{"id":6213,"date":"2025-07-24T07:17:00","date_gmt":"2025-07-24T00:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=6213"},"modified":"2025-07-24T07:18:31","modified_gmt":"2025-07-24T00:18:31","slug":"fenomena-kabur-aja-dulu-dan-peran-strategis-diplomasi-ri-dalam-penguatan-sdm-iptekin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/fenomena-kabur-aja-dulu-dan-peran-strategis-diplomasi-ri-dalam-penguatan-sdm-iptekin\/","title":{"rendered":"Fenomena \u201cKabur Aja Dulu\u201d dan Peran Strategis Diplomasi RI dalam Penguatan SDM Iptekin"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"207\" data-end=\"494\">Ungkapan <strong data-start=\"216\" data-end=\"236\">\u201c<\/strong>kabur aja dulu<strong data-start=\"216\" data-end=\"236\">\u201d<\/strong> belakangan kerap muncul di kalangan anak muda Indonesia, khususnya di media sosial. Istilah ini mencerminkan keinginan generasi muda untuk pergi ke luar negeri demi mencari peluang hidup yang lebih baik untuk belajar, bekerja, maupun membangun karier.<\/p>\n<p data-start=\"496\" data-end=\"795\">Fenomena ini tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan ekonomi, serta lambatnya mobilitas sosial. Tak jarang, istilah tersebut digunakan sebagai bentuk sindiran atau ekspresi kekecewaan terhadap kondisi ketenagakerjaan nasional.<\/p>\n<p data-start=\"797\" data-end=\"1053\">Isu ini menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk <em data-start=\"844\" data-end=\"949\">\u201cKabur Aja Dulu Versus Kepentingan Nasional: Penguatan SDM Iptekin dan Paradigma Diplomasi RI ke Depan\u201d<\/em> yang diselenggarakan oleh Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) pada Rabu, 23 Juli 2025.<\/p>\n<p data-start=\"1055\" data-end=\"1292\">Hadir sebagai narasumber, Susanto Sutoyo, mantan Duta Besar RI untuk Italia sekaligus Wakil Tetap RI untuk FAO, IFAD, dan WFP (2005\u20132008), menyampaikan bahwa istilah \u201ckabur aja dulu\u201d seharusnya tidak langsung dimaknai secara negatif.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6214\" aria-describedby=\"caption-attachment-6214\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6214 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-23-at-10.56.57-1024x768.jpeg\" alt=\"Fenomena kabur aja dulu tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan ekonomi, serta lambatnya mobilitas sosial. \" width=\"580\" height=\"435\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-23-at-10.56.57-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-23-at-10.56.57-300x225.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-23-at-10.56.57-768x576.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-23-at-10.56.57-1536x1152.jpeg 1536w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-23-at-10.56.57-16x12.jpeg 16w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-23-at-10.56.57-1200x900.jpeg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-23-at-10.56.57.jpeg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6214\" class=\"wp-caption-text\">Susanto Sutoyo (no 4 duduk dari kanan) mantan dubes RI untuk Italia, wakil tetap RI untuk FAO, IFAD, dan WFP (2005-2008) memaparkan fenomena kabur aja dulu dalam diskusi CTIS, Rabu 23 Juli 2025. (dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<blockquote data-start=\"1294\" data-end=\"1529\">\n<p data-start=\"1296\" data-end=\"1529\"><em data-start=\"1296\" data-end=\"1520\">\u201c<\/em>Fenomena ini harus dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang. Banyak anak muda Indonesia yang ingin mengeksplorasi talenta mereka ke luar negeri karena keterbatasan di dalam negeri, terutama pada sektor lapangan kerja,\u201d ujarnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"1531\" data-end=\"1950\">Susanto menekankan bahwa bonus demografi Indonesia seharusnya tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai kekuatan. Ia menyebutkan bahwa banyak negara seperti Tiongkok, India, dan Korea Selatan telah berhasil mendorong warganya untuk bekerja atau magang di luar negeri\u2014yang kemudian menjelma menjadi SDM unggul dengan peran strategis di kancah global, khususnya dalam bidang sains, teknologi, dan informasi.<\/p>\n<blockquote data-start=\"1952\" data-end=\"2161\">\n<p data-start=\"1954\" data-end=\"2161\">\u201cKabur bukan berarti tidak nasionalis. Justru di sinilah peran para diplomat Indonesia diperlukan menjadi jembatan diplomasi, memfasilitasi penguatan SDM, dan memperkuat jejaring internasional,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"2163\" data-end=\"2515\">Susanto juga menyoroti bahwa diplomat memiliki peran penting dalam menyikapi eksodus talenta muda Indonesia. Alih-alih melihatnya sebagai kegagalan negara, para diplomat bisa mengarahkan para WNI di luar negeri menjadi \u201ckontributor global\u201d melalui program-program produktif seperti pelatihan, forum mahasiswa, promosi budaya, hingga inkubasi usaha.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6215\" aria-describedby=\"caption-attachment-6215\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6215 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.47.47-1024x755.jpeg\" alt=\"Fenomena kabur aja dulu tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan ekonomi, serta lambatnya mobilitas sosial.\" width=\"580\" height=\"428\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.47.47-1024x755.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.47.47-300x221.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.47.47-768x566.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.47.47-16x12.jpeg 16w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.47.47.jpeg 1083w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6215\" class=\"wp-caption-text\">Pelatihan menggunakan AI di kantor pusat WHO untuk para pemagang kerja dari berbagai negara. (Dok WHO)<\/figcaption><\/figure>\n<p data-start=\"2517\" data-end=\"2703\">Dalam paparannya, Susanto menyampaikan bahwa terdapat sejumlah program strategis di berbagai organisasi internasional seperti WHO dan ILO yang dapat diakses oleh SDM Indonesia, termasuk:<\/p>\n<ul data-start=\"2704\" data-end=\"2875\">\n<li data-start=\"2704\" data-end=\"2726\">\n<p data-start=\"2706\" data-end=\"2726\"><strong data-start=\"2706\" data-end=\"2726\">Training Program<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2727\" data-end=\"2751\">\n<p data-start=\"2729\" data-end=\"2751\"><strong data-start=\"2729\" data-end=\"2751\">Internship Program<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2752\" data-end=\"2776\">\n<p data-start=\"2754\" data-end=\"2776\"><strong data-start=\"2754\" data-end=\"2776\">Secondment Program<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2777\" data-end=\"2843\">\n<p data-start=\"2779\" data-end=\"2843\"><strong data-start=\"2779\" data-end=\"2843\">Junior Professional Officer (JPO) \/ Associate Expert Program<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2844\" data-end=\"2875\">\n<p data-start=\"2846\" data-end=\"2875\"><strong data-start=\"2846\" data-end=\"2875\">Visiting Scholars Program<\/strong><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"2877\" data-end=\"3158\">Program-program ini berada di bawah naungan badan-badan dunia seperti PBB, dengan berbagai skema pendanaan, baik melalui direct payment (dibiayai oleh negara pengirim) maupun indirect payment (pemerintah mentransfer dana ke organisasi internasional untuk mendanai peserta).<\/p>\n<p data-start=\"3160\" data-end=\"3481\">Sebagai gambaran, WHO menetapkan biaya US$100.000\u2013US$160.000 per tahun untuk skema <em data-start=\"3247\" data-end=\"3265\">indirect payment<\/em> per peserta. Selain itu, negara pengirim juga diwajibkan membayar <em data-start=\"3332\" data-end=\"3346\">support cost<\/em> sebesar 13 persen dari total pengeluaran tahunan untuk kebutuhan administratif seperti visa, izin tinggal, hingga akses ke gedung PBB.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6216\" aria-describedby=\"caption-attachment-6216\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6216 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.50.24-1024x718.jpeg\" alt=\"Fenomena kabur aja dulu tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan ekonomi, serta lambatnya mobilitas sosial.\" width=\"580\" height=\"407\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.50.24-1024x718.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.50.24-300x210.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.50.24-768x538.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.50.24-18x12.jpeg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-24-at-06.50.24.jpeg 1063w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6216\" class=\"wp-caption-text\">Pelatihan bioteknologi oleh WHO untuk para ahli bioteknologi di negara-negara miskin Afrika. (Dok WHO)<\/figcaption><\/figure>\n<p data-start=\"3483\" data-end=\"3721\">Susanto menegaskan bahwa sudah waktunya diplomasi Indonesia mengadopsi paradigma baru, yakni menjadikan penguatan kapasitas SDM di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi (Iptekin) sebagai bagian dari kepentingan nasional.<\/p>\n<blockquote data-start=\"3723\" data-end=\"3943\">\n<p data-start=\"3725\" data-end=\"3943\">\u201cPenguatan kompetensi SDM Iptekin harus menjadi agenda utama diplomasi kita, bukan sekadar pelengkap. Ini adalah bentuk konkret dari upaya menjaga dan memperjuangkan kepentingan nasional di tingkat global,\u201d tegasnya.<\/p>\n<\/blockquote>\n<p data-start=\"3945\" data-end=\"4191\">Ia menambahkan, jika dikelola dengan pendekatan inklusif dan suportif, fenomena \u201ckabur aja dulu\u201d dapat diarahkan menjadi gerakan \u201ckembali membawa kontribusi\u201d, baik melalui transfer ilmu, kolaborasi, maupun investasi SDM yang berkelanjutan.<\/p>\n<p data-start=\"4193\" data-end=\"4597\">Dalam hal ini, diplomat Indonesia berperan sebagai penjaga, penghubung, dan pengarah. Mereka tidak hanya melindungi WNI di luar negeri, tetapi juga berkontribusi mengubah paradigma dari pelarian menjadi potensi. Dengan membaca dinamika diaspora sebagai masukan kebijakan, diplomasi Indonesia diharapkan mampu menciptakan ekosistem global yang mendukung pengembangan SDM unggul Indonesia ke depan. ***<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ungkapan \u201ckabur aja dulu\u201d belakangan kerap muncul di kalangan anak muda Indonesia, khususnya di media sosial. Istilah ini mencerminkan keinginan generasi muda untuk pergi ke luar negeri demi mencari peluang hidup yang lebih baik untuk belajar, bekerja, maupun membangun karier. Fenomena ini tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":6217,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[39,256,255,257,258],"class_list":["post-6213","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-ctis","tag-diplomasi-indonesia","tag-kabur-aja-dulu","tag-peran-diplomasi","tag-sdm-iptekin"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/examining-sample-with-microscope-scaled.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6213","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6213"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6213\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6219,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6213\/revisions\/6219"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6217"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6213"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6213"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6213"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}