Categories
Domestic S&T News

Satelit dan AI Dipakai untuk Prediksi Wabah Malaria dan DBD di Indonesia

Penyakit menular yang sensitif terhadap perubahan iklim kian menjadi ancaman serius, termasuk di Indonesia. Perubahan suhu, pola curah hujan, hingga cuaca ekstrem akibat krisis iklim memengaruhi pola penyebaran penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.

Hal ini mengemuka dalam diskusi bertema Bringing Earth Observations Into Early Warning System for Malaria and Dengue in Indonesia yang digelar secara hibrida oleh KORIKA, CTIS, BMKG, University of Maryland, dan IMACS pada Rabu, 11 Februari 2026.

Diskusi menghadirkan Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dr. Ardhasena Sopaheluwakan, Profesor Tatiana Loboda dari University of Maryland AS, Direktur Institute for Health Modeling and Climate Solutions (IMACS), Dr. Kaushik Sarkar, dengan Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), Prof. Dr. Hammam Riza sebagai moderator.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Diskusi bertema Bringing Earth Observations Into Early Warning System for Malaria and Dengue in Indonesia yang digelar secara hibrida oleh KORIKA, CTIS, BMKG, University of Maryland, dan IMACS pada Rabu, 11 Februari 2026. (Dok CTIS)

BMKG Luncurkan DBDKlim

Deputi Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa BMKG telah mengembangkan layanan inovatif bernama DBDKlim. Platform ini memanfaatkan data iklim untuk memprediksi risiko demam berdarah.

“Layanan DBDKlim menggunakan model statistik untuk memprediksi risiko demam berdarah berdasarkan faktor-faktor iklim seperti suhu, kelembapan udara, dan curah hujan. Informasi ini disajikan dalam bentuk peta dan grafik yang mudah dipahami,” ujarnya.

 Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan memberikan paparan secara hibrida. (Dok CTIS)

Menurut Ardhasena, layanan tersebut diharapkan membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengambil langkah pencegahan serta pengendalian DBD secara lebih efektif. Saat ini, DBDKlim telah diterapkan di Provinsi Bali, Lampung, dan DKI Jakarta.

Ia menambahkan, peningkatan suhu udara dan cuaca ekstrem mempercepat perkembangbiakan nyamuk. Pada 2026, BMKG memprediksi puncak kasus DBD terjadi pada Maret hingga Mei, terutama di kota-kota besar.

Indonesia sendiri telah memiliki Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim sektor kesehatan. Untuk mendukung implementasinya, diperlukan Climate Data Center guna membaca tren perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Peran Penginderaan Jauh

Profesor Tatiana Loboda menegaskan bahwa Indonesia termasuk negara yang rentan terhadap penyakit terkait perubahan iklim.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan dan penyakit menular. Kami berharap dapat menyediakan prakiraan dini yang dapat ditindaklanjuti terkait potensi wabah malaria dan dengue melalui pemanfaatan citra satelit,” katanya.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Profesor Tatiana Loboda dari University of Maryland. (dok CTIS)

Loboda menjelaskan, data penginderaan jauh (remote sensing) dapat digunakan untuk menganalisis risiko penyakit melalui tiga komponen utama.

Pertama, aspek bahaya (hazard), yaitu mengidentifikasi habitat dan kondisi lingkungan yang mendukung vektor penyakit seperti nyamuk.
Kedua, aspek paparan (exposure), yakni memetakan wilayah tempat manusia berpotensi kontak dengan vektor.
Ketiga, aspek kerentanan (vulnerability), dengan melihat indikator sosial-ekonomi dan akses layanan kesehatan.

“Dengan menggabungkan ketiga komponen tersebut, kita dapat menilai risiko penyakit secara lebih komprehensif,” ujarnya.

Menurutnya, setiap komponen membutuhkan pertimbangan berbeda terkait parameter, cakupan wilayah, resolusi, dan kualitas data. Sejak 2014, Loboda aktif menjembatani ilmu geospasial dan kedokteran untuk memantau serta memprediksi wabah malaria di Asia Tenggara.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Penginderaan jauh (remote sensing) dengan citra satelit dapat digunakan untuk menganalisis risiko penyakit akibat perubahan iklim. (Dok Prof Tatiana Loboda)

Platform AI ClimateSmart Indonesia

Direktur IMACS Dr. Kaushik Sarkar memaparkan bahwa Indonesia kini memiliki platform berbasis kecerdasan buatan, ClimateSmart Indonesia, yang dirancang untuk memprediksi dan merespons penyakit sensitif iklim.

Upaya deteksi dini berbasis teknologi digital dan satelit pun dinilai menjadi kunci mitigasi.
Direktur IMACS Dr. Kaushik Sarkar. (Dok CTIS)

Platform ini mencakup Digital Twin Indonesia dan dashboard AI sebagai sistem pendukung keputusan (decision support system). Teknologi tersebut memungkinkan deteksi dini risiko malaria dan membantu perencanaan intervensi berbasis data.

ClimateSmart Indonesia dikembangkan melalui kolaborasi KORIKA, Mohamed bin Zayed University of Artificial Intelligence (MBZUAI), dan IMACS.

“Secara bersama-sama, sistem peringatan dini dan alat perencanaan malaria berbasis informasi iklim dari inisiatif ini akan menjadi langkah maju menuju eliminasi malaria yang tahan terhadap perubahan iklim,” kata Sarkar.

Penguatan Kerja Sama Riset

Diskusi turut dihadiri Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo. Ia menyambut positif pemanfaatan teknologi digital dan satelit untuk menekan kasus malaria serta penyakit terkait perubahan iklim lainnya.

Indroyono berharap kolaborasi riset Indonesia–Amerika Serikat dapat terus diperkuat, termasuk dalam pembangunan pusat data (data center) kesehatan dan iklim.

Sementara itu, Prof. Hammam Riza menegaskan bahwa pemanfaatan machine learning dan sains data memungkinkan penyebaran malaria diprediksi dan dipetakan secara lebih presisi.

“Dengan pendekatan berbasis data, intervensi dan mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran untuk menekan angka penyakit menular di Indonesia,” ujarnya.

Pemanfaatan teknologi satelit, kecerdasan buatan, dan data iklim dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang tangguh menghadapi dampak perubahan iklim.***

Categories
Domestic S&T News

Gemini Asisten AI Ubah Cara UMKM Bekerja

Kemajuan di bidang Artificial intelligence telah dimanfaatkan banyak perusahan teknologi informasi digital sebagai penyedia data dan informasi yang lebih lengkap karena me-remake apa yang dipikirkan oleh manusia.

Seperti perusahaan Google yang dikenal sebagai perusahaan mesin pencari data, kini mengembangkan Google Gemini.

Diskusi yang digelar oleh CTIS pada Rabu (14/5) mengangkat tema Aplikasi AI untuk Pemberdayaan UMKM Masyarakat di Indonesia dengan nara sumber Sugianto Yoannatan W selaku Education Lead Google Cloud Indonesia dan moderator Dr Ir Jarot S Suroso, MEng.IPU yang juga pengurus CTIS dan Sekjen IATI.

 perusahaan Google yang dikenal sebagai perusahaan mesin pencari data, kini mengembangkan Gemini untuk Google Workspace.
Diskusi CTIS dengan tema Aplikasi AI untuk Pemberdayaan UMKM Masyarakat di Indonesia

Sugianto Yoannatan W menjelaskan bahwa Google menghadirkan Gemini untuk Google Workspace, sebuah inovasi asisten bertenaga kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk merevolusi cara pengguna bekerja sehari-hari.

Terintegrasi dengan aplikasi Google Workspace yang familiar seperti Gmail, Google Docs, Google Sheets, Google Slides, dan Google Meet, Gemini hadir sebagai mitra cerdas yang siap membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Sugi memaparkan beberapa keuntungan spesifik Gemini bagi UMKM, yaitu peningkatan. produktivitas dan efisiensi operasional.

UMKM saat mempromosikan produk melalui website, Gemini akan membantu banyak hal.

Mulai dari menyusun email promosi, membantu menjawab pertanyaan pelanggan, dan membuat pengumuman dengan profesional.

 Google yang dikenal sebagai perusahaan mesin pencari data, kini mengembangkan Gemini untuk Google Workspace.
logo Gemini

 

Membuat konten pemasaran yang lebih mudah. Gemini membantu menghasilkan ide konten, draft postingan di media sosial, deskripsi produk hingga presentasi penjualan yang menarik.

Gemini juga membantu menganalisis data sederhana untu penjualan dan pelanggan di Google Sheets. Hal ini memudahkan pengusaha UMKM untuk mengidentifikasi tren di pasar.

AI buatan Google ini membuat ringkasan informasi penting dengan cepat. Pemilik UMKM mudah memahami poin-poin utama dari email, dokumen, dan transkrip rapat tanpa membuang banyak waktu.

Adanya Gemini,  secara tidak langsung membebaskan waktu pemilik UMKM untuk fokus pada strategi dan pengembangan bisnis.

Tidak kalah menariknya adalah Gemini membantu membangun komunikasi antara pengusaha UMKM dengan konsumen.

Kecerdasan buatan ini membantu merespons pertanyaan dan permintaan pelanggan lebih cepat, personal dan profesional.

Google yang dikenal sebagai perusahaan mesin pencari data, kini mengembangkan Gemini untuk Google Workspace.
Diskusi CTIS dengan tema Aplikasi AI untuk Pemberdayaan UMKM Masyarakat di Indonesia menghadirkan narasumber Sugianto Yoannatan W selaku Education Lead Google Cloud Indonesia (duduk nomor 3 dari kanan)

Bahkan sebagai asisten, Gemini bisa membuat materi promosi lebih menarik dengan ide-ide kreatif dituangkan untuk brosur, postingan di media sosial dan presentasi.

Di tengah maraknya konten-konten promosi produk, Gemini menyumbang ide konten pemasaran yang segar yang menjangkau pasar. Bahkan membantu menuliskan deskripsi produk lebih informatif untuk toko online atau katalog.

“Dan kami menggunakan data-data dari Google untuk membantu semua pengguna Gemini,” ujarnya.

Dengan kata lain hadirnya AI Gemini ini lebih efisien dalam pengoperasian sebuah UMKM.

Sugi mengingatkan bahwa Gemini adalah alat bantu, dan hasil yang dihasilkan tetap memerlukan peninjauan dan penyesuaian sesuai dengan kebutuhan bisnis.

“Secara keseluruhan, Gemini untuk Google Workspace memiliki potensi besar untuk menjadi aset berharga bagi UMKM,” kata Sugi.

Dengan kemampuannya memberdayakan pengguna dengan bantuan AI di berbagai aspek pekerjaan, Gemini diharapkan dapat membantu UMKM bekerja lebih cerdas, meningkatkan efisiensi, dan membuka jalan menuju pertumbuhan lebih signifikan tanpa memerlukan investasi besar. ***

Categories
Domestic S&T News

Kecerdasan Artifisial Merambah Kehidupan Sehari-hari

Kecerdasan Artifisial atau Artifical Intelligence (AI) berkembang sangat pesat akhir akhir ini, dan telah mulai merambah pula pada kehidupan sehari hari masyarakat Indonesia.

Tidak terasa, AI telah diterapkan dalam kehidupan sehari hari, dari kegiatan transaksi perbankan, jual-beli secara daring hingga deteksi virus Covid-19, kegiatan pertanian pintar, kegiatan kelautan pintar, penanggulangan bencana dan masih banyak lagi.

Menurut Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), Profesor Hammam Riza, yang juga Ketua Komite AI Center for Technology & Innovation Studies (CTIS), perkembangan AI di Indonesia dilaksanakan oleh Quad-Helix, melibatkan pihak akademisi, bisnis, komunitas dan Pemerintah.

kecerdasan artifisial saat ini sudah masuk dalam kehidupan sehari-hari
Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), Profesor Hammam Riza, yang juga Ketua Komite AI Center for Technology & Innovation Studies (CTIS). (dok KORIKA)

Tercatat, saat ini ada 11 Lembaga Litbang Pemerintah, 11 Universitas, 6 Komunitas dan 9 Industri yang sudah terjun dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI) di Indonesia.

Apalagi dengan munculnya teknologi AI Chatbot yang bergerak sangat cepat diakhir triwulan IV,Tahun 2022 lalu, seperti Chat GPT4, LiaMA, LaMDA dan Megatron Turing.

Dalam rangka menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, 10-12 Agustus 2023, yaitu memperingati terbang perdananya pesawat N-250 Gatotkoco karya putra-putri Indonesia, pada 10 Agustus 1995 lalu (Keppres No.71/Th.1995), maka KORIKA didukung CTIS akan menggelar Artifical IntelligenceInnovation Summit 2023 (AIIS 2023) bertempat di Jakarta International Expo.

AIIS 2023 yang mengambil tema “Democratizing Artificial Intelligence For All” akan membahas penerapan AI pada bidang kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, Smart Mobility & Smart City.

Topik-topik menarik dibidang kesehatan, misalnya yang berkaitan dengan diagnosa kesehatan, data farmasi, data X-ray, data CT-Scan dan beragam peralatan kesehatan yang sudahm memanfaatkan AI didalamnya.

Di bidang pertanian, sudah mulai diterapkan SMART Agriculture, dari metoda pembibitan, penanaman, pemupukan hingga pemanenan yang kesemuanya sudah menggunakan teknologi AI.

Hal ini juga tampak di bidang kelautan dan perikanan, dari penentuan lokasi kumpulan ikan di laut dari satelit, metoda penangkapan ikan hingga metoda budidaya perikanan yang kesemuanya telah mulai memanfaatkan AI.

Memang teknologi AI juga memiliki dampak negatif, terbukti dengan adanya petisi yang ditanda-tangani 20.000 pegiat pengembangan AI, yang menyatakan agar pengembangan Generative AI dapat dihentikan dahulu selama 6 bulan.

Hal ini agar pengembangan teknologi AI dilaksanakan dengan mempertimbangkan resiko yang ditimbulkan, sehingga AI dapat terkelola dengan baik serta memunculkan dampak yang positif.

“Inilah yang akan kita bahas pula pada AIIS 2023 nanti, karena bagaimanapun dampak teknologi AI lebih banyak positifnya daripada aspek negative-nya”, demikan ditegaskan Professor Bambang Riyanto Trilaksono, anggota Dewan Pengarah AIIS 2023, yang juga Guru Besar ITB-Bandung.

dok KORIKA

Memang, akhir akhir ini muncul teknologi deep learning yang memungkinkan dibuatnya algoritma AI dengan kemampuan membuat analisis, laju (trend) dan kesimpulan untuk pengambilan kebijakan dari mega-data yang dihimpun, baik data angka, data verbal, data gambar, data spatial, data suara dan data video.

Aplikasi ini menarik, misalnya, untuk membuat beragam analisis terhadap data digital yang terhimpun, juga hasil survey dan polling, menuju Pemilu 2024.

Algoritma AI untuk Deep Learning ini dapat “dilatih” secara terus-menerus dengan masukan beragam data dan informasi yang semakin banyak dan semakin rinci, sehingga kebijakan yang diambil dapat mendekati tingkat ketepatan di atas 90%.

Tentu aspek negatif, algoritma AI Deep Learning ini adalah bisa dibuatnya kebijakan atau video serta gambar yang deep fake. Hal hal seperti inilah yang nanti akan dibahas bersama sama saat AIIS 2023.

Ketua CTIS, Wendy Aritenang, menyambut baik kerjasama KORIKA dan CTIS dalam kegiatan AIIS 2023, karena ini akan membuka pengetahuan masyarakat tentang teknologi AI menjadi lebih luas.

Apalagi, pada AIIS 2023 digelar pula Kompetisi Dunia Kreatif Dengan Generative AI, yang akan memunculkan talenta talenta muda Indonesia yang terjun membangun Negeri melalui Teknologi AI.