Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Menuju Indonesia 2045, IPTEK dan HaKI Jadi Kunci Pembangunan Nasional

Indonesia memasuki fase krusial menuju visi Indonesia Emas 2045. Di tengah bonus demografi, dinamika global, serta percepatan transformasi teknologi, arah pembangunan nasional dinilai harus segera bertransformasi. Paradigma lama yang bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan masa depan.

Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK
Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo, dan pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004 (duduk berjas hitam) dalam diskusi CTIS bertajuk “Beberapa Tantangan Untuk Dijawab: Pemahaman Konsepsi Dasar Sekitar HAKI” pada Rabu (25/2/2026). (dok CTIS)

Hal tersebut disampaikan Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo, dan pernah menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004 dalam diskusi CTIS bertajuk “Beberapa Tantangan Untuk Dijawab: Pemahaman Konsepsi Dasar Sekitar HAKI” pada Rabu (25/2/2026).

Sebagai moderator Susanto Sutoyo, eks Dubes RI Italia dan Wakil Tetap RI untuk  FAO-IFAD-WFP (2006-2008).

Menurut Bambang, berbagai persoalan strategis yang dihadapi Indonesia saat ini saling berkelindan dan bermuara pada satu kesimpulan besar: pembangunan nasional harus berbasis kualitas manusia dan penguasaan ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEK).

Lima Tantangan Besar Indonesia

Bambang menguraikan sedikitnya lima tantangan utama yang harus segera direspons secara sistemik. Pertama, kependudukan dan pangan. Kedua kualitas manusia Indonesia, Indonesia 2035 dan Indonesia 2045.

Ketiga, tantangan pembangunan, keempat tantangan faktor kekayaan hayati, perlindungan dan pemanfaatan. Dan tantangan terakhir adalah bagaimana Indonesia menatap masa depan yang dekat.

Kependudukan dan ketahanan pangan

Jumlah penduduk Indonesia terus meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Dalam periode 2015–2025, populasi naik sekitar 10,14 persen atau sekitar 28,8 juta jiwa. Bahkan, pada 2030 jumlah penduduk diproyeksikan mendekati 300 juta jiwa.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk perkotaan meningkat sekitar 3 persen setiap lima tahun, sementara populasi perdesaan menurun dengan persentase serupa. Urbanisasi yang tidak terbendung memicu berbagai persoalan, mulai dari tekanan terhadap lapangan kerja di kota hingga berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian.

Sementara itu, lahan pertanian terus menyusut akibat alih fungsi lahan dan ekspansi kawasan industri maupun permukiman. Kondisi tersebut berdampak pada ketergantungan terhadap impor pangan karena produksi dalam negeri belum mampu sepenuhnya memenuhi kebutuhan nasional.

“Di sinilah pentingnya teknologi pertanian, mulai dari pengolahan lahan, sistem irigasi, pupuk, pembenihan, hingga teknologi pascapanen,” kata Bambang.

Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK
Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Bambang Kesowo. (dok CTIS)

Kualitas sumber daya manusia

Ia menyoroti bahwa sekitar 70 persen penduduk Indonesia masih berpendidikan SMP ke bawah, dan sekitar 24,3 persen tidak bersekolah. Angka tersebut menjadi tantangan serius dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi era ekonomi berbasis pengetahuan.

Menurut Bambang, peningkatan kualitas manusia tidak hanya soal pendidikan formal, tetapi juga pembangunan karakter, mentalitas, dan etos kerja.

“Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK,” tegasnya.

Pergeseran Paradigma Pembangunan

Bambang menilai sudah saatnya Indonesia meninggalkan pola pembangunan berbasis eksploitasi dan ekstraksi sumber daya alam secara berlebihan. Model tersebut dinilai rawan memicu konflik lingkungan hidup serta tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Sebaliknya, kekuatan intelektual manusia harus menjadi motor utama pembangunan. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China disebutnya sebagai contoh bagaimana investasi pada SDM dan teknologi mampu mentransformasi negara menjadi kekuatan ekonomi modern.

Lahirlah paradigma baru, Pembangunan Nasional berbasis kualitas manusia dan IPTEK.

Untuk itu, diperlukan peta jalan (roadmap) yang jelas dan konsisten. Roadmap tersebut harus mencakup desain kelembagaan, tata kelola organisasi, hingga pengembangan personalia yang mendukung ekosistem riset dan inovasi.

Indonesia sejatinya telah memiliki payung hukum melalui Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Sistem Nasional IPTEK. Namun, Bambang menilai implementasi kedua regulasi tersebut masih belum optimal.

Refleksi dari Pandemi dan Prioritas Riset

Dalam tantangan pembangunan, Bambang menyinggung pengalaman pandemi Covid-19 sebagai pembelajaran penting. Saat pandemi, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp400 triliun untuk pengadaan vaksin dan penanganan dampak kesehatan, sementara anggaran riset BRIN hanya sekitar Rp6,1 triliun.

Kesenjangan tersebut menunjukkan pentingnya penguatan kapasitas riset nasional agar Indonesia tidak selalu bergantung pada produk luar negeri dalam situasi krisis.

Ia menegaskan bahwa prioritas riset nasional seharusnya difokuskan pada sektor-sektor strategis, yakni pangan dan pertanian, kesehatan (bahan baku obat dan obat), lingkungan khususnya air bersih, serta energi.

“Riset yang aplikatif dan berdaya guna akan menghasilkan paten. Dari paten itulah lahir nilai tambah ekonomi melalui lisensi dan komersialisasi,” ujarnya.

“Membangun kualitas manusia berarti membangun karakter, kepribadian, sekaligus kemampuan penguasaan IPTEK

Tantangan Komersialisasi dan Peran HaKI

Meski jumlah paten terdaftar dari hasil riset cukup besar, tingkat lisensinya masih rendah. Dari ratusan paten di bidang pembangunan berkelanjutan dan kemandirian kesehatan, sangat kecil yang berhasil memperoleh lisensi.

Sebaliknya, di banyak negara maju, para peneliti dan inventor sebagai pemegang HaKI mampu hidup lebih sejahtera karena memperoleh pendapatan berkelanjutan dari lisensi paten dan komersialisasi hasil inovasi mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem inovasi Indonesia belum sepenuhnya terhubung antara riset, industri, dan pasar.

Bambang menegaskan pentingnya Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) sebagai instrumen strategis dalam ekonomi modern. Menurutnya, HaKI merupakan hak atas kekayaan yang lahir dari kemampuan intelektual manusia dan memiliki nilai ekonomi sekaligus moral.

“HaKI bukan sekadar persoalan hukum, melainkan bentuk penghormatan terhadap kemampuan intelektual manusia dan dorongan bagi lahirnya inovasi,” katanya.

Ia menambahkan, dalam ekonomi berbasis pengetahuan, pemahaman HaKI harus menjadi kesadaran lintas disiplin. Pendidikan mengenai perlindungan kekayaan intelektual tidak boleh hanya diajarkan di fakultas hukum, tetapi juga di bidang teknik, kedokteran, pertanian, biologi, hingga ekonomi.

Dengan penguatan kualitas SDM, konsistensi roadmap IPTEK, serta optimalisasi HaKI, Bambang optimistis Indonesia dapat membangun fondasi peradaban modern yang berdaya saing global.

“Perlindungan atas kemampuan intelektual manusia adalah fondasi kemajuan bangsa. Tanpa itu, kita akan terus tertinggal dalam kompetisi global,” pungkasnya.***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Kepala BRIN: CTIS Think Tank Penting bagi Penguatan Riset dan Teknologi Nasional

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyatakan bahwa Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.

Hal tersebut disampaikan Arif Satria saat menerima kunjungan tim CTIS yang dipimpin Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang di Kantor BRIN, Rabu (21/1/2026). Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan diskusi strategis terkait penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dan Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian saat menerima kunjungan tim CTIS yang dipimpin Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang di Kantor BRIN, Rabu (21/1/2026). (Dok CTIS)

Dalam pertemuan itu, berbagai masukan dari CTIS disampaikan sebagai bahan pertimbangan BRIN ke depan. Salah satunya terkait pengembangan pesawat N219, yang merupakan hasil riset nasional dan masuk dalam Proyek Strategis Nasional Indonesia. Pesawat tersebut dikembangkan melalui kolaborasi BRIN dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

Arif Satria mengungkapkan, BRIN bersama PTDI saat ini tengah mengembangkan pesawat N219 berkapasitas 19 penumpang menjadi pesawat amfibi yang mampu mendarat di air, dengan kapasitas 17 penumpang. Pesawat ini diharapkan menjadi solusi konektivitas wilayah terpencil di Indonesia.

Dewan Pengawas CTIS Rahardi Ramelan menyoroti pentingnya keberadaan perusahaan leasing dalam industri pesawat terbang. Menurutnya, industri aviasi global tidak berjalan dengan skema pembelian tunai.

“Tidak ada industri pesawat terbang di dunia yang langsung cash. Harus ada leasing company. Kami menyarankan Danantara membangun leasing company, diawali dengan N219. Production line yang hanya dua unit tidak menarik pembeli, idealnya empat hingga enam unit. Danantara bisa memulai dengan membeli 20 pesawat,” ujar mantan Menteri Perdagangan tersebut.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang
Ketua Umum CTS Wendy Aritenang dan Dewan Pengawas CTIS Rahardi Ramelan (Dok CTIS)

Rahardi juga mengkritisi minimnya inovasi sederhana yang berdampak langsung bagi pengusaha kecil, khususnya di sektor pertanian dan kehutanan. Kondisi ini dinilai stagnan selama lebih dari 20 tahun karena industri lebih memilih membangun lisensi ketimbang mengembangkan inovasi sederhana yang aplikatif.

Selain itu, ia menilai pengelolaan hak paten yang awalnya berasal dari pemikiran BPPT dan kini ditangani Kementerian Hukum dan HAM, sebaiknya berada di bawah kementerian atau lembaga perekonomian agar lebih selaras dengan pengembangan industri.

Masukan lain datang dari anggota CTIS sekaligus mantan Kepala LAPAN Harijono Djojodiharjo yang menekankan pentingnya menanamkan budaya riset sejak mahasiswa memasuki perguruan tinggi, peningkatan anggaran riset, serta penguatan daya cipta nasional agar mampu menguasai pasar domestik.

Sementara itu, mantan Deputi Kemenristek Idwan Suhardi menegaskan bahwa peneliti memiliki “DNA riset” yang tidak bisa dihapus. Oleh karena itu, komunitas iptek perlu dihadirkan sebagai pemecah masalah di tengah masyarakat maupun pemerintah.

“CTIS bisa berperan untuk speak up kepada para pemangku kepentingan dan memberikan masukan strategis,” ujarnya.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
CTIS bersilaturahmi dengan Kepala Kepala Bada Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria dan jajarannya di kantor BRIN, Rabu 21 Januari 2026. (Dok CTIS)

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Arif Satria yang didampingi Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian menyampaikan apresiasi dan menyambut positif diskusi yang berlangsung.

“Banyak inspirasi dan insight baru. Diskusi singkat seperti ini memicu pemikiran mendalam, termasuk soal model bisnis pesawat dengan leasing dan pentingnya investasi pada lini produksi untuk meyakinkan pasar,” kata Arif.

Ia juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui kenaikan anggaran riset sebesar 50 persen yang akan dibagi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Menurut Arif, pengembangan iptek membutuhkan investasi baru, termasuk pembaruan peralatan laboratorium agar sesuai dengan perkembangan zaman.

BRIN, lanjut Arif, telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan ribuan paten inovasi sejak 1970 hingga saat ini. “BRIN harus menjadi kompas roadmap inovasi Indonesia dan melihat arah perkembangan riset ke depan,” ujarnya.

Ia mencontohkan inovasi baterai listrik berbasis nikel yang ditargetkan rampung pada 2028, sementara teknologi baterai grafena yang memiliki waktu pengisian lebih cepat mulai berkembang. Oleh karena itu, investasi harus mempertimbangkan teknologi pasca-2030.

Selain itu link and match yang digagas oleh Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro saat masih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menurut Arif tidak hanya berlaku di dunia pendidikan, tetapi harus bisa masuk di teknologi.

Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) merupakan lembaga think tank di bidang riset dan teknologi yang memiliki peran strategis sebagai mitra pemikiran bagi BRIN.
Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyerahkan buku “B.J. Habibie dalam Kenangan” serta profil CTIS kepada Kepala BRIN Arif Satria. (Dok CTIS)

Ketua Dewan Pembina CTIS Wardiman Djojonegoro menyambut baik gagasan tersebut dan berharap diskusi antara BRIN dan CTIS dapat terus berlanjut secara berkelanjutan, melibatkan lebih banyak tokoh iptek nasional.

“Untuk menyejahterakan bangsa, perlu jalur diskusi yang terus-menerus, tidak hanya dengan CTIS tetapi juga dengan para tokoh iptek lainnya,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Wardiman juga menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Habibie Prize selama lima tahun terakhir oleh pemerintah melalui BRIN. Ia mengingatkan bahwa penghargaan tersebut sebelumnya bernama Habibie Award dan diselenggarakan oleh Yayasan SDM Iptek yang dipimpinnya.

Ketua Umum CTIS Wendy Aritenang menambahkan CTIS secara rutin menyelenggarakan BJ Habibie Memorial Lecture. Pada tahun ini, agenda tersebut memasuki penyelenggaraan ke-6.

Ia berharap BJ Habibie Memorial Lecture 2026 yang direncanakan berlangsung pada Juni mendatang dapat diselenggarakan di Kantor BRIN.

Wendy juga mengapresiasi sambutan yang positif dari Kepala BRIN dalam silaturahmi dengan CTIS. Ia menegaskan bahwa silaturahmi ini bertujuan untuk saling bertukar gagasan demi kemajuan bangsa yang ditopang oleh sains dan teknologi.

Di akhir acara, Wardiman Djojonegoro menyerahkan buku “B.J. Habibie dalam Kenangan” serta profil CTIS kepada Kepala BRIN.***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Pemerintah Mau Bangun PLTN, CTIS Tekankan Soal Sosialisasi

Pemerintah baru saja membentuk Tim Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).  Tim dipimpin Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Panjaitan.

Pada pernyataan awal, Menko Luhut minta diperhatikannya dua hal penting yaitu lokasi tempat PLTN akan dibangun, utamanya berkaitan dengan kondisi kegempaannya, serta tingkat disiplin dan keberterimaan masyarakat terhadap teknologi canggih ini.

Menanggapi rencana pembangunan PLTN tadi, Center for Technology & Innovation Studies (CTIS) menggelar diskusi bertajuk ”Perkembangan PLTN dan Daur Bahan Bakar Nuklir”, Rabu, 31 Januari 2024. Diskusi menghadirkan narasumber, ahli teknologi nuklir dan mantan Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), Professor Jarot Wisnubroto dan dipandu Ketua Komite Energi CTIS, Dr. Unggul Prijanto, yang juga Mantan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dalam diskusi,  Jarot merujuk skenario Dewan Energi Nasional (DEN) tentang kebutuhan listrik Indonesia di tahun 2060, yang akan mencapai sekitar 400 GigaWatt, atau setara 400 Milyar Watt.

PLTN akan dibangun di Indonesia, membutuhkan proses sosialisasi ke masyarakat

Sesuai Perjanjian Paris 2015 Tentang Perubahan Iklim, saat itu Indonesia sudah harus mengurangi penggunaan energi fosil hingga semaksimal mungkin menuju “Net Zero Emission”, dan menggantikannya dengan energi baru terbarukan (EBT), seperti energi hidro, biomassa, angin, gelombang, fotovoltaik dan panas bumi.  Diprakirakan, untuk mencukupi kebutuhan 400 Giga Watt tadi perlu tambahan pembangkit listrik dari PLTN.

Skenario DEN memperlihatkan bahwa kelak pada tahun 2032,  PLTN sudah bisa mulai dioperasikan di Indonesia, walaupun Jarot menegaskan bahwa berdasarkan pengalaman di berbagai negara, perioda pembangunan PLTN, dari perencanaan hingga operasional, membutuhkan waktu 10 tahun.

Secara teknologis, Jarot Wisnubroto memaparkan bahwa rancang-bangun PLTN tidaklah rumit, hampir sama dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbahan bakar batubara, yang menghasilkan uap untuk memutar turbin lalu membangkitkan generator guna menghasilkan listrik.  Hanya bedanya, uap untuk memutar turbin diperoleh dari reaktor nuklir yang dibangun dengan tingkat keamanan dan keselamatan sangat tinggi.  Generasi pertama PLTN dibangun pada dekade 1950-an.

PLTN di Indonesia akan dibangun di Babel dan Jepara, Jawa Tengah

Saat ini, PLTN yang beroperasi di dunia ada pada Generasi III+ dan IV, mengarah pada Small Modular Reactor (SMR) yang semakin efisien secara ekonomis, dengan tingkat keselamatan semakin tinggi, hanya sedikit limbah dan anti proliferasi.  Musibah PLTN di Chernobyl, Rusia tahun 1986, maupun di Fukushima, Jepang tahun 2011, adalah hasil rancang-bangun PLTN dari Generasi I.

Khusus untuk PLTN Fukushima, bencana terjadi bukan akibat gempa bumi-nya, karena memang sudah diperhitungkan kekokohan PLTN untuk menghadapi bencana gempa bumi, namun akibat tinggi gelombang tsunami yang menerjang daratan Fukushima kala itu. Simak

Saat ini telah beroperasi sekitar 440 PLTN di 30 Negara.  Di Asia Tenggara, baru Filipina yang memiliki PLTN, dibangun sekitar dekade 1970-an di Bataan, namun belum sempat dioperasikan.

Sekarang, Malaysia dan Vietnam tengah merencanakan pembangunan PLTN. Indonesia telah memposisikan dirinya sebagai Negara Nuklir sejak 1956 lalu, sesudah Presiden Soekarno mengadakan kunjungan kenegaraan ke AS dan mencanangkan “Nuklir Untuk Maksud-Maksud Damai”.

Presiden RI Pertama ini kemudian mengirimkan para insinyur muda Indonesia ke University of Michigan USA untuk belajar Nuclear Engineering disana, kemudian pada tahun 1958 dibentuk Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan sepulang para insinyur nuklir Indonesia dari studi di luar negeri, dibangunlah Reaktor Atom pertama di Bandung dan mulai beroperasi tahun 1965, kemudian Reaktor Atom RA Kartini di Yogyakarta mulai beroperasi tahun 1979, sedang Reaktor Atom GA Siwabessy di Serpong Jawa Barat, dengan daya 30 MW, mulai beroperasi tahun 1987.

Ketiga reaktor atom di Indonesia tadi dimanfaatkan untuk kegiatan riset dan pengembangan. Jurusan pendidikan tekologi nuklir mulai dibuka di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1977.  Kegiatan riset dan pengembangan teknologi nuklir telah berlangsung di Indonesia lebih dari 60 tahun, kesemuanya disiapkan bila kelak Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk membangun PLTN.

Tiga lokasi yang berpotensi sebagai tempat dibangunnya PLTN juga sudah di survei, yaitu di Jepara, Jawa Tengah, di Pulau Bangka dan Pantai Gosong, Kalimantan Barat.  Bahkan di Bangka dan di Kalimantan Barat terdapat potensi cadangan Uranium U-235 sebagai sumberdaya pembangkit PLTN.

PLTN sangat dibutuhkan
Batuan basal dari kompleks Gunung Api Adang, Mamuju, Sulawesi Barat mengandung radioakyif berupa uranium dan torium dalam jumlah cukup tinggi. (Dok Batan)

Pada tahun 2011, saat Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,  telah dicanangkan rencana pembangunan PLTN ini, dan digelontorkan dana Rp250 miliar untuk kegiatan  studi kelayakan, survei lokasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Dalam studi kelayakan muncul kesimpulan bahwa bahwa teknologi PLTN yang akan diterapkan harus dari Generasi III+ atau Generasi IV dan sudah dioperasikan terlebih dahulu di tempat lain. Reaktor yang dipilih adalah Small Modular Reactor (SMR) yang bisa dibangun lebih cepat, dengan daya 250 MW.  Tingkat keberterimaan masyarakat terhadap PLTN mencapai 90%  di Kalbar, 49% di Bangka, dan hanya 20% di Jepara.  Nampaknya, upaya sosialisasi perlu lebih digencarkan sekiranya PLTN akan dibangun di Indonesia.

Dr. Unggul Priyanto menanggapi bahwa guna mencapai pembangkit listrik 400 Giga Watt pada 2060 maka mau tidak mau, suka tidak suka, Indonesia harus membangun PLTN.  Apalagi, saat itu konsumsi listrik untuk mobil listrik di tanah air, semakin meningkat.

Belum lagi semangat Indonesia untuk mencapai target “Net Zero Emission” pada tahun 2060.  Peserta diskusi sepakat bahwa sebelum melangkah lebih jauh, Pemerintah perlu lebih menggencarkan  sosialisasi kepada masyarakat tentang perlu dibangunnya PLTN di Indonesia, mengingat kelangkaan tenaga listrik mungkin akan terjadi saat Indonesia memasuki era sebagai Negara Industri pada peringatan 100 Tahun Kemerdekaan NKRI, pada 17 Agustus 2045. ***

sumber : https://seputarcibubur.pikiran-rakyat.com/ekonomi-bisnis/pr-1787675587/pemerintah-mau-bangun-pltn-ctis-tekankan-soal-sosialisasi?page=2