{"id":6220,"date":"2025-07-31T08:25:11","date_gmt":"2025-07-31T01:25:11","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=6220"},"modified":"2025-07-31T08:25:11","modified_gmt":"2025-07-31T01:25:11","slug":"indonesia-surga-baru-perdagangan-karbon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/indonesia-surga-baru-perdagangan-karbon\/","title":{"rendered":"Indonesia, Surga Baru Perdagangan Karbon"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\">Dengan kekayaan hutan, laut, dan sektor pertanian, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi besar dalam bisnis perdagangan karbon berbasis alam.<\/p>\n<p class=\"p1\">Indonesia juga telah mengambil peran aktif dalam upaya global mengatasi perubahan iklim. Bersama lebih dari 200 negara lainnya, Indonesia menyepakati komitmen melalui skema <i>Nationally Determined Contribution<\/i> (NDC), sebagai bagian dari implementasi Perjanjian Paris (Paris Agreement), yang bertujuan menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat Celsius.<\/p>\n<p class=\"p1\">Dalam diskusi bertajuk <b>&#8220;Non-Extractive Forest Business&#8221;<\/b> yang diselenggarakan oleh Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu, 30 Juli 2025, CEO TruCarbon, Debby Reynata, mengungkapkan berbagai potensi besar perdagangan karbon di Indonesia.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6221\" aria-describedby=\"caption-attachment-6221\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6221 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-31-at-07.51.04-1-1024x497.jpeg\" alt=\"Dengan kekayaan hutan, laut, dan sektor pertanian, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi besar dalam bisnis perdagangan karbon berbasis alam.\" width=\"580\" height=\"282\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-31-at-07.51.04-1-1024x497.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-31-at-07.51.04-1-300x146.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-31-at-07.51.04-1-768x373.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-31-at-07.51.04-1-18x9.jpeg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-31-at-07.51.04-1-1200x582.jpeg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/WhatsApp-Image-2025-07-31-at-07.51.04-1.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6221\" class=\"wp-caption-text\">Diskusi bertajuk &#8220;Non-Extractive Forest Business&#8221; yang diselenggarakan oleh Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu, 30 Juli 2025, dengan narasumber CEO TruCarbon, Debby Reynata (no 3 duduk dari kanan). (dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">\u201cPotensi karbon dari hutan Indonesia sangat besar, mencapai 240 juta ton per tahun. Untuk membangun proyek karbon di sektor kehutanan memang butuh waktu panjang, sekitar 30\u201340 tahun,\u201d jelas Debby.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ia menyebutkan bahwa dari total 120 juta hektare kawasan hutan di Indonesia, sekitar 50 juta hektare merupakan hutan lindung, sementara 61 juta hektare lainnya adalah hutan produksi yang sangat potensial untuk proyek karbon.<\/p>\n<p class=\"p1\">Selain itu, terdapat sekitar 20 juta hektare hutan produktif yang belum dimanfaatkan secara optimal. Area ini dianggap sangat cocok untuk pengembangan proyek karbon berbasis alam seperti REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation), ARR (Afforestation, Reforestation, and Revegetation), dan IFM (Improved Forest Management).<\/p>\n<p class=\"p1\">Secara keseluruhan, potensi karbon dari hutan Indonesia diperkirakan mencapai 2,8 miliar ton setara CO2 (<i>tCO2e<\/i>), angka yang diyakini mampu mendukung pencapaian target NDC.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6222\" aria-describedby=\"caption-attachment-6222\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6222 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/mangrove-1-1024x682.jpg\" alt=\"Dengan kekayaan hutan, laut, dan sektor pertanian, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi besar dalam bisnis perdagangan karbon berbasis alam.\" width=\"580\" height=\"386\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/mangrove-1-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/mangrove-1-300x200.jpg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/mangrove-1-768x512.jpg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/mangrove-1-18x12.jpg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/mangrove-1-1200x800.jpg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/mangrove-1.jpg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6222\" class=\"wp-caption-text\">Penanaman mangrove di pesisir pantai sebagai bagian gerakan blue carbon oleh Pemerintah RI. (dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p2\"><b>Enam Tipe Proyek Karbon Berbasis Alam<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Ia memaparkan bahwa terdapat enam tipe pendekatan utama dalam proyek karbon hutan yang bisa diterapkan di Indonesia, yakni:<\/p>\n<ol class=\"ol1\">\n<li class=\"li1\">Penghutanan kembali (<i>afforestation\/reforestation<\/i>)<\/li>\n<li class=\"li1\">Pengelolaan hutan yang ditingkatkan (Improved Forest Management\/IFM)<\/li>\n<li class=\"li1\">Perlindungan dan restorasi tanah gambut<\/li>\n<li class=\"li1\">Karbon biru (<i>blue carbon<\/i>) seperti mangrove<\/li>\n<li class=\"li1\">Agroforestri atau sistem tumpang sari<\/li>\n<li class=\"li1\">Konservasi kawasan dengan fungsi ekologis tinggi<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"p1\">\u201cAgroforestri, misalnya, mampu menjaga kesehatan tanah karena vegetasinya tidak monokultur, dan memberikan alternatif pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat lokal,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p class=\"p2\"><b>Standar Proyek Karbon Berkualitas<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Debby juga menekankan pentingnya menjaga integritas proyek karbon. Beberapa kriteria utama yang harus dipenuhi, antara lain:<\/p>\n<ul class=\"ul1\">\n<li class=\"li1\"><i>Additionality<\/i> (pengurangan emisi yang tidak akan terjadi tanpa proyek tersebut)<\/li>\n<li class=\"li1\">Kuantifikasi emisi<\/li>\n<li class=\"li1\">Titik acuan atau <i>baseline<\/i><i><\/i><\/li>\n<li class=\"li1\">Risiko kebocoran (leakage)<\/li>\n<li class=\"li1\">Manfaat bersama (<i>co-benefits<\/i>)<\/li>\n<li class=\"li1\">Keberlanjutan atau <i>permanence<\/i><i><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<figure id=\"attachment_6223\" aria-describedby=\"caption-attachment-6223\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6223 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20240801-WA0003-1-1-1024x768.jpg\" alt=\"Dengan kekayaan hutan, laut, dan sektor pertanian, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi besar dalam bisnis perdagangan karbon berbasis alam.\" width=\"580\" height=\"435\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20240801-WA0003-1-1-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20240801-WA0003-1-1-300x225.jpg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20240801-WA0003-1-1-768x576.jpg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20240801-WA0003-1-1-16x12.jpg 16w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/IMG-20240801-WA0003-1-1.jpg 1040w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6223\" class=\"wp-caption-text\">Petugas Manggala Agni tengah memadamkan api saat karhutla di Riau. Kebakaran hutan menjadi salah satu faktor risiko dalam proyek karbon. (Dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Sebagai contoh, hutan lindung yang secara teori tidak bisa masuk dalam proyek karbon karena status perlindungannya, dalam praktiknya bisa dipertimbangkan jika perlindungan tersebut tidak berjalan optimal, seperti masih terjadi pembalakan liar atau kebakaran hutan.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cJika perlindungan tidak efektif dan proyek karbon justru mampu menjaga keberlanjutan hutan tersebut, maka itu bisa masuk ke dalam skema,\u201d jelas Debby.<\/p>\n<p class=\"p1\">Ia juga menegaskan bahwa proyek karbon harus tetap memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. \u201cWarga desa yang semula menggantungkan hidup dari aktivitas seperti penebangan liar atau penambangan emas, harus dialihkan ke pekerjaan lain yang tetap menjaga hutan tetap lestari,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p class=\"p2\"><b>Tantangan dan Peluang<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Menurut Debby, pengembangan proyek karbon melibatkan tahapan panjang, mulai dari studi kelayakan, penyusunan dokumen desain proyek, pendaftaran dan validasi, pelaksanaan dan pemantauan (MRV), hingga verifikasi dan penerbitan kredit karbon.<\/p>\n<p class=\"p1\">Namun demikian, tidak semua proyek karbon memiliki tingkat kesulitan yang sama. Proyek di lahan gambut dinilai paling kompleks karena memerlukan pengelolaan air yang ketat. Sementara proyek di ekosistem mangrove menghadapi kendala keterbatasan lahan karena berada di wilayah pesisir.<\/p>\n<p class=\"p1\">TruCarbon sebagai project<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0<\/span>development menggandeng mitra strategis untuk memastikan ketersediaan data valid terkait kondisi hutan yang dijadikan objek proyek karbon.<\/p>\n<p class=\"p1\">Debby mengakui bahwa risiko tetap ada, seperti kebakaran di area konsesi, rendahnya kualitas pembeli, hingga fluktuasi tren pasar. \u201cPembeli karbon biasanya melihat tren. Kalau sedang ramai, mereka beli. Kalau tidak, ya ditinggalkan,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p class=\"p2\"><b>Perdagangan Karbon di Indonesia masih Dini<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Saat ini, perdagangan karbon di Indonesia masih dalam tahap awal. Meski sejumlah proyek karbon sudah berjalan, skalanya masih terbatas.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cIndonesia sebenarnya sangat seksi di mata pembeli karbon internasional. Banyak dari mereka mulai masuk ke pasar Indonesia,\u201d ungkap Debby.<\/p>\n<p class=\"p1\">Namun, perdagangan karbon domestik masih terhambat oleh ketiadaan regulasi yang mewajibkan perusahaan menetapkan batas emisi. Akibatnya, belum banyak perusahaan dalam negeri yang terdorong untuk ikut menjual kredit karbon.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cSelama ini hampir seluruh permintaan berasal dari luar negeri. Pemerintah sedang berupaya mendorong keterlibatan pelaku usaha dalam negeri, sambil mempersiapkan regulasinya,\u201d pungkas Debby. ***<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dengan kekayaan hutan, laut, dan sektor pertanian, Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi besar dalam bisnis perdagangan karbon berbasis alam. Indonesia juga telah mengambil peran aktif dalam upaya global mengatasi perubahan iklim. Bersama lebih dari 200 negara lainnya, Indonesia menyepakati komitmen melalui skema Nationally Determined Contribution (NDC), sebagai bagian dari implementasi Perjanjian Paris (Paris [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":6224,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[39,76,150,259,260,261],"class_list":["post-6220","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-ctis","tag-lingkungan-hidup","tag-penurunan-emisi-karbon","tag-perdagangan-karbon","tag-proyek-karbon","tag-teknologi-hijau"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beautiful-view-wind-turbines-grass-covered-field-captured-holland-scaled.jpg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6220","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6220"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6220\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6225,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6220\/revisions\/6225"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6220"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6220"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6220"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}