hubungan dengan Sultan Ternate.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cLaut adalah kekuatan ekonomi, ketahanan, dan budaya kita,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Indroyono menambahkan bahwa Indonesia sudah memiliki roadmap Blue Economy, yakni pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan. Hal ini juga berkaitan dengan komitmen Indonesia terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang harus dicapai sebelum 2030.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cSemua perangkat hukum sudah ada. Tinggal dilaksanakan. Mulai dari pembangunan pelabuhan-pelabuhan dagang modern, hingga mengaktifkan kembali pelayaran nasional. Kalau sudah disiapkan infrastrukturnya, maka industri dan tenaga kerja akan mengikuti,\u201d pungkasnya. ***<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebelum Republik Indonesia berdiri, kerajaan-kerajaan besar di Nusantara telah menunjukkan kekuatan sebagai negeri bahari. Hal ini tak lepas dari fakta bahwa dua pertiga wilayah Indonesia merupakan lautan. Sejumlah kerajaan maritim seperti Sriwijaya, Majapahit, Gowa-Tallo, Ternate-Tidore, hingga Mataram berkembang pesat berkat jalur perdagangan laut. Kapal-kapal dagang dari India, Tiongkok, Arab, hingga Eropa rutin singgah di pelabuhan-pelabuhan [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":6196,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[247,39,128,248,244,246,245],"class_list":["post-6192","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-budaya-maritim","tag-ctis","tag-laut-indonesia","tag-negara-kepulauan","tag-negara-maritim","tag-poros-maritim","tag-teknologi-kelautan"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-02-at-20.19.30.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6192","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6192"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6192\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6198,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6192\/revisions\/6198"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6196"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6192"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6192"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6192"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}