Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Rapat Anggota CTIS Tetapkan Wendy Aritenang Kembali Pimpin CTIS 2026-2030

Rapat Anggota Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Gedung Kemenko Infrastruktur lantai 20 secara aklamasi menetapkan Wendy Aritenang sebagai Ketua CTIS periode 2026-2030.

Sidang rapat anggota dipimpin Ketua Sidang Tetap Soekotjo Soeparto, didampingi Wakil Ketua Sidang Idwan Suhardi dan Sekretaris Jarot S. Suroso.

Agenda utama rapat meliputi penyampaian laporan pertanggungjawaban kepengurusan Wendy Aritenang selama tiga tahun terakhir, persetujuan laporan oleh anggota CTIS, serta pemilihan Ketua Formatur sekaligus Ketua CTIS periode berikutnya.

Rapat Anggota Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Gedung Kemenko Infrastruktur lantai 20 secara aklamasi menetapkan Wendy Aritenang sebagai Ketua CTIS periode 2026-2030.

Rapat Anggota Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Gedung Kemenko Infrastruktur lantai 20 secara aklamasi menetapkan Wendy Aritenang (no 4 duduk dari kiri) sebagai Ketua CTIS periode 2026-2030.
(dok CTIS)

Dalam laporannya, Wendy Aritenang menyampaikan CTIS didirikan pada 2022 dan resmi berbadan hukum sebagai perkumpulan pada 2023. Dalam kurun tiga tahun, CTIS telah membentuk struktur organisasi yang terdiri atas sekretariat umum, bendahara, komite-komite, serta dewan pembina.

Selama masa kepemimpinannya, Wendy didampingi Wakil Ketua Anton Adibroto dan almarhum Bambang Setiadi. Sekretariat Umum dipimpin Andi Eka Sakya bersama Nadirah dan Marina Frederick. Posisi bendahara dijalankan Marsudi dan Sugeng Siswanto, serta didukung staf sekretariat Siswantini Suryandari.

“Setiap Rabu dilaksanakan diskusi secara hybrid dengan menghadirkan para pakar di bidang iptek dan inovasi, dan hingga kini telah mencapai 120 kali diskusi. Kami juga melakukan audiensi dengan berbagai pejabat pemerintah dan kementerian, mengadakan Habibie Lectures sejak 2022 hingga 2025, menerbitkan buku BJ Habibie dalam Kenangan, menjadi inisiator karbon kalkulator Jejaku, membangun website CTIS.id, hingga memiliki akun Instagram resmi,” ujar Wendy.

Audiensi yang telah dilakukan CTIS antara lain dengan Menteri Koordinator Infrastruktur dan Kewilayahan, Menteri PPN/Bappenas, Kepala BRIN, serta Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi/Kepala BIM.

Rapat Anggota Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Gedung Kemenko Infrastruktur lantai 20 secara aklamasi menetapkan Wendy Aritenang sebagai Ketua CTIS periode 2026-2030.

Rapat Anggota Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) secara hybrid yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Gedung Kemenko Infrastruktur lantai 20, Jl MH Thamrin no 8 Jakarta Pusat. (dok CTIS)

Selain itu, CTIS juga merintis kerja sama Indonesia-Amerika Serikat melalui 10 program kolaborasi yang didukung Duta Besar RI untuk Amerika Serikat sekaligus Dewan Pembina CTIS, Indroyono Soesilo.

Dalam laporan keuangan disebutkan sumber dana CTIS berasal dari iuran anggota dan pendiri.

Wendy juga menyampaikan sejumlah kendala yang dihadapi organisasi, di antaranya keterbatasan waktu anggota yang masih aktif sebagai aparatur sipil negara (ASN), serta perlunya penguatan administrasi organisasi.

Ia merekomendasikan kepada kepengurusan baru untuk menyelesaikan anggaran rumah tangga, memperkuat formalisasi keanggotaan, menyediakan tenaga administrasi tetap, memastikan kepastian anggaran, membuka rekening resmi perkumpulan, serta melanjutkan program kerja sama iptek yang sedang dirintis.

Setelah pemaparan laporan, sejumlah anggota memberikan tanggapan. Anton Adibroto menyatakan menerima laporan pertanggungjawaban yang dinilai telah disampaikan secara jelas.

Tien R. Muchtadin berharap CTIS dapat menjadi jembatan bagi para inventor Indonesia yang belum memperoleh kesempatan merealisasikan inovasi mereka di dalam negeri.

Rapat Anggota Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Gedung Kemenko Infrastruktur lantai 20 secara aklamasi menetapkan Wendy Aritenang sebagai Ketua CTIS periode 2026-2030.

Rapat Anggota Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) secara hybrid, Rabu (20/5/2026) di Gedung Kemenko Infrastruktur lantai 20 Jakarta Pusat. (dok CTIS)

Sementara itu, Indroyono Soesilo menilai laporan perlu dilengkapi terutama terkait rincian 10 program kerja sama dengan Amerika Serikat. Ia juga menekankan pentingnya rekening resmi organisasi serta penguatan kerja sama dengan BRIN.

Ridwan Djamaluddin mengusulkan agar CTIS lebih aktif memberikan dampak kepada publik melalui rekomendasi hasil diskusi serta memperbarui identitas visual organisasi agar lebih kekinian.

Sejumlah anggota lainnya juga menyoroti pentingnya penguatan legalitas, pengelolaan keuangan, model organisasi yang tepat antara perkumpulan atau yayasan, hingga peluang memperoleh pendapatan melalui kerja sama konsultasi dan program strategis.

Setelah seluruh tanggapan disampaikan, rapat menerima laporan pertanggungjawaban Wendy Aritenang secara hybrid.

Dalam pemilihan pengurus baru, rapat anggota memutuskan Wendy Aritenang kembali terpilih sebagai Ketua Formatur sekaligus Ketua CTIS periode 2026-2030.

Susunan formatur yang ditetapkan dalam rapat yakni:

  • Ketua Formatur: Wendy Aritenang
  • Wakil Ketua Formatur I: Idwan Suhardi
  • Wakil Ketua Formatur II: Ridwan Djamaluddin
  • Wakil Ketua Formatur III: Soekotjo Soeparto

Ketua Formatur diberi waktu satu bulan untuk menyusun kepengurusan baru.

Rapat Anggota Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang berlangsung pada Rabu (20/5/2026) di Gedung Kemenko Infrastruktur lantai 20 secara aklamasi menetapkan Wendy Aritenang sebagai Ketua CTIS periode 2026-2030.

Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro (tengah) didampingi Ketua CTIS Wendy Aritenang menyampaikan apresiasi atas diterimanya laporan pertanggungjawaban pengurus. (dok CTIS)

Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyampaikan apresiasi atas diterimanya laporan pertanggungjawaban pengurus. Menurutnya, CTIS telah berhasil membangun wadah para ahli teknologi dan inovasi dari nol hingga memiliki posisi strategis saat ini.

“Sulit mengumpulkan para ahli iptek dalam satu organisasi. CTIS dibangun dari nol dan kini memiliki aset luar biasa. Terima kasih kepada para pengurus awal yang telah membawa CTIS berkembang hingga saat ini,” ujarnya.

Dalam pidato usai terpilih kembali, Wendy Aritenang mengajak seluruh anggota terus meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan dukungan finansial demi penguatan CTIS sebagai organisasi pemikir di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia juga menyatakan forum formatur akan membahas penguatan bentuk organisasi dan langkah strategis CTIS ke depan sesuai tugas pokok dan fungsi organisasi. ***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Limbah Sawit Berpotensi Jadi Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan, CTIS Soroti Peluang SAF di Indonesia

Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor penerbangan global. SAF dirancang untuk menggantikan atau dicampur dengan avtur konvensional berbasis fosil dengan bahan baku yang lebih ramah lingkungan.

Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (13/5/2026), bertema “Limbah Cair dan Batang Eks Kelapa Sawit Sebagai Bio-Avtur Ramah Lingkungan (Sustainable Aviation Fuel/SAF): Peluang dan Perjuangan Indonesia.”

Diskusi menghadirkan Wendy Aritenang, tenaga ahli Indonesia di Working Group Fuel International Civil Aviation Organization sekaligus Ketua CTIS. Acara dibuka oleh Dewan Pembina CTIS Sukotjo Soeparto dan dimoderatori Wakil Ketua CTIS Idwan Suhardi.

Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor penerbangan global.
Diskusi diselenggarakan oleh Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (13/5/2026), bertema “Limbah Cair dan Batang Eks Kelapa Sawit Sebagai Bio-Avtur Ramah Lingkungan (Sustainable Aviation Fuel/SAF): Peluang dan Perjuangan Indonesia.” (dok CTIS)

Wendy menjelaskan, SAF memiliki fungsi yang sama dengan avtur konvensional untuk pesawat terbang, namun diproduksi dari sumber energi berkelanjutan seperti minyak jelantah, biomassa, limbah pertanian, hingga limbah industri sawit.

“Karena berasal dari sumber nonfosil atau sumber yang dapat diperbarui, SAF dianggap mampu mengurangi jejak karbon penerbangan dibanding bahan bakar jet konvensional,” ujarnya.

Menurut Wendy, pengembangan SAF kini menjadi perhatian dunia. Organisasi seperti International Air Transport Association dan ICAO mendorong penggunaan SAF untuk membantu mencapai target net zero emission industri penerbangan pada 2050.

Potensi Besar Limbah Sawit

Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengembangkan SAF karena memiliki sumber biomassa dan minyak nabati melimpah, khususnya dari industri kelapa sawit.

“Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan SAF karena kaya sumber biomassa dan minyak nabati,” kata Wendy.

Ia menjelaskan, salah satu sumber utama SAF adalah limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Selama bertahun-tahun, POME dikenal sebagai limbah industri yang menimbulkan pencemaran dan emisi metana.

Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor penerbangan global.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengembangkan SAF karena memiliki sumber biomassa dan minyak nabati melimpah, khususnya dari industri kelapa sawit. (dok Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia/Gapki)

Namun pada akhir November 2025, ICAO mengakui POME sebagai bahan baku resmi SAF internasional. Pengakuan tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk masuk dalam rantai pasok bahan bakar penerbangan berkelanjutan dunia.

Selain itu, emisi karbon SAF berbasis POME disebut jauh lebih rendah dibanding avtur fosil. Emisi SAF berbasis POME sekitar 18,1 gCOe/MJ, sedangkan avtur konvensional mencapai sekitar 89 gCOe/MJ. Artinya, pengurangan emisi karbon dapat mencapai hampir 80 persen.

Batang Sawit Eks Replanting Bisa Jadi Bioavtur

Potensi lain juga berasal dari biomassa sawit, termasuk batang pohon sawit tua hasil peremajaan atau replanting. Indonesia setiap tahun melakukan replanting jutaan hektare kebun sawit yang menghasilkan limbah biomassa dalam jumlah besar seperti batang, pelepah, dan tandan kosong.

Wendy menjelaskan, batang eks kelapa sawit mengandung lignoselulosa yang dapat diolah menjadi biofuel generasi kedua, termasuk SAF melalui teknologi gasifikasi maupun alcohol-to-jet (ATJ).

Meski demikian, pengolahan batang sawit menjadi SAF dinilai lebih kompleks dibanding pemanfaatan POME karena membutuhkan teknologi lebih mahal dan infrastruktur industri yang lebih maju.

“Namun bila dikembangkan serius, Indonesia bukan hanya bisa menghasilkan biodiesel seperti saat ini, tetapi juga bioavtur untuk sektor penerbangan internasional,” ujarnya.

Tantangan Industri SAF

Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor penerbangan global.
Diskusi menghadirkan Wendy Aritenang, tenaga ahli Indonesia di Working Group Fuel International Civil Aviation Organization sekaligus Ketua CTIS (tengah). Acara dibuka oleh Dewan Pembina CTIS Sukotjo Soeparto (kiri) dan dimoderatori Wakil Ketua CTIS Idwan Suhardi. (dok CTIS)

Dalam diskusi tersebut, Wendy juga mengingatkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi pengembangan SAF di Indonesia.

Menurutnya, produksi SAF membutuhkan investasi besar untuk pembangunan kilang dan teknologi pengolahan. Selain itu, pasar global juga sangat sensitif terhadap isu lingkungan, terutama deforestasi.

Karena itu, ia menegaskan pengembangan SAF sawit Indonesia harus benar-benar berbasis limbah dan tidak berasal dari pembukaan lahan baru.

“Lahan sawit yang sudah ada harus dimaksimalkan untuk pengembangan SAF, tidak perlu membuka hutan baru,” katanya.

Ia juga menilai pemerintah perlu membangun infrastruktur industri SAF dan memberikan kepastian regulasi agar investor tertarik menanamkan modal di sektor ini.

Peluang Hilirisasi Baru Indonesia

Di tengah meningkatnya tekanan global untuk menurunkan emisi karbon penerbangan, industri SAF diperkirakan akan menjadi pasar bernilai miliaran dolar dalam dua dekade mendatang.

Negara-negara seperti Singapura, Amerika Serikat, dan berbagai negara Uni Eropa mulai agresif membangun rantai pasok SAF untuk memenuhi kebutuhan maskapai penerbangan global.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan kompetitif karena bahan baku sawit melimpah, limbah tersedia sepanjang tahun, industri sawit telah mapan, serta pengalaman panjang dalam pengembangan biofuel.

Karena itu, SAF disebut berpotensi menjadi babak baru hilirisasi sawit nasional, bukan sekadar ekspor crude palm oil (CPO) mentah.

Ke depan, apabila Indonesia mampu menggabungkan industri sawit, teknologi energi hijau, dan kebijakan keberlanjutan secara serius, limbah sawit berpotensi berubah menjadi sumber devisa baru sekaligus instrumen diplomasi energi hijau Indonesia di tingkat global. ***