Categories
Domestic S&T News

Dari Tambang ke Geopolitik: Strategi Indonesia Mengelola Logam Tanah Jarang

Di balik percepatan transisi energi global dan pesatnya revolusi teknologi, terdapat mineral-mineral strategis yang menjadi fondasi peradaban modern. Salah satunya adalah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE), sekelompok unsur yang menjadi komponen vital baterai kendaraan listrik, turbin angin, panel surya, semikonduktor, hingga sistem pertahanan canggih.

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.

Dalam konteks ini, Indonesia menyimpan potensi strategis yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi terbatas bertema Geostrategis Logam Tanah Jarang yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.
Diskusi terbatas bertema Geostrategis Logam Tanah Jarang yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3/2026). (Dok CTIS)

Forum mempertemukan pakar lintas sektor: Dr. Ridwan Djamaluddin dan Dr. Idwan Suhardi (CTIS); Dr. Mirzam Abdurrahman (IPTM-ITB); Prof. Dr. Joko Troyono (Universitas Indonesia); Dr. Fajar Nurjaman (Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN); Koesnohadi (Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia); Arnazt Purba Andriyanto dan Abdul Bari (PT Aneka Tambang Tbk/Antam); Dr. Ing. M. Abdul Kholiq (Dewan Pertahanan Nasional Kementerian Pertahanan); serta tim peneliti CSIS Indonesia yang terdiri dari M. Habib Abiyan Dzakwan, Dandy Rafitrandi, dan Stefani.

Bayang-Bayang Dominasi Global

Selama dua dekade terakhir, rantai pasok LTJ dunia masih terkonsentrasi pada satu kekuatan utama: China. Negara tersebut tidak hanya unggul dalam produksi, tetapi juga menguasai teknologi pemisahan dan pemurnian mineral tahapan paling krusial yang menentukan nilai tambah industri.

Ketergantungan global pada satu negara memunculkan kekhawatiran strategis. Amerika Serikat, Jepang, hingga Uni Eropa kini berlomba membangun diversifikasi pasokan demi menjaga stabilitas industri teknologi dan pertahanan mereka.

Situasi ini membuka ruang bagi negara-negara pemilik cadangan mineral, termasuk Indonesia.

Cadangan LTJ Indonesia tersebar di berbagai wilayah seperti Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan industri bernilai tambah tinggi.

Keterbatasan teknologi pemurnian, minimnya fasilitas hilirisasi, serta belum terbangunnya ekosistem industri berbasis advanced materials menjadi tantangan mendasar.

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.
Logam Tanah Jarang. (Dok CTIS)

Investasi Teknologi: Kunci Melompat

Dalam diskusi, Koesnohadi menegaskan bahwa penguasaan teknologi merupakan faktor pembeda antara negara pengekspor bahan mentah dan negara maju berbasis industri.

Menurutnya, lompatan kemajuan negara maju terjadi melalui investasi besar pada teknologi strategis jangka panjang. Indonesia pun dinilai perlu berani menanam investasi riset pada teknologi kunci yang relevan untuk satu dekade mendatang.

Ia juga menyoroti pentingnya mendorong peneliti domestik mengembangkan teknologi siap pakai agar dapat ditingkatkan ke skala industri.

Pandangan tersebut diperkuat Dr. Fajar Nurjaman yang memaparkan capaian Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam pengembangan teknologi ekstraksi LTJ sejak 2018.

Melalui fasilitas pilot plant di Yogyakarta dan Jakarta, BRIN telah mampu memisahkan unsur strategis seperti lantanum, serium, praseodimium, dan neodimium, material vital bagi industri magnet permanen, baterai kendaraan listrik, dan teknologi energi bersih.

Namun Fajar mengingatkan, penguasaan teknologi tidak berhenti pada kemampuan produksi.

“Indonesia harus mulai merancang teknologi masa depan. Penguatan SDM iptek dan dukungan anggaran riset menjadi faktor penentu,” tegasnya.

Fondasi Industrialisasi Modern

Sementara itu, Prof. Dr. Joko Troyono menempatkan pengembangan advanced materials sebagai fondasi revolusi industri modern. Negara dengan kemampuan sains material yang kuat cenderung memimpin inovasi teknologi global.

Menurutnya, strategi tersebut telah menjadi bagian dari kebijakan nasional, namun implementasinya perlu konsistensi lintas sektor.

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.
Tim peneliti CSIS Indonesia M. Habib Abiyan Dzakwan (nomor 2 dari kiri) dan Dandy Rafitrandi (nomor 1 dari kiri). (Dok CTIS)

Dari perspektif kebijakan strategis, M. Habib Abiyan Dzakwan menilai pengelolaan mineral kritis memerlukan visi negara yang terintegrasi dengan agenda kemandirian energi dan teknologi nasional.

Ia menekankan pentingnya evaluasi transfer teknologi dari kerja sama investasi asing agar tidak berhenti pada eksploitasi sumber daya semata.

Senada, Dandy Rafitrandi menyoroti absennya peta jalan teknologi nasional yang komprehensif.

“Kita belum memiliki pohon teknologi, baru sebatas pohon produk,” ujarnya.

Ia menilai identifikasi teknologi prioritas menjadi langkah mendesak, dengan skema kerja sama antar pemerintah (government-to-government) sebagai model pendanaan paling ideal bagi pengembangan teknologi strategis.

Diplomasi Mineral dan Kesejahteraan

Dr. Ridwan Djamaluddin memandang rivalitas geopolitik Amerika Serikat dan China menjadikan mineral kritis sebagai alat tawar ekonomi-politik global. Dalam situasi tersebut, Indonesia berpeluang memposisikan diri sebagai mitra strategis alternatif melalui diplomasi mineral yang seimbang.

Langkah tersebut perlu diperkuat melalui kebijakan hilirisasi yang konsisten guna meningkatkan nilai tambah dalam negeri.

Di sisi lain, Dr. Idwan Suhardi mengingatkan bahwa pengembangan LTJ tidak boleh berhenti pada ambisi geopolitik dan industri semata.

Pemanfaatan mineral strategis harus mampu mendorong inovasi yang berdampak pada ekonomi mikro serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.
Diskusi terbatas bertema Geostrategis Logam Tanah Jarang yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3/2026). (Dok CTIS)

Momentum Naik Kelas

Diskusi tersebut menyimpulkan satu benang merah: logam tanah jarang merupakan pintu masuk Indonesia untuk naik kelas dalam rantai pasok global.

Dari sekadar pemasok bahan mentah, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama industri teknologi tinggi dan energi bersih dunia.

Namun peluang itu mensyaratkan visi jangka panjang, keberanian investasi riset, penguatan SDM iptek, serta konsistensi kebijakan hilirisasi nasional.

Di tengah persaingan geopolitik mineral kritis yang semakin tajam, penguasaan LTJ bukan lagi sekadar isu pertambangan melainkan strategi besar menuju kedaulatan teknologi dan ketahanan ekonomi bangsa. ***

Categories
Domestic S&T News

Menuju Indonesia 2045, IPTEK dan HaKI Jadi Kunci Pembangunan Nasional

Indonesia memasuki fase krusial menuju visi Indonesia Emas 2045. Di tengah bonus demografi, dinamika global, serta percepatan transformasi teknologi, arah pembangunan nasional dinilai harus segera bertransformasi. Paradigma lama yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan masa depan.

Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK
Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo, dan pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004 (duduk berjas hitam) dalam diskusi CTIS bertajuk “Beberapa Tantangan Untuk Dijawab: Pemahaman Konsepsi Dasar Sekitar HAKI” pada Rabu (25/2/2026). (dok CTIS)

Hal tersebut disampaikan Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo, dan pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004 dalam diskusi CTIS bertajuk “Beberapa Tantangan Untuk Dijawab: Pemahaman Konsepsi Dasar Sekitar HAKI” pada Rabu (25/2/2026).

Sebagai moderator Susanto Sutoyo, eks Dubes RI Italia dan Wakil Tetap RI untuk  FAO-IFAD-WFP (2006-2008).

Menurut Bambang, berbagai persoalan strategis yang dihadapi Indonesia saat ini saling berkelindan dan bermuara pada satu kesimpulan besar: pembangunan nasional harus berbasis kualitas manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEK).

Lima Tantangan Besar Indonesia

Bambang menguraikan sedikitnya lima tantangan utama yang harus segera direspons secara sistemik. Pertama, kependudukan dan pangan. Kedua kualitas manusia Indonesia, Indonesia 2035 dan Indonesia 2045.

Ketiga, tantangan pembangunan, keempat tantangan faktor kekayaan hayati, perlindungan dan pemanfaatan. Dan tantangan terakhir adalah bagaimana Indonesia menatap masa depan yang dekat.

Kependudukan dan ketahanan pangan

Jumlah penduduk Indonesia terus meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Dalam periode 2015–2025, populasi naik sekitar 10,14 persen atau sekitar 28,8 juta jiwa. Bahkan, pada 2030 jumlah penduduk diproyeksikan mendekati 300 juta jiwa.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk perkotaan meningkat sekitar 3 persen setiap lima tahun, sementara populasi perdesaan menurun dengan persentase serupa. Urbanisasi yang tidak terbendung memicu berbagai persoalan, mulai dari tekanan terhadap lapangan kerja di kota hingga berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian.

Sementara itu, lahan pertanian terus menyusut akibat alih fungsi lahan dan ekspansi kawasan industri maupun permukiman. Kondisi tersebut berdampak pada ketergantungan terhadap impor pangan karena produksi dalam negeri belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional.

“Di sinilah pentingnya teknologi pertanian, mulai dari pengolahan lahan, sistem irigasi, pupuk, pembenihan, hingga teknologi pascapanen,” kata Bambang.

Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK
Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo. (dok CTIS)

Kualitas sumber daya manusia

Ia menyoroti bahwa sekitar 70 persen penduduk Indonesia masih berpendidikan SMP ke bawah, dan sekitar 24,3 persen tidak bersekolah. Angka tersebut menjadi tantangan serius dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi era ekonomi berbasis pengetahuan.

Menurut Bambang, peningkatan kualitas manusia tidak hanya soal pendidikan formal, tetapi juga pembangunan karakter, mentalitas, dan etos kerja.

“Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK,” tegasnya.

Pergeseran Paradigma Pembangunan

Bambang menilai sudah saatnya Indonesia meninggalkan pola pembangunan berbasis eksploitasi dan ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan. Model tersebut dinilai rawan memicu konflik lingkungan hidup serta tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Sebaliknya, kekuatan intelektual manusia harus menjadi motor utama pembangunan. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China disebutnya sebagai contoh bagaimana investasi pada SDM dan teknologi mampu mentransformasi negara menjadi kekuatan ekonomi modern.

Lahirlah paradigma baru, Pembangunan Nasional berbasis kualitas manusia dan IPTEK.

Untuk itu, diperlukan peta jalan (roadmap) yang jelas dan konsisten. Roadmap tersebut harus mencakup desain kelembagaan, tata kelola organisasi, hingga pengembangan personalia yang mendukung ekosistem riset dan inovasi.

Indonesia sejatinya telah memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Sistem Nasional IPTEK. Namun, Bambang menilai implementasi kedua regulasi tersebut masih belum optimal.

Refleksi dari Pandemi dan Prioritas Riset

Dalam tantangan pembangunan, Bambang menyinggung pengalaman pandemi Covid-19 sebagai pembelajaran penting. Saat pandemi, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp400 triliun untuk pengadaan vaksin dan penanganan dampak kesehatan, sementara anggaran riset BRIN hanya sekitar Rp6,1 triliun.

Kesenjangan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas riset nasional agar Indonesia tidak selalu bergantung pada produk luar negeri dalam situasi krisis.

Ia menegaskan bahwa prioritas riset nasional seharusnya difokuskan pada sektor-sektor strategis, yakni pangan dan pertanian, kesehatan (bahan baku obat dan obat), lingkungan khususnya air bersih, serta energi.

“Riset yang aplikatif dan berdaya guna akan menghasilkan paten. Dari paten itulah lahir nilai tambah ekonomi melalui lisensi dan komersialisasi,” ujarnya.

“Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK

Tantangan Komersialisasi dan Peran HaKI

Meski jumlah paten terdaftar dari hasil riset cukup besar, tingkat lisensinya masih rendah. Dari ratusan paten di bidang pembangunan berkelanjutan dan kemandirian kesehatan, sangat kecil yang berhasil memperoleh lisensi.

Sebaliknya, di banyak negara maju, para peneliti dan inventor sebagai pemegang HaKI mampu hidup lebih sejahtera karena memperoleh pendapatan berkelanjutan dari lisensi paten dan komersialisasi hasil inovasi mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem inovasi Indonesia belum sepenuhnya terhubung antara riset, industri, dan pasar.

Bambang menegaskan pentingnya Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) sebagai instrumen strategis dalam ekonomi modern. Menurutnya, HaKI merupakan hak atas kekayaan yang lahir dari kemampuan intelektual manusia dan memiliki nilai ekonomi sekaligus moral.

“HaKI bukan sekadar persoalan hukum, melainkan bentuk penghormatan terhadap kemampuan intelektual manusia dan dorongan bagi lahirnya inovasi,” katanya.

Ia menambahkan, dalam ekonomi berbasis pengetahuan, pemahaman HaKI harus menjadi kesadaran lintas disiplin. Pendidikan mengenai perlindungan kekayaan intelektual tidak boleh hanya diajarkan di fakultas hukum, tetapi juga di bidang teknik, kedokteran, pertanian, biologi, hingga ekonomi.

Dengan penguatan kualitas SDM, konsistensi roadmap IPTEK, serta optimalisasi HaKI, Bambang optimistis Indonesia dapat membangun fondasi peradaban modern yang berdaya saing global.

“Perlindungan atas kemampuan intelektual manusia adalah fondasi kemajuan bangsa. Tanpa itu, kita akan terus tertinggal dalam kompetisi global,” pungkasnya.***

Categories
Domestic S&T News

Satelit dan AI Dipakai untuk Prediksi Wabah Malaria dan DBD di Indonesia

Penyakit menular yang sensitif terhadap perubahan iklim kian menjadi ancaman serius, termasuk di Indonesia. Perubahan suhu, pola curah hujan, hingga cuaca ekstrem akibat krisis iklim memengaruhi pola penyebaran penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.

Hal ini mengemuka dalam diskusi bertema Bringing Earth Observations Into Early Warning System for Malaria and Dengue in Indonesia yang digelar secara hibrida oleh KORIKA, CTIS, BMKG, University of Maryland, dan IMACS pada Rabu, 11 Februari 2026.

Diskusi menghadirkan Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, Profesor Tatiana Loboda dari University of Maryland AS, Direktur Institute for Health Modeling and Climate Solutions (IMACS), Dr. Kaushik Sarkar, dengan Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Prof. Dr. Hammam Riza sebagai moderator.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Diskusi bertema Bringing Earth Observations Into Early Warning System for Malaria and Dengue in Indonesia yang digelar secara hibrida oleh KORIKA, CTIS, BMKG, University of Maryland, dan IMACS pada Rabu, 11 Februari 2026. (Dok CTIS)

BMKG Luncurkan DBDKlim

Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa BMKG telah mengembangkan layanan inovatif bernama DBDKlim. Platform ini memanfaatkan data iklim untuk memprediksi risiko demam berdarah.

“Layanan DBDKlim menggunakan model statistik untuk memprediksi risiko demam berdarah berdasarkan faktor-faktor iklim seperti suhu, kelembapan udara, dan curah hujan. Informasi ini disajikan dalam bentuk peta dan grafik yang mudah dipahami,” ujarnya.

 Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan memberikan paparan secara hibrida. (Dok CTIS)

Menurut Ardhasena, layanan tersebut diharapkan membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengambil langkah pencegahan serta pengendalian DBD secara lebih efektif. Saat ini, DBDKlim telah diterapkan di Provinsi Bali, Lampung, dan DKI Jakarta.

Ia menambahkan, peningkatan suhu udara dan cuaca ekstrem mempercepat perkembangbiakan nyamuk. Pada 2026, BMKG memprediksi puncak kasus DBD terjadi pada Maret hingga Mei, terutama di kota-kota besar.

Indonesia sendiri telah memiliki Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim sektor kesehatan. Untuk mendukung implementasinya, diperlukan Climate Data Center guna membaca tren perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Peran Penginderaan Jauh

Profesor Tatiana Loboda menegaskan bahwa Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap penyakit terkait perubahan iklim.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan dan penyakit menular. Kami berharap dapat menyediakan prakiraan dini yang dapat ditindaklanjuti terkait potensi wabah malaria dan dengue melalui pemanfaatan citra satelit,” katanya.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Profesor Tatiana Loboda dari University of Maryland. (dok CTIS)

Loboda menjelaskan, data penginderaan jauh (remote sensing) dapat digunakan untuk menganalisis risiko penyakit melalui tiga komponen utama.

Pertama, aspek bahaya (hazard), yaitu mengidentifikasi habitat dan kondisi lingkungan yang mendukung vektor penyakit seperti nyamuk.
Kedua, aspek paparan (exposure), yakni memetakan wilayah tempat manusia berpotensi kontak dengan vektor.
Ketiga, aspek kerentanan (vulnerability), dengan melihat indikator sosial-ekonomi dan akses layanan kesehatan.

“Dengan menggabungkan ketiga komponen tersebut, kita dapat menilai risiko penyakit secara lebih komprehensif,” ujarnya.

Menurutnya, setiap komponen membutuhkan pertimbangan berbeda terkait parameter, cakupan wilayah, resolusi, dan kualitas data. Sejak 2014, Loboda aktif menjembatani ilmu geospasial dan kedokteran untuk memantau serta memprediksi wabah malaria di Asia Tenggara.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Penginderaan jauh (remote sensing) dengan citra satelit dapat digunakan untuk menganalisis risiko penyakit akibat perubahan iklim. (Dok Prof Tatiana Loboda)

Platform AI ClimateSmart Indonesia

Direktur IMACS Dr. Kaushik Sarkar memaparkan bahwa Indonesia kini memiliki platform berbasis kecerdasan buatan, ClimateSmart Indonesia, yang dirancang untuk memprediksi dan merespons penyakit sensitif iklim.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Direktur IMACS Dr. Kaushik Sarkar. (Dok CTIS)

Platform ini mencakup Digital Twin Indonesia dan dashboard AI sebagai sistem pendukung keputusan (decision support system). Teknologi tersebut memungkinkan deteksi dini risiko malaria dan membantu perencanaan intervensi berbasis data.

ClimateSmart Indonesia dikembangkan melalui kolaborasi KORIKA, Mohamed bin Zayed University of Artificial Intelligence (MBZUAI), dan IMACS.

“Secara bersama-sama, sistem peringatan dini dan alat perencanaan malaria berbasis informasi iklim dari inisiatif ini akan menjadi langkah maju menuju eliminasi malaria yang tahan terhadap perubahan iklim,” kata Sarkar.

Penguatan Kerja Sama Riset

Diskusi turut dihadiri Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo. Ia menyambut positif pemanfaatan teknologi digital dan satelit untuk menekan kasus malaria serta penyakit terkait perubahan iklim lainnya.

Indroyono berharap kolaborasi riset Indonesia–Amerika Serikat dapat terus diperkuat, termasuk dalam pembangunan pusat data (data center) kesehatan dan iklim.

Sementara itu, Prof. Hammam Riza menegaskan bahwa pemanfaatan machine learning dan sains data memungkinkan penyebaran malaria diprediksi dan dipetakan secara lebih presisi.

“Dengan pendekatan berbasis data, intervensi dan mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran untuk menekan angka penyakit menular di Indonesia,” ujarnya.

Pemanfaatan teknologi satelit, kecerdasan buatan, dan data iklim dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh menghadapi dampak perubahan iklim.***

Categories
Domestic S&T News

AWS Investasi Rp71 Triliun, Perkuat Infrastruktur Cloud dan Internet Satelit di Indonesia

Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital mencapai US$130 miliar pada 2025. Potensi ini menjadikan Indonesia magnet investasi bagi pelaku industri digital global, termasuk Amazon Web Services (AWS), penyedia infrastruktur komputasi awan (cloud) terbesar di dunia.

Peluang dan arah investasi tersebut menjadi pembahasan dalam diskusi CTIS bersama AWS pada Rabu, 28 Januari 2026. Diskusi menghadirkan Donny Eryastha, Head of Public Policy Indonesia and ASEAN AWS, serta Darren Ong, Head of Public Policy Global Selling & Digital Services SEA/TW/KR.

Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital mencapai US$130 miliar pada 2025.
Donny Eryastha, Head of Public Policy Indonesia and ASEAN AWS (no 3 dari kiri), Darren Ong, Head of Public Policy Global Selling & Digital Services SEA/TW/KR (no 4 dari kanan) dan Renuka Rajaratnam (paling kanan). (Dok CTIS)

Darren Ong menekankan pentingnya kerangka kebijakan yang memungkinkan pemanfaatan layanan cloud secara aman, baik di sektor pemerintahan maupun swasta. Menurutnya, pembangunan infrastruktur digital menjadi fondasi utama untuk mendorong inovasi dan memperkuat kerja sama ekonomi.

Dalam agenda transformasi digital, Ong menyatakan AWS mendukung berbagai inisiatif yang membantu pelaku usaha Indonesia memanfaatkan teknologi cloud untuk berekspansi ke pasar global. Kerja sama dengan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menjadi bagian dari strategi tersebut.

“Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas konektivitas digital di wilayah terpencil, sekaligus mendukung transformasi digital nasional,” ujar Darren.

AWS hadir di Indonesia sejak 2018 dan meluncurkan pusat data AWS Asia Pacific (Jakarta) Region di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Desember 2021. Kehadiran pusat data ini memperkuat infrastruktur digital nasional sekaligus meningkatkan kapasitas penyimpanan dan pengolahan data di dalam negeri.

Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital mencapai US$130 miliar pada 2025.
Diskusi CTIS bersama AWS pada Rabu, 28 Januari 2026, menghadirkan Donny Eryastha, Head of Public Policy Indonesia and ASEAN AWS, serta Darren Ong, Head of Public Policy Global Selling & Digital Services SEA/TW/KR. (Dok CTIS)

Donny Eryastha menjelaskan, AWS berkomitmen menginvestasikan sekitar US$5 miliar atau setara Rp71 triliun hingga 2036 untuk pembangunan infrastruktur serta pengembangan talenta digital di Indonesia. Hingga kini, AWS telah melatih lebih dari satu juta talenta digital dari kalangan pelajar dan profesional, termasuk kelompok disabilitas dan komunitas pesantren.

“Seluruh teknologi AWS didukung 100 persen energi terbarukan,” ujar Donny.

Investasi tersebut turut mendukung pengembangan ekosistem digital nasional, termasuk pemberdayaan UMKM dan peningkatan layanan e-government, e-health, serta e-education. Untuk sektor pemerintahan, AWS telah bekerja sama dengan sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Kesehatan, Imigrasi, BUMN, BUMD, serta berbagai perusahaan swasta.

Selain membangun pusat data, AWS juga aktif mengembangkan sumber daya manusia dan komunitas lokal di Karawang, antara lain melalui peresmian “Think Big Space” di SMKN 1 Karawang yang menjadi laboratorium edukasi pertama di Asia Tenggara.

Amazon Leo dan Ekspansi Internet Satelit

Dalam kesempatan yang sama, AWS juga memperkenalkan pengembangan teknologi internet satelit orbit rendah melalui proyek Amazon Leo (Low Earth Orbit/LEO). Teknologi ini dirancang untuk menghadirkan internet berkecepatan tinggi dan andal bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan konvensional.

Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital mencapai US$130 miliar pada 2025.
Teknologi internet satelit orbit rendah melalui proyek Amazon Leo (Low Earth Orbit/LEO). Teknologi ini dirancang untuk menghadirkan internet berkecepatan tinggi dan andal bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan konvensional. (dok AWS)

“Amazon Leo diharapkan mampu menutup kesenjangan konektivitas di berbagai sektor strategis, mulai dari energi dan manufaktur hingga media dan transportasi,” kata Renuka Rajaratnam dari tim AWS.

Amazon Leo ditujukan untuk pelanggan individu, UMKM, layanan kedaruratan, wilayah terdampak bencana, hingga sektor publik di darat, laut, dan udara. Sistem ini terintegrasi langsung dengan AWS sehingga memungkinkan pemindahan data secara aman dari lokasi terpencil ke jaringan privat tanpa melalui internet publik.

Kemkomdigi saat ini menjajaki kerja sama strategis dengan Amazon Leo guna memperluas konektivitas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia diproyeksikan memiliki nilai ekonomi digital mencapai US$130 miliar pada 2025.

Moderator diskusi, Ashwin Sasongko, mengapresiasi pembangunan pusat data AWS di Indonesia sebagai langkah strategis mencegah kebocoran data nasional. Hal senada disampaikan Ketua KORIKA (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial), Hammam Riza.

Menurut Hammam, kebocoran data nasional tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga membahayakan keamanan digital negara. Ia menilai pengelolaan data yang masih terfragmentasi di berbagai kementerian dan lembaga dengan penyedia berbeda menjadi tantangan tersendiri.

Untuk memperkuat tata kelola dan keamanan penyimpanan data nasional, CTIS menyatakan siap memberikan masukan strategis kepada pemerintah.

Dengan kombinasi investasi infrastruktur, pengembangan talenta, serta inovasi satelit LEO, AWS menegaskan komitmennya mendukung percepatan transformasi digital Indonesia di tingkat nasional maupun global. ***

Categories
Domestic S&T News

Strategi Indonesia Dengan Tiga Mesin Ekonomi Menuju 2045

BJ Habibie Memorial Lecture merupakan perhelatan akademik tahunan yang digelar untuk memperkuat pemahaman serta komitmen pemerintah dalam menyinkronkan dan mengoordinasikan pembangunan lintas sektor berbasis agenda pembangunan nasional.

Pada penyelenggaraan ke-4 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (23/7/2024), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Strategi Indonesia Mengatasi Jebakan Pendapatan Menengah Menuju Indonesia Emas 2045”.

Airlangga menyoroti tantangan global yang masih dibayangi berbagai downside risks. Ia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Strategi Indonesia Mengatasi Jebakan Pendapatan Menengah Menuju Indonesia Emas 2045”.

Dalam paparannya, Airlangga menyoroti tantangan global yang masih dibayangi berbagai downside risks. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi dunia pada 2024 diproyeksikan berada di kisaran 2,6% hingga 3,2%, berdasarkan proyeksi IMF, OECD, dan Bank Dunia. Pada 2025, pertumbuhan global diperkirakan relatif stagnan di rentang 2,7% hingga 3,2%.

Meski demikian, Indonesia dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan. Volume ekspor negara berkembang diproyeksikan meningkat dari 3,7% pada 2024 menjadi 3,9% pada 2025. Permintaan domestik juga menunjukkan prospek positif, tercermin dari PMI Manufaktur yang berada di level ekspansif 50,7, Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 123,3, serta Indeks Penjualan Riil 232,8 yang tumbuh 4,4% secara tahunan.

“Capaian perekonomian hingga Triwulan I 2024 menjadi modal memperkuat fondasi transformasi ekonomi ke depan. Namun untuk keluar dari middle income trap dan mencapai visi Indonesia Emas 2045, pertumbuhan 5% belum cukup. Kita perlu mendorongnya ke kisaran 6-7% dengan investasi tumbuh sekitar 6,8% hingga dua dekade mendatang,” ujar Airlangga.

Tiga Mesin Ekonomi

Menko Airlangga memaparkan tiga “mesin ekonomi” yang perlu dimaksimalkan menuju Indonesia Emas 2045.

 Airlangga menyoroti tantangan global yang masih dibayangi berbagai downside risks.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto bersama Ketua Dewan Pembina CTIS Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro.

Pertama, mesin ekonomi konvensional seperti infrastruktur, perdagangan, manufaktur, dan pertanian yang harus direvitalisasi melalui investasi dan perluasan akses pasar.

Kedua, mesin ekonomi baru berbasis digitalisasi, kecerdasan artifisial, semikonduktor, ekonomi hijau, dan transisi energi sebagai akselerator pertumbuhan masa depan.

Ketiga, mesin ekonomi Pancasila yang menekankan pertumbuhan berkeadilan dan inklusif guna menjaga kesinambungan sosial dan ekonomi.

Salah satu strategi utama dalam transformasi ekonomi adalah program hilirisasi industri. Menurut Airlangga, hilirisasi bertujuan menciptakan nilai tambah, meningkatkan daya saing produk nasional, menarik investasi, serta memperluas penyerapan tenaga kerja.

Secara spasial, hilirisasi disebut berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia. Tiga kawasan dengan pertumbuhan tertinggi yakni Maluku dan Papua sebesar 12,15%, Sulawesi 6,35%, serta Kalimantan 6,17%, yang ditopang sektor pertambangan, industri logam, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Di akhir tahun ini, pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan sekitar USD5.000. Jakarta sudah mencapai sekitar USD21.000 dan bisa dikatakan keluar dari middle income trap. Tantangannya adalah mendorong daerah lain agar turut meningkat sehingga secara nasional kita bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah. Syaratnya adalah SDM yang kuat,” tegasnya.

Warisan Pemikiran BJ Habibie

Airlangga juga mengutip pesan Presiden ke-3 RI Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie terkait pentingnya kemandirian bangsa.

“Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya, siapa lagi? Jangan Saudara mengharapkan orang lain yang datang membangun bangsa kita,” kutipnya.

Airlangga menyoroti tantangan global yang masih dibayangi berbagai downside risks
B.J. Habibie Memorial Lecture ke-4 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (23/7/2024), menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto.

Menurut Airlangga, pesan tersebut menjadi inspirasi untuk membangun sumber daya manusia unggul dan memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi sebagai fondasi daya saing global Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, Ketua Komisi Ilmu Sosial AIPI Syarif Hidayat, Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian, Direktur Fasilitasi Riset LPDP Wisnu Sardjono Soenarso, Plt Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz, serta Ilham Habibie mewakili keluarga BJ Habibie. ***

Categories
Domestic S&T News

Iptek Jadi Strategi Keluar dari Middle Income Trap

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS)/Pusat Kajian Teknologi dan Inovasi, serta The Habibie Center menggelar B.J. Habibie Memorial Lecture ke-3, Kamis, 21 September 2023.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 2 Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia itu menghadirkan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagai pembicara kunci.

 Suharso menegaskan pentingnya melanjutkan visi dan pemikiran Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, khususnya dalam
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagai pembicara kunci  pada B.J. Habibie Memorial Lecture ke-3, Kamis, 21 September 2023.

 

Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Strategi Keluar dari Middle Income Trap Peran Besar Iptek dan Inovasi dalam Menuju Indonesia Emas 2045”, Suharso menegaskan pentingnya melanjutkan visi dan pemikiran Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, khususnya dalam penguatan teknologi dan inovasi sebagai fondasi pembangunan nasional.

Ia memaparkan konsep ekonomi ala Habibie atau Habibienomics, yang menekankan pentingnya penguasaan teknologi untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Menurutnya, pemulihan ekonomi Indonesia dan negara-negara ASEAN saat ini menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan kondisi 2019.

“Pertumbuhan ekonomi kita perlu didorong oleh investasi dalam modal, teknologi, inovasi, dan peningkatan persaingan. Ini sejalan dengan visi Bapak Habibie tentang pentingnya teknologi dalam menciptakan keunggulan kompetitif dan mengejar ketertinggalan dari negara maju. Langkah-langkah inovatif untuk menuju Indonesia Emas 2045 harus kita upayakan bersama,” ujar Suharso.

Suharso menegaskan pentingnya melanjutkan visi dan pemikiran Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, khususnya dalam penguatan teknologi dan inovasi sebagai fondasi pembangunan nasional.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagai pembicara kunci B.J. Habibie Memorial Lecture ke-3, Kamis, 21 September 2023.

Ia menambahkan, Indonesia harus fokus pada pertumbuhan dan transformasi ekonomi yang berkelanjutan. Pada 2022, ekonomi Indonesia tumbuh 5,31 persen dan 5,17 persen pada triwulan II 2023. Capaian tersebut mengembalikan Indonesia ke status Upper Middle Income setelah sempat berada di kategori Lower Middle Income pada 2020–2021.

Meski demikian, Suharso mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Dalam 20 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi rata-rata berada di kisaran 5 persen.

“Ekonomi kita memiliki pekerjaan rumah yang amat besar. Kita tidak bisa merasa puas hanya dengan pertumbuhan rata-rata 5 persen,” tegasnya.

Suharso menegaskan pentingnya melanjutkan visi dan pemikiran Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, khususnya dalam penguatan teknologi dan inovasi sebagai fondasi pembangunan nasional.
B.J. Habibie Memorial Lecture ke-3, Kamis, 21 September 2023 menghadirkan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagai pembicara kunci didampingi Ketua Dewan Pembina CTIS Prof Wardiman Djojonegoro.

Salah satu strategi untuk keluar dari jebakan Middle Income Trap adalah dengan mentransformasi model pertumbuhan melalui penguatan industri domestik. Transformasi tersebut ditempuh melalui peningkatan riset dan pengembangan menuju ekonomi berbasis teknologi dan inovasi.

Selain itu, langkah tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, membuka peluang apprenticeship bagi lulusan vokasi guna mengatasi kesenjangan keterampilan (skill gap), serta memperkuat basis penerimaan perpajakan nasional. ***

Categories
Domestic S&T News

Boediono dan Sri Mulyani Kenang Kepemimpinan BJ Habibie di Masa Krisis 1998

Kelompok masyarakat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang pernah berinteraksi langsung dengan Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, baik sebagai sahabat, rekan kerja, staf, maupun bagian dari lembaga-lembaga IPTEK yang didirikannya menggelar acara bertajuk “Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan’”.

Kegiatan tersebut menjadi momentum peringatan 1.000 hari wafatnya B.J. Habibie yang diselenggarakan di Auditorium Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Sabtu, 25 Juni 2022. Acara ini sekaligus menjadi cikal bakal B.J. Habibie Memorial Lecture yang kemudian rutin digelar setiap tahun.

“Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan’”.
Acara “Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan’”. Kegiatan tersebut menjadi momentum peringatan 1.000 hari wafatnya B.J. Habibie yang diselenggarakan di Auditorium Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Sabtu, 25 Juni 2022.

Sejumlah tokoh nasional hadir untuk memberikan kuliah memorial terhadap kontribusi besar B.J. Habibie bagi bangsa. Di antaranya Wakil Presiden RI ke-11 Prof. Dr. Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, serta dan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro.

Dalam pidatonya, Boediono mengenang pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas di Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Habibie.

“Menjadi anggota Kabinet Reformasi Pembangunan bagi saya merupakan pengalaman yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menyenangkan,” ujar Boediono.

Ia menilai Habibie sebagai pribadi yang terbuka, demokratis, dan menghargai perbedaan pendapat. Latar belakangnya sebagai ilmuwan, menurut Boediono, menjadikan sidang kabinet berlangsung dinamis dan sarat diskursus ilmiah.

“Sebagai ilmuwan, beliau menganggap perbedaan pendapat sebagai hal yang lumrah. Saya melihat beliau berusaha mengerti pandangan yang berbeda tersebut,” katanya.

Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan’”.
Wakil Presiden RI ke-11 Prof. Dr. Boediono mengenang pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas di Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Habibie.

Boediono juga memuji peran besar Habibie dalam mendorong independensi Bank Indonesia sebagai langkah krusial pemulihan ekonomi pascakrisis 1998. Ia menyebut Habibie sebagai pemimpin di masa krisis yang berhasil membangkitkan perekonomian nasional.

Menurutnya, pada 1999 ekonomi Indonesia mulai tumbuh 0,8 persen setelah sebelumnya terpuruk, inflasi yang sempat mendekati hiperinflasi ditekan hingga sekitar dua persen, nilai tukar rupiah menguat, dan sektor perbankan kembali menggeliat.

“Almarhum adalah teknolog dengan reputasi internasional yang berprestasi luar biasa,” tambahnya.

Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyoroti kontribusi Habibie sebagai Bapak Teknologi Indonesia, termasuk keberhasilannya dalam pengembangan pesawat N250.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengenang Habibie sebagai sosok yang berkomitmen kuat terhadap pengembangan teknologi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Presiden ke-3 RI ini merupakan tokoh inspiratif Indonesia, profesional, kompeten, intelektual, berprestasi, sekaligus sosok keluarga yang dikagumi,” ujarnya.

Sri Mulyani menyoroti kontribusi Habibie sebagai Bapak Teknologi Indonesia, termasuk keberhasilannya dalam pengembangan pesawat N250 dan kemajuan teknologi penerbangan nasional. Ia juga menyebut Habibie sebagai figur penting yang meletakkan fondasi demokrasi pada masa transisi dari Orde Baru ke era Reformasi.

Selain kiprahnya di bidang teknologi dan pemerintahan, Sri Mulyani menilai Habibie sebagai pribadi religius, suami yang penuh cinta, dan ayah yang baik hingga akhir hayatnya.

Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan
Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel menegaskan Habibie berprinsip pada kualitas sumber daya manusia dan pendidikan.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel. Menurutnya, Habibie berprinsip bahwa kualitas sumber daya manusia dan pendidikan merupakan jalan utama menuju kemajuan bangsa.

“Pak Habibie adalah sosok visioner yang berdedikasi tinggi terhadap kemajuan bangsa dengan membumikan ilmu demi kemaslahatan banyak orang,” kata Gobel.

Dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan buku “B.J. Habibie dalam Kenangan”, kumpulan tulisan dari 44 pegiat IPTEK yang pernah berinteraksi langsung dengan Habibie. Para penulis terdiri atas tokoh senior, sahabat, rekan kerja, dan staf almarhum.

Tulisan-tulisan dalam buku ini tidak hanya mengulas perkembangan IPTEK pada masa kepemimpinan Habibie, tetapi juga menghadirkan sisi humanis dan pengalaman personal para penulis bersama sosok yang dijuluki “Mr. Crack” tersebut.

Salah satu kutipan yang diangkat dalam buku itu adalah pesan Habibie kepada seorang pejabat lembaga IPTEK: “You must be better than me! Negara ini negara Anda, maka berjuanglah untuk kemajuannya, jangan pernah menyerah apa pun hambatan dan penghalangnya.”

Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan
Ketua Yayasan SDM Iptek Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro menyerahkan buku B.J. Habibie dalam Kenangan.

Dalam bagian lain, salah satu penulis mengenang perdebatan ilmiah dengan Habibie terkait temuan corrosion and fatigue material pada pesawat CN235. Ia menggambarkan Habibie sebagai sosok terbuka, menghargai perbedaan argumentasi, toleran, dan egaliter.

Kisah-kisah tersebut menjadi pelengkap berbagai biografi tentang B.J. Habibie, sekaligus memperkaya dokumentasi perjalanan IPTEK Indonesia yang belum banyak terungkap ke publik.

Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia dikenal sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia dan sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 RI.

Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada 12 Mei 1962. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua putra, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.

B.J. Habibie wafat pada 11 September 2019 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 83 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, berdampingan dengan sang istri tercinta, Ainun Habibie. ***

Categories
Domestic S&T News

Kepala BRIN: CTIS Think Tank Penting bagi Penguatan Riset dan Teknologi Nasional

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan bahwa Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.

Hal tersebut disampaikan Arif Satria saat menerima kunjungan tim CTIS yang dipimpin Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang di Kantor BRIN, Rabu (21/1/2026). Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan diskusi strategis terkait penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dan Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian saat menerima kunjungan tim CTIS yang dipimpin Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang di Kantor BRIN, Rabu (21/1/2026). (Dok CTIS)

Dalam pertemuan itu, berbagai masukan dari CTIS disampaikan sebagai bahan pertimbangan BRIN ke depan. Salah satunya terkait pengembangan pesawat N219, yang merupakan hasil riset nasional dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional Indonesia. Pesawat tersebut dikembangkan melalui kolaborasi BRIN dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Arif Satria mengungkapkan, BRIN bersama PTDI saat ini tengah mengembangkan pesawat N219 berkapasitas 19 penumpang menjadi pesawat amfibi yang mampu mendarat di air, dengan kapasitas 17 penumpang. Pesawat ini diharapkan menjadi solusi konektivitas wilayah terpencil di Indonesia.

Dewan Pengawas CTIS Rahardi Ramelan menyoroti pentingnya keberadaan perusahaan leasing dalam industri pesawat terbang. Menurutnya, industri aviasi global tidak berjalan dengan skema pembelian tunai.

“Tidak ada industri pesawat terbang di dunia yang langsung cash. Harus ada leasing company. Kami menyarankan Danantara membangun leasing company, diawali dengan N219. Production line yang hanya dua unit tidak menarik pembeli, idealnya empat hingga enam unit. Danantara bisa memulai dengan membeli 20 pesawat,” ujar mantan Menteri Perdagangan tersebut.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang
Ketua Umum CTS Wendy Aritenang dan Dewan Pengawas CTIS Rahardi Ramelan (Dok CTIS)

Rahardi juga mengkritisi minimnya inovasi sederhana yang berdampak langsung bagi pengusaha kecil, khususnya di sektor pertanian dan kehutanan. Kondisi ini dinilai stagnan selama lebih dari 20 tahun karena industri lebih memilih membangun lisensi ketimbang mengembangkan inovasi sederhana yang aplikatif.

Selain itu, ia menilai pengelolaan hak paten yang awalnya berasal dari pemikiran BPPT dan kini ditangani Kementerian Hukum dan HAM, sebaiknya berada di bawah kementerian atau lembaga perekonomian agar lebih selaras dengan pengembangan industri.

Masukan lain datang dari anggota CTIS sekaligus mantan Kepala LAPAN Harijono Djojodiharjo yang menekankan pentingnya menanamkan budaya riset sejak mahasiswa memasuki perguruan tinggi, peningkatan anggaran riset, serta penguatan daya cipta nasional agar mampu menguasai pasar domestik.

Sementara itu, mantan Deputi Kemenristek Idwan Suhardi menegaskan bahwa peneliti memiliki “DNA riset” yang tidak bisa dihapus. Oleh karena itu, komunitas iptek perlu dihadirkan sebagai pemecah masalah di tengah masyarakat maupun pemerintah.

“CTIS bisa berperan untuk speak up kepada para pemangku kepentingan dan memberikan masukan strategis,” ujarnya.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
CTIS bersilaturahmi dengan Kepala Kepala Bada Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dan jajarannya di kantor BRIN, Rabu 21 Januari 2026. (Dok CTIS)

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Arif Satria yang didampingi Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyampaikan apresiasi dan menyambut positif diskusi yang berlangsung.

“Banyak inspirasi dan insight baru. Diskusi singkat seperti ini memicu pemikiran mendalam, termasuk soal model bisnis pesawat dengan leasing dan pentingnya investasi pada lini produksi untuk meyakinkan pasar,” kata Arif.

Ia juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui kenaikan anggaran riset sebesar 50 persen yang akan dibagi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Menurut Arif, pengembangan iptek membutuhkan investasi baru, termasuk pembaruan peralatan laboratorium agar sesuai dengan perkembangan zaman.

BRIN, lanjut Arif, telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan ribuan paten inovasi sejak 1970 hingga saat ini. “BRIN harus menjadi kompas roadmap inovasi Indonesia dan melihat arah perkembangan riset ke depan,” ujarnya.

Ia mencontohkan inovasi baterai listrik berbasis nikel yang ditargetkan rampung pada 2028, sementara teknologi baterai grafena yang memiliki waktu pengisian lebih cepat mulai berkembang. Oleh karena itu, investasi harus mempertimbangkan teknologi pasca-2030.

Selain itu link and match yang digagas oleh Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro saat masih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menurut Arif tidak hanya berlaku di dunia pendidikan, tetapi harus bisa masuk di teknologi.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyerahkan buku “B.J. Habibie dalam Kenangan” serta profil CTIS kepada Kepala BRIN Arif Satria. (Dok CTIS)

Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyambut baik gagasan tersebut dan berharap diskusi antara BRIN dan CTIS dapat terus berlanjut secara berkelanjutan, melibatkan lebih banyak tokoh iptek nasional.

“Untuk menyejahterakan bangsa, perlu jalur diskusi yang terus-menerus, tidak hanya dengan CTIS tetapi juga dengan para tokoh iptek lainnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wardiman juga menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Habibie Prize selama lima tahun terakhir oleh pemerintah melalui BRIN. Ia mengingatkan bahwa penghargaan tersebut sebelumnya bernama Habibie Award dan diselenggarakan oleh Yayasan SDM Iptek yang dipimpinnya.

Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang menambahkan CTIS secara rutin menyelenggarakan BJ Habibie Memorial Lecture. Pada tahun ini, agenda tersebut memasuki penyelenggaraan ke-6.

Ia berharap BJ Habibie Memorial Lecture 2026 yang direncanakan berlangsung pada Juni mendatang dapat diselenggarakan di Kantor BRIN.

Wendy juga mengapresiasi sambutan yang positif dari Kepala BRIN dalam silaturahmi dengan CTIS. Ia menegaskan bahwa silaturahmi ini bertujuan untuk saling bertukar gagasan demi kemajuan bangsa yang ditopang oleh sains dan teknologi.

Di akhir acara, Wardiman Djojonegoro menyerahkan buku “B.J. Habibie dalam Kenangan” serta profil CTIS kepada Kepala BRIN.***

Categories
Domestic S&T News

Warisan Intelektual BJ Habibie Diteguhkan Lewat Memorial Lecture

BJ Habibie Memorial Lecture merupakan perhelatan akademik tahunan yang diselenggarakan untuk memperkuat pemahaman, penegasan, dan tekad pemerintah dalam menyinkronkan serta mengoordinasikan pembangunan di berbagai sektor berbasis agenda pembangunan nasional. Forum ini juga menjadi wadah strategis untuk membahas implementasi sains, riset, dan teknologi sebagai fondasi utama pembangunan nasional.

BJ Habibie Memorial Lecture merupakan perhelatan akademik tahunan yang diselenggarakan oleh CTIS
BJ Habibie Memorial Lecture 2025 yang berlangsung 25 Agustus 2025. (Dok Perpusnas)

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerja sama dengan sejumlah lembaga, antara lain Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Perpustakaan Nasional, serta mitra strategis lainnya.

BJ Habibie Memorial Lecture pertama digelar pada 25 Juni 2022 dengan tema “Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie” dan dirangkaikan dengan peluncuran buku “B.J. Habibie dalam Kenangan”. Sejumlah tokoh nasional hadir sebagai pemateri, antara lain Wakil Presiden ke-11 RI Prof. Dr. Budiono, Menteri Keuangan RI Dr. Sri Mulyani Indrawati, Wakil Ketua DPR RI Dr. Rachmat Gobel, serta Ketua AIPI Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro.

Pada penyelenggaraan kedua, 21 September 2023, kuliah memorial disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Dr. (HC) Ir. Suharso Monoarfa, M.A., dengan orasi ilmiah berjudul “Strategi Keluar dari Middle Income Trap”.

Sementara itu, BJ Habibie Memorial Lecture 23 Juli 2024 menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto, yang menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Strategi Indonesia Mengatasi Jebakan Pendapatan Menengah Menuju Indonesia Emas 2045”.

Pada BJ Habibie Memorial Lecture 2025 yang dijadwalkan berlangsung 25 Agustus 2025, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Dr. Agus Harimurti Yudhoyono akan menyampaikan kuliah bertajuk “Strategi Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan Menuju Indonesia Emas 2045”. Kuliah ini akan memaparkan strategi besar dalam menyiapkan fondasi pembangunan yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga berkeadilan, berkelanjutan, dan inklusif.

Sekretaris Jenderal AIPI Chairil Abdini

Sekretaris Jenderal AIPI Chairil Abdini, yang juga merupakan anggota CTIS, menjelaskan bahwa memorial lecture merupakan kegiatan akademik untuk menghormati tokoh nasional yang telah wafat dan memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Selain mengenang dan memberikan penghormatan, memorial lecture juga merayakan warisan intelektual, profesional, dan sosial tokoh tersebut guna menginspirasi generasi mendatang,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan yang rutin digelar setiap tahun ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan kepada Presiden ke-3 RI Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, tetapi juga momentum penting untuk menyambungkan gagasan lintas generasi.

BJ Habibie Memorial Lecture merupakan perhelatan akademik tahunan yang diselenggarakan oleh CTIS
Bapak Teknologi Indonesia, B.J. Habibie telah meletakkan fondasi kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. (dok Arsip BJ Habibie)

Sebagai Bapak Teknologi Indonesia, B.J. Habibie telah meletakkan fondasi kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. Habibie meyakini bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengelola sumber daya dan teknologi untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

Melalui BJ Habibie Memorial Lecture 2025, AIPI dan CTIS meneguhkan kembali bahwa warisan intelektual Habibie tidak berhenti pada masa lalu, melainkan tetap relevan dalam menjawab tantangan Indonesia masa kini, termasuk dalam memanfaatkan bonus demografi dan peluang menuju masa depan Indonesia Emas 2045. ***

Categories
Domestic S&T News

Pakar CTIS: Batam Berisiko Stagnan Tanpa Reformasi

Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, telah dikenal sebagai pusat industri dan perdagangan sejak era Presiden ke-3 RI Soeharto. Pada masa itu, Batam dikembangkan sebagai kawasan strategis nasional. Konsep pengembangan kemudian diperkuat oleh Presiden ke-3 RI sekaligus Ketua Otorita Batam ke-3, B.J. Habibie, melalui gagasan Barelang (Batam, Rempang, Galang) yang menghubungkan enam jembatan. Konsep ini memperluas wilayah Batam hingga 715 kilometer persegi dan diproyeksikan mampu bersaing dengan Singapura.

Namun dalam perjalanannya, Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional. Pada era Soeharto dan Habibie, Batam dikelola sebagai kawasan otorita dengan kepemimpinan tunggal. Sejak 2017, pengelolaan Batam mengalami perubahan karena Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota Batam dipimpin oleh Wali Kota Batam.

Kondisi tersebut memunculkan dualisme kewenangan pada wilayah yang sama, yang kemudian menjadi persoalan krusial dalam tata kelola Batam. Isu ini dibahas dalam diskusi CTIS, Rabu (7/1/2026), bertema Skenario Masa Depan Batam, dengan narasumber Chairil Abdini, Ph.D., mantan Staf Khusus Menteri Bappenas.

Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional
diskusi CTIS, Rabu (7/1/2025), bertema Skenario Masa Depan Batam, dengan narasumber Chairil Abdini, Ph.D. (kemeja putih), mantan Staf Khusus Menteri Bappenas. (dok CTIS)

Chairil mengungkapkan bahwa Singapura dan Johor secara resmi meluncurkan Special Economic Zone (SEZ) pada awal Januari 2025. Zona ini bertujuan meningkatkan perdagangan dan investasi lintas batas dengan mengintegrasikan kekuatan industri Johor dan sektor jasa Singapura.

“Kerja sama ini menciptakan regulasi yang ramah investasi, sistem bea cukai satu pintu, kemudahan layanan investasi, pengembangan talenta, serta dukungan industri masa depan,” ujar Chairil.

Menurutnya, Batam yang secara geografis sangat dekat dengan Singapura harus memiliki skenario masa depan yang realistis dan kompetitif. Dua pendorong utama yang harus diperkuat adalah reformasi kebijakan yang kredibel dan kredibilitas kelembagaan dalam negeri.

“Di Batam, aturan sering berubah, banyak peraturan pemerintah yang tumpang tindih, sehingga kredibilitas kawasan menjadi rentan. Tanpa reformasi yang kredibel, investor akan memilih Johor atau SEZ Singapura. Diversifikasi sektor pun akan terhambat, dan Batam berisiko stagnan atau hanya mendapat limpahan ekonomi bernilai rendah,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kredibilitas tersebut, Chairil mengusulkan pembentukan otoritas tunggal Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam yang memiliki kekuatan hukum mengikat. Otoritas ini dikoordinasikan oleh Bappenas, dengan pelaksana Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

 

“Ini penting untuk mengurangi ketidakpastian regulasi dan mengubah tata kelola Batam dari diskresioner menjadi berbasis aturan,” tegasnya.

Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional.

Selain itu, ia menekankan pentingnya jaminan prediktabilitas peraturan, fokus pada metrik eksekusi dibanding jumlah program, integrasi operasional nyata (bukan sekadar MoU), penargetan rantai nilai bersama Singapura dan Johor, penguatan program pengaitan UKM lintas batas, fokus sektoral, formulasi kebijakan berbasis nilai tambah, serta menjadikan Batam sebagai proyek percontohan nasional reformasi terpadu.

“Transisi hanya akan berhasil jika perbaikan kredibilitas kelembagaan dilakukan lebih dahulu, diikuti integrasi regional, dan diakhiri dengan kebijakan yang tidak mudah dibatalkan,” pungkas Chairil.

Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional
KEK Batam Ero Technic (BAT) (MRO pesawat/aviasi) (dok Kemenko Perekonomian)

Menanggapi hal tersebut, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang hadir secara daring, menilai Batam bisa tertinggal dibandingkan Johor. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan lahan.

“Investor membutuhkan energi, air, dan lahan. Di Batam, ketiganya sulit, ditambah birokrasi yang berat,” ujarnya.

Ketua Umum KORIKA (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial), Hammam Riza, menambahkan bahwa Batam juga tertinggal dibandingkan Penang. Menurutnya, pengembangan industri seperti semikonduktor harus disertai kesiapan rantai pasok dan ekosistem industri pendukung.

“Perusahaan semikonduktor harus membawa perusahaan pendukungnya. Ini berhasil di Penang. Batam memiliki Politeknik Negeri Batam, sehingga seluruh rantai pasok seharusnya bisa dibangun di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Ridwan Djamaluddin, mantan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, menyatakan Batam memiliki empat KEK, lahan, dan sumber air. Namun perluasan lahan masih menunggu peraturan pemerintah yang belum ditandatangani Presiden.

Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional
RSBP Batam masuk dalam KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam (pariwisata kesehatan). (dok RSBP)

Di bawah BP Batam ada empat KEK yaitu KEK Nongsa (digital/ekonomi kreatif), KEK Batam Ero Technic (BAT) (MRO pesawat/aviasi), KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam (pariwisata kesehatan), dan KEK Industri Logistik dan Energi (KEK Nipa).

Ketua CTIS Wendy Aritenang menegaskan bahwa kemajuan Batam sangat bergantung pada pucuk pimpinan. Menurutnya, BP Batam harus dipimpin figur yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah pusat.

“Pengelolaan zona ekonomi khusus seharusnya ditangani langsung oleh kepala negara, seperti di Singapura, bukan oleh kepala daerah,” tegasnya.

Direktur Politeknik Negeri Batam Bambang Hendrawan juga mengakui bahwa integrasi dan kredibilitas kelembagaan Batam masih rendah. Ia berharap adanya kebijakan satu pintu yang konsisten hingga tingkat paling bawah.

Penanggap lainnya, Purnomo Andiantono eks Direktur Investasi dan Pemasaran BP Batam, menegaskan pentingnya kredibilitas kelembagaan, kepastian regulasi, dan otoritas tunggal bagi masa depan Batam.

“Masa depan free trade zone Batam itu 70 tahun. Seluruh Batam sudah berstatus free trade zone sesuai undang-undang,” ujarnya.

Pada penutupan diskusi, Chairil kembali menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan, kemudahan berbisnis, dan penyederhanaan prosedur kepabeanan. Menurutnya, Batam harus mampu merespons strategi kompetitor seperti Singapura dengan kebijakan yang membuat Batam kembali diperhitungkan di kawasan regional.