Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.

Whoosh Jadi Tonggak Kereta Cepat Indonesia, Alih Teknologi Harus Dipercepat

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, sejumlah persoalan strategis masih menjadi perhatian, mulai dari transfer teknologi kepada insinyur Indonesia, aksesibilitas menuju stasiun, hingga integrasi jaringan kereta cepat dengan kawasan perkotaan.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Asset Management of Infrastructure: Indonesia High Speed Railway (Whoosh)”, yang digelar pada Rabu (29/7/2026).

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Asset Management of Infrastructure: Indonesia High Speed Railway (Whoosh)”, digelar Rabu (29/7/2026) dengan narasumber Ir. Devin Pranata, ST., MPD., IPM, Ketua Subsektor Railways Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Direktur Bisnis dan Operasional PT Jakarta Tourisindo (Perseroda) (nomor 2 dari kanan). (dok CTIS)

Narasumber utama adalah Ir. Devin Pranata, ST., MPD., IPM, Ketua Subsektor Railways Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Direktur Bisnis dan Operasional PT Jakarta Tourisindo (Perseroda). Devin juga pernah menjabat sebagai General Manager Non-Railway Business PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Diskusi dibuka oleh Ketua CTIS Wendy Aritenang dan dimoderatori Ketua Komisi Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno.

Mendorong Transformasi Mobilitas Nasional

Dalam paparannya, Devin menjelaskan bahwa Whoosh telah menjadi salah satu proyek infrastruktur transportasi paling strategis di Indonesia karena mampu mengubah pola mobilitas masyarakat di koridor Jakarta-Bandung.

Dengan kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam, perjalanan dari Halim menuju Padalarang dapat ditempuh sekitar 30 menit, jauh lebih cepat dibandingkan moda transportasi darat lainnya.

Menurutnya, kehadiran Whoosh tidak hanya memangkas waktu perjalanan, tetapi juga meningkatkan konektivitas antarwilayah, mengurangi kemacetan, serta mendukung pengembangan kawasan ekonomi baru.

“Whoosh merupakan contoh bagaimana investasi teknologi transportasi mampu memberikan dampak terhadap efisiensi mobilitas sekaligus meningkatkan daya saing wilayah,” ujar Devin.

Saat ini Whoosh mengoperasikan 62 perjalanan menggunakan rangkaian Electric Multiple Unit (EMU) di jalur sepanjang 142 kilometer yang menghubungkan Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar.

Seluruh stasiun juga dirancang sebagai mobility hub yang terintegrasi dengan kereta feeder, KRL Commuter Line, LRT, bus kota, serta layanan shuttle untuk memperkuat konektivitas antarmoda.

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.
Kereta Cepat Whoosh. (dok KCIC)

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Selain meningkatkan mobilitas, Whoosh dinilai telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Menurut Devin, lebih dari 101 merek, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kini beroperasi di kawasan stasiun Whoosh. Kehadiran aktivitas komersial tersebut mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru sekaligus memperluas peluang usaha di sekitar simpul transportasi.

Dari sisi lingkungan, Whoosh mengklaim menghasilkan sekitar 6,9 gram CO per penumpang per kilometer, atau mampu menurunkan emisi karbon hingga 54 persen dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi.

“Teknologi kereta cepat menjadi bagian dari upaya Indonesia menuju sistem transportasi yang lebih rendah emisi dan berkelanjutan,” katanya.

Sejak beroperasi secara komersial pada Oktober 2023, Whoosh telah melayani lebih dari 16,5 juta penumpang, termasuk 691.713 wisatawan mancanegara dari Malaysia, Singapura, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.
Ir. Devin Pranata, ST., MPD., IPM, Ketua Subsektor Railways Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Direktur Bisnis dan Operasional PT Jakarta Tourisindo (Perseroda). (dok CTIS)

Transfer Teknologi Dinilai Belum Optimal

Meski manfaat ekonomi dan sosial mulai terlihat, peserta diskusi menilai aspek penguasaan teknologi nasional masih perlu diperkuat.

Idwan Suhardi menyoroti belum optimalnya proses transfer teknologi dari proyek kereta cepat kepada para insinyur Indonesia.

“Kami sebagai perekayasa tentu ingin memperoleh kesempatan memahami teknologi secara lebih mendalam. Transfer teknologi merupakan investasi jangka panjang agar Indonesia mampu mengembangkan sistem kereta cepat secara mandiri di masa depan,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Devin berharap proyek Kereta Cepat Jakarta–Surabaya nantinya dapat melibatkan lebih banyak tenaga ahli Indonesia yang telah memiliki pengalaman dalam pembangunan maupun pengoperasian Whoosh.

Integrasi dengan Kota masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Sorotan lain disampaikan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM periode 2020-2023, Ridwan Djamaluddin, yang menilai lokasi stasiun akhir di Padalarang belum sepenuhnya terintegrasi dengan pusat Kota Bandung sehingga masih membutuhkan perpindahan moda transportasi dan tidak efisien dari segi biaya.

Devin menjelaskan bahwa Padalarang dipilih setelah perubahan rencana dari Walini dan sekaligus menjadi bagian dari pengembangan kawasan Kota Baru Parahyangan.

Sementara itu, Ketua CTIS Wendy Aritenang menilai pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa sistem kereta cepat idealnya mampu terhubung langsung dengan kawasan perkotaan tanpa mengurangi efisiensi perjalanan.

“Di banyak negara, kereta cepat dapat memasuki wilayah perkotaan dengan kecepatan yang disesuaikan tanpa harus memindahkan penumpang ke jalur lain. Hal ini menjadi salah satu pelajaran penting untuk pengembangan jaringan kereta cepat Indonesia ke depan,” ujarnya.

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Asset Management of Infrastructure: Indonesia High Speed Railway (Whoosh)”, yang digelar, Rabu (29/7/2026). (dok CTIS)

Mengandalkan Teknologi High-Speed Rail Modern

Secara teknologi, Whoosh mengadopsi sistem High-Speed Rail (HSR) berbasis platform CR400AF Fuxing yang dikembangkan di China dan telah disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia.

Rangkaian kereta menggunakan teknologi Electric Multiple Unit (EMU), sehingga motor penggerak tersebar di beberapa gerbong untuk menghasilkan akselerasi yang lebih baik, efisiensi energi yang tinggi, serta stabilitas pada kecepatan tinggi.

Pada aspek keselamatan, Whoosh menerapkan sistem persinyalan digital China Train Control System Level 3 (CTCS-3) yang dipadukan dengan Automatic Train Protection (ATP). Kedua teknologi tersebut memungkinkan pengawasan perjalanan secara real time, pengaturan kecepatan otomatis, serta pengereman darurat apabila terdeteksi kondisi yang berpotensi membahayakan.

Seluruh operasional kereta dipantau melalui Operation Control Center (OCC) yang mengendalikan pergerakan kereta, sistem kelistrikan, persinyalan, hingga kondisi operasional secara menyeluruh.

Diskusi CTIS menyimpulkan bahwa Whoosh tidak hanya harus dipandang sebagai proyek transportasi, tetapi juga sebagai laboratorium pembelajaran teknologi bagi Indonesia.

Selain memberikan manfaat nyata bagi mobilitas, ekonomi, dan lingkungan, proyek ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas nasional dalam penguasaan teknologi perkeretaapian berkecepatan tinggi.

Pengembangan jaringan kereta cepat di masa depan tidak hanya menghasilkan infrastruktur modern, tetapi juga meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan kemandirian teknologi nasional.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter