Categories
Domestic S&T News

Menuju Indonesia 2045, IPTEK dan HaKI Jadi Kunci Pembangunan Nasional

Indonesia memasuki fase krusial menuju visi Indonesia Emas 2045. Di tengah bonus demografi, dinamika global, serta percepatan transformasi teknologi, arah pembangunan nasional dinilai harus segera bertransformasi. Paradigma lama yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan masa depan.

Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK
Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo, dan pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004 (duduk berjas hitam) dalam diskusi CTIS bertajuk “Beberapa Tantangan Untuk Dijawab: Pemahaman Konsepsi Dasar Sekitar HAKI” pada Rabu (25/2/2026). (dok CTIS)

Hal tersebut disampaikan Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo, dan pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004 dalam diskusi CTIS bertajuk “Beberapa Tantangan Untuk Dijawab: Pemahaman Konsepsi Dasar Sekitar HAKI” pada Rabu (25/2/2026).

Sebagai moderator Susanto Sutoyo, eks Dubes RI Italia dan Wakil Tetap RI untuk  FAO-IFAD-WFP (2006-2008).

Menurut Bambang, berbagai persoalan strategis yang dihadapi Indonesia saat ini saling berkelindan dan bermuara pada satu kesimpulan besar: pembangunan nasional harus berbasis kualitas manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEK).

Lima Tantangan Besar Indonesia

Bambang menguraikan sedikitnya lima tantangan utama yang harus segera direspons secara sistemik. Pertama, kependudukan dan pangan. Kedua kualitas manusia Indonesia, Indonesia 2035 dan Indonesia 2045.

Ketiga, tantangan pembangunan, keempat tantangan faktor kekayaan hayati, perlindungan dan pemanfaatan. Dan tantangan terakhir adalah bagaimana Indonesia menatap masa depan yang dekat.

Kependudukan dan ketahanan pangan

Jumlah penduduk Indonesia terus meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Dalam periode 2015–2025, populasi naik sekitar 10,14 persen atau sekitar 28,8 juta jiwa. Bahkan, pada 2030 jumlah penduduk diproyeksikan mendekati 300 juta jiwa.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk perkotaan meningkat sekitar 3 persen setiap lima tahun, sementara populasi perdesaan menurun dengan persentase serupa. Urbanisasi yang tidak terbendung memicu berbagai persoalan, mulai dari tekanan terhadap lapangan kerja di kota hingga berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian.

Sementara itu, lahan pertanian terus menyusut akibat alih fungsi lahan dan ekspansi kawasan industri maupun permukiman. Kondisi tersebut berdampak pada ketergantungan terhadap impor pangan karena produksi dalam negeri belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional.

“Di sinilah pentingnya teknologi pertanian, mulai dari pengolahan lahan, sistem irigasi, pupuk, pembenihan, hingga teknologi pascapanen,” kata Bambang.

Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK
Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo. (dok CTIS)

Kualitas sumber daya manusia

Ia menyoroti bahwa sekitar 70 persen penduduk Indonesia masih berpendidikan SMP ke bawah, dan sekitar 24,3 persen tidak bersekolah. Angka tersebut menjadi tantangan serius dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi era ekonomi berbasis pengetahuan.

Menurut Bambang, peningkatan kualitas manusia tidak hanya soal pendidikan formal, tetapi juga pembangunan karakter, mentalitas, dan etos kerja.

“Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK,” tegasnya.

Pergeseran Paradigma Pembangunan

Bambang menilai sudah saatnya Indonesia meninggalkan pola pembangunan berbasis eksploitasi dan ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan. Model tersebut dinilai rawan memicu konflik lingkungan hidup serta tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Sebaliknya, kekuatan intelektual manusia harus menjadi motor utama pembangunan. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China disebutnya sebagai contoh bagaimana investasi pada SDM dan teknologi mampu mentransformasi negara menjadi kekuatan ekonomi modern.

Lahirlah paradigma baru, Pembangunan Nasional berbasis kualitas manusia dan IPTEK.

Untuk itu, diperlukan peta jalan (roadmap) yang jelas dan konsisten. Roadmap tersebut harus mencakup desain kelembagaan, tata kelola organisasi, hingga pengembangan personalia yang mendukung ekosistem riset dan inovasi.

Indonesia sejatinya telah memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Sistem Nasional IPTEK. Namun, Bambang menilai implementasi kedua regulasi tersebut masih belum optimal.

Refleksi dari Pandemi dan Prioritas Riset

Dalam tantangan pembangunan, Bambang menyinggung pengalaman pandemi Covid-19 sebagai pembelajaran penting. Saat pandemi, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp400 triliun untuk pengadaan vaksin dan penanganan dampak kesehatan, sementara anggaran riset BRIN hanya sekitar Rp6,1 triliun.

Kesenjangan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas riset nasional agar Indonesia tidak selalu bergantung pada produk luar negeri dalam situasi krisis.

Ia menegaskan bahwa prioritas riset nasional seharusnya difokuskan pada sektor-sektor strategis, yakni pangan dan pertanian, kesehatan (bahan baku obat dan obat), lingkungan khususnya air bersih, serta energi.

“Riset yang aplikatif dan berdaya guna akan menghasilkan paten. Dari paten itulah lahir nilai tambah ekonomi melalui lisensi dan komersialisasi,” ujarnya.

“Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK

Tantangan Komersialisasi dan Peran HaKI

Meski jumlah paten terdaftar dari hasil riset cukup besar, tingkat lisensinya masih rendah. Dari ratusan paten di bidang pembangunan berkelanjutan dan kemandirian kesehatan, sangat kecil yang berhasil memperoleh lisensi.

Sebaliknya, di banyak negara maju, para peneliti dan inventor sebagai pemegang HaKI mampu hidup lebih sejahtera karena memperoleh pendapatan berkelanjutan dari lisensi paten dan komersialisasi hasil inovasi mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem inovasi Indonesia belum sepenuhnya terhubung antara riset, industri, dan pasar.

Bambang menegaskan pentingnya Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) sebagai instrumen strategis dalam ekonomi modern. Menurutnya, HaKI merupakan hak atas kekayaan yang lahir dari kemampuan intelektual manusia dan memiliki nilai ekonomi sekaligus moral.

“HaKI bukan sekadar persoalan hukum, melainkan bentuk penghormatan terhadap kemampuan intelektual manusia dan dorongan bagi lahirnya inovasi,” katanya.

Ia menambahkan, dalam ekonomi berbasis pengetahuan, pemahaman HaKI harus menjadi kesadaran lintas disiplin. Pendidikan mengenai perlindungan kekayaan intelektual tidak boleh hanya diajarkan di fakultas hukum, tetapi juga di bidang teknik, kedokteran, pertanian, biologi, hingga ekonomi.

Dengan penguatan kualitas SDM, konsistensi roadmap IPTEK, serta optimalisasi HaKI, Bambang optimistis Indonesia dapat membangun fondasi peradaban modern yang berdaya saing global.

“Perlindungan atas kemampuan intelektual manusia adalah fondasi kemajuan bangsa. Tanpa itu, kita akan terus tertinggal dalam kompetisi global,” pungkasnya.***

Categories
Domestic S&T News

Satelit dan AI Dipakai untuk Prediksi Wabah Malaria dan DBD di Indonesia

Penyakit menular yang sensitif terhadap perubahan iklim kian menjadi ancaman serius, termasuk di Indonesia. Perubahan suhu, pola curah hujan, hingga cuaca ekstrem akibat krisis iklim memengaruhi pola penyebaran penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.

Hal ini mengemuka dalam diskusi bertema Bringing Earth Observations Into Early Warning System for Malaria and Dengue in Indonesia yang digelar secara hibrida oleh KORIKA, CTIS, BMKG, University of Maryland, dan IMACS pada Rabu, 11 Februari 2026.

Diskusi menghadirkan Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, Profesor Tatiana Loboda dari University of Maryland AS, Direktur Institute for Health Modeling and Climate Solutions (IMACS), Dr. Kaushik Sarkar, dengan Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Prof. Dr. Hammam Riza sebagai moderator.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Diskusi bertema Bringing Earth Observations Into Early Warning System for Malaria and Dengue in Indonesia yang digelar secara hibrida oleh KORIKA, CTIS, BMKG, University of Maryland, dan IMACS pada Rabu, 11 Februari 2026. (Dok CTIS)

BMKG Luncurkan DBDKlim

Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa BMKG telah mengembangkan layanan inovatif bernama DBDKlim. Platform ini memanfaatkan data iklim untuk memprediksi risiko demam berdarah.

“Layanan DBDKlim menggunakan model statistik untuk memprediksi risiko demam berdarah berdasarkan faktor-faktor iklim seperti suhu, kelembapan udara, dan curah hujan. Informasi ini disajikan dalam bentuk peta dan grafik yang mudah dipahami,” ujarnya.

 Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan memberikan paparan secara hibrida. (Dok CTIS)

Menurut Ardhasena, layanan tersebut diharapkan membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengambil langkah pencegahan serta pengendalian DBD secara lebih efektif. Saat ini, DBDKlim telah diterapkan di Provinsi Bali, Lampung, dan DKI Jakarta.

Ia menambahkan, peningkatan suhu udara dan cuaca ekstrem mempercepat perkembangbiakan nyamuk. Pada 2026, BMKG memprediksi puncak kasus DBD terjadi pada Maret hingga Mei, terutama di kota-kota besar.

Indonesia sendiri telah memiliki Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim sektor kesehatan. Untuk mendukung implementasinya, diperlukan Climate Data Center guna membaca tren perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Peran Penginderaan Jauh

Profesor Tatiana Loboda menegaskan bahwa Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap penyakit terkait perubahan iklim.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan dan penyakit menular. Kami berharap dapat menyediakan prakiraan dini yang dapat ditindaklanjuti terkait potensi wabah malaria dan dengue melalui pemanfaatan citra satelit,” katanya.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Profesor Tatiana Loboda dari University of Maryland. (dok CTIS)

Loboda menjelaskan, data penginderaan jauh (remote sensing) dapat digunakan untuk menganalisis risiko penyakit melalui tiga komponen utama.

Pertama, aspek bahaya (hazard), yaitu mengidentifikasi habitat dan kondisi lingkungan yang mendukung vektor penyakit seperti nyamuk.
Kedua, aspek paparan (exposure), yakni memetakan wilayah tempat manusia berpotensi kontak dengan vektor.
Ketiga, aspek kerentanan (vulnerability), dengan melihat indikator sosial-ekonomi dan akses layanan kesehatan.

“Dengan menggabungkan ketiga komponen tersebut, kita dapat menilai risiko penyakit secara lebih komprehensif,” ujarnya.

Menurutnya, setiap komponen membutuhkan pertimbangan berbeda terkait parameter, cakupan wilayah, resolusi, dan kualitas data. Sejak 2014, Loboda aktif menjembatani ilmu geospasial dan kedokteran untuk memantau serta memprediksi wabah malaria di Asia Tenggara.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Penginderaan jauh (remote sensing) dengan citra satelit dapat digunakan untuk menganalisis risiko penyakit akibat perubahan iklim. (Dok Prof Tatiana Loboda)

Platform AI ClimateSmart Indonesia

Direktur IMACS Dr. Kaushik Sarkar memaparkan bahwa Indonesia kini memiliki platform berbasis kecerdasan buatan, ClimateSmart Indonesia, yang dirancang untuk memprediksi dan merespons penyakit sensitif iklim.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Direktur IMACS Dr. Kaushik Sarkar. (Dok CTIS)

Platform ini mencakup Digital Twin Indonesia dan dashboard AI sebagai sistem pendukung keputusan (decision support system). Teknologi tersebut memungkinkan deteksi dini risiko malaria dan membantu perencanaan intervensi berbasis data.

ClimateSmart Indonesia dikembangkan melalui kolaborasi KORIKA, Mohamed bin Zayed University of Artificial Intelligence (MBZUAI), dan IMACS.

“Secara bersama-sama, sistem peringatan dini dan alat perencanaan malaria berbasis informasi iklim dari inisiatif ini akan menjadi langkah maju menuju eliminasi malaria yang tahan terhadap perubahan iklim,” kata Sarkar.

Penguatan Kerja Sama Riset

Diskusi turut dihadiri Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo. Ia menyambut positif pemanfaatan teknologi digital dan satelit untuk menekan kasus malaria serta penyakit terkait perubahan iklim lainnya.

Indroyono berharap kolaborasi riset Indonesia–Amerika Serikat dapat terus diperkuat, termasuk dalam pembangunan pusat data (data center) kesehatan dan iklim.

Sementara itu, Prof. Hammam Riza menegaskan bahwa pemanfaatan machine learning dan sains data memungkinkan penyebaran malaria diprediksi dan dipetakan secara lebih presisi.

“Dengan pendekatan berbasis data, intervensi dan mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran untuk menekan angka penyakit menular di Indonesia,” ujarnya.

Pemanfaatan teknologi satelit, kecerdasan buatan, dan data iklim dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh menghadapi dampak perubahan iklim.***