Categories
Domestic S&T News

AS vs Iran: Perang, Teknologi, dan Pergeseran Arah Ekonomi Global

Dunia tengah memasuki babak baru yang tidak hanya ditandai oleh konflik militer, tetapi juga perubahan mendasar dalam cara negara bertahan dan bertumbuh. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu guncangan berlapis, mulai dari lonjakan harga energi hingga ketidakstabilan pasar keuangan global.

Fenomena ini menjadi sorotan dalam diskusi yang diselenggarakan oleh CTIS pada Rabu, 8 April 2026. Dalam forum tersebut, narasumber Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati yang akrab disapa Sharky dari Pusat Studi Air Power Indonesia mengangkat tema “Gaining Control of The Air: Feasibility and Relevance in the Future Conflict.”

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu guncangan berlapis mulai dari lonjakan harga energi hingga ketidakstabilan pasar keuangan global.
Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati (kiri) yang akrab disapa Sharky dari Pusat Studi Air Power Indonesia mengangkat tema “Gaining Control of The Air: Feasibility and Relevance in the Future Conflict.” Didampingi moderator Alexander Ludi (Sekjen Indonesia Robotic Association). (dok CTIS)

Agung, yang pernah menerbangkan pesawat tempur Northrop F-5 dan F-16 Fighting Falcon saat bertugas di TNI AU, memaparkan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi dua fenomena besar yang bergerak berlawanan arah: “yield crisis” di Amerika Serikat dan “Vatan phenomenon” di Iran.

Yield Crisis: Rapuhnya Fondasi Keuangan Global

Menurut Agung, “yield crisis” mencerminkan mulai rapuhnya fondasi sistem keuangan global. Selama ini, obligasi pemerintah AS atau US Treasury dikenal sebagai instrumen paling aman (safe haven). Namun, kondisi tersebut berubah drastis ketika konflik bersenjata memicu lonjakan harga energi dunia.

Ketergantungan global terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah membuat setiap eskalasi konflik langsung berdampak pada inflasi, terutama di negara-negara besar. Lonjakan inflasi ini mendorong kenaikan imbal hasil obligasi AS, yang menjadi indikator meningkatnya ketidakpercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi.

Dalam situasi tersebut, Federal Reserve berada dalam posisi dilematis: menjaga pertumbuhan ekonomi atau menahan laju inflasi. Ketidakpastian arah kebijakan ini memperbesar volatilitas pasar dan menekan likuiditas global.

Dampaknya meluas ke sektor riil. Kenaikan yield berarti meningkatnya biaya uang secara global. Dunia usaha merespons dengan menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan memperketat pengeluaran. Sektor jasa mulai dari keuangan, konsultasi hingga teknologi menjadi yang paling cepat terdampak karena sangat bergantung pada arus modal dan kepercayaan pasar.

“Rakyat Amerika marah karena mereka tidak bisa membayar cicilan rumah, mobil, harga BBM naik, PHK meningkat. Angka tunawisma dan pengangguran juga melonjak,” ujar Agung.

Dalam konteks global, negara dengan ekonomi berbasis jasa menghadapi tekanan paling besar. Singapura menjadi contoh nyata bagaimana volatilitas global dapat langsung menggerus aktivitas ekonomi.

Sebagai pusat keuangan dan perdagangan jasa dunia, Singapura sangat bergantung pada arus investasi dan stabilitas pasar global. Ketika biaya modal meningkat dan investasi melambat, permintaan terhadap jasa bernilai tinggi ikut menurun. Model ekonomi berbasis jasa yang selama ini efisien mendadak menjadi rentan terhadap guncangan eksternal.

Perang ini menyebabkan ribuan pekerja AS yang bekerja di perusahaan-perusahaan AS wilayah Timur Tengah seperti Microsoft, Intel, Apple, GE, Tesla, IBM, Dell, dan sebagainya hengkang.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu guncangan berlapis mulai dari lonjakan harga energi hingga ketidakstabilan pasar keuangan global.
Diskusi CTIS pada Rabu, 8 April 2026, dengan narasumber Marsma TNI (Purn) Agung Sasongkojati yang akrab disapa Sharky (tengah depan berbaju biru) dari Pusat Studi Air Power Indonesia mengangkat tema “Gaining Control of The Air: Feasibility and Relevance in the Future Conflict.” (dok CTIS)

Vatan Phenomenon: Ketahanan Berbasis Nasionalisme dan IPTEK

Di sisi lain, Iran menunjukkan pendekatan yang sangat berbeda. Dalam menghadapi tekanan militer dan ekonomi, negara ini mengandalkan apa yang disebut sebagai “Vatan phenomenon”, mobilisasi nasional total yang memadukan nasionalisme, ideologi, dan ketahanan ekonomi.

Berakar dari semangat Revolusi Iran 1979, konsep ini menempatkan kemandirian sebagai inti strategi bertahan. Iran membangun ekonomi berbasis ketahanan dengan memperkuat produksi dalam negeri, mengurangi ketergantungan impor, serta memobilisasi solidaritas nasional.

Salah satu aspek kunci dari fenomena ini adalah penguatan sumber daya manusia berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Menurut Agung, sekitar 65 persen personel militer reguler Iran (Artesh) berasal dari latar belakang yang menguasai sains dan teknologi.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu guncangan berlapis mulai dari lonjakan harga energi hingga ketidakstabilan pasar keuangan global.
Pesawat F-35 Lightning II. (dok Wikiimages)

Disrupsi Teknologi: Dari F-35 ke Drone Murah

Implikasi dari kekuatan SDM berbasis IPTEK ini terlihat jelas dalam medan konflik modern. Iran dinilai mampu mengembangkan strategi perang asimetris berbasis teknologi murah namun efektif.

Salah satu contohnya adalah penggunaan rudal loitering berbiaya sekitar US$20.000 yang mampu memberikan dampak signifikan terhadap sistem pertahanan mahal milik lawan. Dalam beberapa laporan konflik, alutsista canggih seperti F-35 Lightning II yang bernilai sekitar US$80 juta per unit menjadi sasaran.

Fenomena ini melahirkan realitas baru dalam peperangan modern:

Ketika sistem senjata murah mampu mengancam platform militer bernilai tinggi, maka paradigma teknologi pertahanan tidak sekadar bergeser, melainkan runtuh.

Dalam kerangka ini, tekanan eksternal tidak selalu melemahkan suatu negara, tetapi justru dapat memperkuat kohesi internal dan mendorong inovasi.

Pergeseran Besar Ekonomi Global

Dua fenomena besar “yield crisis” dan “Vatan phenomenon” menunjukkan bahwa dunia sedang mengalami pergeseran struktural. Ekonomi global tidak lagi sepenuhnya ditopang oleh arus modal bebas dan dominasi sektor jasa, melainkan mulai bergerak menuju model berbasis ketahanan, produksi riil, dan kedaulatan nasional.

 

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu guncangan berlapis mulai dari lonjakan harga energi hingga ketidakstabilan pasar keuangan global.
Indonesia memiliki peluang strategis yang signifikan. Dengan struktur ekonomi yang masih ditopang oleh sumber daya alam dan sektor riil, Indonesia memiliki bantalan yang relatif kuat di tengah gejolak global. Salah satunya hilirisasi logam tanah jarang yang disiapkan oleh pemerintah. (dok CTIS)

Peluang Strategis Indonesia

Dalam konteks ini, Indonesia memiliki peluang strategis yang signifikan. Dengan struktur ekonomi yang masih ditopang oleh sumber daya alam dan sektor riil, Indonesia memiliki bantalan yang relatif kuat di tengah gejolak global.

Kenaikan harga energi dan komoditas dapat menjadi sumber kekuatan. Di sisi lain, perlambatan sektor jasa global membuka peluang bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, penguatan manufaktur, dan pembangunan rantai pasok domestik.

Ketika pusat-pusat jasa global mengalami tekanan, investor akan mencari alternatif baru yang menawarkan pertumbuhan riil dan stabilitas jangka panjang dan Indonesia berpotensi menjadi salah satunya.

Namun peluang tersebut tidak akan terwujud tanpa kesiapan. Stabilitas makroekonomi, kepastian regulasi, serta kualitas sumber daya manusia tetap menjadi prasyarat utama.

“Indonesia harus mampu membaca momentum ini bukan sebagai gangguan sementara, melainkan sebagai tanda perubahan struktural dalam ekonomi dunia,” tegas Agung.

Pada akhirnya, dunia sedang bergerak dari era globalisasi finansial menuju era ketahanan nasional. Negara yang terlalu bergantung pada arus modal dan sektor jasa akan menghadapi tekanan, sementara negara yang mampu mengelola sumber daya, menguasai IPTEK, dan memperkuat produksi akan memiliki keunggulan.

“Yield crisis” adalah tanda peringatan. “Vatan phenomenon” adalah respons. Dan bagi Indonesia, ini adalah kesempatan. ***