{"id":6206,"date":"2025-07-17T07:40:40","date_gmt":"2025-07-17T00:40:40","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=6206"},"modified":"2025-07-17T07:40:40","modified_gmt":"2025-07-17T00:40:40","slug":"dari-petani-untuk-dunia-bioplastik-rumput-laut-buatan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/dari-petani-untuk-dunia-bioplastik-rumput-laut-buatan-indonesia\/","title":{"rendered":"Dari Petani untuk Dunia: Bioplastik Rumput Laut Buatan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\">Indonesia tengah menghadapi darurat mikroplastik. Negara ini disebut sebagai yang tertinggi dalam konsumsi mikroplastik, setara ukuran satu kartu ATM setiap minggunya per orang. Tak hanya itu, Indonesia juga menjadi salah satu penghasil sampah mikroplastik terbesar di dunia.<\/p>\n<p class=\"p1\">Hal tersebut diungkapkan CEO dan Co-Founder PT Seaweedtama Biopac Indonesia, Dr. Noryawati Mulyono, dalam diskusi yang digelar Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu, 16 Juli 2025. Diskusi tersebut mengangkat tema <i>Research-Based Seaweed Bioplastic Manufacturer<\/i>.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cSampah plastik dan mikroplastik harus dikurangi. Negara kepulauan seperti Indonesia terdampak langsung karena lautan kita penuh sampah,\u201d ujar Noryawati.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6207\" aria-describedby=\"caption-attachment-6207\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6207 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.48-1024x497.jpeg\" alt=\"Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan rumput laut\u2014tidak hanya sebagai bahan pangan, tapi juga sebagai bahan baku alternatif plastik\" width=\"580\" height=\"282\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.48-1024x497.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.48-300x146.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.48-768x373.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.48-18x9.jpeg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.48-1200x582.jpeg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.48.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6207\" class=\"wp-caption-text\">CEO dan Co-Founder PT Seaweedtama Biopac Indonesia, Dr. Noryawati Mulyono (duduk no 4 dari kiri) dalam diskusi yang digelar Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu, 16 Juli 2025. (dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan rumput laut, tidak hanya sebagai bahan pangan, tapi juga sebagai bahan baku alternatif plastik. Bioplastik berbahan rumput laut dinilai lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan.<\/p>\n<p class=\"p1\">Menurut Noryawati, nilai ekonomi rumput laut sebagai bahan pengganti plastik terus berkembang. Laporan <i>Research and Markets<\/i> memperkirakan pasar global bioplastik akan tumbuh dari US$10 miliar pada 2023 menjadi lebih dari US$27 miliar pada 2032.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cRumput laut tumbuh cepat, tidak butuh lahan pertanian atau air tawar, bisa menyerap karbon, dan mudah dibudidayakan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6208\" aria-describedby=\"caption-attachment-6208\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6208 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.02-996x1024.jpeg\" alt=\"Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan rumput laut\u2014tidak hanya sebagai bahan pangan, tapi juga sebagai bahan baku alternatif plastik. \" width=\"580\" height=\"596\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.02-996x1024.jpeg 996w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.02-292x300.jpeg 292w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.02-768x790.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.02-12x12.jpeg 12w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.02-1200x1234.jpeg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.17.02.jpeg 1245w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6208\" class=\"wp-caption-text\">Lembaran bioplastik terbuat dari rumput laut produksi Biopac. (Dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Bioplastik dari rumput laut dapat digunakan untuk kemasan makanan, sachet, hingga pembungkus yang bisa terurai alami\u2014bahkan dapat dimakan. Meski harganya masih tinggi, sekitar US$4,47 per lembar, produk ini menawarkan nilai tambah yang jauh lebih tinggi dari rumput laut kering biasa.<\/p>\n<p class=\"p1\">Penelitian Noryawati yang dimulai sejak 2010 dan didukung L\u2019Oreal <i>For Women in Science<\/i>, kini telah berkembang menjadi produk komersial melalui perusahaan yang ia dirikan: PT Seaweedtama Biopac Indonesia (BIOPAC). Perusahaan ini menjadi pelopor inovasi bioplastik dari rumput laut di Indonesia.<\/p>\n<p class=\"p1\">BIOPAC kini rutin menyerap hasil panen rumput laut petani melalui koperasi di Makassar dan Jakarta. Setiap empat bulan, perusahaan membeli hingga 8 ton rumput laut. Pola ini membantu petani memiliki pendapatan tetap dan mengurangi penumpukan hasil panen di gudang seadanya.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cDengan adanya industri ini, petani tidak perlu lagi menyimpan rumput laut terlalu lama. Hasil panen bisa langsung dibeli,\u201d kata Noryawati.<\/p>\n<p class=\"p1\">Dampaknya, selain membantu menjaga laut dari polusi plastik, juga meningkatkan kesejahteraan petani dan mencegah risiko sosial seperti perdagangan manusia akibat kemiskinan.<\/p>\n<p class=\"p1\">Produk-produk BIOPAC yang ramah lingkungan kini mencakup tas serut, tinta, kemasan makanan yang dapat dimakan, hingga kemasan sachet. Semua diproduksi menggunakan mesin buatan dalam negeri.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6209\" aria-describedby=\"caption-attachment-6209\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6209 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.16.03-1024x768.jpeg\" alt=\"Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan rumput laut\u2014tidak hanya sebagai bahan pangan, tapi juga sebagai bahan baku alternatif plastik.\" width=\"580\" height=\"435\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.16.03-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.16.03-300x225.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.16.03-768x576.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.16.03-16x12.jpeg 16w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.16.03-1200x900.jpeg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.16.03.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6209\" class=\"wp-caption-text\">Sabun berbahan baku rumput laut produksi Tanzif, dan dibungkus dengan bioplastik rumput laut yang diproduksi oleh Biopac. Sabun rumput laut untuk hotel di Bali. (Dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Dari sisi ekonomi, bioplastik berbasis rumput laut bernilai tinggi: Rp150.000\u2013Rp300.000 per kilogram, dibanding rumput laut kering yang hanya Rp15.000\u2013Rp25.000 per kilogram. Ini membuka peluang ekspor, terutama ke negara-negara Eropa yang sudah memperketat regulasi plastik konvensional.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cBioplastik dari rumput laut mendukung ekonomi sirkular, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan industri hijau,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Meski tantangan masih ada seperti biaya produksi tinggi dan keterbatasan skala industri, Noryawati optimistis bioplastik berbahan rumput laut bisa jadi solusi nyata bagi laut Indonesia yang lebih bersih dan bebas dari polusi plastik. ***<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia tengah menghadapi darurat mikroplastik. Negara ini disebut sebagai yang tertinggi dalam konsumsi mikroplastik, setara ukuran satu kartu ATM setiap minggunya per orang. Tak hanya itu, Indonesia juga menjadi salah satu penghasil sampah mikroplastik terbesar di dunia. Hal tersebut diungkapkan CEO dan Co-Founder PT Seaweedtama Biopac Indonesia, Dr. Noryawati Mulyono, dalam diskusi yang digelar Center [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":6210,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[253,252,39,254,74,72],"class_list":["post-6206","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-biopac","tag-bioplastik","tag-ctis","tag-darurat-mikroplastik","tag-ramah-lingkungan","tag-rumput-laut"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-17-at-07.26.54.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6206","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6206"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6206\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6211,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6206\/revisions\/6211"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6210"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6206"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6206"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6206"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}