Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

AI Dorong Transformasi Ilmu Pangan Menuju Sistem Pangan Berkelanjutan

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru. Jika sebelumnya inovasi pangan berfokus pada peningkatan produksi, efisiensi, keamanan, dan pemenuhan kebutuhan konsumen, kini arah pengembangannya bergerak menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari evolusi Food Science and Technology (FST), yang bergerak dari teknologi sederhana untuk mengawetkan makanan hingga pemanfaatan AI dan big data untuk menghasilkan keputusan yang lebih cepat, prediktif, dan terintegrasi.

Hal itu disampaikan Rektor IPMI Institute, Prof. (Ret.) Ir. M. Aman Wirakartakusumah, MSc., Ph.D., dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (26/8/2026).

Diskusi bertema Evolution of Food Science and Technology: From Food Innovation to AI-Assisted Sustainable Food Systems tersebut dimoderatori Advisor CTIS Susanto Sutoyo, dengan pengantar dari Anggota Dewan Pembina CTIS Soekotjo Soeprapto.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru, menuju arah sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (26/8/2026).
bertema Evolution of Food Science and Technology: From Food Innovation to AI-Assisted Sustainable Food Systems. (dok CTIS)

Aman menjelaskan, evolusi ilmu pangan berlangsung melalui sejumlah era. Perkembangannya dimulai dari tradisi pengawetan makanan untuk menjaga ketersediaan pangan, kemudian memasuki era industrialisasi dan standardisasi, penguatan fondasi ilmiah terkait keamanan dan nutrisi, inovasi dan globalisasi, hingga meningkatnya perhatian terhadap kesehatan dan keberlanjutan.

“Memasuki pertengahan dekade 2020-an dan seterusnya, ilmu pangan diarahkan menuju intelligent food systems, yakni sistem pangan yang memanfaatkan AI dan data untuk mendukung pengambilan keputusan secara real time dan prediktif,” kata Aman.

Menurut mantan Rektor IPB University periode 1998-2002 itu, perubahan tersebut sekaligus menggeser paradigma inovasi pangan. Inovasi tidak lagi semata-mata diarahkan untuk menghasilkan lebih banyak makanan dengan biaya lebih rendah, tetapi juga harus memberikan nilai bagi kesehatan manusia, masyarakat, lingkungan, dan perekonomian.

“Karena itu, inovasi pangan ke depan mencakup personalisasi nutrisi, riset dan pengembangan berbasis AI, digitalisasi, pengurangan limbah, ekonomi sirkular, sistem regeneratif, serta inovasi yang memperhatikan aspek inklusi dan dampak sosial,” ujarnya.

Regulasi Harus Mengikuti Kecepatan Inovasi

Perkembangan teknologi pangan juga menuntut pendekatan baru dalam regulasi. Munculnya inovasi seperti protein alternatif, fermentasi presisi, bahan pangan baru, dan berbagai teknologi pengolahan pangan menghadirkan tantangan baru bagi regulator.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru, menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Diskusi bertema Evolution of Food Science and Technology: From Food Innovation to AI-Assisted Sustainable Food Systems dengan narasumber Rektor IPMI Institute, Prof. (Ret.) Ir. M. Aman Wirakartakusumah, MSc., Ph.D (no 2 dari kiri), dimoderatori Advisor CTIS Susanto Sutoyo (no 2 dari kanan), dengan pengantar dari Anggota Dewan Pembina CTIS Soekotjo Soeprapto (kiri). (dok CTIS)

Aman menilai regulasi pangan tetap harus berbasis bukti ilmiah dan mengutamakan perlindungan konsumen. Namun, regulasi juga perlu mampu mengikuti perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah innovation-ready regulation. Pendekatan ini bukan untuk menurunkan standar keamanan pangan, melainkan menciptakan jalur penilaian risiko dan akses pasar yang lebih adaptif sehingga inovasi dapat berkembang tanpa mengorbankan keselamatan konsumen.

Aman mencontohkan pengalaman Singapura dan Thailand dalam membangun ekosistem yang mempertemukan ilmuwan, industri, dan regulator.

Menurutnya, kolaborasi tersebut penting agar teknologi baru dapat dinilai berdasarkan aspek keamanan dan manfaatnya sekaligus mempercepat proses menuju komersialisasi.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru.,  menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pengolahan makanan di dapur SPPG. (dok Badan Gizi Nasional)

Bergeser dari Produk ke Sistem Pangan

Transformasi ilmu pangan juga membutuhkan pergeseran pola pikir dari product-centered thinking menuju systems thinking.

Dalam pendekatan ini, sistem pangan tidak hanya dilihat dari produk akhir, tetapi mencakup seluruh rantai, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, konsumsi hingga dampaknya terhadap lingkungan.

Sejumlah aspek menjadi perhatian, antara lain ketahanan pangan, keamanan pangan, nutrisi, pola makan sehat, masyarakat, planet, dan kesejahteraan ekonomi.

Pendekatan sistem menjadi semakin penting karena sektor pangan menghadapi tantangan yang kompleks, mulai dari perubahan iklim, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, keterbatasan sumber daya, persoalan malnutrisi, hingga ketidakpastian akibat pandemi dan konflik.

Karena itu, penyelesaian persoalan pangan membutuhkan kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, komunitas, dan konsumen. Pemanfaatan data, teknologi digital, dan AI juga semakin penting untuk menghasilkan keputusan yang terintegrasi dan berbasis bukti.

AI Perkuat Pengambilan Keputusan

AI memiliki peran penting dalam membangun sistem pangan cerdas karena mampu menghubungkan data, pengetahuan, dan pengambilan keputusan di berbagai tahapan sistem pangan.

Di sektor pertanian, AI dapat digunakan untuk memprediksi hasil panen, memantau kesehatan tanaman, memperkirakan kebutuhan air, hingga mengidentifikasi risiko perubahan iklim.

Dalam pengolahan dan manufaktur pangan, teknologi tersebut dapat mendukung optimalisasi proses, pemeliharaan prediktif, dan pengendalian kualitas.

Sementara pada rantai pasok, AI dapat digunakan untuk memprediksi permintaan, mengoptimalkan rute distribusi, mengelola persediaan, dan meningkatkan ketertelusuran produk.

Dalam aspek keamanan pangan, AI juga dapat membantu mendeteksi risiko dan anomali serta memberikan peringatan dini. Adapun di bidang nutrisi dan kesehatan, teknologi ini dapat mendukung personalisasi pola makan dan penilaian kualitas diet.

Meski demikian, Aman menekankan bahwa AI bukan untuk menggantikan manusia. Teknologi tersebut justru menjadi alat untuk memperkuat kecerdasan manusia sehingga keputusan dapat diambil secara lebih cepat, tepat, dan berbasis data.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Ilustrasi menu Makan Bergizi Gratis. (dok Badan Gizi Nasional)

Indonesia Berpeluang Menjadi Laboratorium Sistem Pangan

Aman, yang juga merupakan Penasihat Menteri PPN/Bappenas RI, menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi laboratorium pengembangan sistem pangan berkelanjutan dalam skala nasional.

Ia mencontohkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pelaksanaan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XII pada 2026 yang dapat menjadi bagian dari ekosistem transformasi pangan dan gizi nasional.

“Indonesia memiliki kekuatan berupa keanekaragaman hayati, keragaman pangan lokal, jumlah penduduk yang besar, generasi muda, perkembangan digital, serta komitmen pemerintah terhadap transformasi pangan dan gizi,” ujarnya.

Menurut Aman, MBG tidak hanya dapat dipandang sebagai program penyediaan makanan, tetapi juga sebagai eksperimen nasional dalam membangun sistem pangan yang sehat, aman, berkelanjutan, dan inklusif.

Implementasi dalam skala besar membuka peluang untuk memperoleh data dan bukti mengenai pola konsumsi, keamanan pangan, rantai pasok, perubahan perilaku, hingga dampaknya terhadap status gizi masyarakat.

Data tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan berbasis bukti.

Aman berharap sinergi pelaksanaan MBG dan WNPG XII dapat menghasilkan data berkualitas, rekomendasi kebijakan, inovasi yang siap diterapkan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta solusi yang dapat dikembangkan lebih luas.

Melalui pendekatan test-learn-improve-scale, Indonesia tidak hanya berpeluang menjadi pelaksana program pangan, tetapi juga menghasilkan pengetahuan dan model yang dapat dibagikan ke tingkat ASEAN maupun global.

Ilmuwan Pangan Masa Depan Harus Melek AI

Transformasi ilmu pangan turut mengubah kompetensi yang dibutuhkan ilmuwan pangan masa depan.

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan memasuki babak baru, menuju sistem pangan yang berkelanjutan dengan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Ilustrasi. (dok Magnific.com)

Aman, yang pernah menjabat sebagai President International Union of Food Science and Technology (IUFoST) periode 2022-2024, menilai ilmuwan pangan tidak cukup hanya mengandalkan keunggulan akademik dan kemampuan teknis.

“Mereka juga dituntut memiliki kemampuan berpikir sistemik, inovasi dan kreativitas, kolaborasi lintas disiplin, literasi data dan AI, serta menjunjung tinggi etika, integritas, keamanan pangan, dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.

Menurutnya, tujuan akhir perkembangan teknologi pangan bukan sekadar menghasilkan teknologi baru, tetapi menciptakan dampak nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan perekonomian.

Karena itu, masa depan ilmu dan teknologi pangan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan. Faktor manusia, tujuan inovasi, kolaborasi, serta kemampuan mengukur dampak terhadap masyarakat dan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

“Transformasi menuju sistem pangan berbasis AI pada akhirnya diarahkan untuk membangun sistem pangan yang aman, bergizi, inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, baik untuk Indonesia, ASEAN, maupun dunia,” pungkas Aman.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Preservasi dan Monitoring Berbasis Teknologi Penting Cegah Keruntuhan Jembatan

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan. Langkah tersebut perlu dilakukan melalui inspeksi rutin, pemeliharaan preventif, monitoring, serta penanganan berdasarkan tingkat kerusakan dan risiko.

Hal tersebut disampaikan Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU, dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (19/8/2026).

Diskusi bertema Memastikan Jembatan (Selalu) Dalam Kondisi Optimal tersebut diawali pengantar Ketua CTIS Wendy Aritenang dan dimoderatori Ketua IV Bidang Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Diskusi CTIS bertema “Memastikan Jembatan (Selalu) Dalam Kondisi Optimal”, Rabu (19/8/2026) dengan narasumber Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU (tengah kemeja putih). (Dok CTIS)

Dalam paparannya, Herry menjelaskan, kegagalan jembatan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesalahan perencanaan dan pelaksanaan konstruksi, buruknya pemeliharaan, hingga pengelolaan aset yang belum optimal.

“Dalam fase pascakonstruksi, keruntuhan dapat disebabkan sistem daya dukung, kendaraan dengan muatan berlebih atau over dimension over load (ODOL), beban luar, kesalahan penanganan, serta perubahan pemanfaatan jembatan,” kata Herry.

Menurut dia, pengelolaan aset jembatan yang baik membutuhkan data yang mencukupi, akurat, dan diperbarui secara berkala. Data tersebut harus didukung prosedur inspeksi, pemeliharaan, monitoring, dan evaluasi yang andal, termasuk kriteria penilaian kondisi struktur maupun fungsi jembatan.

Preservasi Perpanjang Umur Jembatan

Herry menjelaskan, preservasi jembatan merupakan strategi untuk mencegah, memperlambat, atau mengurangi kerusakan elemen jembatan, mengembalikan fungsi eksisting, menjaga kondisi jembatan tetap baik, sekaligus memperpanjang umur layanan.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU (tengah) didampingi Ketua CTIS Wendy Aritenang (kanan) dan moderator Ketua IV Bidang Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno. (dok CTIS)

Salah satu bagian penting dalam preservasi adalah pemeliharaan preventif. Langkah ini dilakukan ketika kondisi jembatan masih relatif baik sehingga penurunan kualitas dapat diperlambat dan kebutuhan biaya besar untuk penggantian jembatan dapat dihindari.

Pemeliharaan preventif antara lain berupa pembersihan struktur, perbaikan sambungan siar-muai, pembersihan drainase, pengecatan baja, pembersihan sungai dari endapan dan sampah, pengamanan terhadap gerusan, serta pelumasan landasan.

Menurut Herry, langkah tersebut penting karena proses kerusakan jembatan tidak selalu langsung terlihat. Pada fase awal, kerusakan dapat belum menunjukkan tanda yang jelas, tetapi kemudian berkembang dengan cepat.

89.000 Jembatan Perlu Dikelola

Dalam paparannya disebutkan, Indonesia memiliki sekitar 89.000 jembatan dengan panjang total sekitar 1.060 kilometer. Dari jumlah tersebut, 46 persen berada dalam kondisi baik, 22 persen mengalami kerusakan ringan, 15 persen kerusakan sedang, 8 persen kerusakan berat, 6 persen kritis, dan 3 persen gagal.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan
Jembatan Balerang 1

Dengan jumlah aset yang besar, sistem manajemen jembatan menjadi penting untuk menentukan prioritas penanganan.

Inspeksi merupakan dasar untuk memperbarui informasi kondisi jembatan. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, membangun sistem peringatan dini, serta menyusun strategi pengelolaan aset dan pembiayaan.

Penilaian kondisi jembatan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan. Nilai kondisi 0-2 dikategorikan baik hingga rusak ringan dan umumnya ditangani melalui pemeriksaan atau pemeliharaan rutin. Nilai 3 masuk kategori rusak berat dan membutuhkan rehabilitasi, sedangkan nilai 4 dan 5 dikategorikan kritis atau runtuh sehingga membutuhkan penggantian.

Selain inspeksi visual, Herry menyoroti pentingnya pemanfaatan instrumentasi atau metode non-destructive test (NDT). Pengukuran respons dinamis, misalnya, dapat digunakan untuk mengetahui perubahan kondisi struktural berdasarkan frekuensi alami jembatan.

Metode tersebut memiliki keunggulan dari sisi kecepatan pengumpulan data, konsistensi, serta efektivitas biaya sepanjang siklus umur jembatan.

Monitoring Koridor Sungai

Selain kondisi struktur, jembatan yang berada di koridor sungai dan perairan menghadapi risiko tambahan berupa lalu lintas kapal, banjir, arus, gerusan, serta perubahan muka air.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan
Jembatan Musi II di Palembang, Sumatra Selatan. (dok (Baka neko baka/Wikipedia)

Berdasarkan data dalam paparan, faktor hidrologi menjadi salah satu penyebab dominan keruntuhan jembatan. Banjir tercatat menyumbang 24,7 persen dan scouring atau gerusan mencapai 15,2 persen. Sementara faktor desain dan konstruksi mencapai 16,3 persen dan overload 19,1 persen.

Risiko tumbukan kapal juga ditunjukkan melalui sejumlah kasus, antara lain Jembatan Barelang 2 atau Nara Singa. Pada 23 Januari 2019, kapal tanker MT Eastern Glory terbawa arus ketika sedang ditarik dan menabrak jembatan. Insiden tersebut menyebabkan abutment gagal sehingga struktur tidak aman untuk lalu lintas.

Kasus lainnya terjadi di Jembatan Barelang 6 atau Raja Kecil pada 6 Juni 2012. Kapal crane tak bermesin yang terbawa arus menabrak bentang jembatan dan menyebabkan pergeseran tumpuan girder sekitar 1,3 meter serta retak pada area tumpuan.
Dari kasus tersebut, Herry menekankan perlunya pemeriksaan menyeluruh setelah terjadi tumbukan karena dampak benturan dapat menyebar ke elemen struktur lainnya.

“Monitoring perlu diintegrasikan dengan sistem kesehatan struktur jembatan (SHMS) dan inspeksi rutin,” jelasnya.

Monitoring juga perlu mencakup muka air, arus, gerusan, serta clearance atau jarak bebas antara jembatan dan permukaan air maupun kapal.

Teknologi Deteksi Dini

Herry menyoroti karakteristik sejumlah koridor sungai di Indonesia yang memiliki risiko berbeda.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah mempercepat perbaikan Jembatan Bailey di Jembatan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. (dok Kementerian PU)

Di Palembang, kepadatan lalu lintas air, ruang gerak yang sempit, dan kondisi arus musiman menjadi faktor risiko. Sistem AIS (Automatic Identification System) dan VTS (Vessel Traffic Service) dapat dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi lintasan kapal yang mendekati zona berbahaya di sekitar pilar jembatan.

Di Samarinda, belokan sungai, arus pasang-surut, dan pergerakan tongkang meningkatkan risiko tumbukan terhadap pilar. Karena itu, pemanduan pada segmen kritis, pembatasan operasi saat arus ekstrem, serta pemasangan sistem perlindungan pilar perlu diprioritaskan.

Sementara di koridor Martadipura/Kutai, perubahan muka air dan keberadaan kapal dengan objek tinggi menuntut pengawasan vertical clearance secara real time. Sensor muka air dan clearance digital diperlukan untuk memberikan peringatan sebelum kondisi kritis tercapai.

Secara umum, setelah terjadi dugaan tumbukan, pemeriksaan perlu mencakup pilar, fender, perletakan, sambungan, gelagar bawah, retak lokal, hingga perbedaan elevasi lantai jembatan. Keputusan membuka atau menutup lalu lintas harus didasarkan pada inspeksi cepat, pengukuran deformasi, dan evaluasi keamanan sementara.

Untuk lima jembatan pada koridor sungai atau perairan, rekomendasi mitigasi meliputi pemasangan fender dolphin dan pemanduan wajib di Jembatan Mahakam, pembatasan muatan dan pos pengawasan terpadu di Musi II, VTS serta sensor cuaca di Jembatan Merah Putih, optimalisasi lampu pilar dan modernisasi fender di Ampera, serta sensor clearance real time dan pelarangan pelayaran pada level muka air kritis di Martadipura.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga jembatan tetap dalam kondisi optimal tidak cukup hanya dengan memperbaiki kerusakan setelah terjadi. Preservasi, inspeksi berbasis data, pemeliharaan preventif, instrumentasi, serta sistem monitoring dan peringatan dini perlu menjadi bagian dari manajemen aset jembatan sepanjang umur layan.

Dengan pendekatan tersebut, risiko kegagalan dapat dideteksi lebih dini, penanganan dapat diprioritaskan berdasarkan tingkat risiko, dan keberlanjutan fungsi jembatan bagi masyarakat dapat lebih terjamin.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Tak Berhenti di Laboratorium, Riset BRIN tentang Implan Tulang dan Gigi Masuk Industri

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.

Pengembangan tersebut mencakup riset biomaterial, rekayasa struktur mikro, pengujian biokompatibilitas, desain dan pembuatan prototipe, hingga pengujian kinerja implan.

Perekayasa Ahli Utama sekaligus Ketua Kelompok Riset Biomaterial Tulang dan Gigi BRIN, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Jujur, M.Eng., mengatakan pengembangan teknologi tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya mampu menghasilkan material medis berbasis sumber daya lokal, tetapi juga menghasilkan produk implan yang dapat digunakan dalam layanan kesehatan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Perekayasa Ahli Utama sekaligus Ketua Kelompok Riset Biomaterial Tulang dan Gigi BRIN, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Jujur, M.Eng., (tengah) diapit Ketua CTIS Wendy Aritenang (kiri) dan moderator Idwan Suhardi dalam diskusi CTIS, Rabu 12 Agustus 2026. (dok CTIS)

Hal itu disampaikan Nyoman dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (12/8/2026), dengan tema Strategi Inovatif dalam Pengembangan Teknologi Material Medis dan Rekayasa Implan Medis untuk Kemandirian Industri Alat Kesehatan Nasional.

Diskusi tersebut dibuka Ketua CTIS Wendy Aritenang dan dimoderatori Idwan Suhardi, Ketua VI Koordinator Bidang Kebijakan dan Ekosistem.

Menurut Nyoman, salah satu teknologi yang dikembangkan adalah pemanfaatan pencetakan tiga dimensi atau 3D printing untuk menghasilkan implan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anatomi pasien.

“Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan teknologi pencetakan 3D untuk menghasilkan implan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien,” ujar Nyoman.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (12/8/2026), dengan tema Strategi Inovatif dalam Pengembangan Teknologi Material Medis dan Rekayasa Implan Medis untuk Kemandirian Industri Alat Kesehatan Nasional. (dok CTIS)

Kebutuhan Implan Terus Meningkat

Nyoman mengatakan kebutuhan terhadap implan tulang semakin meningkat, antara lain akibat tingginya angka cedera yang disebabkan kecelakaan lalu lintas.

Sementara itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan estetika gigi serta bertambahnya populasi lanjut usia turut mendorong kebutuhan terhadap implan gigi.

Salah satu tantangan dalam pengembangan implan adalah ketersediaan material medis yang memenuhi standar dan memiliki kualitas sesuai kebutuhan klinis. Karena itu, BRIN mengembangkan sejumlah material, di antaranya stainless steel 316L dan titanium untuk berbagai aplikasi implan.

Pengembangan stainless steel 316L dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku lokal, termasuk feronikel (FeNi). Teknologi pemaduan material tersebut dikembangkan melalui kolaborasi riset dengan PT Aneka Tambang dan telah menghasilkan teknologi pemaduan stainless steel dalam skala industri.

Hasil penelitian menunjukkan stainless steel 316L yang dikembangkan memiliki kekuatan mekanis sesuai standar serta struktur mikro yang bebas dari fase ferit magnetik.

Pengujian in vitro dan in vivo juga menunjukkan material tersebut bersifat biokompatibel, tidak toksik, dan tidak memicu respons sistemik negatif pada hewan uji.

Selain stainless steel, Nyoman bersama tim mengembangkan material titanium Ti-6Al-4V ELI. Material tersebut diteliti untuk memperoleh kombinasi mikrostruktur, kekerasan, dan ketahanan korosi yang optimal.

Hasil pengujian biokompatibilitas menunjukkan material berbahan baku lokal tersebut memiliki respons jaringan yang baik dan mendukung proses regenerasi tulang.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Foto ilustrasi implan gigi. (dok Unair)

Kembangkan Implan Biodegradable

Pengembangan BRIN tidak berhenti pada material. Nyoman dan tim juga mengembangkan berbagai jenis implan, termasuk implan tulang belakang, implan mandibula, serta implan yang dapat terurai secara alami di dalam tubuh atau biodegradable implant.

Salah satunya adalah komposit magnesium-kalsium fosfat (Mg-CaP) yang dikembangkan sebagai kandidat material implan biodegradable.

“Material ini diharapkan tidak memerlukan operasi lanjutan untuk melepas implan setelah proses penyembuhan karena dapat terlarut di dalam tubuh. Teknologi tersebut diarahkan antara lain untuk aplikasi skrup ligamen pada cedera anterior cruciate ligament (ACL),” kata Nyoman.

Nyoman juga mengembangkan personalized implant dengan teknologi 3D printing. Proses pengembangannya dimulai dari akuisisi data CT scan, pembuatan desain berdasarkan anatomi pasien, persiapan manufaktur, pencetakan 3D, post-processing, validasi, hingga tahap praklinis dan uji klinis.

Untuk implan gigi, riset dilakukan melalui optimalisasi desain dan pengujian kinerja purwarupa. Ia juga mengembangkan rekayasa permukaan implan menggunakan teknologi selective laser ablation (SLA) serta pelapisan hidroksiapatit untuk meningkatkan osseointegration, yakni proses perlekatan dan integrasi implan dengan tulang.

Standardisasi Jadi Tantangan

Nyoman mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan material dan produk implan memenuhi standar medis serta memiliki sistem pengujian dan sertifikasi yang memadai.

“Karena itu, standardisasi material medis menjadi bagian penting untuk menjamin keamanan, kualitas dan daya saing produk implan dalam negeri,” ujarnya.

Menurut dia, keberhasilan pengembangan implan tulang dan gigi membutuhkan kolaborasi antara peneliti, industri, dokter, fasilitas pengujian, dan pembuat kebijakan.

Sinergi tersebut diperlukan agar hasil riset tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat berlanjut hingga tahap komersialisasi dan pemanfaatan klinis.

Dalam mengembangkan risetnya, Nyoman mengatakan dirinya terlebih dahulu berdiskusi dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) untuk mengetahui kebutuhan dokter dalam menangani pasien dengan beragam diagnosis.

Kolaborasi juga dilakukan dengan dokter bedah tulang. Menurutnya, dokter yang menangani pasien kanker, misalnya, tidak sedikit yang membutuhkan teknologi implan tulang untuk mendukung proses penanganan pasien.

“Dengan sinergi riset, industri, kebijakan, dan tenaga medis, Indonesia tidak hanya membangun kemandirian material medis berbasis sumber daya lokal, tetapi juga menapaki peran dalam riset dan inovasi implan tulang dan gigi masa depan,” kata Nyoman.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Pilar penguatan ekosistem inovasi. (dok I Nyoman Jujur)

Riset Masuk Uji Klinis dan Industri

Hasil riset yang dikembangkan Nyoman dan tim telah menghasilkan dua paten dan sebagian produknya telah diproduksi oleh industri alat kesehatan di dalam negeri.

Sejumlah hasil riset lainnya juga telah memasuki tahap uji klinis. Menariknya, pengujian tersebut turut mendapatkan investasi dari pihak industri.

Idwan Suhardi menilai langkah tersebut merupakan contoh ekosistem riset yang ideal karena penelitian dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan dikembangkan hingga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan.

“Ia membuat riset berdasarkan kebutuhan yang ada di masyarakat. Riset selesai sampai uji klinis dan mendapat respons oleh industri. Penelitinya mendapatkan paten dan terpenting lagi mendapatkan royalti dari hasil riset tersebut,” kata Idwan.

Menurut Idwan, pola tersebut perlu diperluas di kalangan periset dengan membangun ekosistem riset dari hulu hingga hilir.

Dengan ekosistem yang kuat, hasil riset tidak hanya menghasilkan inovasi dan produk teknologi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan para periset.

“Jika pola seperti itu dilakukan oleh para periset dengan membangun ekosistem yang bagus dari hulu ke hilir, maka hasil riset akan memberi nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, dan utamanya para periset bisa lebih sejahtera sehingga akan terus berkarya dengan menghasilkan riset-riset bermutu tinggi,” ujar Idwan.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

BRIN Percepat Hilirisasi Riset Pangan dan Pertanian untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat hilirisasi riset pangan dan pertanian agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan langsung oleh industri dan masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, Ph.D, dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Outlook Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2025–2026: Invensi dan Inovasi Bidang Pangan dan Pertanian”, Rabu (5/8/2026).

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Outlook Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2025–2026: Invensi dan Inovasi Bidang Pangan dan Pertanian”, Rabu (5/8/2026). (dok CTIS)

Diskusi dibuka Ketua CTIS Wendy Aritenang, Ph.D, serta dimoderatori Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi.

Puji menjelaskan, Outlook BRIN 2025–2026 di bidang pangan dan pertanian berfokus pada hilirisasi riset dari hulu hingga hilir, penerapan smart farming berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT), mitigasi perubahan iklim, serta penguatan kemandirian pangan nasional.

“Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Hasil riset harus mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Puji.

Menurutnya, fokus tersebut dijalankan melalui ORPP BRIN yang membawahi tujuh pusat riset, yakni Pusat Riset Tanaman Pangan, Hortikultura, Tanaman Perkebunan, Peternakan, Budidaya Air Tawar, Budidaya Air Laut, serta Teknologi dan Proses Pangan.

Dukung Program MBG

Selain memperkuat ketahanan pangan, ORPP BRIN juga mendukung program pencegahan stunting dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengembangan teknologi pengolahan pangan berbasis bahan baku lokal.

Beberapa inovasi yang telah dikembangkan antara lain beras analog sebagai alternatif beras berbahan sumber karbohidrat lokal, daging analog berbasis protein nabati, serta produk fermentasi tempe non-kedelai yang memiliki kandungan protein tinggi.

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, Ph.D, (kiri) bersama moderator Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi.
(dok CTIS)

Di sektor pangan laut, BRIN juga mengembangkan berbagai inovasi, seperti nori berbahan rumput laut lokal, pewarna makanan alami berwarna biru dari spirulina, hingga pemanfaatan mikroalga dan makroalga sebagai sumber protein masa depan.

Hasilkan 12 Varietas Unggul Baru

Puji mengungkapkan ORPP BRIN juga telah menghasilkan 12 Varietas Unggul Baru (VUB) tanaman perkebunan yang telah disetujui untuk dilepas oleh Tim Penilaian Varietas (TPV).

Varietas tersebut meliputi tiga varietas kelapa, dua varietas kakao, lima varietas tembakau unggul asal Lombok Barat, serta dua varietas sagu unggul.

Selain itu, BRIN juga berhasil mengembangkan tomat partenokarpik serta cabai yang tahan terhadap serangan kutu daun (Aphis gossypii), salah satu hama utama penyebab penurunan produktivitas sekaligus penyebar berbagai virus tanaman.

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Lima varietas tembakau unggul Lombok Barat hasil riset inovasi ORPP BRIN yaitu Eskot, Layur Besar Gerung, Beboro Labuapi, Kasturi Kediri, dan Layur Kediri. (dok BRIN)

Jawab Tantangan Perubahan Iklim

Puji mengatakan sektor pertanian kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penyusutan lahan produktif, degradasi tanah, keterbatasan sumber daya air, hingga dampak perubahan iklim yang meningkatkan ancaman hama dan penyakit tanaman.

Karena itu, pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap suhu tinggi maupun serangan organisme pengganggu tanaman menjadi salah satu prioritas riset BRIN.

“Melalui inovasi pemuliaan tanaman, kami berharap dapat menghasilkan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026–2045

Dalam kesempatan tersebut, Puji juga memaparkan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026–2045 yang mencakup enam bidang strategis, yakni:

  • Inovasi teknologi produksi pangan berbasis karbohidrat dan protein;
  • Kemandirian pangan nasional;
  • Inovasi teknologi hilirisasi produksi;
  • Kedaulatan benih dan bibit nasional;
  • Smart Farming Pertanian 4.0;
  • Kebijakan pangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan petani.

Menurut Puji, produksi pangan nasional harus terus ditingkatkan di tengah semakin menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas pangan sehingga ketahanan pangan nasional masih rentan.

“Digitalisasi dan inovasi pertanian menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat hilirisasi hasil riset agar memberi dampak nyata bagi industri dan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi, menegaskan hilirisasi riset pangan dan pertanian harus menjadi prioritas nasional.

Menurutnya, Indonesia akan terus mengalami kerugian apabila ketergantungan terhadap impor pangan tidak segera dikurangi melalui penguatan inovasi dan pemanfaatan hasil riset dalam negeri.