Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Indonesia Perlu Jalur Khusus Kereta Kargo untuk Tekan Biaya Logistik

Indonesia perlu membangun jalur khusus kereta api kargo untuk menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing ekonomi, dan mengurangi beban angkutan barang di jalan raya. Saat ini, jalur kereta api di Indonesia umumnya masih digunakan bersama oleh kereta penumpang jarak jauh, kereta komuter, dan kereta barang.

Padahal, jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi Indonesia terus bertumbuh. Angkutan penumpang meningkat pesat, sementara angkutan barang melalui rel masih didominasi batu bara.

“Tanpa koridor kargo khusus, elektrifikasi, dan reformasi kelembagaan, biaya logistik tetap menekan daya saing,” kata Advisor Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Prof. Harijono Djojodiharjo, Sc.D., IPU, ACPE, Ir., MSME, Mec., Mech., dalam diskusi CTIS bertema Cargo Railway Development, Rabu (21/10/2026).

 Indonesia perlu membangun jalur khusus kereta api kargo untuk menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing ekonomi, dan mengurangi beban angkutan barang di jalan raya.
Advisor Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Prof. Harijono Djojodiharjo, Sc.D., IPU, ACPE, Ir., MSME, Mec., Mech., (tengah) dalam diskusi CTIS bertema Cargo Railway Development, Rabu (21/10/2026). Diapit Ketua CTIS Wendy Aritenang (kiri), dan moderator Bambang Goeritno, Ketua IV Bidang Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno.
(dok CTIS)

Diskusi tersebut diawali pengantar Ketua CTIS Wendy Aritenang dan dimoderatori Ketua IV Bidang Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno.

Harijono menjelaskan, layanan angkutan barang PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah tersedia di sejumlah wilayah. Di Sumatera Selatan, kereta api digunakan untuk mengangkut batu bara, sedangkan di Jawa melayani pengangkutan peti kemas, semen, dan bahan bakar minyak (BBM).

Namun, layanan tersebut masih menggunakan jaringan rel yang juga dilalui kereta penumpang. Indonesia belum memiliki koridor khusus kereta api kargo seperti Dedicated Freight Corridor (DFC) di India.

“Di Indonesia, jalan raya menanggung beban truk, termasuk ODOL (Over Dimension Over Loading),” ujarnya, membandingkan kondisi angkutan barang di Indonesia dengan negara lain.

 Indonesia perlu membangun jalur khusus kereta api kargo untuk menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing ekonomi, dan mengurangi beban angkutan barang di jalan raya.
KAI memiliki anak usaha bisnis yaitu KAI Logistik sebagai angkutan khusus kargo. (dok KAI Logistik)

Kerapatan Rel Indonesia Tertinggal

Menurut Harijono, kerapatan jaringan rel Indonesia masih jauh di bawah sejumlah negara lain. Indonesia memiliki kerapatan rel sekitar 3 kilometer per 1.000 kilometer persegi. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan India sekitar 21 kilometer, China 17 kilometer, dan Jerman 122 kilometer per 1.000 kilometer persegi.

India telah memiliki dua koridor khusus angkutan barang dengan panjang total sekitar 2.843 kilometer. Pangsa angkutan barang melalui kereta api di negara tersebut mencapai sekitar 27%. Sementara itu, Thailand memiliki pangsa angkutan barang melalui rel sekitar 7–9% dan terus memperluas jalur ganda serta mengembangkan dry port atau pelabuhan darat.

Harijono menilai, kebutuhan jalur khusus kereta kargo di Indonesia semakin mendesak. Sebagai negara kepulauan dengan luas wilayah sekitar 1,9 juta kilometer persegi dan nilai ekonomi sekitar US$1,4 triliun, Indonesia memiliki sumber daya alam dalam jumlah besar, seperti batu bara, nikel, bauksit, minyak sawit mentah (CPO), dan semen.

Di sisi lain, biaya logistik Indonesia diperkirakan mencapai 14–24% dari produk domestik bruto (PDB).

“Kebutuhan bukan hanya efisiensi, tetapi pemerataan antarwilayah dan keselamatan jalan,” katanya.

Kereta Kargo Lebih Hemat Energi dan Rendah Emisi

Salah satu keunggulan utama kereta kargo adalah kapasitas angkutnya yang besar. Satu gerbong dapat memuat sekitar 50 ton barang, setara dengan kapasitas dua truk peti kemas. Satu rangkaian kereta batu bara yang terdiri atas 60 gerbong dapat mengangkut hingga 3.000 ton.

Harijono mencontohkan, rangkaian dengan muatan 3.000 ton dapat menempuh jarak 409 kilometer hanya dengan menggunakan sekitar 4.629 liter bahan bakar minyak (BBM). Hal ini menunjukkan potensi efisiensi energi angkutan barang melalui rel.

Kereta api juga memiliki keunggulan dalam hal emisi. Berdasarkan emisi per ton-kilometer, angkutan barang melalui rel menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) jauh lebih rendah dibandingkan truk.

Dari sisi ketepatan waktu, jalur khusus memungkinkan kereta kargo beroperasi tanpa harus berbagi lintasan dengan kereta penumpang. Harijono mencontohkan Japan Freight Railway Company (JR Freight) yang mencatat ketepatan waktu lebih dari 99%.

Untuk mengoptimalkan manfaat tersebut, jalur kereta kargo perlu terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. Rantai logistik dapat dimulai dari pabrik atau tambang, dilanjutkan dengan truk pengumpan menuju terminal atau dry port. Barang kemudian diangkut kereta kargo jarak jauh ke pelabuhan laut untuk dikirim menggunakan kapal.

Setelah tiba di pelabuhan tujuan, distribusi dilanjutkan dengan truk untuk pengiriman tahap akhir atau last mile menuju pasar dan konsumen.

Menurut Harijono, integrasi tersebut membutuhkan akses rel ke pelabuhan, terminal alih muatan, serta sistem digital terpadu untuk pelacakan barang. Saat ini, kurang dari 30 dari lebih dari 500 pelabuhan di Indonesia yang terhubung dengan jaringan kereta api.

Indonesia perlu membangun jalur khusus kereta api kargo untuk menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing ekonomi, dan mengurangi beban angkutan barang di jalan raya.
India salah satu negara di Asia yang memiliki jalur khusus kereta api kargo. (dok pib.gov.in)

Angkutan Barang Masih Didominasi Batu Bara

Harijono memaparkan, total angkutan barang KAI pada 2024 mencapai 69,2 juta ton atau tumbuh 9%. Namun, sebanyak 55,6 juta ton atau sekitar 80,4% di antaranya merupakan batu bara, yang terutama berpusat di Sumatera Selatan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa angkutan barang melalui rel masih bergantung pada satu komoditas, sementara potensi pengangkutan hasil industri dan berbagai komoditas lainnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Di sisi lain, jumlah penumpang KAI meningkat hingga mencapai rekor 493 juta pada 2025. Namun, pangsa angkutan barang melalui kereta api masih berkisar 2% dari total angkutan barang darat.

Harijono juga menyoroti penurunan peringkat Indonesia dalam Logistics Performance Index (LPI) Bank Dunia. Pada 2023, Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 139 negara, turun dari peringkat ke-46 pada 2018. Salah satu komponen yang mengalami penurunan paling tajam adalah ketepatan waktu.

Menurutnya, tingginya penggunaan truk dengan muatan berlebih atau ODOL tidak terlepas dari terbatasnya alternatif angkutan barang melalui rel yang terhubung dengan pelabuhan dan kawasan industri, serta tarif angkutan kereta api yang belum kompetitif.

Ia mengidentifikasi lima hambatan struktural pengembangan kereta kargo di Indonesia. Pertama, konektivitas rel dengan pelabuhan masih sangat rendah. Kedua, angkutan barang terlalu bergantung pada batu bara. Ketiga, jaringan rel masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatera. Keempat, pengaturan kelembagaan dan tarif akses belum didukung regulator independen. Kelima, sistem data logistik terpadu masih terbatas.

Indonesia perlu membangun jalur khusus kereta api kargo untuk menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing ekonomi, dan mengurangi beban angkutan barang di jalan raya.
Puluhan peti kemas diangkut oleh KAI Logistik. (dok KAI Logistik)

Usulkan Peta Jalan Kereta Kargo Nasional 2050

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Harijono mengusulkan penyusunan visi nasional 2050 dan peta jalan jaringan kereta kargo yang modern, terelektrifikasi, serta terintegrasi secara digital.

Jaringan tersebut perlu menghubungkan pusat-pusat sumber daya alam, klaster industri, dan pelabuhan laut dalam. Dengan demikian, pengembangan kereta kargo diharapkan dapat menurunkan biaya logistik, mempercepat transisi menuju ekonomi berpendapatan tinggi, serta mendorong pemerataan pembangunan di seluruh 38 provinsi.

Dari sisi pembiayaan, ia mengusulkan kombinasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), dukungan BUMN dan KAI, skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2015, serta penerbitan Sukuk Hijau Perkeretaapian dengan target US$3 miliar pada periode 2028-2035.

Selain pembiayaan, reformasi kelembagaan juga dinilai penting. Harijono mengusulkan pembentukan Indonesian National Railway Development Authority (INRDA) untuk menangani perencanaan dan pengembangan proyek KPBU.

Ia juga mendorong pemisahan yang tegas antara unit usaha angkutan penumpang dan angkutan barang di PT KAI, serta pembentukan Railway Regulatory Commission sebagai komisi independen yang mengatur tarif dan persaingan usaha di sektor perkeretaapian.

Untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli, Harijono mengusulkan pendirian Indonesian Railway Institute dengan 15 kampus yang ditargetkan mencetak 500 ribu sumber daya manusia (SDM). Ia juga mendorong revisi Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

Indonesia perlu membangun jalur khusus kereta api kargo untuk menekan biaya logistik, meningkatkan daya saing ekonomi, dan mengurangi beban angkutan barang di jalan raya.
Diskusi CTIS bertema Cargo Railway Development, Rabu (21/10/2026). (dok CTIS)

Teknologi Digital dan AI untuk Kereta Kargo

Pengembangan jalur khusus kereta kargo, menurut Harijono, perlu diikuti penerapan teknologi modern. Inovasi yang dapat diterapkan meliputi sistem persinyalan digital European Train Control System (ETCS), penjadwalan berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), perawatan prediktif, lokomotif hibrida atau berbasis baterai, serta sistem tracking and tracing untuk memantau perjalanan barang dari titik asal hingga tujuan akhir.

Teknologi tersebut diharapkan meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional, ketepatan waktu, dan transparansi rantai pasok.

Menutup paparannya, Harijono menegaskan bahwa pembangunan koridor khusus kereta kargo, reformasi regulator, dan pengintegrasian jaringan rel dengan pelabuhan laut nasional bukan sekadar program teknis di bidang transportasi.

“Langkah ini merupakan tindakan strategis pembangunan bangsa (nation-building) untuk memastikan daya saing ekonomi nasional, menurunkan emisi, serta menciptakan keadilan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia,” tutupnya.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Swasembada Daging Sapi dan Susu Butuh Transformasi Peternakan Berbasis Teknologi

Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu.

Di tengah keberhasilan sektor unggas mencapai surplus produksi, peternakan sapi potong dan sapi perah terkendala rendahnya produktivitas, keterbatasan pakan, penyakit hewan, serta sistem usaha yang belum dikelola secara optimal.

Persoalan tersebut menjadi bahasan diskusi ilmiah Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema “Mungkinkah Indonesia Swasembada Daging dan Susu?” yang menghadirkan Prof. Dr. drh. Bambang Purwantara, M.Sc., Ph.D, Guru Besar Reproduksi Hewan pada Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University, Rabu (14/10/2026). Diskusi dipandu Adviser CTIS Santo Sutoyo, dengan pengantar Ketua CTIS Wendy Aritenang.

Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema “Mungkinkah Indonesia Swasembada Daging dan Susu?” yang menghadirkan Prof. Dr. drh. Bambang Purwantara, M.Sc., Ph.D, (tengah) Guru Besar Reproduksi Hewan pada Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis, IPB University, Rabu (14/10/2026). Diskusi dipandu Adviser CTIS Santo Sutoyo, dengan pengantar Ketua CTIS Wendy Aritenang (kiri). (dok CTIS)

Dalam paparannya, Bambang menjelaskan bahwa ketimpangan produksi protein hewani nasional terlihat dari kondisi sektor unggas yang telah surplus, sementara pasokan daging sapi dan susu masih jauh dari kebutuhan domestik.

“Produksi daging ayam ras pada 2025 diperkirakan mencapai 4,25 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi domestik sebesar 3,87 juta ton. Produksi telur juga mencapai 6,52 juta ton,” kata Bambang.

Sebaliknya, produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi sekitar 20-21 persen kebutuhan nasional. Dari total kebutuhan sekitar 4,5 juta ton, produksi domestik tercatat sekitar 946,4 ribu ton.

Sementara itu, ketergantungan impor daging sapi masih mencapai 45–50 persen, dengan defisit pasokan sekitar 300.000-400.000 ton per tahun.

Kesenjangan produksi tersebut turut tercermin dalam konsumsi. Konsumsi daging sapi masyarakat Indonesia tercatat sekitar 2,4 kilogram per kapita per tahun, sedangkan konsumsi susu mencapai 16,1 liter per kapita per tahun.

Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu.
Diskusi ilmiah Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema “Mungkinkah Indonesia Swasembada Daging dan Susu?”, Rabu, 14 Oktober 2026. (dok CTIS)

Empat Persoalan Utama Peternakan

Menurut analisis yang dipaparkan Bambang, terdapat empat persoalan mendasar yang menghambat perkembangan peternakan ruminansia, yakni dominasi peternak berskala kecil, rendahnya produktivitas ternak, ancaman penyakit hewan menular, serta pemotongan sapi betina produktif.

Sekitar 80-85 persen populasi ternak dikelola peternak rakyat dengan kepemilikan rata-rata hanya dua hingga tiga ekor. Dalam kondisi tersebut, sapi kerap diperlakukan sebagai aset atau tabungan untuk menghadapi kebutuhan mendesak, bukan sebagai bagian dari usaha produksi yang dikelola secara berkelanjutan.

Produktivitas sapi perah rakyat juga masih berkisar 8–12 liter susu per ekor per hari, jauh di bawah target 25-30 liter yang disebut dalam paparan untuk sistem peternakan korporasi.

“Dari kebutuhan susu segar di dalam negeri, 80 persen masih impor dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat  dan Eropa dalam bentuk susu bubuk. Maka harga susu masih mahal,” terangnya.

Kendala lainnya adalah keterbatasan pakan, persoalan genetik, serta penyakit seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD). Pemotongan sapi betina produktif turut mengancam keberlanjutan populasi indukan.

Karena itu, peningkatan produksi tidak cukup hanya mengandalkan penambahan jumlah ternak. Diperlukan transformasi tata kelola peternakan yang mengintegrasikan teknologi reproduksi, penyediaan pakan, biosekuriti, dan penguatan kelembagaan peternak.

Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu.
Kementerian Pertanian mengembangkan sapi jenis Belgian Blue di Indonesia. (dok Kementerian Pertanian)

Bioteknologi dan AI untuk Meningkatkan Produktivitas

Salah satu strateginya  adalah pemanfaatan bioteknologi reproduksi, antara lain inseminasi buatan dengan teknologi sexing untuk meningkatkan peluang kelahiran pedet betina, serta transfer embrio dan fertilisasi in vitro untuk mempercepat pengembangan bibit unggul.

Pemerintah juga merencanakan pengadaan satu hingga dua juta sapi perah produktif pada periode 2025–2029. Namun target ini bisa bergeser karena situasi ekonomi global dan dalam negeri. Pada tahap awal telah ditandai dengan masuknya 9.736 ekor sapi perah dari Australia untuk didistribusikan ke peternakan industri, badan usaha milik daerah, dan koperasi terverifikasi.

Dari sisi pakan, pengembangan fodder bank atau bank pakan ternak serta integrasi sapi dan kelapa sawit melalui Sistem Integrasi Sapi-Kelapa Sawit (SISKA) dinilai dapat membantu menjamin ketersediaan pakan. Pemanfaatan lahan yang sesuai untuk rumput unggul dan leguminosa juga menjadi bagian dari strategi tersebut.

Menurut Bambang, teknologi digital menjadi komponen penting dalam modernisasi peternakan. Penggunaan RFID pada telinga ternak, sensor, Internet of Things (IoT), dan analitik berbasis kecerdasan buatan memungkinkan pemantauan kesehatan secara waktu nyata, deteksi dini penyakit, serta identifikasi masa reproduksi yang lebih akurat.

Penerapan biosekuriti melalui pembagian zona kandang juga diperlukan untuk mengurangi risiko penularan penyakit. Sementara itu, asuransi ternak, penyesuaian pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta penguatan koperasi diharapkan dapat membantu peternak menghadapi risiko usaha dan meningkatkan posisi tawar.

Indonesia masih menghadapi ketergantungan impor untuk memenuhi kebutuhan daging sapi dan susu.
Sapi perah di Indonesia terus dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan susu nasional. (dok Kementerian Pertanian)

Target Swasembada hingga 2045

Peta jalan yang dipaparkan Bambang dalam menetapkan sejumlah target jangka menengah dan panjang. Untuk susu segar, pemerintah menargetkan peningkatan pemenuhan kebutuhan domestik dari sekitar 21 persen pada 2024 menjadi 96 persen pada 2029.

“Sementara itu, swasembada daging sapi penuh ditargetkan tercapai pada 2034. Pada periode 2035–2045, pengembangan seleksi genomik berbasis DNA dan peternakan berkelanjutan berbantuan AI diarahkan untuk mendukung visi Indonesia Emas,” ujarnya.

Pencapaian target tersebut memerlukan koordinasi lintas sektor, mulai dari pengembangan bibit, penyediaan lahan dan pakan, pengendalian penyakit, pembiayaan, hingga penyerapan hasil peternakan.

Bambang menegaskan bahwa swasembada daging sapi dan susu tidak cukup ditempuh melalui penambahan populasi ternak atau impor indukan.

“Keberhasilannya bergantung pada pembenahan ekosistem peternakan secara menyeluruh, dengan dukungan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan penguatan peternak rakyat,” pungkasnya.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Eksosom Sel Punca Buka Harapan Baru Terapi Cedera Saraf Tulang Belakang dan Stroke

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.

Salah satu pendekatan yang tengah banyak dikaji adalah pemanfaatan secretome dan eksosom yang dihasilkan Mesenchymal Stem Cells (MSCs).

Potensi tersebut dibahas dalam Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (7/10/2026), dengan tema “Spinal Cord Injury and Stroke Could Paralysis Be Cured? Animal Study and Cases Report”.

Diskusi diawali Ketua CTIS Wendy Aritenang dan menghadirkan Dr. dr. A. Bambang Darwono, SpB, SpOT, FICS, konsultan spine orthopaedic di Gading Pluit Hospital sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Diskusi dimoderatori Advisor CTIS Susanto Sutoyo.

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (7/10/2026), dengan tema “Spinal Cord Injury and Stroke Could Paralysis Be Cured? Animal Study and Cases Report”. (dok CTIS)

Dalam paparannya, Bambang menjelaskan perkembangan riset mengenai secretome dan eksosom sebagai bagian dari mekanisme komunikasi antar-sel.

“Jika sebelumnya vesikel yang dikeluarkan sel lebih banyak dipandang sebagai produk sisa metabolisme, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa vesikel tersebut dapat membawa berbagai molekul yang berperan dalam komunikasi dan respons biologis,” kata Bambang.

Secretome merupakan kumpulan molekul yang disekresikan sel ke ruang ekstraseluler. Salah satu komponennya adalah eksosom, yaitu vesikel ekstraseluler berukuran nano yang membawa berbagai cargo biologis, termasuk protein serta RNA seperti messenger RNA (mRNA) dan microRNA (miRNA).

Eksosom dapat berperan dalam komunikasi antar-sel melalui sejumlah mekanisme, antara lain interaksi dengan reseptor permukaan sel, peleburan membran, maupun proses internalisasi seperti endocytosis. Setelah memasuki sel target, kandungan eksosom dapat memengaruhi berbagai proses biologis.

Karakteristik berukuran sekitar 30–150 nanometer membuat eksosom menarik untuk dikembangkan sebagai nanoplatform dalam kedokteran regeneratif maupun sebagai sistem penghantaran molekul terapeutik.

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.
Ilustrasi cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury). (dok We Are Spine)

Potensi untuk Cedera Saraf Tulang Belakang

Salah satu bidang yang menjadi perhatian Bambang adalah penanganan spinal cord injury (SCI) atau cedera saraf tulang belakang.

“SCI merupakan kondisi kompleks karena kerusakan tidak hanya terjadi pada saat trauma awal, tetapi dapat berlanjut melalui proses cedera sekunder. Proses tersebut antara lain melibatkan iskemia, eksitotoksisitas, inflamasi dan apoptosis sel saraf,” jelasnya.

Karena itu, penanganan SCI tidak hanya diarahkan untuk mengatasi kerusakan awal, tetapi juga mencegah berkembangnya kerusakan sekunder dan mendorong proses pemulihan jaringan saraf.

Bambang memaparkan bahwa tubuh sebenarnya memiliki sejumlah mekanisme respons endogen setelah terjadi cedera. Di antaranya proliferasi sel progenitor, axonal sprouting, remielinisasi dan angiogenesis.

Namun, respons tersebut juga dapat disertai perubahan pada jaringan saraf, salah satunya astrogliosis, yaitu perubahan respons astrosit setelah terjadi cedera pada sistem saraf pusat.

Dalam konteks terapi regeneratif, mekanisme tersebut menjadi salah satu dasar penelitian untuk mencari cara agar lingkungan jaringan yang mengalami cedera dapat mendukung proses regenerasi saraf.

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.
Diskusi diawali Ketua CTIS Wendy Aritenang dan menghadirkan Dr. dr. A. Bambang Darwono, SpB, SpOT, FICS, narasumber diskusi (tengah) didampingi moderator, Advisor CTIS Susanto Sutoyo. (dok CTIS)

MiRNA dan Remielinisasi

Salah satu materi yang menarik perhatian dalam pemaparan adalah peran microRNA, termasuk miRNA-219, dalam proses pemulihan sistem saraf.

MiRNA merupakan molekul RNA berukuran kecil yang dapat mengatur ekspresi gen. Dalam penelitian terkait sistem saraf, miRNA-219 antara lain dikaji karena keterkaitannya dengan diferensiasi oligodendrosit dan proses remielinisasi.

Remielinisasi penting dalam pemulihan fungsi saraf karena mielin berfungsi sebagai lapisan pelindung sekaligus membantu penghantaran sinyal pada serabut saraf.

Bambang mengaitkan miRNA-219 dengan pengaturan chondroitin sulfate proteoglycan (CSPG), salah satu komponen yang berhubungan dengan lingkungan penghambat regenerasi akson setelah cedera sistem saraf pusat.

Namun, potensi mekanisme tersebut masih perlu dilihat dalam konteks perkembangan bukti ilmiah secara keseluruhan. Hasil penelitian laboratorium dan hewan tidak serta-merta berarti terapi tersebut telah terbukti efektif untuk memulihkan kelumpuhan pada manusia.

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.
Inovasi treatment SCI. (dok National Library of Medicine).

Dari Penelitian Hewan hingga Kasus Klinis

Perkembangan riset yang dipaparkan dalam diskusi menunjukkan perjalanan panjang penelitian secretome dan eksosom.

Riset secretome di Lab Dermama disebut telah dimulai sejak 2012. Penelitian kemudian berkembang ke studi hewan pada mencit pada 2018 dan riset eksosom pada 2019.

Pada periode 2019–2025, penelitian diarahkan antara lain pada kasus SCI dan stroke. Penelitian lain mencakup studi multisenter COVID-19 bersama Kementerian Riset dan Teknologi pada 2020, studi hewan menggunakan kelinci pada 2022 serta penelitian bersama BRIN.

Pada 2025, penelitian juga mencakup studi menggunakan hewan primata Macaca.

Rangkaian penelitian tersebut menggambarkan bahwa pengembangan terapi regeneratif merupakan proses bertahap, mulai dari pemahaman mekanisme biologis, penelitian praklinis, hingga kebutuhan pembuktian keamanan dan efektivitas melalui penelitian klinis.

Tantangan Regulasi Terapi Sel Punca

Selain aspek ilmiah, perkembangan terapi berbasis sel punca dan produk turunannya juga menghadirkan tantangan regulasi. Produk terapi berbasis sel, terapi gen, maupun rekayasa jaringan membutuhkan standar keamanan, mutu dan efektivitas yang ketat sebelum dapat digunakan secara luas.

Dalam diskusi tersebut disinggung Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 8 Tahun 2025 yang menjadi salah satu kerangka evaluasi dan penilaian produk Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs).

Kerangka regulasi tersebut penting seiring berkembangnya teknologi terapi berbasis sel dan produk turunannya.

“Regulasi dibutuhkan agar inovasi kedokteran regeneratif tidak hanya berkembang secara ilmiah, tetapi juga memenuhi persyaratan keamanan dan efektivitas bagi pasien,” jelas Bambang.

Perkembangan eksosom MSCs sendiri menawarkan pendekatan yang berbeda dari terapi berbasis sel secara langsung.

Karena menggunakan produk yang dihasilkan sel, pendekatan ini sering disebut sebagai cell-free therapy. Namun, istilah tersebut tidak berarti risikonya otomatis lebih rendah atau efektivitasnya sudah terbukti; kualitas produk, mekanisme kerja, dosis, metode pemberian, keamanan jangka panjang dan bukti klinis tetap menjadi faktor penting.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Hilirisasi dan Teknologi Buka Peluang Baru Sektor Pertanian

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global. Selain meningkatkan produksi untuk mencapai swasembada, pemerintah juga mendorong modernisasi usaha tani, pemanfaatan teknologi, pelibatan generasi muda, serta hilirisasi komoditas guna meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.

Hal tersebut menjadi pokok pemikiran Dr. Ir. Sam Herodian, MS, IPU, APEC Eng, Staf Khusus Menteri Pertanian RI, dalam diskusi digelar oleh Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu 30 September 2026.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Diskusi CTIS bertema Ketersediaan, Kemandirian, dan Swasembada Pangan, Rabu (30/9/2026). (dok CTIS)

Tema yang diangkat adalah Ketersediaan, Kemandirian, dan Swasembada Pangan, dengan pengantar oleh Ketua CTIS, Wendy Aritenang dan moderator Ketua Komisi Pertanian dan Pangan, Prof Tien R. Muchtadi.

Menurut Sam, upaya memperkuat ketahanan pangan perlu dilakukan secara menyeluruh. Peningkatan produksi harus diikuti pembenahan sistem usaha tani, penerapan teknologi modern, serta pengembangan industri pengolahan agar sektor pertanian mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia adalah dinamika pangan global yang dipengaruhi perubahan iklim, konflik geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas. Kondisi tersebut mendorong perlunya penguatan produksi dalam negeri sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian,” kata Sam.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Presiden Prabowo Subianto menyaksikan secara langsung panen raya tebu di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Cahyo

Percepatan Swasembada dan Modernisasi Pertanian

Pemerintah Indonesia telah mempercepat target swasembada pangan. Target yang semula direncanakan dalam empat tahun pada Oktober 2024, kemudian dipercepat menjadi tiga tahun pada November 2024 dan satu tahun pada Januari 2025. Pemerintah selanjutnya menyatakan swasembada pangan tercapai pada 31 Desember 2025.

Dalam perkembangannya, pemerintah juga menyampaikan capaian swasembada delapan komoditas pangan utama, yakni beras, cabai besar, cabai rawit, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah.

Namun, keberlanjutan capaian tersebut membutuhkan penguatan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penerapan pertanian modern melalui mekanisasi dan pemanfaatan teknologi digital.

Penggunaan drone untuk penebaran benih, mesin pengolah tanah, serta mesin panen terintegrasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian. Modernisasi tersebut juga membuka peluang bagi generasi milenial dan Gen Z untuk terlibat dalam sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Pelibatan generasi muda menjadi relevan mengingat Indonesia tengah menikmati bonus demografi, dengan lebih dari 212 juta penduduk berada dalam kelompok usia produktif. Pemanfaatan sumber daya manusia tersebut diharapkan dapat mendukung regenerasi petani sekaligus mempercepat adopsi inovasi pertanian.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Dr. Ir. Sam Herodian, MS, IPU, APEC Eng, Staf Khusus Menteri Pertanian RI (duduk nomor 2 dari kiri) didampingi Ketua CTIS Wendy Aritenang dan moderator Prof Tien R Muchtadi. (dok CTIS)

Produktivitas Usaha Tani dan Kesejahteraan Petani

Modernisasi juga dapat dilihat dari perbandingan hasil analisis usaha tani tradisional dan modern dengan pendekatan PM-AAS yang dipaparkan dalam materi Sam.

Dalam perbandingan tersebut, produktivitas usaha tani modern mencapai 12,4 ton per hektare, sedangkan metode tradisional menghasilkan 5,2 ton per hektare. Dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram, keuntungan bersih usaha tani modern tercatat Rp65,43 juta per hektare per musim, dibandingkan Rp20,79 juta pada metode tradisional.

Perbandingan tersebut menunjukkan potensi peningkatan produktivitas dan pendapatan melalui penerapan metode pertanian modern. Meski demikian, penerapannya tetap memerlukan perhitungan biaya, kesesuaian teknologi dengan kondisi lahan, serta dukungan sarana produksi.

Penguatan produktivitas juga perlu diikuti kebijakan yang menjaga kesejahteraan petani. Peningkatan hasil produksi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku utama sektor pertanian.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
dok CTIS

Hilirisasi untuk Meningkatkan Nilai Tambah

Selain modernisasi usaha tani, Sam menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai bagian dari transformasi pertanian. Selama ini, sebagian komoditas pertanian masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi. Pengolahan lebih lanjut membuka peluang peningkatan nilai tambah sekaligus memperluas kesempatan kerja.

Sejumlah komoditas yang memiliki potensi pengembangan hilirisasi antara lain kelapa, kakao, kopi, tebu, kelapa sawit, mete, lada, ubi kayu, dan ayam.

Kelapa menjadi salah satu contoh komoditas yang dapat dikembangkan melalui pendekatan pemanfaatan seluruh bagian tanaman. Air kelapa dapat diolah menjadi nata de coco, cuka, kecap, dan minuman. Daging kelapa dapat diolah menjadi minyak goreng, virgin coconut oil (VCO), serta berbagai produk turunan lainnya.

Sementara itu, tempurung kelapa dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan arang dan arang aktif. Sabut kelapa dapat diolah menjadi cocopeat, serat, dan geotekstil. Bahkan, batang dan lidi kelapa juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi, tetapi juga pada diversifikasi produk dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya.

Pengembangan industri pengolahan di sentra produksi juga berpotensi memperkuat keterkaitan antara petani, industri, dan pasar. Dengan demikian, rantai nilai pertanian tidak berhenti pada kegiatan budidaya, tetapi berlanjut hingga pengolahan dan pemasaran produk.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Kelapa menjadi salah satu contoh komoditas yang dapat dikembangkan melalui pendekatan pemanfaatan seluruh bagian tanaman. (dok disbun.kokarkab.go.id)

Menghadapi Tantangan Pangan Global

Transformasi pertanian Indonesia berlangsung di tengah perubahan produksi pangan dunia. Berdasarkan proyeksi FAO tertanggal 18 Juni 2026, produksi beras global diperkirakan turun 1,6 persen, dari 561,6 juta ton menjadi 552,4 juta ton pada periode 2026/2027.

Sebaliknya, produksi beras Indonesia diproyeksikan meningkat 0,2 persen, dari 38,5 juta ton menjadi 38,6 juta ton. Dalam proyeksi tersebut, Indonesia menempati posisi produsen beras terbesar di ASEAN dan peringkat keempat dunia.

Selain peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan dan perdagangan pertanian juga menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional. Diversifikasi produk serta pengembangan pasar ekspor dapat memperluas peluang ekonomi sektor pertanian.

“Ke depan, keterkaitan antara peningkatan produktivitas, modernisasi teknologi, regenerasi petani, dan hilirisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pertanian Indonesia,” kata Sam.

Pemanfaatan teknologi di tingkat budidaya perlu berjalan beriringan dengan pengembangan industri pengolahan dan penguatan rantai pasok. Dengan pendekatan tersebut, pertanian tidak hanya berperan sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai sumber penciptaan nilai tambah, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.

Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan produksi dan investasi di sektor pertanian dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus memperluas manfaatnya bagi petani dan masyarakat.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Mengakselerasi Inovasi Pertanian dan Pangan dari Riset hingga Berdampak

Indonesia memiliki banyak hasil riset di bidang pertanian dan pangan. Namun, tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan penelitian dan teknologi baru, melainkan memastikan hasil riset tersebut dapat digunakan, dikembangkan, dan memberikan dampak nyata bagi petani dan market.

Persoalan pendanaan menjadi salah satu kunci untuk menjembatani proses tersebut.

Indonesia memiliki banyak hasil riset di bidang pertanian dan pangan. Namun, tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan penelitian dan teknologi baru, melainkan memastikan hasil riset tersebut dapat digunakan, dikembangkan, dan memberikan dampak nyata bagi petani.
Dr. Moh. Sofwan Effendi, M.Ed., Sekretaris Komite Investasi dan Ventura Universitas Negeri Jakarta; Direktur Pendanaan Riset LPDP 2012–2016 (no 2 dari kiri) memberikan paparan diskusi di CTIS, Rabu (23/9/2026). (dok CTIS)

Hal itu disampaikan Dr. Moh. Sofwan Effendi, M.Ed., Sekretaris Komite Investasi dan Ventura Universitas Negeri Jakarta; Direktur Pendanaan Riset LPDP 2012-2016, dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (23/9/2026).

Diskusi mengangkat tema “Start Up Capital Program: Kolaborasi PT vs Industri”. Acara tersebut menghadirkan Prof. Tien R. Muchtadi, Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, sebagai moderator, dengan pengantar Wendy Aritenang, Ketua CTIS.

Menurut Sofwan, transformasi hasil penelitian menjadi inovasi yang siap digunakan membutuhkan sistem pendanaan yang mampu mengikuti tingkat risiko pada setiap tahapan pengembangan.

“Pendanaan tidak dapat menggunakan pendekatan yang sama untuk riset dasar, uji lapangan, hingga komersialisasi,” ujarnya.

Prinsip yang ditawarkan adalah funding must follow risk, yakni pendanaan harus mengikuti tingkat risiko.

Pada fase awal ketika risiko teknis masih tinggi, pendanaan publik atau modal katalitis diperlukan untuk mendukung riset dan validasi. Ketika inovasi memasuki tahap percontohan atau pilot, pendanaan dapat dilakukan melalui skema co-funding. Sementara ketika teknologi telah matang dan risikonya semakin rendah, industri dan sektor swasta perlu mengambil peran lebih besar.

Indonesia memiliki banyak hasil riset di bidang pertanian dan pangan. Namun, tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan penelitian dan teknologi baru, melainkan memastikan hasil riset tersebut dapat digunakan, dikembangkan, dan memberikan dampak nyata bagi petani.
Diskusi mengangkat tema “Start Up Capital Program: Kolaborasi PT vs Industri”, dilaksanakan oleh diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (23/9/2026). (dok CTIS)

Menjembatani Valley of Death

Dalam konteks tersebut, Start Up Capital Program (SUCP) dapat diposisikan sebagai modal katalitis untuk menjembatani kesenjangan antara riset dan komersialisasi yang dikenal sebagai valley of death.

Pada tingkat kesiapterapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) 1–3, perguruan tinggi berperan penting menghasilkan pengetahuan, riset dasar, dan kekayaan intelektual. Namun, hasil riset tersebut belum otomatis menjadi produk yang siap digunakan atau menarik bagi investor.

SUCP dapat berfungsi untuk mengurangi risiko (de-risking), melakukan validasi, menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, sekaligus meningkatkan minat industri.

Ketika teknologi memasuki TRL 7–9, industri diharapkan mengambil peran lebih besar melalui penyediaan modal, fasilitas manufaktur, hingga akses pasar.

“Tujuan utama SUCP bukan sekadar membiayai penelitian, tetapi membuat sebuah inovasi menjadi layak untuk diinvestasikan atau investable,” kata Sofwan.

Petani Bukan Sekadar Pengguna

Menurut Sofwan, ekosistem inovasi pertanian tidak cukup dibangun melalui hubungan perguruan tinggi dan industri. Sedikitnya terdapat empat aktor yang perlu terhubung sejak awal, yakni perguruan tinggi, startup, industri, dan petani.

Perguruan tinggi menjadi sumber ilmu pengetahuan, teknologi, dan kekayaan intelektual. Startup dapat menjadi penggerak pengembangan produk dan model bisnis sekaligus menghadirkan kelincahan dalam membawa inovasi ke pasar.

Industri menyediakan modal, fasilitas produksi, jaringan distribusi, dan akses pasar.

Sementara itu, petani tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai pengguna akhir. Petani perlu dilibatkan sejak proses identifikasi persoalan, pengujian teknologi di lapangan, pemberian umpan balik, hingga menentukan apakah sebuah inovasi benar-benar relevan untuk diadopsi.

Dengan demikian, petani menjadi bagian dari proses co-creation atau penciptaan bersama inovasi.

Fund the Bottleneck

Pendanaan inovasi, lanjut Sofwan, juga perlu diarahkan pada persoalan yang paling menghambat sebuah teknologi untuk naik ke tahap berikutnya.

Hambatan itu dapat berupa persoalan teknis, validasi lapangan, pasar, kelayakan bisnis, regulasi, hingga kemampuan produksi dalam skala besar.

Karena itu, salah satu prinsip yang perlu diterapkan adalah fund the bottleneck.

Jika hambatannya bersifat teknis, pendanaan harus diarahkan untuk memastikan keandalan teknologi. Jika persoalan berada di lapangan, pendanaan harus memungkinkan pengujian dalam kondisi riil.

Demikian pula dengan pasar. Teknologi tidak cukup hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga perlu memiliki pengguna dan pembeli yang bersedia membayar.

Aspek bisnis, regulasi, dan kapasitas produksi juga perlu dipastikan sebelum inovasi didorong ke tahap berikutnya.

Pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui mekanisme stage-gate atau pendanaan berbasis capaian.

Tahap pertama menjawab pertanyaan, Does it work? Apakah teknologi tersebut terbukti secara teknis?

Tahap berikutnya, Does it work in field and market? Apakah teknologi berfungsi di lapangan, diterima pengguna, dan memiliki prospek bisnis?

Tahap terakhir, Can it scale? Apakah teknologi siap diproduksi, dikembangkan oleh industri, dan masuk ke pasar dalam skala lebih besar?

Setiap tahapan harus menghasilkan bukti yang memadai sebelum pendanaan berikutnya diberikan.

Menurut Sofwan, penghentian proyek yang lemah pada tahap awal bukan merupakan kegagalan. Langkah tersebut justru menjadi bagian dari pengelolaan portofolio inovasi secara bertanggung jawab.

Industri Perlu Memiliki Skin in the Game

Kolaborasi perguruan tinggi dan industri juga perlu bergerak melampaui penandatanganan nota kesepahaman atau MoU.

“Industri perlu memiliki skin in the game, yakni komitmen dan risiko yang benar-benar dipertaruhkan dalam proses pengembangan inovasi,” ujarnya.

Komitmen tersebut dapat berupa dana padanan, fasilitas dan peralatan, data teknis, dukungan regulasi, jaringan distribusi, hingga akses pengadaan.

Hubungan perguruan tinggi dan industri idealnya berkembang secara bertahap, mulai dari MoU, uji lapangan, penyediaan data dan fasilitas, co-development, co-investment, hingga akses pasar.

Sebab, MoU tidak dengan sendirinya menciptakan dampak. Dampak lahir dari komitmen dan risiko yang dibagi bersama.

diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (23/9/2026).
Pepaya Calina hasil riset IPB University menjadi salah satu produk pertanian yang berdampak baik di kalangan petani dan pasar. (dok stp.ipb.ac.id)

Startup Bukan Tujuan Akhir

Dalam ekosistem inovasi, startup dapat menjadi salah satu kendaraan untuk membawa teknologi menuju adopsi dan skala. Namun, pembentukan startup tidak semestinya menjadi tujuan akhir.

Hasil riset dapat dikomersialisasikan melalui berbagai jalur, antara lain pembentukan startup atau spin-off, lisensi teknologi, pengembangan bersama industri, maupun adopsi melalui kebijakan publik.

Karena itu, keberhasilan program inovasi tidak cukup diukur dari jumlah startup yang terbentuk.

Ukuran yang lebih substantif adalah tingkat adopsi teknologi, investasi yang berhasil ditarik, serta dampak yang dihasilkan oleh inovasi tersebut.

Dari Output ke Outcome dan Impact

Perubahan orientasi pengukuran menjadi penting dalam ekosistem riset dan inovasi.

Selama ini, keberhasilan riset sering berhenti pada output, seperti prototipe, kekayaan intelektual, data, atau hasil uji coba.

Padahal, yang lebih penting adalah outcome, antara lain tingkat adopsi teknologi, investasi industri, dan penetrasi pasar.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perlu diarahkan pada impact, seperti peningkatan produktivitas dan pendapatan petani, penguatan ketahanan pangan, serta peningkatan resiliensi sistem pangan.

Dengan perspektif tersebut, pendanaan riset bukan sekadar pengeluaran untuk menghasilkan pengetahuan. Pendanaan menjadi instrumen untuk membangun ekosistem inovasi dan menciptakan perubahan nyata.

Indonesia memiliki banyak hasil riset di bidang pertanian dan pangan. Namun, tantangan terbesar bukan hanya menghasilkan penelitian dan teknologi baru, melainkan memastikan hasil riset tersebut dapat digunakan, dikembangkan, dan memberikan dampak nyata bagi petani.
Anang Lastriyanto inovator horizontal vacuum fryer saat menjadi dosen pertanian di Universitas Brawijaya. Inovasinya masuk ke dunia industri dan masih diproduksi sampai sekarang. Ia penerima Anugerah Ristek Award 2010. (dok Indonesiaproud.wordpress.com)

Tujuh Prinsip Pendanaan Inovasi

Sofwan menyebut terdapat tujuh prinsip yang dapat digunakan dalam merancang SUCP sebagai katalis ekosistem inovasi.

Pertama, fund the bottleneck, yaitu mengarahkan pendanaan pada hambatan utama yang menghalangi inovasi bergerak ke tahap berikutnya.

Kedua, follow the evidence, dengan memastikan setiap keputusan pendanaan didasarkan pada bukti.

Ketiga, industry early, yakni melibatkan industri sejak tahap awal, bukan setelah teknologi selesai dikembangkan.

Keempat, skin in the game, dengan memastikan terdapat pembagian risiko dan komitmen nyata antarpihak.

Kelima, farmer in the loop, dengan menempatkan petani dalam seluruh siklus pengembangan inovasi.

Keenam, reward leverage, yakni memperhatikan kemampuan pendanaan untuk menarik sumber daya dan investasi lainnya.

Ketujuh, design for scale, yaitu merancang inovasi sejak awal agar memiliki peluang untuk diterapkan dan dikembangkan dalam skala besar.

Lima Pertanyaan Sebelum Melangkah

Pada akhirnya, akselerasi inovasi pertanian dan pangan bukan semata persoalan seberapa besar dana yang tersedia. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana dana tersebut ditempatkan pada titik yang tepat, dengan risiko yang tepat, serta melibatkan aktor yang tepat.

Sebelum sebuah inovasi didorong ke tahap implementasi, Sofwan mengajukan lima pertanyaan yang perlu dijawab.

“Masalah apa yang sebenarnya hendak diselesaikan? Risiko apa yang menghambat pencapaian TRL berikutnya? Siapa yang akan mengambil risiko pada tahap selanjutnya? Siapa yang akan mengadopsi inovasi tersebut? Dan yang tidak kalah penting, dampak apa yang akan diukur?” kata Sofwan.

Pertanyaan tersebut dapat menjadi dasar untuk mengubah cara memandang pendanaan riset.

Tujuannya bukan sekadar menghasilkan lebih banyak penelitian, prototipe, atau startup. Yang lebih penting adalah memastikan pengetahuan dan teknologi bergerak dari laboratorium ke lapangan, dari kampus ke industri, dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi petani serta memperkuat ketahanan pangan Indonesia. ***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Saat Teknologi Mengubah Potensi Desa Menjadi Peluang Ekonomi

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau community-based tourism (CBT) dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mendorong anak muda membangun masa depan di desa.

Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu pengungkit penting agar potensi alam, budaya, kuliner, dan kerajinan di berbagai daerah dapat terhubung dengan pasar wisata yang lebih luas.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema “Desa Berdaya, Pemuda Sejahtera: Menjemput Kemandirian Ekonomi Melalui Teknologi”, Rabu (16/9/2026).

Diskusi menghadirkan narasumber

Supervisory Board, Senior Advisor, sekaligus Certified Healthcare Management Consultant Barry Simorangkir, dengan moderator Ketua Bidang Kebijakan dan Ekosistem CTIS, Idwan Suhardi dan pengantar, Ketua Umum CTIS, Wendy Aritenang.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau community-based tourism (CBT) dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mendorong anak muda membangun masa depan di desa.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema “Desa Berdaya, Pemuda Sejahtera: Menjemput Kemandirian Ekonomi Melalui Teknologi”, Rabu (16/9/2026). (dok CTIS)

Supervisory Board, Senior Advisor, sekaligus Certified Healthcare Management Consultant Barry Simorangkir mengatakan Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif yang besar. Namun, keterbatasan lapangan kerja dan infrastruktur di sejumlah daerah membuat banyak anak muda meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan di kota-kota besar.

Kondisi tersebut, menurut Barry, berpotensi memicu brain drain, yakni perpindahan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan dan pendidikan dari daerah ke pusat-pusat ekonomi.

“Begitu masuk usia kerja, anak muda di daerah banyak yang kebingungan karena pekerjaan yang mereka inginkan tidak tersedia di tempat mereka tinggal,” kata Barry.

Di sisi lain, Barry melihat banyak desa memiliki potensi wisata yang belum dikembangkan secara optimal. Ia mencontohkan pengalamannya mengunjungi berbagai daerah yang memiliki air terjun, danau, kawasan alam, budaya, hingga kuliner yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata.

“Orang dari luar negeri saja mau datang ke tempat kalian dan menghabiskan waktu untuk menikmati keindahan alam. Sementara kalian setiap hari melihat keindahan itu, tetapi belum tahu bagaimana cara memberikan value-nya,” ujarnya.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau community-based tourism (CBT) dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mendorong anak muda membangun masa depan di desa.
Narasumber diskusi CTIS, Rabu (16/9/2026) adalah Supervisory Board, Senior Advisor, sekaligus Certified Healthcare Management Consultant Barry Simorangkir (kiri). (dok CTIS)

Menggeser Pendekatan Pariwisata

Barry mengatakan pengembangan pariwisata perlu memperkuat pendekatan bottom-up, dengan menempatkan masyarakat lokal dan pemuda sebagai pelaku utama.

Pendekatan tersebut dapat berjalan berdampingan dengan pembangunan pariwisata berbasis korporasi atau top-down. Namun, masyarakat setempat perlu dilibatkan sejak perencanaan agar pengembangan destinasi sesuai dengan karakter sosial, budaya, dan lingkungan daerah.

Menurut Barry, pemuda memiliki keunggulan dalam pemanfaatan teknologi digital. Dengan telepon pintar dan media sosial, mereka dapat melakukan promosi, mendokumentasikan potensi daerah, sekaligus membangun jejaring pasar tanpa harus memiliki modal besar.

Tahap awal, kata dia, dapat dilakukan dengan menginventarisasi potensi desa, mulai dari lokasi wisata, makanan khas, kerajinan, tradisi, hingga kearifan lokal.

Data tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi paket pengalaman wisata, misalnya perjalanan 24 jam, dua hari satu malam, atau tiga hari dua malam.

“Kalau ada orang datang 24 jam, tiga tempat mana yang kalian mau tunjukkan agar orang tersebut mendapatkan pengalaman terbaik?” kata Barry.

Menurut dia, pertanyaan sederhana tersebut dapat mendorong pemuda untuk mengenali potensi daerah sekaligus memikirkan cara mengubahnya menjadi kegiatan ekonomi.

Barry juga melihat pendekatan tersebut berpotensi membalik fenomena brain drain. Anak muda tidak harus selalu meninggalkan kampung halaman untuk memperoleh penghasilan, karena teknologi memungkinkan kegiatan usaha dan pemasaran dilakukan dari berbagai tempat.

Ia menyebutnya sebagai trippreneurship, yakni kewirausahaan yang memanfaatkan potensi perjalanan dan pariwisata di daerah asal.

“Pulang kampung itu menjadi suatu kebanggaan,” ujarnya.

Barry menegaskan, teknologi pada akhirnya bukan sekadar alat untuk mempromosikan destinasi, tetapi dapat menjadi pengungkit bagi masyarakat desa untuk mengenali potensi, membangun usaha, memperluas akses pasar, dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau community-based tourism (CBT) dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mendorong anak muda membangun masa depan di desa.
Penanggap diskusi melalui zoom, Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila Prof. Devi Kausar . (dok CTIS)

Dari Konservasi Menjadi Kesejahteraan

Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila Prof. Devi Kausar mengatakan pengembangan CBT telah menunjukkan bahwa masyarakat lokal dapat menjadi kekuatan utama dalam menjaga lingkungan sekaligus menciptakan manfaat ekonomi.

Ia mencontohkan pengalaman di Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Melalui pendampingan yang melibatkan Indonesian Ecotourism Network (Indecon) dan Balai Taman Nasional Gunung Leuser, masyarakat yang sebelumnya terlibat dalam aktivitas illegal logging dan perburuan liar dibina untuk mengembangkan ekowisata.

Masyarakat kemudian membentuk Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) yang mengelola kegiatan pariwisata di kawasan tersebut.

Menurut Devi, pengalaman Tangkahan menunjukkan bahwa pendekatan pariwisata dapat mengubah hubungan masyarakat dengan kawasan konservasi. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi memperoleh peran dan manfaat ekonomi dari upaya menjaga lingkungan.

Contoh lainnya adalah Desa Wisata Nglanggeran di Gunungkidul, Yogyakarta. Desa tersebut mendapat pengakuan sebagai salah satu Best Tourism Villages oleh UN Tourism pada 2021.

Devi menilai salah satu faktor penting dalam perkembangan Nglanggeran adalah keterlibatan generasi muda. Ia mencontohkan Sugeng Handoko, seorang sarjana teknik yang memilih kembali ke desa dan ikut mengembangkan potensi daerahnya.

Namun, keberhasilan destinasi wisata juga membutuhkan perencanaan kawasan yang matang.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau community-based tourism (CBT) dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mendorong anak muda membangun masa depan di desa.
WIsatawan menikmati keindahan Desa Wisata Nglanggeran di Gunungkidul, Yogyakarta. (dok Desa Wisata Nglanggeran )

Infrastruktur Jangan Merusak Aset Wisata

Devi mengingatkan pembangunan infrastruktur pariwisata yang tidak terintegrasi dengan rencana induk kawasan dapat menimbulkan persoalan baru, bahkan menghilangkan aset wisata yang menjadi daya tarik suatu daerah.

Ia menyoroti pembangunan jalan alternatif Gunungkidul–Sleman yang disebut berkaitan dengan persiapan menghadapi arus mudik Idulfitri pada 2024. Menurut Devi, pembangunan tersebut berdampak pada salah satu ikon wisata alam Nglanggeran, Air Terjun Kedung Kandang.

Kasus tersebut, menurut dia, menunjukkan pentingnya rencana induk pengembangan pariwisata di tingkat kalurahan yang memiliki kepastian hukum.

“Pembangunan desa-desa wisata sangat berisiko terkait pembangunan infrastruktur yang tidak terintegrasi dengan rencana induk kawasan,” kata Devi.

Selain pembangunan fisik, Devi menekankan pentingnya pengelolaan daya tampung destinasi atau carrying capacity. Pertumbuhan jumlah wisatawan perlu diimbangi dengan sistem pengelolaan pengunjung agar lingkungan dan kualitas pengalaman wisata tetap terjaga.

Ia mencontohkan penerapan pembatasan jumlah pengunjung melalui sistem tiket di Desa Wisata Budo, Sulawesi Utara.

Perguruan Tinggi Jadi Mitra Desa

Devi juga menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui pelaksanaan tridharma perguruan tinggi.

Program live-in, magang mahasiswa, hingga skema hibah Matching Fund/Kedaireka dapat diarahkan untuk mendampingi masyarakat desa secara langsung.

Pendampingan dapat mencakup pemasaran digital, fotografi dan videografi, penyediaan peralatan promosi seperti kamera 360, hingga penyusunan strategi media.

Perguruan tinggi juga dapat membantu masyarakat membangun knowledge management dengan mendokumentasikan sejarah, budaya, dan storytelling lokal.

Menurut Devi, dokumentasi tersebut penting agar pengetahuan lokal tidak hilang ketika tokoh-tokoh senior di desa meninggal dunia.

Di sisi lain, diversifikasi produk wisata dan pembentukan pemandu wisata yang terstruktur diperlukan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan satu jenis daya tarik.

Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat atau community-based tourism (CBT) dinilai dapat menjadi salah satu strategi untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, sekaligus mendorong anak muda membangun masa depan di desa.
Penanggap diskusi, Founder UKMC FEB Universitas Indonesia, Dr. Nining I. Soesilo. (dok CTIS)

 

UMKM Membutuhkan Pendampingan Berkelanjutan

Persoalan lain dalam pengembangan ekonomi desa adalah keberlanjutan pembinaan UMKM.  Founder UKMC FEB Universitas Indonesia, Dr. Nining I. Soesilo mengatakan pendampingan UMKM di tingkat akar rumput membutuhkan ketekunan dan passion yang kuat.

Berdasarkan pengalamannya mendirikan UKM Center FEB UI sejak 2005, Nining mengatakan pelaku UMKM di tingkat akar rumput umumnya tidak memiliki anggaran khusus untuk mengikuti pelatihan.

Karena itu, pembina juga harus aktif mencari sumber pendanaan atau melakukan fundraising untuk memastikan program pendampingan dapat berjalan.

Nining juga mengingatkan risiko ketergantungan desa dan kelompok UMKM terhadap satu figur atau local champion.

Menurutnya, figur penggerak memang penting dalam tahap awal. Namun, kelembagaan dan regenerasi perlu disiapkan agar program tidak berhenti ketika tokoh tersebut tidak lagi aktif.

“Jangan sampai ketika local champion-nya tidak ada, kemudian programnya juga berhenti,” kata Nining.

Ia juga menilai kemitraan dengan sektor swasta dapat menjadi sumber pembiayaan berkelanjutan bagi desa wisata dan UMKM.

Program penghargaan seperti Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), menurut Nining, akan memberikan dampak lebih panjang apabila desa pemenang atau peserta kemudian dihubungkan dengan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun PKBL.

Sejumlah perusahaan besar dapat menjadi mitra dalam mendukung pengembangan desa, baik melalui pembiayaan, peningkatan kapasitas, maupun akses pasar.

Kolaborasi Jadi Kunci

Ketiga pembicara melihat pengembangan ekonomi desa tidak dapat hanya mengandalkan satu pendekatan.

Teknologi dapat menjadi alat untuk memperluas akses pasar dan membuka peluang usaha bagi pemuda. Pariwisata berbasis komunitas dapat memastikan manfaat ekonomi lebih banyak dirasakan masyarakat lokal sekaligus mendukung konservasi. Sementara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor swasta dapat memperkuat pendampingan, pembiayaan, pengetahuan, dan keberlanjutan kelembagaan.

Dengan kombinasi tersebut, desa berpeluang tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga ruang tumbuh ekonomi bagi generasi muda.

Bagi Barry, keberhasilan akhirnya bukan sekadar meningkatnya jumlah wisatawan, melainkan kemampuan masyarakat lokal menciptakan nilai ekonomi dari potensi yang mereka miliki.

“Teknologi bukan hanya alat untuk mempromosikan destinasi. Teknologi harus menjadi pengungkit agar anak muda bisa mengenali potensi, membangun usaha, memperluas pasar, dan menciptakan lapangan pekerjaan di daerahnya,” ujarnya.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Dari LTJ hingga AI, BRIN Bangun 10 Kolaborasi Iptek dengan AS

Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Washington D.C. telah memetakan 10 rintisan kerja sama riset yang melibatkan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan industri dari kedua negara.

Kerja sama tersebut mencakup bidang strategis, mulai dari hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) dan mineral kritis, riset kelautan, transisi energi, ban pesawat berbahan karet alam, peternakan, manufaktur, semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), eksplorasi antariksa, hingga teknologi nuklir terapan melalui Small Modular Reactor (SMR).

Indonesia  terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat.
Indroyono dalam forum Centre for Technology and Innovation Studies Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Amerika Serikat, Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc.,hadir dalam diskusi yang dilaksanakan oleh CTIS, Jakarta, Rabu (9/9/2026). (dok CTIS)

Rintisan kerja sama itu merupakan salah satu hasil pertemuan strategis Kepala BRIN dengan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Amerika Serikat, Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc., di Jakarta, 27 Agustus 2026.

Pertemuan tersebut diarahkan untuk mengakselerasi dan mengonsolidasikan berbagai inisiatif kerja sama riset, sains, dan teknologi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, serta entitas industri Indonesia dengan mitra strategis di Amerika Serikat. Materi pertemuan tersebut juga mencatat sejumlah rintisan kerja sama BRIN dengan mitra Amerika Serikat.

Hasil pertemuan itu kemudian dipaparkan Indroyono dalam forum Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Hadir dalam kegiatan tersebut Dewan Pembina CTIS Prof. Wardiman Djojonegoro, Ketua CTIS Wendy Aritenang, pengurus CTIS, serta sejumlah periset yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.

Menurut Indroyono, salah satu kekuatan dari rintisan kerja sama tersebut adalah prosesnya yang berangkat dari kebutuhan para periset.

“Ini patut diapresiasi,” kata Indroyono.

10 Pilar Kerja Sama

Dalam pemetaan BRIN dan KBRI Washington D.C., rintisan kerja sama pertama adalah riset kelautan dan teknologi observasi laut dengan Scripps Institution of Oceanography/University of California San Diego (UCSD). Kolaborasi tersebut diarahkan pada pengembangan instrumen pemantauan laut, termasuk INA-Bouy, drone laut, dan unmanned ocean gliders, serta penyusunan joint proposal.

Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Amerika Serikat, Prof. Dr. Ir. Dwisuryo Indroyono Soesilo, M.Sc. menerima kenang-kenangan dari Ketua CTIS, Wendy Aritenang. (dok CTIS)

Kedua, critical minerals dan rare earth elements (REE) atau logam tanah jarang. BRIN menjajaki kolaborasi dengan University of Michigan dan Argonne National Laboratory, dengan dukungan sejumlah institusi Indonesia. Fokusnya adalah riset pengolahan LTJ dari hulu hingga hilir.

Bidang ketiga adalah riset ban pesawat berbahan karet alam. Indonesia menjajaki kolaborasi dengan Ohio State University, University of Akron, Goodyear, dan Bridgestone, yang akan dikaitkan dengan kemampuan riset serta regulator penerbangan di Indonesia.

Kerja sama ini diarahkan pada penelitian dan sertifikasi penggunaan karet alam Indonesia untuk ban pesawat. Materi BRIN menyebut kebutuhan penggantian ban pesawat secara berkala sebagai salah satu peluang pengembangan riset tersebut.

Keempat adalah gasifikasi batu bara kalori rendah (low-rank coal) dengan University of North Dakota dan Latitude Energy. Kerja sama ini diarahkan untuk riset dan aplikasi teknologi gasifikasi sebagai salah satu alternatif substitusi LPG.

Kelima, riset peternakan (livestock research) dengan University of California, Davis (UC Davis) dan IPB University. Kolaborasi ini mencakup penguatan riset dan pendidikan di bidang peternakan, kesehatan hewan, serta ketahanan pangan. BRIN sebelumnya telah merintis kerja sama bidang tersebut bersama mitra di AS.

Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat.
Diskusi CTIS. Rabu 9 September 2026. (dok CTIS)

Keenam adalah pengembangan Machine-Making-Machine (3M) bersama Northwestern University dan Industrial Manufacturing Consortium (IMC), dengan dukungan LPDP. Kolaborasi ini diarahkan pada pengembangan mesin dan manufaktur maju untuk mendukung lompatan industri nasional.

Ketujuh, semikonduktor dan desain integrated circuit (IC). BRIN menjajaki kerja sama dengan Arizona State University (ASU) dan ARM, dengan keterlibatan ITB IC Design Center dan Danantara.

Salah satu agenda yang telah berjalan adalah pelatihan semikonduktor bersama ARM untuk talenta Indonesia. Di sisi lain, ITB melalui IC Design Center bersama BRIN Bandung telah menyusun proposal kerja sama dengan Arizona State University.

Kedelapan, kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur digital. Rintisan kerja sama diarahkan kepada perusahaan teknologi Amerika Serikat seperti Amazon, Microsoft, Google, Apple, dan NVIDIA, termasuk pengembangan AI, investasi pusat data, serta pembangunan infrastruktur kabel bawah laut.

Kesembilan adalah eksplorasi antariksa melalui NASA Artemis, sedangkan bidang kesepuluh adalah Small Modular Reactor (SMR) untuk energi nuklir terapan.

Untuk SMR, delegasi lintas kementerian/lembaga Indonesia telah berkunjung ke Amerika Serikat pada 20–22 April 2026 untuk membahas teknologi tersebut, dengan BRIN diwakili Dr. Syaiful.

Indonesia terus memperkuat kerja sama di bidang sains dan teknologi dengan Amerika Serikat.
Kepala BRINM Arif Satria bersama Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo. (dok BRIN)

Critical Minerals Jadi Salah Satu Prioritas

Dari berbagai rintisan tersebut, kerja sama critical minerals dan rare earth elements menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian serius.

Indroyono menjelaskan, proses diplomasi dan koordinasi untuk kerja sama tersebut telah berjalan sejak April 2026. Pada 23 April, Kepala BRIN menyampaikan inisiatif kerja sama riset LTJ kepada Dubes RI di Washington D.C. Inisiatif tersebut menekankan pentingnya penguasaan teknologi pemrosesan mineral kritis dari hulu hingga hilir.

Sehari kemudian, Kepala Badan Industri Mineral (BIM) Brian Yuliarto menyampaikan dukungan kepada US Assistant Secretary of State for East Asian & Pacific Affairs Michael G. DeSombre.

Selanjutnya, pada 30 April 2026, Dubes RI di Washington D.C. menyampaikan proposal resmi Pemerintah Indonesia terkait kerja sama riset eksplorasi dan pemrosesan mineral kritis kepada pemerintah Amerika Serikat.

“Tanggapan resmi dari Assistant Secretary of State AS Michael G. DeSombre menyambut baik proposal Indonesia dan mendorong pembahasan Draft MoU Framework for Securing Supply in Mining and Processing of Critical Minerals and Rare Earths,” kata Indroyono.

Dalam materi kerja sama BRIN, University of Michigan telah memberikan surat dukungan untuk joint research mengenai pengolahan mineral kritis. BRIN juga mencatat keterlibatan Argonne National Laboratory dalam rintisan kerja sama tersebut.

Kepala BRIN Tindak Lanjuti Kerja Sama ke AS

Sebagai tindak lanjut, Kepala BRIN Arif Satria melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat pada awal September 2026.

Menurut Indroyono, kunjungan tersebut mencakup agenda menghadiri pertemuan G20 Science Forum di Chapel Hill, North Carolina, pertemuan dengan US-ASEAN Business Council, serta kunjungan ke Argonne National Laboratory di Chicago untuk membahas aspek teknis riset pemrosesan critical minerals dan rare earth elements.

Selain mineral kritis, sejumlah rintisan juga mulai bergerak ke tahap implementasi.

Di sektor energi, perusahaan teknologi Amerika Serikat Latitude Energy telah menandatangani nota kesepahaman dengan Danantara untuk mendorong proyek gasifikasi low-rank coal sebagai substitusi LPG. Riset pendukungnya melibatkan BRIN dan University of North Dakota.

Di sektor semikonduktor, pelatihan bersama ARM menjadi bagian dari upaya membangun talenta nasional. Sementara ITB dan BRIN Bandung tengah menjajaki kerangka kerja sama institusional dengan Arizona State University.

Indroyono mendorong CTIS untuk turut berkontribusi dalam mengawal rintisan kerja sama tersebut.

“Dari serangkaian kerja sama ini, CTIS juga harus ikut aktif dalam menyukseskan 10 rintisan kerja sama BRIN dengan Amerika Serikat. Ada PIC dari BRIN sesuai kepakarannya,” ujar Indroyono.

Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyambut baik rintisan 10 kerja sama tersebut. Menurutnya, CTIS dapat ikut mendukung dengan terlibat dalam riset-riset yang akan dikembangkan.

Rangkaian kerja sama ini menunjukkan bahwa hubungan Indonesia-Amerika Serikat di bidang sains dan teknologi mulai diarahkan pada kebutuhan yang lebih konkret, dari penguasaan teknologi mineral kritis hingga pengembangan semikonduktor, AI, energi, kelautan, dan teknologi strategis lainnya.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Yusril Ihza Mahendra: Indonesia Butuh Etika M. Natsir dan Kemampuan Teknologi B.J. Habibie

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.A,., M.Soc.Sc., Ph.D mengatakan Indonesia membutuhkan perpaduan antara kekuatan etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan bangsa.

Menurut Yusril, pemikiran M. Natsir dan cita-cita B.J. Habibie merupakan dua warisan besar yang perlu dibaca kembali secara kritis dalam menghadapi berbagai tantangan Indonesia pada masa depan.

Pandangan tersebut disampaikan Yusril dalam kuliah umum B.J. Habibie Memorial Lecture ke-5  2026 bertajuk “Etika Peradaban dalam Membangun Masa Depan Bangsa: Membaca Ulang Pemikiran Filosofis M. Natsir dan Cita-Cita B.J. Habibie.”

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, mengatakan Indonesia membutuhkan perpaduan antara kekuatan etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan bangsa.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra memberikan kuliah umum di B.J. Habibie Lecture ke-5, di auditorium Perpustakaan Nasional Jakarta, Rabu 2 September 2026. (dok CTIS)

Dalam kuliah yang disampaikan di auditorium Perpustakaan Nasional RI, Rabu 2 September 2026, Yusril mengajak masyarakat untuk tidak sekadar mengenang tokoh-tokoh besar bangsa sebagai mitos atau ikon yang dipuja, tetapi memahami gagasan, perjuangan, kekuatan, kelemahan, serta relevansi pemikiran mereka bagi perkembangan zaman.

Menurut Yusril, mengenang tokoh besar tidak cukup hanya dengan mengagumi.

Pemikiran dan perjuangan para tokoh harus dihadirkan kembali melalui telaah yang kritis agar generasi masa kini dapat mengambil pelajaran dari perjalanan bangsa.

Mempelajari masa lalu, kata dia, bukan berarti hidup di dalam masa lalu.

Sejarah justru memberikan pelajaran tentang bagaimana bangsa Indonesia terbentuk, menghadapi berbagai persoalan, serta bagaimana pengalaman masa lalu dapat digunakan untuk membaca kemungkinan masa depan.

Karena itu, mengenang bukan sekadar mengagumi, tetapi memahami dan mengambil hikmah.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, mengatakan Indonesia membutuhkan perpaduan antara kekuatan etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan bangsa.
Foto bersama Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. (dok CTIS)

Mengapa M. Natsir dan B.J. Habibie Perlu Dibaca Kembali?

Yusril memandang M. Natsir dan B.J. Habibie sebagai dua tokoh yang menawarkan jalan berbeda, tetapi saling melengkapi dalam membangun masa depan Indonesia.

M. Natsir memberikan arah etis bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, sedangkan B.J. Habibie membangun kemampuan bangsa melalui penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, sumber daya manusia, industrialisasi, inovasi, dan kemandirian.

Dalam pemikiran M. Natsir terdapat nilai-nilai amanah, keadilan, musyawarah, pembatasan kekuasaan, dan pertanggungjawaban.

Sementara cita-cita B.J. Habibie bertumpu pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai jalan membangun kemampuan dan kemandirian bangsa.

“M. Natsir memberikan arah etis, sementara B.J. Habibie membangun kemampuan untuk bergerak. Masa depan Indonesia membutuhkan keduanya secara bersamaan,” menjadi salah satu gagasan utama yang dipaparkan dalam kuliah umum tersebut.

Yusril menempatkan kedua tokoh tersebut dalam satu kerangka besar pembangunan peradaban.

Bangsa membutuhkan arah dan nilai dalam menggunakan kekuatannya. Namun, arah saja tidak cukup apabila bangsa tidak memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-citanya.

Sebaliknya, kemampuan besar tanpa arah dan pertimbangan etis juga dapat membawa bangsa bergerak menuju tujuan yang salah.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, mengatakan Indonesia membutuhkan perpaduan antara kekuatan etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan bangsa.
Mohammad Natsir. (dok Wikipedia)

M. Natsir: Kekuatan Harus Memiliki Arah Etis

Dalam pemikiran M. Natsir, persoalan utama bukan sekadar seberapa religius nama suatu negara.

Yang lebih penting adalah sejauh mana kekuasaan dijalankan dengan tanggung jawab moral.

Agama, menurut kerangka pemikiran yang dipaparkan Yusril, tidak harus dipahami sebagai katalog teknis yang menyediakan jawaban bagi setiap desain kelembagaan negara.

Agama memberikan horizon nilai yang menjadi arah dalam penggunaan kekuasaan.

Dalam konteks ini, konstitusi dan hukum merupakan instrumen untuk menjalankan kehidupan bernegara. Namun, etika memberikan arah mengenai bagaimana instrumen tersebut digunakan.

Kekuatan, menurut pemikiran M. Natsir, harus memiliki arah etis. Kekuasaan adalah tanggung jawab dan amanah, bukan sekadar hak.

Nilai amanah menempatkan kekuasaan sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan untuk kepentingan masyarakat.

Kekuasaan tidak boleh dipahami sebagai alat untuk memperluas dominasi. Tujuan negara adalah menghadirkan kehidupan yang baik bagi masyarakat.

Karena itu, kekuasaan harus diarahkan pada kemaslahatan. Selain amanah dan kemaslahatan, Yusril juga menekankan pentingnya musyawarah.

Keputusan publik harus membuka ruang bagi partisipasi dan pertimbangan bersama. Musyawarah menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan demokratis karena keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat tidak seharusnya dijalankan secara sepihak.

Kekuasaan Harus Memiliki Batas

Pemikiran M. Natsir juga memberikan perhatian besar terhadap pembatasan kekuasaan. Kekuasaan, menurut Yusril, harus dibatasi oleh hukum, opini publik, serta berbagai mekanisme koreksi.

Pembatasan tersebut diperlukan agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kendali. Kekuasaan yang besar tanpa batas berpotensi berubah menjadi alat dominasi.

Karena itu, demokrasi dan hukum harus memastikan adanya ruang bagi masyarakat untuk mengawasi, mengkritik, dan mengoreksi penyelenggaraan kekuasaan.

Dalam pandangan ini, hukum bukan sekadar perangkat administratif. Hukum juga menjadi bagian dari mekanisme pembatasan kekuasaan.

Namun, hukum tetap membutuhkan etika agar tidak kehilangan arah. Konstitusi dan hukum adalah instrumen, sedangkan etika memberikan arah dalam penggunaannya.

Dengan demikian, kekuasaan tidak hanya diukur dari seberapa besar kewenangan yang dimiliki, tetapi juga dari bagaimana kewenangan tersebut digunakan secara bertanggung jawab.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, mengatakan Indonesia membutuhkan perpaduan antara kekuatan etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan bangsa.
Presiden ke-3 RI B.J. Habibie. (dok Arsip B.J. Habibie)

Demokrasi Bukan Sekadar Menghitung Suara

Yusril juga menekankan bahwa demokrasi, dalam pemikiran M. Natsir, tidak berhenti pada mekanisme pemilihan dan penghitungan suara.

Demokrasi harus menjadi cara hidup. Dalam kehidupan demokratis, kekuasaan harus selalu terbuka untuk dikritik dan dibatasi.

Kekuasaan memperoleh legitimasi melalui persetujuan rakyat. Namun, legitimasi tersebut harus disertai dengan keadilan dalam pelaksanaan kekuasaan.

Kekuasaan juga harus dijalankan berdasarkan musyawarah dan kemaslahatan. Demokrasi yang sehat tidak hanya berbicara mengenai siapa yang memenangkan pemilihan.

Demokrasi juga berbicara mengenai bagaimana kekuasaan digunakan setelah seseorang memperoleh mandat.

Dalam pemikiran yang dipaparkan Yusril, agama harus menjadi sumber etika publik, bukan alat untuk mendominasi.

Etika publik diperlukan agar kekuasaan tetap memiliki orientasi pada kepentingan masyarakat.

Selain itu, hukum, kritik, oposisi, dan berbagai mekanisme koreksi menjadi bagian penting untuk menjaga agar kekuasaan tidak berjalan tanpa batas. Para penguasa juga memiliki pertanggungjawaban kepada rakyat.

Dalam perspektif etika M. Natsir, pertanggungjawaban tersebut tidak hanya bersifat politik dan administratif, tetapi juga memiliki dimensi moral.

B.J. Habibie: Teknologi Bukan Sekadar Produk

Sementara M. Natsir memberikan perhatian pada arah etis dalam penggunaan kekuasaan, B.J. Habibie memberikan penekanan pada pembangunan kemampuan bangsa.

Bagi Habibie, teknologi bukan sekadar produk. Teknologi adalah kemampuan.

Yusril menjelaskan bahwa penguasaan teknologi tidak cukup hanya dengan membeli mesin atau mendatangkan produk teknologi dari negara lain.

Bangsa tidak dapat disebut menguasai teknologi hanya karena mampu menggunakan teknologi yang diciptakan pihak lain. Penguasaan teknologi harus melalui proses yang lebih mendalam.

Bangsa harus mampu memahami, menggunakan, menguasai, mengembangkan, dan pada akhirnya menciptakan teknologi.

Transfer teknologi baru memiliki arti apabila menghasilkan kapabilitas nyata di dalam negeri.

Teknologi yang didatangkan harus mampu menciptakan nilai tambah dan memperkuat kemampuan nasional.

Dalam konteks itu, terdapat pertanyaan mendasar yang menjadi bagian dari pemikiran B.J. Habibie.

Setelah teknologi didatangkan, apa yang sekarang dapat dilakukan bangsa Indonesia sendiri yang sebelumnya tidak dapat dilakukan?

Pertanyaan tersebut menjadi ukuran penting dalam melihat keberhasilan proses transfer teknologi. Tujuan akhir pembangunan teknologi bukan sekadar memiliki produk teknologi.

Yang jauh lebih penting adalah memiliki manusia, pengetahuan, keterampilan, industri, dan kemampuan riset yang tetap berada di Indonesia.

Membangun Kedaulatan Kemampuan

Penguasaan teknologi, menurut pemikiran B.J. Habibie, merupakan proses membangun kedaulatan kemampuan.

Kedaulatan tidak hanya berkaitan dengan kepemilikan sumber daya.

Kedaulatan juga berkaitan dengan kemampuan bangsa untuk memahami, menguasai, dan mengembangkan teknologi.

Sebuah negara yang hanya menggunakan teknologi dari luar negeri tanpa membangun kemampuan di dalam negeri akan tetap memiliki ketergantungan.

Karena itu, proses penguasaan teknologi harus menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian.

Proses tersebut juga harus memperkuat kemampuan riset, industri nasional, keterampilan produksi, serta kemampuan inovasi.

Dalam kerangka pemikiran Habibie, teknologi harus menjadi sarana membangun kemampuan bangsa secara berkelanjutan. Penguasaan teknologi bukan tujuan yang selesai ketika sebuah produk berhasil dibeli atau digunakan.

Penguasaan teknologi merupakan proses jangka panjang untuk membangun manusia dan ekosistem pengetahuan.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, mengatakan Indonesia membutuhkan perpaduan antara kekuatan etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan bangsa.
Sambutan Ketua Panitia B.J. Habibie Lecture ke-5, Wendy Aritenang. (dok CTIS)

Pesawat Terbang Hanyalah Alat

Yusril juga mengangkat pandangan B.J. Habibie mengenai industri penerbangan. Keterikatan Habibie terhadap teknologi tinggi tidak berhenti pada penciptaan sebuah produk, termasuk pesawat terbang.

Pesawat terbang hanyalah alat untuk membangun kemampuan.

Industri penerbangan membutuhkan ilmu pengetahuan, tenaga ahli, ketelitian dalam proses produksi, penguasaan teknologi yang kompleks, disiplin terhadap standar, serta kerja sama lintas keahlian.

Karena itu, keberhasilan sebuah industri teknologi tinggi tidak dapat diukur hanya berdasarkan jumlah produk yang berhasil dibuat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak pengetahuan yang berhasil dibangun. Berapa banyak tenaga ahli yang berhasil disiapkan. Berapa banyak keterampilan industri yang berkembang.

Dan berapa besar kemampuan teknologi yang berhasil dibangun dan dipertahankan di dalam negeri. Dalam perspektif ini, produk akhir bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Proses membangun manusia, ilmu pengetahuan, industri, dan kemampuan nasional justru menjadi warisan yang jauh lebih penting.

B.J. Habibie dan Reformasi

Yusril juga menyoroti peran B.J. Habibie dalam masa Reformasi Indonesia. Habibie memasuki kursi kepresidenan dalam situasi yang sangat kompleks.

Indonesia ketika itu masih menghadapi dampak krisis ekonomi. Kepercayaan publik melemah, sementara tuntutan perubahan politik datang hampir bersamaan.

Dalam masa pemerintahannya yang relatif singkat, berbagai perubahan politik dilakukan untuk membuka ruang demokrasi.

Kebebasan pers diperluas sehingga ruang kritik dan informasi menjadi lebih terbuka. Kompetisi politik juga kembali dibuka melalui keberadaan berbagai partai politik.

Pemilu kemudian dipercepat dari jadwal sebelumnya pada 2003 menjadi tahun 1999. Pemerintah juga mulai memperkuat otonomi daerah melalui proses desentralisasi.

Selain itu, berbagai perangkat hukum baru lahir untuk menopang proses Reformasi.

Yusril menggambarkan proses tersebut sebagai pertemuan antara kemampuan engineering dengan konstitusionalisme.

B.J. Habibie menghadapi tuntutan perubahan yang cepat, tetapi perubahan tersebut tetap harus dilakukan melalui aturan dan desain kelembagaan.

Habibie menyebut pendekatan tersebut sebagai “evolusi yang dipercepat”. Perubahan harus dilakukan dengan cepat, tetapi tetap berada dalam kerangka aturan dan desain kelembagaan.

 

Dua Warisan, Satu Masalah Peradaban

Dalam bagian penting kuliah umumnya, Yusril menggambarkan pemikiran M. Natsir dan B.J. Habibie sebagai dua warisan yang bertemu dalam satu persoalan besar peradaban.

M. Natsir mengajarkan bahwa kemampuan dan kekuatan harus memiliki arah, batas, etika, dan pertanggungjawaban.

Sementara B.J. Habibie mengajarkan bahwa cita-cita bangsa membutuhkan ilmu pengetahuan, teknologi, sumber daya manusia, industri, dan kemampuan nyata. Yusril kemudian menggunakan metafora kompas dan mesin.

M. Natsir dapat dipahami sebagai kompas. Kompas memberikan arah. Kompas menunjukkan tujuan dan batas. Kompas memastikan perjalanan dilakukan menuju arah yang benar.

Sementara B.J. Habibie dapat dipahami sebagai mesin. Mesin memberikan kemampuan untuk bergerak.

Mesin memungkinkan bangsa mengubah cita-cita menjadi tindakan dan hasil nyata.

Namun, kompas tanpa mesin akan membuat bangsa memiliki arah tanpa kemampuan untuk mencapai tujuan.

“Bangsa mengetahui ke mana harus pergi, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk sampai ke tujuan tersebut. Sebaliknya, mesin tanpa kompas juga berbahaya,” ujarnya.

Bangsa mungkin memiliki kemampuan yang besar, teknologi yang maju, dan kekuatan yang kuat.

Namun, tanpa arah, batas, dan etika, kemampuan tersebut dapat membawa bangsa bergerak menuju tujuan yang salah.

“Karena itu, masa depan Indonesia membutuhkan keduanya. Indonesia membutuhkan kompas dan mesin. Indonesia membutuhkan etika dan kemampuan. Indonesia membutuhkan nilai untuk menentukan arah, sekaligus ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkan cita-cita tersebut,” tegasnya.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, mengatakan Indonesia membutuhkan perpaduan antara kekuatan etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan bangsa.
Foto bersama para tamu undangan bersama Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. (dok CTIS)

Lima Agenda Etika Peradaban Menuju 2045

Dalam membangun masa depan Indonesia menuju 2045, Yusril mengemukakan lima agenda etika peradaban.

1. Menguasai Ilmu Pengetahuan

Agenda pertama adalah penguasaan ilmu pengetahuan.

Universitas, lembaga penelitian, pemerintah, dan industri harus membangun ekosistem pengetahuan yang saling mendukung.

Penguasaan ilmu pengetahuan tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja. Dibutuhkan kerja sama antarsektor untuk menghasilkan ekosistem inovasi yang kuat. Perguruan tinggi dan lembaga penelitian menghasilkan pengetahuan.

Pemerintah menciptakan kebijakan dan ekosistem yang mendukung. Sementara industri menjadi salah satu pihak yang berperan dalam mengembangkan dan menerapkan hasil pengetahuan serta inovasi.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar pengetahuan tidak berhenti sebagai hasil penelitian.

Pengetahuan harus berkembang menjadi kemampuan nyata yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

2. Membangun Kemampuan Industri Nasional

Agenda kedua adalah membangun kemampuan industri nasional. Yusril menekankan bahwa hilirisasi dan transfer teknologi harus menghasilkan keterampilan, teknologi, industri pendukung, serta kekayaan intelektual di dalam negeri.

Hilirisasi tidak hanya harus dilihat sebagai proses meningkatkan nilai ekonomi sumber daya. Hilirisasi juga harus menjadi proses membangun kemampuan industri nasional.

Transfer teknologi juga tidak boleh berhenti pada penggunaan teknologi dari luar negeri. Proses tersebut harus menghasilkan tenaga ahli dan keterampilan baru.

Indonesia juga harus mampu membangun industri pendukung.

Selain itu, penguasaan teknologi harus menghasilkan kekayaan intelektual yang dimiliki dan dikembangkan di dalam negeri.

Dengan demikian, industrialisasi menjadi proses membangun kemandirian dan kapabilitas bangsa.

3. Memelihara Demokrasi sebagai Mekanisme Koreksi

Agenda ketiga adalah memelihara demokrasi sebagai mekanisme koreksi. Demokrasi harus menyediakan ruang bagi kritik dan koreksi terhadap kekuasaan.

Media, parlemen, peradilan, masyarakat sipil, dan akademisi memiliki peran dalam menjaga mekanisme tersebut.

Kehidupan demokratis juga membutuhkan penghormatan terhadap perbedaan. Perbedaan pandangan tidak boleh dipahami sebagai ancaman.

Justru, keberagaman pandangan dan kritik menjadi bagian dari mekanisme untuk mencegah kekuasaan berjalan tanpa batas.

Hubungan antara negara dan warga negara juga harus terus dibangun berdasarkan keterbukaan dan pertanggungjawaban.

Demokrasi tidak hanya merupakan prosedur untuk memilih pemimpin. Demokrasi merupakan sistem untuk memastikan kekuasaan tetap dapat dikoreksi.

4. Menginternalisasi Pancasila

Agenda keempat adalah menginternalisasi Pancasila. Yusril menekankan bahwa Pancasila harus hadir dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara.

Nilai Pancasila harus diwujudkan melalui keadilan. Pancasila juga harus hadir dalam penciptaan kesempatan yang layak bagi masyarakat.

Penghormatan terhadap perbedaan menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan bangsa yang majemuk.

Selain itu, hubungan antara negara dan warga negara harus mencerminkan penghormatan terhadap martabat manusia.

Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol atau slogan. Nilai-nilainya harus menjadi bagian dari praktik penyelenggaraan negara dan kehidupan masyarakat.

5. Hukum Harus Adaptif terhadap Teknologi

Agenda kelima adalah membangun hukum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Kemajuan AI, bioteknologi, teknologi siber, dan berbagai inovasi baru menghadirkan persoalan yang belum tentu dapat dijawab sepenuhnya oleh kerangka hukum lama.

“Karena itu, hukum harus mampu memahami teknologi. Sistem hukum harus memberikan perlindungan kepada masyarakat. Namun, hukum juga tidak boleh mematikan inovasi,” tegas Yusril.

Tantangan terbesar adalah menemukan keseimbangan antara perlindungan dan ruang bagi perkembangan teknologi.

Regulasi yang terlalu tertinggal dapat membuat masyarakat menghadapi risiko baru tanpa perlindungan yang memadai.

Namun, regulasi yang terlalu membatasi juga dapat menghambat perkembangan inovasi. Karena itu, hukum harus mampu berkembang mengikuti perubahan zaman.

Hukum harus memahami karakter teknologi baru dan berbagai dampak yang ditimbulkannya.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, mengatakan Indonesia membutuhkan perpaduan antara kekuatan etika, ilmu pengetahuan, dan teknologi untuk membangun masa depan bangsa.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra. (dok CTIS)

Menuju Indonesia 2045

Menjelang 100 tahun Indonesia merdeka pada 2045, tantangan bangsa tidak hanya berkaitan dengan bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Indonesia juga menghadapi tantangan untuk membangun kualitas sumber daya manusia, kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, industri nasional, demokrasi, hukum, serta fondasi etika kehidupan berbangsa.

Yusril melalui kuliah umum tersebut menawarkan sebuah kerangka pemikiran bahwa masa depan bangsa membutuhkan kemampuan sekaligus arah.

Indonesia membutuhkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun kemampuan.

Namun, Indonesia juga membutuhkan nilai, etika, demokrasi, hukum, dan Pancasila sebagai fondasi untuk menentukan arah penggunaan kemampuan tersebut.

M. Natsir dan B.J. Habibie menawarkan dua warisan yang berbeda tetapi saling melengkapi. M. Natsir memberikan kompas. B.J. Habibie membangun mesin.

Kompas memastikan bangsa mengetahui arah. Mesin memberikan kemampuan untuk bergerak menuju tujuan.

Keduanya dibutuhkan untuk membangun Indonesia sebagai bangsa yang maju, mandiri, dan beradab.

Acara BJ Habibie Lecture merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerjasama dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP), Perpustakaan Nasional, SDM Iptek, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN). ***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

AI Dorong Transformasi Ilmu Pangan Menuju Sistem Pangan Berkelanjutan

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru. Jika sebelumnya inovasi pangan berfokus pada peningkatan produksi, efisiensi, keamanan, dan pemenuhan kebutuhan konsumen, kini arah pengembangannya bergerak menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari evolusi Food Science and Technology (FST), yang bergerak dari teknologi sederhana untuk mengawetkan makanan hingga pemanfaatan AI dan big data untuk menghasilkan keputusan yang lebih cepat, prediktif, dan terintegrasi.

Hal itu disampaikan Rektor IPMI Institute, Prof. (Ret.) Ir. M. Aman Wirakartakusumah, MSc., Ph.D., dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (26/8/2026).

Diskusi bertema Evolution of Food Science and Technology: From Food Innovation to AI-Assisted Sustainable Food Systems tersebut dimoderatori Advisor CTIS Susanto Sutoyo, dengan pengantar dari Anggota Dewan Pembina CTIS Soekotjo Soeprapto.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru, menuju arah sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (26/8/2026).
bertema Evolution of Food Science and Technology: From Food Innovation to AI-Assisted Sustainable Food Systems. (dok CTIS)

Aman menjelaskan, evolusi ilmu pangan berlangsung melalui sejumlah era. Perkembangannya dimulai dari tradisi pengawetan makanan untuk menjaga ketersediaan pangan, kemudian memasuki era industrialisasi dan standardisasi, penguatan fondasi ilmiah terkait keamanan dan nutrisi, inovasi dan globalisasi, hingga meningkatnya perhatian terhadap kesehatan dan keberlanjutan.

“Memasuki pertengahan dekade 2020-an dan seterusnya, ilmu pangan diarahkan menuju intelligent food systems, yakni sistem pangan yang memanfaatkan AI dan data untuk mendukung pengambilan keputusan secara real time dan prediktif,” kata Aman.

Menurut mantan Rektor IPB University periode 1998-2002 itu, perubahan tersebut sekaligus menggeser paradigma inovasi pangan. Inovasi tidak lagi semata-mata diarahkan untuk menghasilkan lebih banyak makanan dengan biaya lebih rendah, tetapi juga harus memberikan nilai bagi kesehatan manusia, masyarakat, lingkungan, dan perekonomian.

“Karena itu, inovasi pangan ke depan mencakup personalisasi nutrisi, riset dan pengembangan berbasis AI, digitalisasi, pengurangan limbah, ekonomi sirkular, sistem regeneratif, serta inovasi yang memperhatikan aspek inklusi dan dampak sosial,” ujarnya.

Regulasi Harus Mengikuti Kecepatan Inovasi

Perkembangan teknologi pangan juga menuntut pendekatan baru dalam regulasi. Munculnya inovasi seperti protein alternatif, fermentasi presisi, bahan pangan baru, dan berbagai teknologi pengolahan pangan menghadirkan tantangan baru bagi regulator.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru, menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Diskusi bertema Evolution of Food Science and Technology: From Food Innovation to AI-Assisted Sustainable Food Systems dengan narasumber Rektor IPMI Institute, Prof. (Ret.) Ir. M. Aman Wirakartakusumah, MSc., Ph.D (no 2 dari kiri), dimoderatori Advisor CTIS Susanto Sutoyo (no 2 dari kanan), dengan pengantar dari Anggota Dewan Pembina CTIS Soekotjo Soeprapto (kiri). (dok CTIS)

Aman menilai regulasi pangan tetap harus berbasis bukti ilmiah dan mengutamakan perlindungan konsumen. Namun, regulasi juga perlu mampu mengikuti perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah innovation-ready regulation. Pendekatan ini bukan untuk menurunkan standar keamanan pangan, melainkan menciptakan jalur penilaian risiko dan akses pasar yang lebih adaptif sehingga inovasi dapat berkembang tanpa mengorbankan keselamatan konsumen.

Aman mencontohkan pengalaman Singapura dan Thailand dalam membangun ekosistem yang mempertemukan ilmuwan, industri, dan regulator.

Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar teknologi baru dapat dinilai berdasarkan aspek keamanan dan manfaatnya sekaligus mempercepat proses menuju komersialisasi.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru.,  menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pengolahan makanan di dapur SPPG. (dok Badan Gizi Nasional)

Bergeser dari Produk ke Sistem Pangan

Transformasi ilmu pangan juga membutuhkan pergeseran pola pikir dari product-centered thinking menuju systems thinking.

Dalam pendekatan ini, sistem pangan tidak hanya dilihat dari produk akhir, tetapi mencakup seluruh rantai, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, konsumsi hingga dampaknya terhadap lingkungan.

Sejumlah aspek menjadi perhatian, antara lain ketahanan pangan, keamanan pangan, nutrisi, pola makan sehat, masyarakat, planet, dan kesejahteraan ekonomi.

Pendekatan sistem menjadi semakin penting karena sektor pangan menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, keterbatasan sumber daya, persoalan malnutrisi, hingga ketidakpastian akibat pandemi dan konflik.

Karena itu, penyelesaian persoalan pangan membutuhkan kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan konsumen. Pemanfaatan data, teknologi digital, dan AI juga semakin penting untuk menghasilkan keputusan yang terintegrasi dan berbasis bukti.

AI Perkuat Pengambilan Keputusan

AI memiliki peran penting dalam membangun sistem pangan cerdas karena mampu menghubungkan data, pengetahuan, dan pengambilan keputusan di berbagai tahapan sistem pangan.

Di sektor pertanian, AI dapat digunakan untuk memprediksi hasil panen, memantau kesehatan tanaman, memperkirakan kebutuhan air, hingga mengidentifikasi risiko perubahan iklim.

Dalam pengolahan dan manufaktur pangan, teknologi tersebut dapat mendukung optimalisasi proses, pemeliharaan prediktif, dan pengendalian kualitas.

Sementara pada rantai pasok, AI dapat digunakan untuk memprediksi permintaan, mengoptimalkan rute distribusi, mengelola persediaan, dan meningkatkan ketertelusuran produk.

Dalam aspek keamanan pangan, AI juga dapat membantu mendeteksi risiko dan anomali serta memberikan peringatan dini. Adapun di bidang nutrisi dan kesehatan, teknologi ini dapat mendukung personalisasi pola makan dan penilaian kualitas diet.

Meski demikian, Aman menekankan bahwa AI bukan untuk menggantikan manusia. Teknologi tersebut justru menjadi alat untuk memperkuat kecerdasan manusia sehingga keputusan dapat diambil secara lebih cepat, tepat, dan berbasis data.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Ilustrasi menu Makan Bergizi Gratis. (dok Badan Gizi Nasional)

Indonesia Berpeluang Menjadi Laboratorium Sistem Pangan

Aman, yang juga merupakan Penasihat Menteri PPN/Bappenas RI, menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi laboratorium pengembangan sistem pangan berkelanjutan dalam skala nasional.

Ia mencontohkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pelaksanaan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XII pada 2026 yang dapat menjadi bagian dari ekosistem transformasi pangan dan gizi nasional.

“Indonesia memiliki kekuatan berupa keanekaragaman hayati, keragaman pangan lokal, jumlah penduduk yang besar, generasi muda, perkembangan digital, serta komitmen pemerintah terhadap transformasi pangan dan gizi,” ujarnya.

Menurut Aman, MBG tidak hanya dapat dipandang sebagai program penyediaan makanan, tetapi juga sebagai eksperimen nasional dalam membangun sistem pangan yang sehat, aman, berkelanjutan, dan inklusif.

Implementasi dalam skala besar membuka peluang untuk memperoleh data dan bukti mengenai pola konsumsi, keamanan pangan, rantai pasok, perubahan perilaku, hingga dampaknya terhadap status gizi masyarakat.

Data tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti.

Aman berharap sinergi pelaksanaan MBG dan WNPG XII dapat menghasilkan data berkualitas, rekomendasi kebijakan, inovasi yang siap diterapkan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta solusi yang dapat dikembangkan lebih luas.

Melalui pendekatan test-learn-improve-scale, Indonesia tidak hanya berpeluang menjadi pelaksana program pangan, tetapi juga menghasilkan pengetahuan dan model yang dapat dibagikan ke tingkat ASEAN maupun global.

Ilmuwan Pangan Masa Depan Harus Melek AI

Transformasi ilmu pangan turut mengubah kompetensi yang dibutuhkan ilmuwan pangan masa depan.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru, menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Ilustrasi. (dok Magnific.com)

Aman, yang pernah menjabat sebagai President International Union of Food Science and Technology (IUFoST) periode 2022-2024, menilai ilmuwan pangan tidak cukup hanya mengandalkan keunggulan akademik dan kemampuan teknis.

“Mereka juga dituntut memiliki kemampuan berpikir sistemik, inovasi dan kreativitas, kolaborasi lintas disiplin, literasi data dan AI, serta menjunjung tinggi etika, integritas, keamanan pangan, dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.

Menurutnya, tujuan akhir perkembangan teknologi pangan bukan sekadar menghasilkan teknologi baru, tetapi menciptakan dampak nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian.

Karena itu, masa depan ilmu dan teknologi pangan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan. Faktor manusia, tujuan inovasi, kolaborasi, serta kemampuan mengukur dampak terhadap masyarakat dan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

“Transformasi menuju sistem pangan berbasis AI pada akhirnya diarahkan untuk membangun sistem pangan yang aman, bergizi, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, baik untuk Indonesia, ASEAN, maupun dunia,” pungkas Aman.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Preservasi dan Monitoring Berbasis Teknologi Penting Cegah Keruntuhan Jembatan

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan. Langkah tersebut perlu dilakukan melalui inspeksi rutin, pemeliharaan preventif, monitoring, serta penanganan berdasarkan tingkat kerusakan dan risiko.

Hal tersebut disampaikan Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU, dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (19/8/2026).

Diskusi bertema “Memastikan Jembatan (Selalu) Dalam Kondisi Optimal” tersebut diawali pengantar Ketua CTIS Wendy Aritenang dan dimoderatori Ketua IV Bidang Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Diskusi CTIS bertema “Memastikan Jembatan (Selalu) Dalam Kondisi Optimal”, Rabu (19/8/2026) dengan narasumber Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU (tengah kemeja putih). (Dok CTIS)

Dalam paparannya, Herry menjelaskan, kegagalan jembatan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesalahan perencanaan dan pelaksanaan konstruksi, buruknya pemeliharaan, hingga pengelolaan aset yang belum optimal.

“Dalam fase pascakonstruksi, keruntuhan dapat disebabkan sistem daya dukung, kendaraan dengan muatan berlebih atau over dimension over load (ODOL), beban luar, kesalahan penanganan, serta perubahan pemanfaatan jembatan,” kata Herry.

Menurut dia, pengelolaan aset jembatan yang baik membutuhkan data yang mencukupi, akurat, dan diperbarui secara berkala. Data tersebut harus didukung prosedur inspeksi, pemeliharaan, monitoring, dan evaluasi yang andal, termasuk kriteria penilaian kondisi struktur maupun fungsi jembatan.

Preservasi Perpanjang Umur Jembatan

Herry menjelaskan, preservasi jembatan merupakan strategi untuk mencegah, memperlambat, atau mengurangi kerusakan elemen jembatan, mengembalikan fungsi eksisting, menjaga kondisi jembatan tetap baik, sekaligus memperpanjang umur layanan.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU (tengah) didampingi Ketua CTIS Wendy Aritenang (kanan) dan moderator Ketua IV Bidang Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno. (dok CTIS)

Salah satu bagian penting dalam preservasi adalah pemeliharaan preventif. Langkah ini dilakukan ketika kondisi jembatan masih relatif baik sehingga penurunan kualitas dapat diperlambat dan kebutuhan biaya besar untuk penggantian jembatan dapat dihindari.

Pemeliharaan preventif antara lain berupa pembersihan struktur, perbaikan sambungan siar-muai, pembersihan drainase, pengecatan baja, pembersihan sungai dari endapan dan sampah, pengamanan terhadap gerusan, serta pelumasan landasan.

Menurut Herry, langkah tersebut penting karena proses kerusakan jembatan tidak selalu langsung terlihat. Pada fase awal, kerusakan dapat belum menunjukkan tanda yang jelas, tetapi kemudian berkembang dengan cepat.

89.000 Jembatan Perlu Dikelola

Dalam paparannya disebutkan, Indonesia memiliki sekitar 89.000 jembatan dengan panjang total sekitar 1.060 kilometer. Dari jumlah tersebut, 46 persen berada dalam kondisi baik, 22 persen mengalami kerusakan ringan, 15 persen kerusakan sedang, 8 persen kerusakan berat, 6 persen kritis, dan 3 persen gagal.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan
Jembatan Balerang 1

Dengan jumlah aset yang besar, sistem manajemen jembatan menjadi penting untuk menentukan prioritas penanganan.

Inspeksi merupakan dasar untuk memperbarui informasi kondisi jembatan. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, membangun sistem peringatan dini, serta menyusun strategi pengelolaan aset dan pembiayaan.

Penilaian kondisi jembatan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan. Nilai kondisi 0-2 dikategorikan baik hingga rusak ringan dan umumnya ditangani melalui pemeriksaan atau pemeliharaan rutin. Nilai 3 masuk kategori rusak berat dan membutuhkan rehabilitasi, sedangkan nilai 4 dan 5 dikategorikan kritis atau runtuh sehingga membutuhkan penggantian.

Selain inspeksi visual, Herry menyoroti pentingnya pemanfaatan instrumentasi atau metode non-destructive test (NDT). Pengukuran respons dinamis, misalnya, dapat digunakan untuk mengetahui perubahan kondisi struktural berdasarkan frekuensi alami jembatan.

Metode tersebut memiliki keunggulan dari sisi kecepatan pengumpulan data, konsistensi, serta efektivitas biaya sepanjang siklus umur jembatan.

Monitoring Koridor Sungai

Selain kondisi struktur, jembatan yang berada di koridor sungai dan perairan menghadapi risiko tambahan berupa lalu lintas kapal, banjir, arus, gerusan, serta perubahan muka air.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan
Jembatan Musi II di Palembang, Sumatra Selatan. (dok (Baka neko baka/Wikipedia)

Berdasarkan data dalam paparan, faktor hidrologi menjadi salah satu penyebab dominan keruntuhan jembatan. Banjir tercatat menyumbang 24,7 persen dan scouring atau gerusan mencapai 15,2 persen. Sementara faktor desain dan konstruksi mencapai 16,3 persen dan overload 19,1 persen.

Risiko tumbukan kapal juga ditunjukkan melalui sejumlah kasus, antara lain Jembatan Barelang 2 atau Nara Singa. Pada 23 Januari 2019, kapal tanker MT Eastern Glory terbawa arus ketika sedang ditarik dan menabrak jembatan. Insiden tersebut menyebabkan abutment gagal sehingga struktur tidak aman untuk lalu lintas.

Kasus lainnya terjadi di Jembatan Barelang 6 atau Raja Kecil pada 6 Juni 2012. Kapal crane tak bermesin yang terbawa arus menabrak bentang jembatan dan menyebabkan pergeseran tumpuan girder sekitar 1,3 meter serta retak pada area tumpuan.
Dari kasus tersebut, Herry menekankan perlunya pemeriksaan menyeluruh setelah terjadi tumbukan karena dampak benturan dapat menyebar ke elemen struktur lainnya.

“Monitoring perlu diintegrasikan dengan sistem kesehatan struktur jembatan (SHMS) dan inspeksi rutin,” jelasnya.

Monitoring juga perlu mencakup muka air, arus, gerusan, serta clearance atau jarak bebas antara jembatan dan permukaan air maupun kapal.

Teknologi Deteksi Dini

Herry menyoroti karakteristik sejumlah koridor sungai di Indonesia yang memiliki risiko berbeda.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah mempercepat perbaikan Jembatan Bailey di Jembatan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. (dok Kementerian PU)

Di Palembang, kepadatan lalu lintas air, ruang gerak yang sempit, dan kondisi arus musiman menjadi faktor risiko. Sistem AIS (Automatic Identification System) dan VTS (Vessel Traffic Service) dapat dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi lintasan kapal yang mendekati zona berbahaya di sekitar pilar jembatan.

Di Samarinda, belokan sungai, arus pasang-surut, dan pergerakan tongkang meningkatkan risiko tumbukan terhadap pilar. Karena itu, pemanduan pada segmen kritis, pembatasan operasi saat arus ekstrem, serta pemasangan sistem perlindungan pilar perlu diprioritaskan.

Sementara di koridor Martadipura/Kutai, perubahan muka air dan keberadaan kapal dengan objek tinggi menuntut pengawasan vertical clearance secara real time. Sensor muka air dan clearance digital diperlukan untuk memberikan peringatan sebelum kondisi kritis tercapai.

Secara umum, setelah terjadi dugaan tumbukan, pemeriksaan perlu mencakup pilar, fender, perletakan, sambungan, gelagar bawah, retak lokal, hingga perbedaan elevasi lantai jembatan. Keputusan membuka atau menutup lalu lintas harus didasarkan pada inspeksi cepat, pengukuran deformasi, dan evaluasi keamanan sementara.

Untuk lima jembatan pada koridor sungai atau perairan, rekomendasi mitigasi meliputi pemasangan fender dolphin dan pemanduan wajib di Jembatan Mahakam, pembatasan muatan dan pos pengawasan terpadu di Musi II, VTS serta sensor cuaca di Jembatan Merah Putih, optimalisasi lampu pilar dan modernisasi fender di Ampera, serta sensor clearance real time dan pelarangan pelayaran pada level muka air kritis di Martadipura.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga jembatan tetap dalam kondisi optimal tidak cukup hanya dengan memperbaiki kerusakan setelah terjadi. Preservasi, inspeksi berbasis data, pemeliharaan preventif, instrumentasi, serta sistem monitoring dan peringatan dini perlu menjadi bagian dari manajemen aset jembatan sepanjang umur layan.

Dengan pendekatan tersebut, risiko kegagalan dapat dideteksi lebih dini, penanganan dapat diprioritaskan berdasarkan tingkat risiko, dan keberlanjutan fungsi jembatan bagi masyarakat dapat lebih terjamin.