Categories
Domestic S&T News

Dari LTJ hingga AI, BRIN Bangun 10 Kolaborasi Iptek dengan AS

Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington D.C. telah memetakan 10 rintisan kerja sama riset yang melibatkan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri dari kedua negara.

Kerja sama tersebut mencakup bidang strategis, mulai dari hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) dan mineral kritis, riset kelautan, transisi energi, ban pesawat berbahan karet alam, peternakan, manufaktur, semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), eksplorasi antariksa, hingga teknologi nuklir terapan melalui Small Modular Reactor (SMR).

Indonesia  terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat.
Indroyono dalam forum Centre for Technology and Innovation Studies Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Amerika Serikat, Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc.,hadir dalam diskusi yang dilaksanakan oleh CTIS, Jakarta, Rabu (9/9/2026). (dok CTIS)

Rintisan kerja sama itu merupakan salah satu hasil pertemuan strategis Kepala BRIN dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Amerika Serikat, Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc., di Jakarta, 27 Agustus 2026.

Pertemuan tersebut diarahkan untuk mengakselerasi dan mengonsolidasikan berbagai inisiatif kerja sama riset, sains, dan teknologi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta entitas industri Indonesia dengan mitra strategis di Amerika Serikat. Materi pertemuan tersebut juga mencatat sejumlah rintisan kerja sama BRIN dengan mitra Amerika Serikat.

Hasil pertemuan itu kemudian dipaparkan Indroyono dalam forum Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Dewan Pembina CTIS Prof. Wardiman Djojonegoro, Ketua CTIS Wendy Aritenang, pengurus CTIS, serta sejumlah periset yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.

Menurut Indroyono, salah satu kekuatan dari rintisan kerja sama tersebut adalah prosesnya yang berangkat dari kebutuhan para periset.

“Ini patut diapresiasi,” kata Indroyono.

10 Pilar Kerja Sama

Dalam pemetaan BRIN dan KBRI Washington D.C., rintisan kerja sama pertama adalah riset kelautan dan teknologi observasi laut dengan Scripps Institution of Oceanography/University of California San Diego (UCSD). Kolaborasi tersebut diarahkan pada pengembangan instrumen pemantauan laut, termasuk INA-Bouy, drone laut, dan unmanned ocean gliders, serta penyusunan joint proposal.

Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Amerika Serikat, Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc. menerima kenang-kenangan dari Ketua CTIS, Wendy Aritenang. (dok CTIS)

Kedua, critical minerals dan rare earth elements (REE) atau logam tanah jarang. BRIN menjajaki kolaborasi dengan University of Michigan dan Argonne National Laboratory, dengan dukungan sejumlah institusi Indonesia. Fokusnya adalah riset pengolahan LTJ dari hulu hingga hilir.

Bidang ketiga adalah riset ban pesawat berbahan karet alam. Indonesia menjajaki kolaborasi dengan Ohio State University, University of Akron, Goodyear, dan Bridgestone, yang akan dikaitkan dengan kemampuan riset serta regulator penerbangan di Indonesia.

Kerja sama ini diarahkan pada penelitian dan sertifikasi penggunaan karet alam Indonesia untuk ban pesawat. Materi BRIN menyebut kebutuhan penggantian ban pesawat secara berkala sebagai salah satu peluang pengembangan riset tersebut.

Keempat adalah gasifikasi batu bara kalori rendah (low-rank coal) dengan University of North Dakota dan Latitude Energy. Kerja sama ini diarahkan untuk riset dan aplikasi teknologi gasifikasi sebagai salah satu alternatif substitusi LPG.

Kelima, riset peternakan (livestock research) dengan University of California, Davis (UC Davis) dan IPB University. Kolaborasi ini mencakup penguatan riset dan pendidikan di bidang peternakan, kesehatan hewan, serta ketahanan pangan. BRIN sebelumnya telah merintis kerja sama bidang tersebut bersama mitra di AS.

Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat.
Diskusi CTIS. Rabu 9 September 2026. (dok CTIS)

Keenam adalah pengembangan Machine-Making-Machine (3M) bersama Northwestern University dan Industrial Manufacturing Consortium (IMC), dengan dukungan LPDP. Kolaborasi ini diarahkan pada pengembangan mesin dan manufaktur maju untuk mendukung lompatan industri nasional.

Ketujuh, semikonduktor dan desain integrated circuit (IC). BRIN menjajaki kerja sama dengan Arizona State University (ASU) dan ARM, dengan keterlibatan ITB IC Design Center dan Danantara.

Salah satu agenda yang telah berjalan adalah pelatihan semikonduktor bersama ARM untuk talenta Indonesia. Di sisi lain, ITB melalui IC Design Center bersama BRIN Bandung telah menyusun proposal kerja sama dengan Arizona State University.

Kedelapan, kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital. Rintisan kerja sama diarahkan kepada perusahaan teknologi Amerika Serikat seperti Amazon, Microsoft, Google, Apple, dan NVIDIA, termasuk pengembangan AI, investasi pusat data, serta pembangunan infrastruktur kabel bawah laut.

Kesembilan adalah eksplorasi antariksa melalui NASA Artemis, sedangkan bidang kesepuluh adalah Small Modular Reactor (SMR) untuk energi nuklir terapan.

Untuk SMR, delegasi lintas kementerian/lembaga Indonesia telah berkunjung ke Amerika Serikat pada 20–22 April 2026 untuk membahas teknologi tersebut, dengan BRIN diwakili Dr. Syaiful.

Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat.
Kepala BRINM Arif Satria bersama Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo. (dok BRIN)

Critical Minerals Jadi Salah Satu Prioritas

Dari berbagai rintisan tersebut, kerja sama critical minerals dan rare earth elements menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian serius.

Indroyono menjelaskan, proses diplomasi dan koordinasi untuk kerja sama tersebut telah berjalan sejak April 2026. Pada 23 April, Kepala BRIN menyampaikan inisiatif kerja sama riset LTJ kepada Dubes RI di Washington D.C. Inisiatif tersebut menekankan pentingnya penguasaan teknologi pemrosesan mineral kritis dari hulu hingga hilir.

Sehari kemudian, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto menyampaikan dukungan kepada US Assistant Secretary of State for East Asian & Pacific Affairs Michael G. DeSombre.

Selanjutnya, pada 30 April 2026, Dubes RI di Washington D.C. menyampaikan proposal resmi Pemerintah Indonesia terkait kerja sama riset eksplorasi dan pemrosesan mineral kritis kepada pemerintah Amerika Serikat.

“Tanggapan resmi dari Assistant Secretary of State AS Michael G. DeSombre menyambut baik proposal Indonesia dan mendorong pembahasan Draft MoU Framework for Securing Supply in Mining and Processing of Critical Minerals and Rare Earths,” kata Indroyono.

Dalam materi kerja sama BRIN, University of Michigan telah memberikan surat dukungan untuk joint research mengenai pengolahan mineral kritis. BRIN juga mencatat keterlibatan Argonne National Laboratory dalam rintisan kerja sama tersebut.

Kepala BRIN Tindak Lanjuti Kerja Sama ke AS

Sebagai tindak lanjut, Kepala BRIN Arif Satria melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat pada awal September 2026.

Menurut Indroyono, kunjungan tersebut mencakup agenda menghadiri pertemuan G20 Science Forum di Chapel Hill, North Carolina, pertemuan dengan US-ASEAN Business Council, serta kunjungan ke Argonne National Laboratory di Chicago untuk membahas aspek teknis riset pemrosesan critical minerals dan rare earth elements.

Selain mineral kritis, sejumlah rintisan juga mulai bergerak ke tahap implementasi.

Di sektor energi, perusahaan teknologi Amerika Serikat Latitude Energy telah menandatangani nota kesepahaman dengan Danantara untuk mendorong proyek gasifikasi low-rank coal sebagai substitusi LPG. Riset pendukungnya melibatkan BRIN dan University of North Dakota.

Di sektor semikonduktor, pelatihan bersama ARM menjadi bagian dari upaya membangun talenta nasional. Sementara ITB dan BRIN Bandung tengah menjajaki kerangka kerja sama institusional dengan Arizona State University.

Indroyono mendorong CTIS untuk turut berkontribusi dalam mengawal rintisan kerja sama tersebut.

“Dari serangkaian kerja sama ini, CTIS juga harus ikut aktif dalam menyukseskan 10 rintisan kerja sama BRIN dengan Amerika Serikat. Ada PIC dari BRIN sesuai kepakarannya,” ujar Indroyono.

Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyambut baik rintisan 10 kerja sama tersebut. Menurutnya, CTIS dapat ikut mendukung dengan terlibat dalam riset-riset yang akan dikembangkan.

Rangkaian kerja sama ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Amerika Serikat di bidang sains dan teknologi mulai diarahkan pada kebutuhan yang lebih konkret, dari penguasaan teknologi mineral kritis hingga pengembangan semikonduktor, AI, energi, kelautan, dan teknologi strategis lainnya.