Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

CTIS: Indonesia Hadapi Kegagalan Pasar di Sektor Pengetahuan

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural mendasar dalam pembangunan ekonomi, yakni kegagalan pasar di sektor pengetahuan. Kondisi ini tercermin dari rendahnya investasi pada pendidikan berkualitas, penelitian dan pengembangan (R&D), serta inovasi.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (15/7/2026) dengan tema Kegagalan Pasar di Sektor Pengetahuan. Diskusi menghadirkan anggota CTIS sekaligus staf khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas era Menteri Suharso Manoarfa, Chairil Abdini, Ph.D., sebagai narasumber utama.

Acara dipandu oleh moderator Bambang Goeritno dengan pengantar dari Soekotjo Soeparto yang juga merupakan pengurus CTIS.

“Fenomena ini tercermin dari rendahnya investasi dalam pendidikan berkualitas, penelitian dan pengembangan, serta inovasi,” kata Chairil dalam paparannya.

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural mendasar dalam pembangunan ekonomi, yakni kegagalan pasar di sektor pengetahuan
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (15/7/2026) dengan tema Kegagalan Pasar di Sektor Pengetahuan. Diskusi menghadirkan anggota CTIS sekaligus mantan staf khusus Menteri Bappenas, Chairil Abdini, Ph.D., (nomor 2 dari kanan) sebagai narasumber utama. (dok CTIS)

Menurut dia, sejumlah indikator menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) juga masih rendah, sementara kapasitas inovasi nasional belum mampu mendorong transformasi ekonomi secara berkelanjutan.

Dalam kondisi tersebut, mekanisme pasar dinilai belum cukup kuat untuk mengalokasikan sumber daya secara optimal ke sektor pengetahuan sehingga muncul kesenjangan antara potensi dan realisasi pembangunan berbasis pengetahuan.

Sekjen Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu menjelaskan kegagalan pasar di sektor pengetahuan memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional. Pendidikan belum mampu menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri, sementara sektor industri kesulitan naik kelas menuju aktivitas bernilai tambah tinggi.

Akibatnya, ekonomi Indonesia masih bertumpu pada sektor berbasis sumber daya alam.

“Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, Indonesia berisiko terjebak dalam pola pertumbuhan yang tidak berkelanjutan dan kehilangan momentum menuju ekonomi maju berbasis inovasi,” ujarnya.

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural mendasar dalam pembangunan ekonomi, yakni kegagalan pasar di sektor pengetahuan.
Chairil Abdini, Ph.D., sebagai narasumber utama (kanan). Dan dipandu oleh moderator Bambang Goeritno (tengah) dengan pengantar dari Soekotjo Soeparto yang juga merupakan pengurus CTIS. (dok CTIS

Ia menambahkan, akar persoalan tersebut terletak pada karakteristik pengetahuan sebagai barang publik (public goods). Pengetahuan menghasilkan manfaat luas bagi masyarakat, tetapi tidak seluruh manfaat tersebut dapat dinikmati secara langsung oleh individu atau perusahaan yang berinvestasi di dalamnya.

Kondisi tersebut membuat insentif untuk berinvestasi pada pendidikan, riset, dan inovasi menjadi lebih rendah dibanding kebutuhan yang sebenarnya.

Di Indonesia, persoalan tersebut diperparah oleh lemahnya mekanisme yang mampu menginternalisasi manfaat sosial ke dalam sistem insentif ekonomi. Selain itu, individu maupun pelaku usaha sering kali tidak memiliki informasi memadai mengenai manfaat jangka panjang investasi pada pendidikan STEM maupun teknologi baru.

“Hal ini menyebabkan keputusan investasi yang suboptimal, baik di tingkat rumah tangga maupun sektor swasta,” kata Chairil.

Dampak kegagalan pasar tersebut terlihat nyata pada sistem pendidikan nasional. Lulusan yang dihasilkan belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan industri, terutama pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Di sektor industri, kondisi tersebut tercermin dari rendahnya tingkat inovasi dan adopsi teknologi. Industri nasional masih didominasi aktivitas bernilai tambah rendah dan bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.

Secara makroekonomi, dampak kumulatifnya adalah rendahnya produktivitas dan terbatasnya daya saing Indonesia di tingkat global. Pertumbuhan ekonomi masih lebih banyak ditopang oleh akumulasi faktor produksi tradisional seperti tenaga kerja dan modal dibanding peningkatan efisiensi dan inovasi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Chairil menilai pemerintah perlu mengambil peran yang lebih aktif melalui kebijakan yang terarah dan terintegrasi.

“Pemerintah perlu memainkan peran aktif dalam memperbaiki insentif ekonomi agar investasi dalam pendidikan, penelitian, dan inovasi menjadi lebih menarik dan berkelanjutan,” ujarnya.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah meningkatkan belanja penelitian dan pengembangan secara signifikan serta menciptakan insentif fiskal yang mendorong sektor swasta berinvestasi pada inovasi.

Selain itu, reformasi pendidikan juga harus menjadi prioritas utama melalui penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri masa depan, terutama penguatan kompetensi STEM dan keterampilan abad ke-21.

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural mendasar dalam pembangunan ekonomi, yakni kegagalan pasar di sektor pengetahuan.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (15/7/2026) dengan tema Kegagalan Pasar di Sektor Pengetahuan. (dok CTIS)

Di sisi kelembagaan, perbaikan regulasi dan penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dalam berinvestasi pada inovasi.

Pemerintah juga didorong mengurangi hambatan masuk pasar (barrier to entry) dan meningkatkan tingkat persaingan agar perusahaan terdorong untuk terus berinovasi.

“Pembangunan ekonomi masa depan tidak dapat lagi bertumpu pada sumber daya alam semata. Keberhasilan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuannya mengelola, memproduksi, dan memanfaatkan pengetahuan sebagai sumber utama pertumbuhan,” kata Chairil.

Paparan tersebut mendapat tanggapan dari pakar penerbangan dan energi sekaligus guru besar bidang Aeronautical Engineering, Anton Adibroto. Ia menyoroti masih lemahnya penguasaan STEM di kalangan mahasiswa teknik penerbangan.

“Saat ini mahasiswa yang kuliah di bidang teknik penerbangan masih belum kuat di bidang STEM. Menghitung angka-angka matematika masih dibantu dengan kalkulator,” ujarnya sambil tertawa.

Sementara itu, mantan Duta Besar RI untuk Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Susanto Sutoyo, menilai tingginya angka putus sekolah di Indonesia turut memengaruhi kualitas sumber daya manusia dan memperburuk kegagalan pasar di sektor pengetahuan.

Pandangan serupa disampaikan Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Dr. Ali. Menurutnya, pelaku UMKM harus mampu naik kelas dengan terus mengembangkan inovasi produk agar dapat bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Fenomena “Kabur Aja Dulu” dan Peran Strategis Diplomasi RI dalam Penguatan SDM Iptekin

Ungkapan kabur aja dulu belakangan kerap muncul di kalangan anak muda Indonesia, khususnya di media sosial. Istilah ini mencerminkan keinginan generasi muda untuk pergi ke luar negeri demi mencari peluang hidup yang lebih baik untuk belajar, bekerja, maupun membangun karier.

Fenomena ini tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan ekonomi, serta lambatnya mobilitas sosial. Tak jarang, istilah tersebut digunakan sebagai bentuk sindiran atau ekspresi kekecewaan terhadap kondisi ketenagakerjaan nasional.

Isu ini menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk “Kabur Aja Dulu Versus Kepentingan Nasional: Penguatan SDM Iptekin dan Paradigma Diplomasi RI ke Depan” yang diselenggarakan oleh Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) pada Rabu, 23 Juli 2025.

Hadir sebagai narasumber, Susanto Sutoyo, mantan Duta Besar RI untuk Italia sekaligus Wakil Tetap RI untuk FAO, IFAD, dan WFP (2005–2008), menyampaikan bahwa istilah “kabur aja dulu” seharusnya tidak langsung dimaknai secara negatif.

Fenomena kabur aja dulu tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan ekonomi, serta lambatnya mobilitas sosial.
Susanto Sutoyo (no 4 duduk dari kanan) mantan dubes RI untuk Italia, wakil tetap RI untuk FAO, IFAD, dan WFP (2005-2008) memaparkan fenomena kabur aja dulu dalam diskusi CTIS, Rabu 23 Juli 2025. (dok CTIS)

Fenomena ini harus dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang. Banyak anak muda Indonesia yang ingin mengeksplorasi talenta mereka ke luar negeri karena keterbatasan di dalam negeri, terutama pada sektor lapangan kerja,” ujarnya.

Susanto menekankan bahwa bonus demografi Indonesia seharusnya tidak dianggap sebagai beban, melainkan sebagai kekuatan. Ia menyebutkan bahwa banyak negara seperti Tiongkok, India, dan Korea Selatan telah berhasil mendorong warganya untuk bekerja atau magang di luar negeri—yang kemudian menjelma menjadi SDM unggul dengan peran strategis di kancah global, khususnya dalam bidang sains, teknologi, dan informasi.

“Kabur bukan berarti tidak nasionalis. Justru di sinilah peran para diplomat Indonesia diperlukan menjadi jembatan diplomasi, memfasilitasi penguatan SDM, dan memperkuat jejaring internasional,” lanjutnya.

Susanto juga menyoroti bahwa diplomat memiliki peran penting dalam menyikapi eksodus talenta muda Indonesia. Alih-alih melihatnya sebagai kegagalan negara, para diplomat bisa mengarahkan para WNI di luar negeri menjadi “kontributor global” melalui program-program produktif seperti pelatihan, forum mahasiswa, promosi budaya, hingga inkubasi usaha.

Fenomena kabur aja dulu tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan ekonomi, serta lambatnya mobilitas sosial.
Pelatihan menggunakan AI di kantor pusat WHO untuk para pemagang kerja dari berbagai negara. (Dok WHO)

Dalam paparannya, Susanto menyampaikan bahwa terdapat sejumlah program strategis di berbagai organisasi internasional seperti WHO dan ILO yang dapat diakses oleh SDM Indonesia, termasuk:

  • Training Program

  • Internship Program

  • Secondment Program

  • Junior Professional Officer (JPO) / Associate Expert Program

  • Visiting Scholars Program

Program-program ini berada di bawah naungan badan-badan dunia seperti PBB, dengan berbagai skema pendanaan, baik melalui direct payment (dibiayai oleh negara pengirim) maupun indirect payment (pemerintah mentransfer dana ke organisasi internasional untuk mendanai peserta).

Sebagai gambaran, WHO menetapkan biaya US$100.000–US$160.000 per tahun untuk skema indirect payment per peserta. Selain itu, negara pengirim juga diwajibkan membayar support cost sebesar 13 persen dari total pengeluaran tahunan untuk kebutuhan administratif seperti visa, izin tinggal, hingga akses ke gedung PBB.

Fenomena kabur aja dulu tidak lepas dari berbagai tantangan dalam negeri, seperti terbatasnya lapangan kerja, ketimpangan kesempatan ekonomi, serta lambatnya mobilitas sosial.
Pelatihan bioteknologi oleh WHO untuk para ahli bioteknologi di negara-negara miskin Afrika. (Dok WHO)

Susanto menegaskan bahwa sudah waktunya diplomasi Indonesia mengadopsi paradigma baru, yakni menjadikan penguatan kapasitas SDM di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi (Iptekin) sebagai bagian dari kepentingan nasional.

“Penguatan kompetensi SDM Iptekin harus menjadi agenda utama diplomasi kita, bukan sekadar pelengkap. Ini adalah bentuk konkret dari upaya menjaga dan memperjuangkan kepentingan nasional di tingkat global,” tegasnya.

Ia menambahkan, jika dikelola dengan pendekatan inklusif dan suportif, fenomena “kabur aja dulu” dapat diarahkan menjadi gerakan “kembali membawa kontribusi”, baik melalui transfer ilmu, kolaborasi, maupun investasi SDM yang berkelanjutan.

Dalam hal ini, diplomat Indonesia berperan sebagai penjaga, penghubung, dan pengarah. Mereka tidak hanya melindungi WNI di luar negeri, tetapi juga berkontribusi mengubah paradigma dari pelarian menjadi potensi. Dengan membaca dinamika diaspora sebagai masukan kebijakan, diplomasi Indonesia diharapkan mampu menciptakan ekosistem global yang mendukung pengembangan SDM unggul Indonesia ke depan. ***