{"id":6644,"date":"2026-10-15T05:41:43","date_gmt":"2026-10-14T22:41:43","guid":{"rendered":"https:\/\/ctis.id\/?p=6644"},"modified":"2026-10-15T05:41:43","modified_gmt":"2026-10-14T22:41:43","slug":"swasembada-daging-sapi-dan-susu-butuh-transformasi-peternakan-berbasis-teknologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ctis.id\/en\/swasembada-daging-sapi-dan-susu-butuh-transformasi-peternakan-berbasis-teknologi\/","title":{"rendered":"Swasembada Daging Sapi dan Susu Butuh Transformasi Peternakan Berbasis Teknologi"},"content":{"rendered":"<p class=\"p1\">Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu.<\/p>\n<p class=\"p1\">Di tengah keberhasilan sektor unggas mencapai surplus produksi, peternakan sapi potong dan sapi perah terkendala rendahnya produktivitas, keterbatasan pakan, penyakit hewan, serta sistem usaha yang belum dikelola secara optimal.<\/p>\n<p class=\"p1\">Persoalan tersebut menjadi bahasan diskusi ilmiah Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema \u201cMungkinkah Indonesia Swasembada Daging dan Susu?\u201d yang menghadirkan <span class=\"s1\">Prof. Dr. drh. Bambang Purwantara, M.Sc., Ph.D, Guru Besar Reproduksi Hewan pada Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University, <\/span>Rabu (14\/10\/2026). Diskusi dipandu Adviser CTIS Santo Sutoyo, dengan pengantar Ketua CTIS Wendy Aritenang.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6645\" aria-describedby=\"caption-attachment-6645\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6645 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-05.20.24-1024x706.jpeg\" alt=\"Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu. \" width=\"580\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-05.20.24-1024x706.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-05.20.24-300x207.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-05.20.24-768x530.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-05.20.24-18x12.jpeg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-05.20.24.jpeg 1195w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6645\" class=\"wp-caption-text\">Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema \u201cMungkinkah Indonesia Swasembada Daging dan Susu?\u201d yang menghadirkan Prof. Dr. drh. Bambang Purwantara, M.Sc., Ph.D, (tengah) Guru Besar Reproduksi Hewan pada Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University, Rabu (14\/10\/2026). Diskusi dipandu Adviser CTIS Santo Sutoyo, dengan pengantar Ketua CTIS Wendy Aritenang (kiri). (dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p1\">Dalam paparannya, Bambang menjelaskan bahwa ketimpangan produksi protein hewani nasional terlihat dari kondisi sektor unggas yang telah surplus, sementara pasokan daging sapi dan susu masih jauh dari kebutuhan domestik.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cProduksi daging ayam ras pada 2025 diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi domestik sebesar 3,87 juta ton. Produksi telur juga mencapai 6,52 juta ton,\u201d kata Bambang.<\/p>\n<p class=\"p1\">Sebaliknya, produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi sekitar 20-21 persen kebutuhan nasional. Dari total kebutuhan sekitar 4,5 juta ton, produksi domestik tercatat sekitar 946,4 ribu ton.<\/p>\n<p class=\"p1\">Sementara itu, ketergantungan impor daging sapi masih mencapai 45\u201350 persen, dengan defisit pasokan sekitar 300.000-400.000 ton per tahun.<\/p>\n<p class=\"p1\">Kesenjangan produksi tersebut turut tercermin dalam konsumsi. Konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia tercatat sekitar 2,4 kilogram per kapita per tahun, sedangkan konsumsi susu mencapai 16,1 liter per kapita per tahun.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6646\" aria-describedby=\"caption-attachment-6646\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6646 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.28.35-1024x768.jpeg\" alt=\"Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu. \" width=\"580\" height=\"435\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.28.35-1024x768.jpeg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.28.35-300x225.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.28.35-768x576.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.28.35-16x12.jpeg 16w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.28.35-1200x900.jpeg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-14-at-13.28.35.jpeg 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6646\" class=\"wp-caption-text\">Diskusi ilmiah Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema \u201cMungkinkah Indonesia Swasembada Daging dan Susu?\u201d, Rabu, 14 Oktober 2026. (dok CTIS)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p2\"><b>Empat Persoalan Utama Peternakan<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Menurut analisis yang dipaparkan Bambang, terdapat empat persoalan mendasar yang menghambat perkembangan peternakan ruminansia, yakni dominasi peternak berskala kecil, rendahnya produktivitas ternak, ancaman penyakit hewan menular, serta pemotongan sapi betina produktif.<\/p>\n<p class=\"p1\">Sekitar 80-85 persen populasi ternak dikelola peternak rakyat dengan kepemilikan rata-rata hanya dua hingga tiga ekor. Dalam kondisi tersebut, sapi kerap diperlakukan sebagai aset atau tabungan untuk menghadapi kebutuhan mendesak, bukan sebagai bagian dari usaha produksi yang dikelola secara berkelanjutan.<\/p>\n<p class=\"p1\">Produktivitas sapi perah rakyat juga masih berkisar 8\u201312 liter susu per ekor per hari, jauh di bawah target 25-30 liter yang disebut dalam paparan untuk sistem peternakan korporasi.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cDari kebutuhan susu segar di dalam negeri, 80 persen masih impor dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0 <\/span>dan Eropa dalam bentuk susu bubuk. Maka harga susu masih mahal,\u201d terangnya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Kendala lainnya adalah keterbatasan pakan, persoalan genetik, serta penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). Pemotongan sapi betina produktif turut mengancam keberlanjutan populasi indukan.<\/p>\n<p class=\"p1\">Karena itu, peningkatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan penambahan jumlah ternak. Diperlukan transformasi tata kelola peternakan yang mengintegrasikan teknologi reproduksi, penyediaan pakan, biosekuriti, dan penguatan kelembagaan peternak.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6647\" aria-describedby=\"caption-attachment-6647\" style=\"width: 960px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6647 size-full\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3380.jpeg\" alt=\"Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu. \" width=\"960\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3380.jpeg 960w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3380-300x169.jpeg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3380-768x432.jpeg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/3380-18x10.jpeg 18w\" sizes=\"auto, (max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6647\" class=\"wp-caption-text\">Kementerian Pertanian mengembangkan sapi jenis Belgian Blue di Indonesia. (dok Kementerian Pertanian)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p2\"><b>Bioteknologi dan AI untuk Meningkatkan Produktivitas<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Salah satu strateginya<span class=\"Apple-converted-space\">\u00a0 <\/span>adalah pemanfaatan bioteknologi reproduksi, antara lain inseminasi buatan dengan teknologi <i>sexing<\/i> untuk meningkatkan peluang kelahiran pedet betina, serta transfer embrio dan fertilisasi <i>in vitro<\/i> untuk mempercepat pengembangan bibit unggul.<\/p>\n<p class=\"p1\">Pemerintah juga merencanakan pengadaan satu hingga dua juta sapi perah produktif pada periode 2025\u20132029. Namun target ini bisa bergeser karena situasi ekonomi global dan dalam negeri. Pada tahap awal telah ditandai dengan masuknya 9.736 ekor sapi perah dari Australia untuk didistribusikan ke peternakan industri, badan usaha milik daerah, dan koperasi terverifikasi.<\/p>\n<p class=\"p1\">Dari sisi pakan, pengembangan <i>fodder bank<\/i> atau bank pakan ternak serta integrasi sapi dan kelapa sawit melalui Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) dinilai dapat membantu menjamin ketersediaan pakan. Pemanfaatan lahan yang sesuai untuk rumput unggul dan leguminosa juga menjadi bagian dari strategi tersebut.<\/p>\n<p class=\"p1\">Menurut Bambang, teknologi digital menjadi komponen penting dalam modernisasi peternakan. Penggunaan RFID pada telinga ternak, sensor, Internet of Things (IoT), dan analitik berbasis kecerdasan buatan memungkinkan pemantauan kesehatan secara waktu nyata, deteksi dini penyakit, serta identifikasi masa reproduksi yang lebih akurat.<\/p>\n<p class=\"p1\">Penerapan biosekuriti melalui pembagian zona kandang juga diperlukan untuk mengurangi risiko penularan penyakit. Sementara itu, asuransi ternak, penyesuaian pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta penguatan koperasi diharapkan dapat membantu peternak menghadapi risiko usaha dan meningkatkan posisi tawar.<\/p>\n<figure id=\"attachment_6648\" aria-describedby=\"caption-attachment-6648\" style=\"width: 580px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-6648 size-large\" src=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/535518203_1080277480953100_5413881606655054070_n-1024x682.jpg\" alt=\"Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu. \" width=\"580\" height=\"386\" srcset=\"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/535518203_1080277480953100_5413881606655054070_n-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/535518203_1080277480953100_5413881606655054070_n-300x200.jpg 300w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/535518203_1080277480953100_5413881606655054070_n-768x512.jpg 768w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/535518203_1080277480953100_5413881606655054070_n-1536x1023.jpg 1536w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/535518203_1080277480953100_5413881606655054070_n-18x12.jpg 18w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/535518203_1080277480953100_5413881606655054070_n-1200x800.jpg 1200w, https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/535518203_1080277480953100_5413881606655054070_n.jpg 1600w\" sizes=\"auto, (max-width: 580px) 100vw, 580px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-6648\" class=\"wp-caption-text\">Sapi perah di Indonesia terus dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan susu nasional. (dok Kementerian Pertanian)<\/figcaption><\/figure>\n<p class=\"p2\"><b>Target Swasembada hingga 2045<\/b><\/p>\n<p class=\"p1\">Peta jalan yang dipaparkan Bambang dalam menetapkan sejumlah target jangka menengah dan panjang. Untuk susu segar, pemerintah menargetkan peningkatan pemenuhan kebutuhan domestik dari sekitar 21 persen pada 2024 menjadi 96 persen pada 2029.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cSementara itu, swasembada daging sapi penuh ditargetkan tercapai pada 2034. Pada periode 2035\u20132045, pengembangan seleksi genomik berbasis DNA dan peternakan berkelanjutan berbantuan AI diarahkan untuk mendukung visi Indonesia Emas,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p class=\"p1\">Pencapaian target tersebut memerlukan koordinasi lintas sektor, mulai dari pengembangan bibit, penyediaan lahan dan pakan, pengendalian penyakit, pembiayaan, hingga penyerapan hasil peternakan.<\/p>\n<p class=\"p1\">Bambang menegaskan bahwa swasembada daging sapi dan susu tidak cukup ditempuh melalui penambahan populasi ternak atau impor indukan.<\/p>\n<p class=\"p1\">\u201cKeberhasilannya bergantung pada pembenahan ekosistem peternakan secara menyeluruh, dengan dukungan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan penguatan peternak rakyat,\u201d pungkasnya.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu. Di tengah keberhasilan sektor unggas mencapai surplus produksi, peternakan sapi potong dan sapi perah terkendala rendahnya produktivitas, keterbatasan pakan, penyakit hewan, serta sistem usaha yang belum dikelola secara optimal. Persoalan tersebut menjadi bahasan diskusi ilmiah Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":6649,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[456,39,457,455,238,458],"class_list":["post-6644","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-iptek-dalam-negeri","tag-bambang-purwantara","tag-ctis","tag-ketergantungan-impor","tag-swasembada-susu-dan-dan-daging-sapi","tag-teknologi-pertanian","tag-teknologi-peternakan"],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/ctis.id\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/WhatsApp-Image-2026-10-15-at-05.24.12.jpeg","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6644","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6644"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6644\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6650,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6644\/revisions\/6650"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6649"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6644"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6644"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ctis.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6644"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}