Indonesia memiliki peluang besar membangun industri ban pesawat nasional berbasis karet alam. Selain didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, Indonesia juga merupakan produsen karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand.
Ahli Perekayasa Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ir. Lies Agustine Wisojodharmo, mengatakan hingga kini sekitar 80 persen produksi karet alam Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan baku mentah. Kondisi tersebut membuat nilai tambah yang diperoleh di dalam negeri masih rendah.

Menurut Lies, pengembangan industri hilir yang mengolah karet alam menjadi produk bernilai tinggi menjadi kebutuhan strategis, salah satunya melalui pengembangan industri ban pesawat terbang nasional.
“Ban pesawat menjadi salah satu produk industri yang potensial untuk meningkatkan pemanfaatan karet alam di dalam negeri,” ujar Lies dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema Potensi Industri Ban Pesawat di Indonesia untuk Meningkatkan Konsumsi Karet Alam Dalam Negeri, Rabu (17/6/2026).
Ban pesawat merupakan komponen vital yang menentukan keselamatan penerbangan, terutama saat proses take off dan landing. Saat ini sebagian besar maskapai di Indonesia menggunakan ban hasil retread atau vulkanisir ulang karena kualitas dan tingkat keamanannya setara dengan ban baru serta telah memenuhi standar pengujian yang sama.
Berdasarkan Surat Edaran Nomor DSKU/2886/STD/2007, proses retread ban pesawat dapat dilakukan hingga tiga kali (R-3). Pasokan ban retread di kawasan Asia saat ini didominasi perusahaan global seperti Goodyear, Goodrich, Bridgestone, dan Michelin yang memiliki fasilitas produksi di Hong Kong dan Thailand.
Reverse Engineering Ban Boeing
Lies mengungkapkan, upaya pengembangan ban pesawat nasional dimulai sejak 2013 ketika masih bertugas di Pusat Teknologi Material BPPT. Saat itu, tim peneliti mencoba menjalin kerja sama lisensi dengan produsen ban pesawat luar negeri, namun tidak mendapatkan respons positif.

Sebagai alternatif, BPPT melakukan pendekatan reverse engineering dengan membeli ban baru pesawat Boeing 737-800 dan membongkar struktur materialnya untuk dipelajari.
“Dari proses reverse engineering tersebut diketahui bahwa komponen tapak atau tread ban pesawat membutuhkan porsi karet alam yang cukup besar,” kata Lies.
Sejak 2014, BPPT mulai merumuskan struktur lapisan ban pesawat dan mengembangkan berbagai formulasi kompon karet. Tim riset berhasil menghasilkan 12 formula kompon karet dan memilih formulasi terbaik untuk digunakan sebagai tapak ban pesawat.
Selain itu, berbagai peralatan produksi dan karakterisasi material juga dikembangkan untuk mendukung riset ban pesawat berbasis karet alam.
Potensi Pasar Mencapai Rp100 Miliar
Lies menilai prospek pasar ban pesawat di Indonesia cukup besar. Ban pesawat umumnya memiliki umur pakai sekitar 180-200 siklus penerbangan sehingga membutuhkan proses retread secara berkala.

Untuk pesawat Boeing 737-800 dan 737-900 saja, kebutuhan retread ban di Indonesia diperkirakan mencapai hampir 5.000 unit per tahun dengan nilai pasar sekitar Rp100 miliar.
Sementara itu, peluang juga terbuka pada segmen pesawat perintis dan general aviation seperti Twin Otter dan Cessna.
Indonesia saat ini mengoperasikan sekitar 75 unit pesawat Twin Otter yang membutuhkan sekitar 900 ban retread setiap tahun. Harga satu ban baru Twin Otter mencapai sekitar Rp30 juta, sedangkan biaya retread di luar negeri berikut transportasinya sekitar Rp16,5 juta per unit.
Menurut Lies, biaya produksi retread di dalam negeri diperkirakan hanya sekitar Rp3 juta per ban.
“Potensi penghematan devisa dari industri retread ban pesawat Twin Otter di Indonesia dapat mencapai lebih dari Rp12 miliar,” ujarnya.
Tantangan Sertifikasi
Perjalanan riset tidak selalu berjalan mulus. Prototipe ban retread untuk Boeing dan Twin Otter yang dikembangkan BPPT telah menjalani berbagai pengujian, termasuk uji take-off cycle di Lanyu Tire Aircraft Development Co., Guilin, China, pada 2020.

Dalam pengujian tersebut, prototipe awal masih mengalami kegagalan sehingga tim peneliti melakukan berbagai penyempurnaan pada proses retreading dan formulasi material.
Hasil evaluasi menunjukkan karakteristik kompon karet yang dikembangkan BPPT memiliki performa yang mendekati produk ban pesawat komersial buatan Goodyear.
Tim peneliti juga telah berhasil menghasilkan tiga unit prototipe ban Twin Otter serta memperoleh paten untuk teknologi kompon tapak ban pesawat berbasis karet alam.
Namun hingga kini, teknologi tersebut masih menghadapi tantangan pada tahap sertifikasi dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan sebelum dapat diproduksi secara komersial.
“Saya berharap riset ini dapat dilanjutkan hingga memperoleh sertifikasi sehingga bisa dikomersialkan dan industri ban pesawat nasional dapat dibangun di Indonesia,” kata Lies.
Peluang Kolaborasi Internasional
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menyambut positif capaian riset tersebut dan menyatakan kesediaannya membantu membuka peluang kerja sama dengan universitas maupun lembaga riset di Amerika Serikat yang memiliki kompetensi di bidang teknologi ban pesawat.
Beberapa institusi yang dinilai potensial untuk dijajaki kerja sama antara lain University of Akron, University of Connecticut, serta Goodyear Tire & Rubber Company.
“Saya akan mencoba menghubungi universitas dan lembaga riset tersebut untuk membuka peluang kolaborasi,” ujar Indroyono.
Sementara itu, Ketua I Koordinator Bidang Industri Manufaktur CTIS, Anton Adibroto, mendukung rencana kerja sama dengan Goodyear mengingat pengalaman panjang perusahaan tersebut dalam industri ban pesawat global.
Pengembangan industri ban pesawat nasional dinilai tidak hanya dapat meningkatkan konsumsi karet alam dalam negeri, tetapi juga memperkuat ekosistem industri penerbangan, menghemat devisa, serta meningkatkan kesejahteraan petani karet Indonesia.