Categories
Domestic S&T News

Strategi Indonesia Dengan Tiga Mesin Ekonomi Menuju 2045

BJ Habibie Memorial Lecture merupakan perhelatan akademik tahunan yang digelar untuk memperkuat pemahaman serta komitmen pemerintah dalam menyinkronkan dan mengoordinasikan pembangunan lintas sektor berbasis agenda pembangunan nasional.

Pada penyelenggaraan ke-4 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (23/7/2024), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Strategi Indonesia Mengatasi Jebakan Pendapatan Menengah Menuju Indonesia Emas 2045”.

Airlangga menyoroti tantangan global yang masih dibayangi berbagai downside risks. Ia
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Strategi Indonesia Mengatasi Jebakan Pendapatan Menengah Menuju Indonesia Emas 2045”.

Dalam paparannya, Airlangga menyoroti tantangan global yang masih dibayangi berbagai downside risks. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi dunia pada 2024 diproyeksikan berada di kisaran 2,6% hingga 3,2%, berdasarkan proyeksi IMF, OECD, dan Bank Dunia. Pada 2025, pertumbuhan global diperkirakan relatif stagnan di rentang 2,7% hingga 3,2%.

Meski demikian, Indonesia dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan. Volume ekspor negara berkembang diproyeksikan meningkat dari 3,7% pada 2024 menjadi 3,9% pada 2025. Permintaan domestik juga menunjukkan prospek positif, tercermin dari PMI Manufaktur yang berada di level ekspansif 50,7, Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 123,3, serta Indeks Penjualan Riil 232,8 yang tumbuh 4,4% secara tahunan.

“Capaian perekonomian hingga Triwulan I 2024 menjadi modal memperkuat fondasi transformasi ekonomi ke depan. Namun untuk keluar dari middle income trap dan mencapai visi Indonesia Emas 2045, pertumbuhan 5% belum cukup. Kita perlu mendorongnya ke kisaran 6-7% dengan investasi tumbuh sekitar 6,8% hingga dua dekade mendatang,” ujar Airlangga.

Tiga Mesin Ekonomi

Menko Airlangga memaparkan tiga “mesin ekonomi” yang perlu dimaksimalkan menuju Indonesia Emas 2045.

 Airlangga menyoroti tantangan global yang masih dibayangi berbagai downside risks.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto bersama Ketua Dewan Pembina CTIS Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro.

Pertama, mesin ekonomi konvensional seperti infrastruktur, perdagangan, manufaktur, dan pertanian yang harus direvitalisasi melalui investasi dan perluasan akses pasar.

Kedua, mesin ekonomi baru berbasis digitalisasi, kecerdasan artifisial, semikonduktor, ekonomi hijau, dan transisi energi sebagai akselerator pertumbuhan masa depan.

Ketiga, mesin ekonomi Pancasila yang menekankan pertumbuhan berkeadilan dan inklusif guna menjaga kesinambungan sosial dan ekonomi.

Salah satu strategi utama dalam transformasi ekonomi adalah program hilirisasi industri. Menurut Airlangga, hilirisasi bertujuan menciptakan nilai tambah, meningkatkan daya saing produk nasional, menarik investasi, serta memperluas penyerapan tenaga kerja.

Secara spasial, hilirisasi disebut berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia. Tiga kawasan dengan pertumbuhan tertinggi yakni Maluku dan Papua sebesar 12,15%, Sulawesi 6,35%, serta Kalimantan 6,17%, yang ditopang sektor pertambangan, industri logam, dan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Di akhir tahun ini, pendapatan per kapita Indonesia diperkirakan sekitar USD5.000. Jakarta sudah mencapai sekitar USD21.000 dan bisa dikatakan keluar dari middle income trap. Tantangannya adalah mendorong daerah lain agar turut meningkat sehingga secara nasional kita bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah. Syaratnya adalah SDM yang kuat,” tegasnya.

Warisan Pemikiran BJ Habibie

Airlangga juga mengutip pesan Presiden ke-3 RI Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie terkait pentingnya kemandirian bangsa.

“Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya, siapa lagi? Jangan Saudara mengharapkan orang lain yang datang membangun bangsa kita,” kutipnya.

Airlangga menyoroti tantangan global yang masih dibayangi berbagai downside risks
B.J. Habibie Memorial Lecture ke-4 yang berlangsung di Jakarta, Selasa (23/7/2024), menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto.

Menurut Airlangga, pesan tersebut menjadi inspirasi untuk membangun sumber daya manusia unggul dan memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi sebagai fondasi daya saing global Indonesia.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto, Ketua Komisi Ilmu Sosial AIPI Syarif Hidayat, Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro, Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian, Direktur Fasilitasi Riset LPDP Wisnu Sardjono Soenarso, Plt Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz, serta Ilham Habibie mewakili keluarga BJ Habibie. ***

Categories
Domestic S&T News

Iptek Jadi Strategi Keluar dari Middle Income Trap

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS)/Pusat Kajian Teknologi dan Inovasi, serta The Habibie Center menggelar B.J. Habibie Memorial Lecture ke-3, Kamis, 21 September 2023.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 2 Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia itu menghadirkan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagai pembicara kunci.

 Suharso menegaskan pentingnya melanjutkan visi dan pemikiran Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, khususnya dalam
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagai pembicara kunci  pada B.J. Habibie Memorial Lecture ke-3, Kamis, 21 September 2023.

 

Dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Strategi Keluar dari Middle Income Trap Peran Besar Iptek dan Inovasi dalam Menuju Indonesia Emas 2045”, Suharso menegaskan pentingnya melanjutkan visi dan pemikiran Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, khususnya dalam penguatan teknologi dan inovasi sebagai fondasi pembangunan nasional.

Ia memaparkan konsep ekonomi ala Habibie atau Habibienomics, yang menekankan pentingnya penguasaan teknologi untuk menciptakan keunggulan kompetitif. Menurutnya, pemulihan ekonomi Indonesia dan negara-negara ASEAN saat ini menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan kondisi 2019.

“Pertumbuhan ekonomi kita perlu didorong oleh investasi dalam modal, teknologi, inovasi, dan peningkatan persaingan. Ini sejalan dengan visi Bapak Habibie tentang pentingnya teknologi dalam menciptakan keunggulan kompetitif dan mengejar ketertinggalan dari negara maju. Langkah-langkah inovatif untuk menuju Indonesia Emas 2045 harus kita upayakan bersama,” ujar Suharso.

Suharso menegaskan pentingnya melanjutkan visi dan pemikiran Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, khususnya dalam penguatan teknologi dan inovasi sebagai fondasi pembangunan nasional.
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagai pembicara kunci B.J. Habibie Memorial Lecture ke-3, Kamis, 21 September 2023.

Ia menambahkan, Indonesia harus fokus pada pertumbuhan dan transformasi ekonomi yang berkelanjutan. Pada 2022, ekonomi Indonesia tumbuh 5,31 persen dan 5,17 persen pada triwulan II 2023. Capaian tersebut mengembalikan Indonesia ke status Upper Middle Income setelah sempat berada di kategori Lower Middle Income pada 2020–2021.

Meski demikian, Suharso mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar. Dalam 20 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi rata-rata berada di kisaran 5 persen.

“Ekonomi kita memiliki pekerjaan rumah yang amat besar. Kita tidak bisa merasa puas hanya dengan pertumbuhan rata-rata 5 persen,” tegasnya.

Suharso menegaskan pentingnya melanjutkan visi dan pemikiran Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, khususnya dalam penguatan teknologi dan inovasi sebagai fondasi pembangunan nasional.
B.J. Habibie Memorial Lecture ke-3, Kamis, 21 September 2023 menghadirkan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa sebagai pembicara kunci didampingi Ketua Dewan Pembina CTIS Prof Wardiman Djojonegoro.

Salah satu strategi untuk keluar dari jebakan Middle Income Trap adalah dengan mentransformasi model pertumbuhan melalui penguatan industri domestik. Transformasi tersebut ditempuh melalui peningkatan riset dan pengembangan menuju ekonomi berbasis teknologi dan inovasi.

Selain itu, langkah tersebut diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, membuka peluang apprenticeship bagi lulusan vokasi guna mengatasi kesenjangan keterampilan (skill gap), serta memperkuat basis penerimaan perpajakan nasional. ***

Categories
Domestic S&T News

Boediono dan Sri Mulyani Kenang Kepemimpinan BJ Habibie di Masa Krisis 1998

Kelompok masyarakat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang pernah berinteraksi langsung dengan Presiden ke-3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, baik sebagai sahabat, rekan kerja, staf, maupun bagian dari lembaga-lembaga IPTEK yang didirikannya menggelar acara bertajuk “Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan’”.

Kegiatan tersebut menjadi momentum peringatan 1.000 hari wafatnya B.J. Habibie yang diselenggarakan di Auditorium Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Sabtu, 25 Juni 2022. Acara ini sekaligus menjadi cikal bakal B.J. Habibie Memorial Lecture yang kemudian rutin digelar setiap tahun.

“Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan’”.
Acara “Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan’”. Kegiatan tersebut menjadi momentum peringatan 1.000 hari wafatnya B.J. Habibie yang diselenggarakan di Auditorium Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Sabtu, 25 Juni 2022.

Sejumlah tokoh nasional hadir untuk memberikan kuliah memorial terhadap kontribusi besar B.J. Habibie bagi bangsa. Di antaranya Wakil Presiden RI ke-11 Prof. Dr. Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel, serta dan Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro.

Dalam pidatonya, Boediono mengenang pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas di Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Habibie.

“Menjadi anggota Kabinet Reformasi Pembangunan bagi saya merupakan pengalaman yang mencerahkan, mencerdaskan, dan menyenangkan,” ujar Boediono.

Ia menilai Habibie sebagai pribadi yang terbuka, demokratis, dan menghargai perbedaan pendapat. Latar belakangnya sebagai ilmuwan, menurut Boediono, menjadikan sidang kabinet berlangsung dinamis dan sarat diskursus ilmiah.

“Sebagai ilmuwan, beliau menganggap perbedaan pendapat sebagai hal yang lumrah. Saya melihat beliau berusaha mengerti pandangan yang berbeda tersebut,” katanya.

Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan’”.
Wakil Presiden RI ke-11 Prof. Dr. Boediono mengenang pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas di Kabinet Reformasi Pembangunan di bawah kepemimpinan Presiden Habibie.

Boediono juga memuji peran besar Habibie dalam mendorong independensi Bank Indonesia sebagai langkah krusial pemulihan ekonomi pascakrisis 1998. Ia menyebut Habibie sebagai pemimpin di masa krisis yang berhasil membangkitkan perekonomian nasional.

Menurutnya, pada 1999 ekonomi Indonesia mulai tumbuh 0,8 persen setelah sebelumnya terpuruk, inflasi yang sempat mendekati hiperinflasi ditekan hingga sekitar dua persen, nilai tukar rupiah menguat, dan sektor perbankan kembali menggeliat.

“Almarhum adalah teknolog dengan reputasi internasional yang berprestasi luar biasa,” tambahnya.

Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan
Menteri Keuangan Sri Mulyani menyoroti kontribusi Habibie sebagai Bapak Teknologi Indonesia, termasuk keberhasilannya dalam pengembangan pesawat N250.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga mengenang Habibie sebagai sosok yang berkomitmen kuat terhadap pengembangan teknologi dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

“Presiden ke-3 RI ini merupakan tokoh inspiratif Indonesia, profesional, kompeten, intelektual, berprestasi, sekaligus sosok keluarga yang dikagumi,” ujarnya.

Sri Mulyani menyoroti kontribusi Habibie sebagai Bapak Teknologi Indonesia, termasuk keberhasilannya dalam pengembangan pesawat N250 dan kemajuan teknologi penerbangan nasional. Ia juga menyebut Habibie sebagai figur penting yang meletakkan fondasi demokrasi pada masa transisi dari Orde Baru ke era Reformasi.

Selain kiprahnya di bidang teknologi dan pemerintahan, Sri Mulyani menilai Habibie sebagai pribadi religius, suami yang penuh cinta, dan ayah yang baik hingga akhir hayatnya.

Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan
Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel menegaskan Habibie berprinsip pada kualitas sumber daya manusia dan pendidikan.

Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel. Menurutnya, Habibie berprinsip bahwa kualitas sumber daya manusia dan pendidikan merupakan jalan utama menuju kemajuan bangsa.

“Pak Habibie adalah sosok visioner yang berdedikasi tinggi terhadap kemajuan bangsa dengan membumikan ilmu demi kemaslahatan banyak orang,” kata Gobel.

Dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan buku “B.J. Habibie dalam Kenangan”, kumpulan tulisan dari 44 pegiat IPTEK yang pernah berinteraksi langsung dengan Habibie. Para penulis terdiri atas tokoh senior, sahabat, rekan kerja, dan staf almarhum.

Tulisan-tulisan dalam buku ini tidak hanya mengulas perkembangan IPTEK pada masa kepemimpinan Habibie, tetapi juga menghadirkan sisi humanis dan pengalaman personal para penulis bersama sosok yang dijuluki “Mr. Crack” tersebut.

Salah satu kutipan yang diangkat dalam buku itu adalah pesan Habibie kepada seorang pejabat lembaga IPTEK: “You must be better than me! Negara ini negara Anda, maka berjuanglah untuk kemajuannya, jangan pernah menyerah apa pun hambatan dan penghalangnya.”

Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie dan peluncuran buku ‘B.J. Habibie dalam Kenangan
Ketua Yayasan SDM Iptek Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro menyerahkan buku B.J. Habibie dalam Kenangan.

Dalam bagian lain, salah satu penulis mengenang perdebatan ilmiah dengan Habibie terkait temuan corrosion and fatigue material pada pesawat CN235. Ia menggambarkan Habibie sebagai sosok terbuka, menghargai perbedaan argumentasi, toleran, dan egaliter.

Kisah-kisah tersebut menjadi pelengkap berbagai biografi tentang B.J. Habibie, sekaligus memperkaya dokumentasi perjalanan IPTEK Indonesia yang belum banyak terungkap ke publik.

Bacharuddin Jusuf (B.J.) Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Ia dikenal sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia dan sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 RI.

Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada 12 Mei 1962. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai dua putra, Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie.

B.J. Habibie wafat pada 11 September 2019 di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 83 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, berdampingan dengan sang istri tercinta, Ainun Habibie. ***

Categories
Domestic S&T News

Kepala BRIN: CTIS Think Tank Penting bagi Penguatan Riset dan Teknologi Nasional

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan bahwa Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.

Hal tersebut disampaikan Arif Satria saat menerima kunjungan tim CTIS yang dipimpin Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang di Kantor BRIN, Rabu (21/1/2026). Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan diskusi strategis terkait penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dan Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian saat menerima kunjungan tim CTIS yang dipimpin Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang di Kantor BRIN, Rabu (21/1/2026). (Dok CTIS)

Dalam pertemuan itu, berbagai masukan dari CTIS disampaikan sebagai bahan pertimbangan BRIN ke depan. Salah satunya terkait pengembangan pesawat N219, yang merupakan hasil riset nasional dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional Indonesia. Pesawat tersebut dikembangkan melalui kolaborasi BRIN dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Arif Satria mengungkapkan, BRIN bersama PTDI saat ini tengah mengembangkan pesawat N219 berkapasitas 19 penumpang menjadi pesawat amfibi yang mampu mendarat di air, dengan kapasitas 17 penumpang. Pesawat ini diharapkan menjadi solusi konektivitas wilayah terpencil di Indonesia.

Dewan Pengawas CTIS Rahardi Ramelan menyoroti pentingnya keberadaan perusahaan leasing dalam industri pesawat terbang. Menurutnya, industri aviasi global tidak berjalan dengan skema pembelian tunai.

“Tidak ada industri pesawat terbang di dunia yang langsung cash. Harus ada leasing company. Kami menyarankan Danantara membangun leasing company, diawali dengan N219. Production line yang hanya dua unit tidak menarik pembeli, idealnya empat hingga enam unit. Danantara bisa memulai dengan membeli 20 pesawat,” ujar mantan Menteri Perdagangan tersebut.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang
Ketua Umum CTS Wendy Aritenang dan Dewan Pengawas CTIS Rahardi Ramelan (Dok CTIS)

Rahardi juga mengkritisi minimnya inovasi sederhana yang berdampak langsung bagi pengusaha kecil, khususnya di sektor pertanian dan kehutanan. Kondisi ini dinilai stagnan selama lebih dari 20 tahun karena industri lebih memilih membangun lisensi ketimbang mengembangkan inovasi sederhana yang aplikatif.

Selain itu, ia menilai pengelolaan hak paten yang awalnya berasal dari pemikiran BPPT dan kini ditangani Kementerian Hukum dan HAM, sebaiknya berada di bawah kementerian atau lembaga perekonomian agar lebih selaras dengan pengembangan industri.

Masukan lain datang dari anggota CTIS sekaligus mantan Kepala LAPAN Harijono Djojodiharjo yang menekankan pentingnya menanamkan budaya riset sejak mahasiswa memasuki perguruan tinggi, peningkatan anggaran riset, serta penguatan daya cipta nasional agar mampu menguasai pasar domestik.

Sementara itu, mantan Deputi Kemenristek Idwan Suhardi menegaskan bahwa peneliti memiliki “DNA riset” yang tidak bisa dihapus. Oleh karena itu, komunitas iptek perlu dihadirkan sebagai pemecah masalah di tengah masyarakat maupun pemerintah.

“CTIS bisa berperan untuk speak up kepada para pemangku kepentingan dan memberikan masukan strategis,” ujarnya.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
CTIS bersilaturahmi dengan Kepala Kepala Bada Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dan jajarannya di kantor BRIN, Rabu 21 Januari 2026. (Dok CTIS)

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Arif Satria yang didampingi Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyampaikan apresiasi dan menyambut positif diskusi yang berlangsung.

“Banyak inspirasi dan insight baru. Diskusi singkat seperti ini memicu pemikiran mendalam, termasuk soal model bisnis pesawat dengan leasing dan pentingnya investasi pada lini produksi untuk meyakinkan pasar,” kata Arif.

Ia juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui kenaikan anggaran riset sebesar 50 persen yang akan dibagi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Menurut Arif, pengembangan iptek membutuhkan investasi baru, termasuk pembaruan peralatan laboratorium agar sesuai dengan perkembangan zaman.

BRIN, lanjut Arif, telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan ribuan paten inovasi sejak 1970 hingga saat ini. “BRIN harus menjadi kompas roadmap inovasi Indonesia dan melihat arah perkembangan riset ke depan,” ujarnya.

Ia mencontohkan inovasi baterai listrik berbasis nikel yang ditargetkan rampung pada 2028, sementara teknologi baterai grafena yang memiliki waktu pengisian lebih cepat mulai berkembang. Oleh karena itu, investasi harus mempertimbangkan teknologi pasca-2030.

Selain itu link and match yang digagas oleh Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro saat masih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menurut Arif tidak hanya berlaku di dunia pendidikan, tetapi harus bisa masuk di teknologi.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyerahkan buku “B.J. Habibie dalam Kenangan” serta profil CTIS kepada Kepala BRIN Arif Satria. (Dok CTIS)

Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyambut baik gagasan tersebut dan berharap diskusi antara BRIN dan CTIS dapat terus berlanjut secara berkelanjutan, melibatkan lebih banyak tokoh iptek nasional.

“Untuk menyejahterakan bangsa, perlu jalur diskusi yang terus-menerus, tidak hanya dengan CTIS tetapi juga dengan para tokoh iptek lainnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wardiman juga menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Habibie Prize selama lima tahun terakhir oleh pemerintah melalui BRIN. Ia mengingatkan bahwa penghargaan tersebut sebelumnya bernama Habibie Award dan diselenggarakan oleh Yayasan SDM Iptek yang dipimpinnya.

Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang menambahkan CTIS secara rutin menyelenggarakan BJ Habibie Memorial Lecture. Pada tahun ini, agenda tersebut memasuki penyelenggaraan ke-6.

Ia berharap BJ Habibie Memorial Lecture 2026 yang direncanakan berlangsung pada Juni mendatang dapat diselenggarakan di Kantor BRIN.

Wendy juga mengapresiasi sambutan yang positif dari Kepala BRIN dalam silaturahmi dengan CTIS. Ia menegaskan bahwa silaturahmi ini bertujuan untuk saling bertukar gagasan demi kemajuan bangsa yang ditopang oleh sains dan teknologi.

Di akhir acara, Wardiman Djojonegoro menyerahkan buku “B.J. Habibie dalam Kenangan” serta profil CTIS kepada Kepala BRIN.***

Categories
Domestic S&T News

Warisan Intelektual BJ Habibie Diteguhkan Lewat Memorial Lecture

BJ Habibie Memorial Lecture merupakan perhelatan akademik tahunan yang diselenggarakan untuk memperkuat pemahaman, penegasan, dan tekad pemerintah dalam menyinkronkan serta mengoordinasikan pembangunan di berbagai sektor berbasis agenda pembangunan nasional. Forum ini juga menjadi wadah strategis untuk membahas implementasi sains, riset, dan teknologi sebagai fondasi utama pembangunan nasional.

BJ Habibie Memorial Lecture merupakan perhelatan akademik tahunan yang diselenggarakan oleh CTIS
BJ Habibie Memorial Lecture 2025 yang berlangsung 25 Agustus 2025. (Dok Perpusnas)

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerja sama dengan sejumlah lembaga, antara lain Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Perpustakaan Nasional, serta mitra strategis lainnya.

BJ Habibie Memorial Lecture pertama digelar pada 25 Juni 2022 dengan tema “Mengenang 1.000 Hari Wafatnya Bapak B.J. Habibie” dan dirangkaikan dengan peluncuran buku “B.J. Habibie dalam Kenangan”. Sejumlah tokoh nasional hadir sebagai pemateri, antara lain Wakil Presiden ke-11 RI Prof. Dr. Budiono, Menteri Keuangan RI Dr. Sri Mulyani Indrawati, Wakil Ketua DPR RI Dr. Rachmat Gobel, serta Ketua AIPI Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro.

Pada penyelenggaraan kedua, 21 September 2023, kuliah memorial disampaikan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Dr. (HC) Ir. Suharso Monoarfa, M.A., dengan orasi ilmiah berjudul “Strategi Keluar dari Middle Income Trap”.

Sementara itu, BJ Habibie Memorial Lecture 23 Juli 2024 menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Dr. (HC) Ir. Airlangga Hartarto, yang menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Strategi Indonesia Mengatasi Jebakan Pendapatan Menengah Menuju Indonesia Emas 2045”.

Pada BJ Habibie Memorial Lecture 2025 yang dijadwalkan berlangsung 25 Agustus 2025, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Dr. Agus Harimurti Yudhoyono akan menyampaikan kuliah bertajuk “Strategi Pembangunan Infrastruktur dan Kewilayahan Menuju Indonesia Emas 2045”. Kuliah ini akan memaparkan strategi besar dalam menyiapkan fondasi pembangunan yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga berkeadilan, berkelanjutan, dan inklusif.

Sekretaris Jenderal AIPI Chairil Abdini

Sekretaris Jenderal AIPI Chairil Abdini, yang juga merupakan anggota CTIS, menjelaskan bahwa memorial lecture merupakan kegiatan akademik untuk menghormati tokoh nasional yang telah wafat dan memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa, khususnya di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Selain mengenang dan memberikan penghormatan, memorial lecture juga merayakan warisan intelektual, profesional, dan sosial tokoh tersebut guna menginspirasi generasi mendatang,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan yang rutin digelar setiap tahun ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan kepada Presiden ke-3 RI Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, tetapi juga momentum penting untuk menyambungkan gagasan lintas generasi.

BJ Habibie Memorial Lecture merupakan perhelatan akademik tahunan yang diselenggarakan oleh CTIS
Bapak Teknologi Indonesia, B.J. Habibie telah meletakkan fondasi kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. (dok Arsip BJ Habibie)

Sebagai Bapak Teknologi Indonesia, B.J. Habibie telah meletakkan fondasi kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi nasional. Habibie meyakini bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengelola sumber daya dan teknologi untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.

Melalui BJ Habibie Memorial Lecture 2025, AIPI dan CTIS meneguhkan kembali bahwa warisan intelektual Habibie tidak berhenti pada masa lalu, melainkan tetap relevan dalam menjawab tantangan Indonesia masa kini, termasuk dalam memanfaatkan bonus demografi dan peluang menuju masa depan Indonesia Emas 2045. ***

Categories
Domestic S&T News

Pakar CTIS: Batam Berisiko Stagnan Tanpa Reformasi

Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, telah dikenal sebagai pusat industri dan perdagangan sejak era Presiden ke-3 RI Soeharto. Pada masa itu, Batam dikembangkan sebagai kawasan strategis nasional. Konsep pengembangan kemudian diperkuat oleh Presiden ke-3 RI sekaligus Ketua Otorita Batam ke-3, B.J. Habibie, melalui gagasan Barelang (Batam, Rempang, Galang) yang menghubungkan enam jembatan. Konsep ini memperluas wilayah Batam hingga 715 kilometer persegi dan diproyeksikan mampu bersaing dengan Singapura.

Namun dalam perjalanannya, Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional. Pada era Soeharto dan Habibie, Batam dikelola sebagai kawasan otorita dengan kepemimpinan tunggal. Sejak 2017, pengelolaan Batam mengalami perubahan karena Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota Batam dipimpin oleh Wali Kota Batam.

Kondisi tersebut memunculkan dualisme kewenangan pada wilayah yang sama, yang kemudian menjadi persoalan krusial dalam tata kelola Batam. Isu ini dibahas dalam diskusi CTIS, Rabu (7/1/2026), bertema Skenario Masa Depan Batam, dengan narasumber Chairil Abdini, Ph.D., mantan Staf Khusus Menteri Bappenas.

Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional
diskusi CTIS, Rabu (7/1/2025), bertema Skenario Masa Depan Batam, dengan narasumber Chairil Abdini, Ph.D. (kemeja putih), mantan Staf Khusus Menteri Bappenas. (dok CTIS)

Chairil mengungkapkan bahwa Singapura dan Johor secara resmi meluncurkan Special Economic Zone (SEZ) pada awal Januari 2025. Zona ini bertujuan meningkatkan perdagangan dan investasi lintas batas dengan mengintegrasikan kekuatan industri Johor dan sektor jasa Singapura.

“Kerja sama ini menciptakan regulasi yang ramah investasi, sistem bea cukai satu pintu, kemudahan layanan investasi, pengembangan talenta, serta dukungan industri masa depan,” ujar Chairil.

Menurutnya, Batam yang secara geografis sangat dekat dengan Singapura harus memiliki skenario masa depan yang realistis dan kompetitif. Dua pendorong utama yang harus diperkuat adalah reformasi kebijakan yang kredibel dan kredibilitas kelembagaan dalam negeri.

“Di Batam, aturan sering berubah, banyak peraturan pemerintah yang tumpang tindih, sehingga kredibilitas kawasan menjadi rentan. Tanpa reformasi yang kredibel, investor akan memilih Johor atau SEZ Singapura. Diversifikasi sektor pun akan terhambat, dan Batam berisiko stagnan atau hanya mendapat limpahan ekonomi bernilai rendah,” jelasnya.

Untuk meningkatkan kredibilitas tersebut, Chairil mengusulkan pembentukan otoritas tunggal Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam yang memiliki kekuatan hukum mengikat. Otoritas ini dikoordinasikan oleh Bappenas, dengan pelaksana Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

 

“Ini penting untuk mengurangi ketidakpastian regulasi dan mengubah tata kelola Batam dari diskresioner menjadi berbasis aturan,” tegasnya.

Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional.

Selain itu, ia menekankan pentingnya jaminan prediktabilitas peraturan, fokus pada metrik eksekusi dibanding jumlah program, integrasi operasional nyata (bukan sekadar MoU), penargetan rantai nilai bersama Singapura dan Johor, penguatan program pengaitan UKM lintas batas, fokus sektoral, formulasi kebijakan berbasis nilai tambah, serta menjadikan Batam sebagai proyek percontohan nasional reformasi terpadu.

“Transisi hanya akan berhasil jika perbaikan kredibilitas kelembagaan dilakukan lebih dahulu, diikuti integrasi regional, dan diakhiri dengan kebijakan yang tidak mudah dibatalkan,” pungkas Chairil.

Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional
KEK Batam Ero Technic (BAT) (MRO pesawat/aviasi) (dok Kemenko Perekonomian)

Menanggapi hal tersebut, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang hadir secara daring, menilai Batam bisa tertinggal dibandingkan Johor. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan lahan.

“Investor membutuhkan energi, air, dan lahan. Di Batam, ketiganya sulit, ditambah birokrasi yang berat,” ujarnya.

Ketua Umum KORIKA (Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial), Hammam Riza, menambahkan bahwa Batam juga tertinggal dibandingkan Penang. Menurutnya, pengembangan industri seperti semikonduktor harus disertai kesiapan rantai pasok dan ekosistem industri pendukung.

“Perusahaan semikonduktor harus membawa perusahaan pendukungnya. Ini berhasil di Penang. Batam memiliki Politeknik Negeri Batam, sehingga seluruh rantai pasok seharusnya bisa dibangun di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Ridwan Djamaluddin, mantan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, menyatakan Batam memiliki empat KEK, lahan, dan sumber air. Namun perluasan lahan masih menunggu peraturan pemerintah yang belum ditandatangani Presiden.

Batam sebagai kota industri mengalami pasang surut seiring perubahan kebijakan para pemimpin nasional
RSBP Batam masuk dalam KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam (pariwisata kesehatan). (dok RSBP)

Di bawah BP Batam ada empat KEK yaitu KEK Nongsa (digital/ekonomi kreatif), KEK Batam Ero Technic (BAT) (MRO pesawat/aviasi), KEK Pariwisata Kesehatan Internasional Batam (pariwisata kesehatan), dan KEK Industri Logistik dan Energi (KEK Nipa).

Ketua CTIS Wendy Aritenang menegaskan bahwa kemajuan Batam sangat bergantung pada pucuk pimpinan. Menurutnya, BP Batam harus dipimpin figur yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah pusat.

“Pengelolaan zona ekonomi khusus seharusnya ditangani langsung oleh kepala negara, seperti di Singapura, bukan oleh kepala daerah,” tegasnya.

Direktur Politeknik Negeri Batam Bambang Hendrawan juga mengakui bahwa integrasi dan kredibilitas kelembagaan Batam masih rendah. Ia berharap adanya kebijakan satu pintu yang konsisten hingga tingkat paling bawah.

Penanggap lainnya, Purnomo Andiantono eks Direktur Investasi dan Pemasaran BP Batam, menegaskan pentingnya kredibilitas kelembagaan, kepastian regulasi, dan otoritas tunggal bagi masa depan Batam.

“Masa depan free trade zone Batam itu 70 tahun. Seluruh Batam sudah berstatus free trade zone sesuai undang-undang,” ujarnya.

Pada penutupan diskusi, Chairil kembali menekankan pentingnya peningkatan kualitas layanan, kemudahan berbisnis, dan penyederhanaan prosedur kepabeanan. Menurutnya, Batam harus mampu merespons strategi kompetitor seperti Singapura dengan kebijakan yang membuat Batam kembali diperhitungkan di kawasan regional.

Categories
Domestic S&T News

Tata Kelola Logam Tanah Jarang, Fokus Hilirisasi dan Industri Pertahanan

Indonesia dikenal sebagai produsen utama nikel, bauksit, timah, dan tembaga. Di dalam sumber-sumber mineral tersebut, terdapat mineral ikutan bernilai tinggi, termasuk mineral kritis, mineral strategis, serta Logam Tanah Jarang (LTJ).

Pemerintah kini memperkuat reformasi tata kelola mineral dengan fokus khusus pada LTJ dan mineral radioaktif, agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan kementerian dan lembaga terkait menyiapkan tata kelola LTJ dan radioaktif secara terpadu dari hulu hingga hilir.

Pemerintah kini memperkuat reformasi tata kelola mineral dengan fokus khusus pada LTJ dan mineral radioaktif untuk perekonomian nasional
Diskusi CTIS pada Rabu, 10 Desember 2025, menghadirkan Dr. Julian Ambassadur S., ST., MT., Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Industri Mineral (BIM) (duduk no 3 dari kanan), yang membawakan tema “Tata Kelola Industri LTJ dan Radioaktif.” (Dok CTIS)

Isu tersebut menjadi fokus diskusi yang digelar CTIS pada Rabu, 10 Desember 2025, menghadirkan Dr. Julian Ambassadur S., ST., MT., Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Industri Mineral (BIM), yang membawakan tema “Tata Kelola Industri LTJ dan Radioaktif.”

Potensi LTJ Indonesia

Julian mengungkapkan, hasil pemetaan menunjukkan LTJ telah teridentifikasi di 28 lokasi. Sebanyak 9 lokasi telah dieksplorasi awal, dan 3 di antaranya sudah dipetakan secara detail, mencakup wilayah Bangka Belitung dan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Secara global, rantai pasok LTJ saat ini masih dikuasai China. Situasi geopolitik, termasuk perang Rusia-Ukraina, juga berdampak pada pasokan mineral strategis ini. Julian menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump sebelumnya memasukkan isu eksplorasi LTJ dalam poin negosiasi perdamaian Rusia-Ukraina, dan LTJ menjadi bagian dari kebijakan pengurangan tarif dagang untuk Indonesia.

Di sisi lain, embargo AS terhadap China menciptakan krisis akses LTJ. Negara-negara seperti AS dan Uni Eropa kini mendorong investasi daur ulang limbah elektronik untuk mengekstraksi unsur LTJ. “Banyak negara tanpa sumber daya mineral lebih memilih membeli bahan mentah daripada membangun smelter,” jelas Julian.

Pemerintah kini memperkuat reformasi tata kelola mineral dengan fokus khusus pada LTJ dan mineral radioaktif, untuk perekonomian nasional
Logam Tanah Jarang

Indonesia Dorong Hilirisasi

Dengan dinamika global tersebut, Indonesia berupaya mencegah hilangnya potensi LTJ yang terkandung sebagai mineral ikutan, sekaligus mempercepat hilirisasi dan industrialisasi material maju sebagai fondasi kemajuan bangsa.

“Pemerintah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) untuk mengoptimalkan nilai tambah mineral strategis dan memperkuat perekonomian nasional,” kata Julian.

BIM merupakan lembaga non-struktural baru yang dibentuk Presiden Prabowo pada Agustus 2025 untuk mengelola mineral strategis, termasuk LTJ dan mineral radioaktif. Brian Yuliarto ditunjuk sebagai Kepala BIM.

Lembaga ini berperan mendukung industri pertahanan, hilirisasi, serta riset dan pengembangan teknologi pengolahan mineral bernilai tinggi.

Payung Regulasi LTJ dan Radioaktif

Sejumlah aturan terkait LTJ sudah tersedia, di antaranya:

  • Kepmen ESDM No. 296.K/MB.01/MEM.B/2023: menetapkan 47 mineral kritis, termasuk LTJ.
  • PP 96/2021: memasukkan LTJ sebagai mineral logam.
  • PP 39/2025 Pasal 18A: mengamanatkan pengusahaan dan pemanfaatan LTJ yang akan diatur lebih lanjut dalam Permen.
  • Permen ESDM No. 18/2025 Pasal 4: memberi mandat kepada BUMN untuk mengelola LTJ dan memprioritaskan pemanfaatannya di dalam negeri.

Untuk mineral radioaktif, regulasi mengacu pada PP 27/2002 dan PP 39/2025 tentang pemanfaatan mineral radioaktif sebagai sumber energi baru. Julian menegaskan, “Perpres khusus LTJ sedang dipersiapkan. Prinsipnya, pengelolaan tidak diserahkan langsung ke swasta, tetapi melalui kerja sama dengan BUMN Perminas.”

Pemerintah kini memperkuat reformasi tata kelola mineral dengan fokus khusus pada LTJ dan mineral radioaktif untuk perekonomian nasional

Tantangan: Data, Teknologi, dan SDM

Julian menekankan bahwa pengembangan LTJ membutuhkan identifikasi sumber daya yang akurat, baik sumber primer maupun sekunder. Saat ini, data nasional mengenai sebaran LTJ dan status pemanfaatannya masih terbatas. “Pemetaan dan uji unsur menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Tantangan lain adalah teknologi pemisahan LTJ, yang di Indonesia masih berada pada level laboratorium. Upaya pilot project sudah dilakukan, antara lain kerja sama Tekmira ESDM dan PT Timah untuk pemurnian dari hidroksida ke oksida.

Dubes RI untuk AS, Indroyono Soesilo, yang hadir melalui Zoom, menyoroti pentingnya pengembangan SDM dan peluang kolaborasi riset. “Universitas Iowa sudah menyiapkan laboratorium untuk joint research. Skema pendanaan bisa cost sharing antara LPDP dan mitra AS. AS sudah siap; sekarang giliran Indonesia menentukan posisi,” ujarnya.

Prof. Budi Susilo Soepandji, Gubernur Lemhannas 2011-2016, menambahkan bahwa pengembangan LTJ dalam skala pilot membutuhkan dana besar, yang akan didukung oleh Danantara. Ia juga menyoroti bahwa sejumlah kebijakan politik terkait mineral strategis masih menunggu penandatanganan di tingkat presiden.

Arah Pengembangan ke Depan

Julian menjelaskan bahwa pemetaan lanjutan LTJ tengah dilakukan di Mamuju dan Bangka Belitung, termasuk pengeboran 30 sumur untuk karakterisasi. Metode pemisahan LTJ masih dikaji untuk menentukan biaya dan teknologi terbaik sebelum diajukan ke pemerintah.

“Fokus kami adalah kejelasan data, penguasaan teknologi, dan tata kelola yang kokoh. Semuanya menentukan keberhasilan Indonesia dalam membangun industri LTJ,” tutup Julian. ***

Categories
Domestic S&T News

Kanada Maksimalkan Air dan Nuklir dalam Roadmap Nol Emisi 2050

Kanada menetapkan target ambisius mencapai nol emisi karbon pada 2050. Untuk mewujudkan hal tersebut, negara ini telah merancang roadmap transisi energi yang menitikberatkan pada pemanfaatan kekayaan sumber daya alam, terutama melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi CTIS yang digelar pada Rabu, 3 Desember 2025. Diskusi menghadirkan Dr. Mundzir Basri, Technical Director Hydrogeology Modeling, Minerals and Metals North America AtkinsRealis, yang menyampaikan paparannya langsung dari Kanada melalui Zoom. Tema yang dibahas adalah “Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir”.

Kanada menetapkan target ambisius mencapai nol emisi karbon pada 2050.
Diskusi CTIS menghadirkan Dr. Mundzir Basri (tengah layar zoom), Technical Director Hydrogeology Modeling, Minerals and Metals North America AtkinsRealis, yang menyampaikan paparannya langsung dari Kanada melalui Zoom, dengan tema “Pembangkit Listrik Tenaga Air dan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir”, Rabu 3 Desember 2025. (Dok CTIS)

PLTA sebagai Andalan Energi Rendah Emisi

Dalam paparannya, Mundzir menjelaskan bahwa kebijakan pembangunan PLTA di Kanada berada pada tingkat provinsi. Ia mencontohkan Provinsi Manitoba sebagai wilayah dengan ketergantungan energi air tertinggi di dunia. Hampir 97 persen kebutuhan listrik provinsi itu dipenuhi oleh PLTA yang dikelola perusahaan milik pemerintah, Manitoba Hydro.

Manitoba memanfaatkan aliran deras sungai-sungai besar di wilayah utara tanpa merusak hutan, sehingga mampu mengoperasikan PLTA berskala raksasa yang bukan hanya memasok kebutuhan domestik, tetapi juga mengekspor listrik ke Amerika Serikat, termasuk ke Minnesota, North Dakota, dan Wisconsin.

Kanada menetapkan target ambisius mencapai nol emisi karbon pada 2050
Keeyask Generating Station di Sungai Nelson (dok Manitoba Hydro)

Sejumlah PLTA besar di Manitoba antara lain:

  • Limestone Generating Station1 – 1.340 MW
  • Kettle Generating Station – 1.220 MW
  • Long Spruce Generating Station – 1.010 MW
  • Keeyask Generating Station – 695 MW (beroperasi penuh sejak 2022)
  • Wuskwatim Generating Station – 200 MW

“Dengan kapasitas besar, emisi rendah, dan pasokan yang stabil, PLTA Manitoba menjadi pilar utama ketahanan energi Kanada,” ujar Mundzir.

Nuklir: Kebijakan Nasional dan Tulang Punggung Transisi Energi

Berbeda dengan PLTA, pembangunan PLTN merupakan kebijakan tingkat nasional. Kanada dikenal sebagai negara maju dalam teknologi nuklir, khususnya melalui pengembangan reaktor CANDU (CANada Deuterium Uranium).

“Nuklir membutuhkan air untuk beroperasi. Air dan nuklir berjalan beriringan dalam sistem energi Kanada,” jelas alumnus ITB itu.

CANDU merupakan teknologi reaktor air berat yang lebih modern dibanding teknologi lama yang digunakan di PLTN seperti Fukushima atau Chernobyl. Reaktor CANDU telah diekspor ke berbagai negara, termasuk Korea Selatan, Rumania, Argentina, India, dan Tiongkok.

Kanada menetapkan target ambisius mencapai nol emisi karbon pada 2050.
Bruce Nuclear Generating Station menampung delapan reaktor CANDU. (Dok Bruce Power)

Di dalam negeri, reaktor CANDU menjadi tulang punggung sistem nuklir Kanada, terutama di:

  • Bruce Nuclear Generating Station (lebih dari 6.500 MW-salah satu kompleks nuklir terbesar dunia)
  • Darlington Nuclear Generating Station
  • Pickering Nuclear Generating Station

Selain reaktor besar, Kanada kini memasuki era baru dengan pengembangan Small Modular Reactor (SMR). Salah satunya adalah GE Hitachi BWRX-300, yang menjadi bagian dari rencana pembangunan SMR di Darlington.

Tanggapan Indonesia Terkait Prospek PLTN

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Unggul Prayitno, menyatakan bahwa posisi PLTN di Indonesia kini tidak lagi berada di opsi terakhir dalam kebijakan energi.

“Dalam Perpres baru, nuklir berada pada posisi yang sama dengan energi alternatif lainnya,” terangnya. Ia menilai PLTN perlu dipertimbangkan serius karena pasokan listrik dari batubara akan berkurang di masa depan.

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang turut hadir melalui Zoom, mengungkapkan bahwa AS sedang menyiapkan feasibility study SMR untuk Indonesia. Ia mendorong DEN untuk segera menentukan calon host di dalam negeri. “Ini investasi besar, jadi harus jelas siapa penyelenggaranya,” ujarnya.

Kanada menetapkan target ambisius mencapai nol emisi karbon pada 2050.

Indroyono juga menanyakan perbedaan CANDU dan teknologi nuklir Amerika. Mundzir menjelaskan bahwa CANDU memiliki rekam jejak panjang dan telah digunakan di banyak negara, sementara SMR masih tergolong teknologi baru.

Unggul menambahkan bahwa CANDU dapat menggunakan uranium berkadar rendah, berbeda dengan sebagian teknologi AS yang membutuhkan uranium diperkaya 5-8 persen. “Reaktor Kanada lebih besar dan teknologinya lebih sederhana, sedangkan di AS pendanaannya besar dan risetnya masih terus berkembang,” katanya.

Menutup diskusi, moderator Dr. Ridwan Djamaludin menyampaikan bahwa Indonesia perlu segera menentukan arah teknologi nuklirnya. “CANDU atau SMR, yang penting PLTN bisa terwujud,” ujarnya. ***

Categories
Domestic S&T News

Logam Tanah Jarang Jadi Fokus Baru Pemerintah Indonesia

Indonesia memasuki fase baru dalam pengelolaan mineral kritis. Logam tanah jarang (LTJ), komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional. Dorongan ini semakin kuat sejak pemerintah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) pada 2025, lembaga yang bertugas mengoordinasikan strategi pengembangan mineral strategis, termasuk LTJ.

Isu LTJ mengemuka dalam diskusi ilmiah yang digelar CTIS pada Rabu, 26 November 2025, bertema “Logam Tanah Jarang: Kita Kaya?”. Salah satu pembicara, ahli geologi sekaligus mantan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Ridwan Djamaludin, PhD, menyatakan bahwa perhatian pemerintah terhadap LTJ dalam beberapa pekan terakhir meningkat signifikan.

 Logam tanah jarang (LTJ)—komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional.
Ahli geologi sekaligus mantan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Ridwan Djamaludin, PhD (duduk no 4 dari kiri) narasumber diskusi digelar CTIS, Rabu, 26 November 2025, bertema Logam Tanah Jarang: Kita Kaya?. (Dok CTIS)

“Jarang geologi mendapat perhatian presiden. Namun untuk logam tanah jarang ini, presiden benar-benar memberi fokus, dan kami memberi masukan agar arahan tersebut bisa diwujudkan,” ujar Ridwan.

Seminar Nasional ITB: Menyatukan Ilmuwan dan Pembuat Kebijakan

Sebelumnya, pada 1 November 2025, ITB menggelar seminar nasional bertema prospek LTJ, menghadirkan Kepala BIM Brian Yuliarto, Rektor ITB, serta Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya. Dalam forum tersebut, Brian menegaskan bahwa LTJ bukan mineral yang berdiri sendiri, melainkan hadir sebagai mineral ikutan pada penambangan timah, nikel, bauksit, dan tembaga.

LTJ memiliki peran strategis dalam berbagai teknologi modern—dari magnet permanen, baterai kendaraan listrik dan hybrid, katalis industri, perangkat elektronik, hingga aplikasi pertahanan dan nuklir. “Potensi ekonominya sangat besar bila dikelola dengan benar,” ujar Ridwan.

Sebutan “jarang” merujuk pada kesulitannya diekstraksi dan dimurnikan, bukan pada kelangkaan absolut di alam. China hingga saat ini menguasai rantai pasok LTJ global, dari hulu hingga hilir, berkat teknologi pemisahan yang paling maju di dunia.

Unsur-unsur utama dalam LTJ meliputi cerium, lanthanum, neodymium, praseodymium, dan yttrium, unsur kunci dalam magnet berenergi tinggi dan komponen elektronik canggih.

Logam tanah jarang (LTJ)—komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional.

Apakah Indonesia Benar-Benar Kaya LTJ?

Menurut Ridwan, berbagai survei global pada 2011–2019 memang mengidentifikasi potensi sumber daya LTJ di Indonesia. Namun hingga kini, Indonesia belum memiliki cadangan LTJ yang diakui bernilai ekonomis.

Hal ini berbeda dengan negara seperti Vietnam, India, Australia, dan Brasil, yang cadangannya sudah tervalidasi dan dieksploitasi secara industri. “Kesimpulannya, belum ada eksplorasi sistematis yang benar-benar ditujukan untuk target REE di Indonesia,” tegas Ridwan.

Di kawasan Asia Pasifik, distribusi cadangan LTJ saat ini diperkirakan sebagai berikut:

  • China: 44 juta ton
  • Vietnam: 22 juta ton
  • India: 6,9 juta ton
  • Australia: 3,4 juta ton

Sementara itu, Brasil memimpin di Amerika dengan 22 juta ton, disusul Amerika Serikat dengan 1,4 juta ton. Rusia memiliki sekitar 12 juta ton di Eropa.

Menariknya, Malaysia yang tidak tercatat sebagai negara dengan cadangan besar justru menjadi pemain penting dalam industri pengolahan LTJ melalui kerja sama dengan Amerika Serikat dan juga China.

 Logam tanah jarang (LTJ)—komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional.
Wujud Logam Tanah Jarang. (Dok CTIS)

Peta Indonesia: Potensi Ada, Cadangan Belum Terkonfirmasi

Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada 2019, terdapat 28 lokasi yang mengindikasikan keberadaan LTJ, dengan 9 lokasi sudah dieksplorasi awal. Daerah yang dianggap paling prospektif mencakup: Bangka Belitung, Sulawesi, Kalimantan dan Papua

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, mencatat bahwa estimasi potensi Indonesia bisa mencapai 300 ribu ton LTJ, meski angka ini berbeda antara lembaga seperti MIND ID dan Kementerian ESDM. Intinya, Indonesia memiliki sumber daya, tetapi belum ada cadangan.

Indonesia juga belum memiliki IUP khusus LTJ ataupun wilayah izin khusus untuk komoditas tersebut. Meski demikian, ada preseden penting: pilot plant LTJ PT Timah di Bangka, yang pernah berjalan sebelum dihentikan. “Kita punya cikal bakal yang bisa dihidupkan lagi,” ujar Ridwan.

BIM sendiri mendapat dukungan dari Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), BUMN baru yang ditugaskan mendorong hilirisasi LTJ.

Kerja Sama Internasional: Peluang dengan Amerika Serikat

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang hadir secara daring, menilai Indonesia berpotensi membuka kerja sama eksplorasi bersama AS. Negara-negara lain seperti Jepang, Australia, Thailand, dan Malaysia sudah menandatangani MoU dengan Washington terkait pengembangan LTJ.

“Indonesia seharusnya bisa melakukan hal yang sama. Amerika pasti tertarik, asal jangan memberikan terlalu banyak syarat,” ujarnya. Ia menyarankan kerja sama dimulai dari joint exploration, tanpa harus menunggu kesiapan pabrik pengolahan atau regulasi lengkap.

Menurut Indroyono, data potensi LTJ nasional juga perlu diperbarui, mengingat keterkaitannya dengan mineral “saudara” seperti tembaga, nikel, bauksit, dan timah. Ia menekankan pentingnya melihat potensi regional lintas batas seperti:

  • Sulawesi dan Papua terhubung dengan Filipina
  • Kalimantan terhubung secara geologi dengan Malaysia

Dari Kedutaan Besar RI di Washington DC, Ibrani menambahkan bahwa isu LTJ kini berada di jantung geopolitik global, terutama setelah AS memasukkan LTJ dalam agenda pertahanan nasional. “Peluang sinergi resources Indonesia-AS sangat relevan dan strategis,” ujarnya.

 Logam tanah jarang (LTJ)—komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional.

Membangun Kemampuan Teknologi Dalam Negeri

Ketua CTIS Wendy Aritenang, PhD, menegaskan kesiapan institusinya untuk mendukung arahan Presiden dengan menyusun rekomendasi ilmiah. Sementara itu, moderator diskusi Idwan Suhardi, PhD, menekankan bahwa kemampuan mengolah LTJ akan menentukan daya saing Indonesia dalam teknologi tinggi.

“Penguasaan teknologi pemisahan LTJ bukan hanya soal industri, tetapi fondasi untuk kemandirian teknologi nasional,” ujar Idwan.

Keberhasilan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara mempercepat eksplorasi, menguasai teknologi pemurnian, dan menarik investasi ke industri hilirisasi berbasis LTJ. ***

Categories
Domestic S&T News

Risiko Keamanan Siber di Era Pasca Quantum Computing

Kemajuan komputasi kuantum dalam satu dekade terakhir mulai membuka babak baru dalam dunia teknologi. Mesin kuantum, yang memanfaatkan prinsip mekanika kuantum untuk melakukan perhitungan superkompleks, dinilai mampu menyelesaikan persoalan yang mustahil dipecahkan komputer konvensional. Potensi tersebut membuat banyak negara berlomba mengembangkan riset kuantum, namun sekaligus memunculkan tantangan besar, terutama pada aspek keamanan siber.

Peringatan itu disampaikan Rektor Cyber University, Gunawan Witjaksono PhD, dalam diskusi yang digelar CTIS pada Rabu, 19 November 2025, bertema “The Threat From Post-Quantum Computing Era.”

Kemajuan komputasi kuantum dalam satu dekade terakhir mulai membuka era baru dalam dunia teknologi.
Gunawan Witjaksono PhD (duduk no 3 dari kanan) Rektor Cyber University dalam diskusi yang dilaksanakan oleh CTIS, Rabu 19 November 2025 dengan mengangkat tema The Threat From Post-Quantum Computing Era. (Dok CTIS)

Gunawan menjelaskan bahwa komputasi kuantum bekerja dengan qubit, unit informasi yang dapat berada dalam beberapa keadaan sekaligus melalui superposisi dan terhubung melalui entanglement. Perbedaan fundamental ini memberi komputer kuantum kemampuan memproses berbagai kemungkinan dalam waktu bersamaan, sehingga membuka peluang besar bagi banyak disiplin ilmu.

Menurutnya, teknologi kuantum diprediksi mendorong terobosan di bidang pengembangan obat, simulasi material canggih, optimasi rantai pasok, energi, hingga kecerdasan buatan. Di sektor ekonomi digital, komputer kuantum dipandang sebagai pengubah permainan besar berikutnya.

Namun memasuki era pasca-kuantum, Gunawan menekankan bahwa ancaman keamanan siber menjadi tantangan paling mendesak. Sistem enkripsi yang selama ini melindungi data perbankan, transaksi digital, hingga komunikasi pemerintah, secara teori dapat dibongkar oleh komputer kuantum dengan kemampuan komputasi tinggi. Kondisi ini mendorong dunia digital mulai beralih ke Post-Quantum Cryptography (PQC) sebagai standar keamanan generasi baru.

Era pasca-kuantum, menurut Gunawan, menjadi fase penting dalam kompetisi teknologi global. Negara yang cepat beradaptasi dengan standar keamanan baru akan berada pada posisi strategis dalam ekonomi digital mendatang.

Kemajuan komputasi kuantum dalam satu dekade terakhir mulai membuka era baru dalam dunia teknologi.
Komputasi Kuantum Google AI tengah mengeksplorasi berbagai potensi penerapan teknologi kuantum untuk pupuk ramah lingkungan, baterai tahan lama, penemuan obat-obatan baru, dan berbagai inovasi lainnya. (Dok quantumai.google)

Indonesia sendiri dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat kesiapan. Meski riset kuantum masih terbatas, sejumlah perguruan tinggi telah mulai mengembangkan penelitian terkait informasi kuantum, optika kuantum, material kuantum, hingga kriptografi kuantum. Kerja sama internasional disebut menjadi kunci untuk mempercepat penguatan riset dan sumber daya manusia.

Gunawan menegaskan bahwa kesiapan keamanan siber nasional perlu diprioritaskan sejak dini. Lembaga seperti BSSN, perbankan, telekomunikasi, dan sektor energi harus mulai mengaudit sistem enkripsi yang digunakan, sekaligus menyiapkan peta jalan migrasi menuju teknologi kriptografi yang aman di era kuantum.

Ia menambahkan bahwa meski komputer kuantum yang benar-benar stabil masih membutuhkan waktu panjang untuk terwujud, transformasi komputasi global sudah berlangsung. Negara yang menyiapkan diri sejak sekarang akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan.

“Bagi Indonesia, komputasi kuantum bukan sekadar peluang teknologi, tetapi juga tantangan strategis yang akan menentukan arah persaingan digital di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.

Pentingnya mitra sejajar

Di tengah cepatnya perkembangan teknologi digital seperti sekarang ini mendapat perhatian dari Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo yang ikut bergabung dalam diskusi secara zoom.  Dubes RI di Washington memberikan perhatian agar Indonesia menjadi mitra sejajar dengan industri teknologi digital di Amerika Serikat.

“Saya ingin siapa yang menjadi mitra sejajar untuk membahas teknologi digital hingga cyber security. Takutnya Indonesia hanya jadi pasar, bukan sebagai mitra sejajar,” kata Indroyono.

Disebutkan bahwa Microsoft, Google, AWS sudah berekspansi di Indonesia namun banyak orang tidak tahu apa yang dilakukan industri-industri tersebut di Indonesia.

“Saya agak worry, Microsoft di Cikarang bikin apa, ternyata tidak ada yang tahu. Saya ingin mereka bisa dipertemukan dengan mitra sejajar, termasuk dengan tim CTIS,” tegasnya.

Indroyono mengapresiasi hadirnya Cyber University yang  diharapkan bisa menjadi pembuka jalan untuk bekerja sama dengan industri teknologi informasi digital di AS.

Ketua CTIS Wendy Aritenang langsung merespons segera untuk membuka komunikasi antara CTIS dengan perusahaan-perusahaan teknologi informasi AS di Indonesia.

Kemajuan komputasi kuantum dalam satu dekade terakhir mulai membuka era baru dalam dunia teknologi.

Prof Jarot Suroso, Sekjen IATI selaku moderator menambahkan ada tiga sistem cyber security yaitu self guard, defense, dan offense. “Kita harus kuat di ketiganya itu,” jelasnya.

Dan di Indonesia ada SDM di bidang keamanan siber terbaik di dunia. “Hacker paling jago di dunia banyak dari Indonesia, hacker kelas dunia dan tidak kalah dengan negara lain. Presiden sudah meng-hire hacker dengan bayaran tinggi untuk menjaga keamanan sistem internet di sektor pemerintahan. keuangan dan lainnya. Mudah-mudshsnan dengan banyaknya kampus memiliki program keamanan siber dan teknologi digital membuat SDM Indonesia di dunai IT semakin kuat,” pungkasnya. ***