Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Tak Berhenti di Laboratorium, Riset BRIN tentang Implan Tulang dan Gigi Masuk Industri

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.

Pengembangan tersebut mencakup riset biomaterial, rekayasa struktur mikro, pengujian biokompatibilitas, desain dan pembuatan prototipe, hingga pengujian kinerja implan.

Perekayasa Ahli Utama sekaligus Ketua Kelompok Riset Biomaterial Tulang dan Gigi BRIN, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Jujur, M.Eng., mengatakan pengembangan teknologi tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya mampu menghasilkan material medis berbasis sumber daya lokal, tetapi juga menghasilkan produk implan yang dapat digunakan dalam layanan kesehatan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Perekayasa Ahli Utama sekaligus Ketua Kelompok Riset Biomaterial Tulang dan Gigi BRIN, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Jujur, M.Eng., (tengah) diapit Ketua CTIS Wendy Aritenang (kiri) dan moderator Idwan Suhardi dalam diskusi CTIS, Rabu 12 Agustus 2026. (dok CTIS)

Hal itu disampaikan Nyoman dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (12/8/2026), dengan tema Strategi Inovatif dalam Pengembangan Teknologi Material Medis dan Rekayasa Implan Medis untuk Kemandirian Industri Alat Kesehatan Nasional.

Diskusi tersebut dibuka Ketua CTIS Wendy Aritenang dan dimoderatori Idwan Suhardi, Ketua VI Koordinator Bidang Kebijakan dan Ekosistem.

Menurut Nyoman, salah satu teknologi yang dikembangkan adalah pemanfaatan pencetakan tiga dimensi atau 3D printing untuk menghasilkan implan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anatomi pasien.

“Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan teknologi pencetakan 3D untuk menghasilkan implan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasien,” ujar Nyoman.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (12/8/2026), dengan tema Strategi Inovatif dalam Pengembangan Teknologi Material Medis dan Rekayasa Implan Medis untuk Kemandirian Industri Alat Kesehatan Nasional. (dok CTIS)

Kebutuhan Implan Terus Meningkat

Nyoman mengatakan kebutuhan terhadap implan tulang semakin meningkat, antara lain akibat tingginya angka cedera yang disebabkan kecelakaan lalu lintas.

Sementara itu, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan estetika gigi serta bertambahnya populasi lanjut usia turut mendorong kebutuhan terhadap implan gigi.

Salah satu tantangan dalam pengembangan implan adalah ketersediaan material medis yang memenuhi standar dan memiliki kualitas sesuai kebutuhan klinis. Karena itu, BRIN mengembangkan sejumlah material, di antaranya stainless steel 316L dan titanium untuk berbagai aplikasi implan.

Pengembangan stainless steel 316L dilakukan dengan memanfaatkan bahan baku lokal, termasuk feronikel (FeNi). Teknologi pemaduan material tersebut dikembangkan melalui kolaborasi riset dengan PT Aneka Tambang dan telah menghasilkan teknologi pemaduan stainless steel dalam skala industri.

Hasil penelitian menunjukkan stainless steel 316L yang dikembangkan memiliki kekuatan mekanis sesuai standar serta struktur mikro yang bebas dari fase ferit magnetik.

Pengujian in vitro dan in vivo juga menunjukkan material tersebut bersifat biokompatibel, tidak toksik, dan tidak memicu respons sistemik negatif pada hewan uji.

Selain stainless steel, Nyoman bersama tim mengembangkan material titanium Ti-6Al-4V ELI. Material tersebut diteliti untuk memperoleh kombinasi mikrostruktur, kekerasan, dan ketahanan korosi yang optimal.

Hasil pengujian biokompatibilitas menunjukkan material berbahan baku lokal tersebut memiliki respons jaringan yang baik dan mendukung proses regenerasi tulang.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Foto ilustrasi implan gigi. (dok Unair)

Kembangkan Implan Biodegradable

Pengembangan BRIN tidak berhenti pada material. Nyoman dan tim juga mengembangkan berbagai jenis implan, termasuk implan tulang belakang, implan mandibula, serta implan yang dapat terurai secara alami di dalam tubuh atau biodegradable implant.

Salah satunya adalah komposit magnesium-kalsium fosfat (Mg-CaP) yang dikembangkan sebagai kandidat material implan biodegradable.

“Material ini diharapkan tidak memerlukan operasi lanjutan untuk melepas implan setelah proses penyembuhan karena dapat terlarut di dalam tubuh. Teknologi tersebut diarahkan antara lain untuk aplikasi skrup ligamen pada cedera anterior cruciate ligament (ACL),” kata Nyoman.

Nyoman juga mengembangkan personalized implant dengan teknologi 3D printing. Proses pengembangannya dimulai dari akuisisi data CT scan, pembuatan desain berdasarkan anatomi pasien, persiapan manufaktur, pencetakan 3D, post-processing, validasi, hingga tahap praklinis dan uji klinis.

Untuk implan gigi, riset dilakukan melalui optimalisasi desain dan pengujian kinerja purwarupa. Ia juga mengembangkan rekayasa permukaan implan menggunakan teknologi selective laser ablation (SLA) serta pelapisan hidroksiapatit untuk meningkatkan osseointegration, yakni proses perlekatan dan integrasi implan dengan tulang.

Standardisasi Jadi Tantangan

Nyoman mengatakan tantangan berikutnya adalah memastikan material dan produk implan memenuhi standar medis serta memiliki sistem pengujian dan sertifikasi yang memadai.

“Karena itu, standardisasi material medis menjadi bagian penting untuk menjamin keamanan, kualitas dan daya saing produk implan dalam negeri,” ujarnya.

Menurut dia, keberhasilan pengembangan implan tulang dan gigi membutuhkan kolaborasi antara peneliti, industri, dokter, fasilitas pengujian, dan pembuat kebijakan.

Sinergi tersebut diperlukan agar hasil riset tidak berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat berlanjut hingga tahap komersialisasi dan pemanfaatan klinis.

Dalam mengembangkan risetnya, Nyoman mengatakan dirinya terlebih dahulu berdiskusi dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) untuk mengetahui kebutuhan dokter dalam menangani pasien dengan beragam diagnosis.

Kolaborasi juga dilakukan dengan dokter bedah tulang. Menurutnya, dokter yang menangani pasien kanker, misalnya, tidak sedikit yang membutuhkan teknologi implan tulang untuk mendukung proses penanganan pasien.

“Dengan sinergi riset, industri, kebijakan, dan tenaga medis, Indonesia tidak hanya membangun kemandirian material medis berbasis sumber daya lokal, tetapi juga menapaki peran dalam riset dan inovasi implan tulang dan gigi masa depan,” kata Nyoman.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan teknologi material medis dan rekayasa implan tulang serta gigi untuk memperkuat kemandirian industri alat kesehatan nasional.
Pilar penguatan ekosistem inovasi. (dok I Nyoman Jujur)

Riset Masuk Uji Klinis dan Industri

Hasil riset yang dikembangkan Nyoman dan tim telah menghasilkan dua paten dan sebagian produknya telah diproduksi oleh industri alat kesehatan di dalam negeri.

Sejumlah hasil riset lainnya juga telah memasuki tahap uji klinis. Menariknya, pengujian tersebut turut mendapatkan investasi dari pihak industri.

Idwan Suhardi menilai langkah tersebut merupakan contoh ekosistem riset yang ideal karena penelitian dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan dikembangkan hingga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan.

“Ia membuat riset berdasarkan kebutuhan yang ada di masyarakat. Riset selesai sampai uji klinis dan mendapat respons oleh industri. Penelitinya mendapatkan paten dan terpenting lagi mendapatkan royalti dari hasil riset tersebut,” kata Idwan.

Menurut Idwan, pola tersebut perlu diperluas di kalangan periset dengan membangun ekosistem riset dari hulu hingga hilir.

Dengan ekosistem yang kuat, hasil riset tidak hanya menghasilkan inovasi dan produk teknologi, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan para periset.

“Jika pola seperti itu dilakukan oleh para periset dengan membangun ekosistem yang bagus dari hulu ke hilir, maka hasil riset akan memberi nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja, dan utamanya para periset bisa lebih sejahtera sehingga akan terus berkarya dengan menghasilkan riset-riset bermutu tinggi,” ujar Idwan.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

BRIN Percepat Hilirisasi Riset Pangan dan Pertanian untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat hilirisasi riset pangan dan pertanian agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan langsung oleh industri dan masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, Ph.D, dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Outlook Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2025–2026: Invensi dan Inovasi Bidang Pangan dan Pertanian”, Rabu (5/8/2026).

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Outlook Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2025–2026: Invensi dan Inovasi Bidang Pangan dan Pertanian”, Rabu (5/8/2026). (dok CTIS)

Diskusi dibuka Ketua CTIS Wendy Aritenang, Ph.D, serta dimoderatori Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi.

Puji menjelaskan, Outlook BRIN 2025–2026 di bidang pangan dan pertanian berfokus pada hilirisasi riset dari hulu hingga hilir, penerapan smart farming berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT), mitigasi perubahan iklim, serta penguatan kemandirian pangan nasional.

“Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Hasil riset harus mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Puji.

Menurutnya, fokus tersebut dijalankan melalui ORPP BRIN yang membawahi tujuh pusat riset, yakni Pusat Riset Tanaman Pangan, Hortikultura, Tanaman Perkebunan, Peternakan, Budidaya Air Tawar, Budidaya Air Laut, serta Teknologi dan Proses Pangan.

Dukung Program MBG

Selain memperkuat ketahanan pangan, ORPP BRIN juga mendukung program pencegahan stunting dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengembangan teknologi pengolahan pangan berbasis bahan baku lokal.

Beberapa inovasi yang telah dikembangkan antara lain beras analog sebagai alternatif beras berbahan sumber karbohidrat lokal, daging analog berbasis protein nabati, serta produk fermentasi tempe non-kedelai yang memiliki kandungan protein tinggi.

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, Ph.D, (kiri) bersama moderator Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi.
(dok CTIS)

Di sektor pangan laut, BRIN juga mengembangkan berbagai inovasi, seperti nori berbahan rumput laut lokal, pewarna makanan alami berwarna biru dari spirulina, hingga pemanfaatan mikroalga dan makroalga sebagai sumber protein masa depan.

Hasilkan 12 Varietas Unggul Baru

Puji mengungkapkan ORPP BRIN juga telah menghasilkan 12 Varietas Unggul Baru (VUB) tanaman perkebunan yang telah disetujui untuk dilepas oleh Tim Penilaian Varietas (TPV).

Varietas tersebut meliputi tiga varietas kelapa, dua varietas kakao, lima varietas tembakau unggul asal Lombok Barat, serta dua varietas sagu unggul.

Selain itu, BRIN juga berhasil mengembangkan tomat partenokarpik serta cabai yang tahan terhadap serangan kutu daun (Aphis gossypii), salah satu hama utama penyebab penurunan produktivitas sekaligus penyebar berbagai virus tanaman.

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Lima varietas tembakau unggul Lombok Barat hasil riset inovasi ORPP BRIN yaitu Eskot, Layur Besar Gerung, Beboro Labuapi, Kasturi Kediri, dan Layur Kediri. (dok BRIN)

Jawab Tantangan Perubahan Iklim

Puji mengatakan sektor pertanian kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penyusutan lahan produktif, degradasi tanah, keterbatasan sumber daya air, hingga dampak perubahan iklim yang meningkatkan ancaman hama dan penyakit tanaman.

Karena itu, pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap suhu tinggi maupun serangan organisme pengganggu tanaman menjadi salah satu prioritas riset BRIN.

“Melalui inovasi pemuliaan tanaman, kami berharap dapat menghasilkan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026–2045

Dalam kesempatan tersebut, Puji juga memaparkan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026–2045 yang mencakup enam bidang strategis, yakni:

  • Inovasi teknologi produksi pangan berbasis karbohidrat dan protein;
  • Kemandirian pangan nasional;
  • Inovasi teknologi hilirisasi produksi;
  • Kedaulatan benih dan bibit nasional;
  • Smart Farming Pertanian 4.0;
  • Kebijakan pangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan petani.

Menurut Puji, produksi pangan nasional harus terus ditingkatkan di tengah semakin menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas pangan sehingga ketahanan pangan nasional masih rentan.

“Digitalisasi dan inovasi pertanian menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat hilirisasi hasil riset agar memberi dampak nyata bagi industri dan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi, menegaskan hilirisasi riset pangan dan pertanian harus menjadi prioritas nasional.

Menurutnya, Indonesia akan terus mengalami kerugian apabila ketergantungan terhadap impor pangan tidak segera dikurangi melalui penguatan inovasi dan pemanfaatan hasil riset dalam negeri.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Whoosh Jadi Tonggak Kereta Cepat Indonesia, Alih Teknologi Harus Dipercepat

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.

Namun, di balik berbagai capaian tersebut, sejumlah persoalan strategis masih menjadi perhatian, mulai dari transfer teknologi kepada insinyur Indonesia, aksesibilitas menuju stasiun, hingga integrasi jaringan kereta cepat dengan kawasan perkotaan.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Asset Management of Infrastructure: Indonesia High Speed Railway (Whoosh)”, yang digelar pada Rabu (29/7/2026).

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Asset Management of Infrastructure: Indonesia High Speed Railway (Whoosh)”, digelar Rabu (29/7/2026) dengan narasumber Ir. Devin Pranata, ST., MPD., IPM, Ketua Subsektor Railways Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Direktur Bisnis dan Operasional PT Jakarta Tourisindo (Perseroda) (nomor 2 dari kanan). (dok CTIS)

Narasumber utama adalah Ir. Devin Pranata, ST., MPD., IPM, Ketua Subsektor Railways Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Direktur Bisnis dan Operasional PT Jakarta Tourisindo (Perseroda). Devin juga pernah menjabat sebagai General Manager Non-Railway Business PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Diskusi dibuka oleh Ketua CTIS Wendy Aritenang dan dimoderatori Ketua Komisi Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno.

Mendorong Transformasi Mobilitas Nasional

Dalam paparannya, Devin menjelaskan bahwa Whoosh telah menjadi salah satu proyek infrastruktur transportasi paling strategis di Indonesia karena mampu mengubah pola mobilitas masyarakat di koridor Jakarta-Bandung.

Dengan kecepatan operasional hingga 350 kilometer per jam, perjalanan dari Halim menuju Padalarang dapat ditempuh sekitar 30 menit, jauh lebih cepat dibandingkan moda transportasi darat lainnya.

Menurutnya, kehadiran Whoosh tidak hanya memangkas waktu perjalanan, tetapi juga meningkatkan konektivitas antarwilayah, mengurangi kemacetan, serta mendukung pengembangan kawasan ekonomi baru.

“Whoosh merupakan contoh bagaimana investasi teknologi transportasi mampu memberikan dampak terhadap efisiensi mobilitas sekaligus meningkatkan daya saing wilayah,” ujar Devin.

Saat ini Whoosh mengoperasikan 62 perjalanan menggunakan rangkaian Electric Multiple Unit (EMU) di jalur sepanjang 142 kilometer yang menghubungkan Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar.

Seluruh stasiun juga dirancang sebagai mobility hub yang terintegrasi dengan kereta feeder, KRL Commuter Line, LRT, bus kota, serta layanan shuttle untuk memperkuat konektivitas antarmoda.

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.
Kereta Cepat Whoosh. (dok KCIC)

Dampak Ekonomi dan Lingkungan

Selain meningkatkan mobilitas, Whoosh dinilai telah memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Menurut Devin, lebih dari 101 merek, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kini beroperasi di kawasan stasiun Whoosh. Kehadiran aktivitas komersial tersebut mendorong tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru sekaligus memperluas peluang usaha di sekitar simpul transportasi.

Dari sisi lingkungan, Whoosh mengklaim menghasilkan sekitar 6,9 gram CO per penumpang per kilometer, atau mampu menurunkan emisi karbon hingga 54 persen dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi.

“Teknologi kereta cepat menjadi bagian dari upaya Indonesia menuju sistem transportasi yang lebih rendah emisi dan berkelanjutan,” katanya.

Sejak beroperasi secara komersial pada Oktober 2023, Whoosh telah melayani lebih dari 16,5 juta penumpang, termasuk 691.713 wisatawan mancanegara dari Malaysia, Singapura, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.
Ir. Devin Pranata, ST., MPD., IPM, Ketua Subsektor Railways Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Direktur Bisnis dan Operasional PT Jakarta Tourisindo (Perseroda). (dok CTIS)

Transfer Teknologi Dinilai Belum Optimal

Meski manfaat ekonomi dan sosial mulai terlihat, peserta diskusi menilai aspek penguasaan teknologi nasional masih perlu diperkuat.

Idwan Suhardi menyoroti belum optimalnya proses transfer teknologi dari proyek kereta cepat kepada para insinyur Indonesia.

“Kami sebagai perekayasa tentu ingin memperoleh kesempatan memahami teknologi secara lebih mendalam. Transfer teknologi merupakan investasi jangka panjang agar Indonesia mampu mengembangkan sistem kereta cepat secara mandiri di masa depan,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Devin berharap proyek Kereta Cepat Jakarta–Surabaya nantinya dapat melibatkan lebih banyak tenaga ahli Indonesia yang telah memiliki pengalaman dalam pembangunan maupun pengoperasian Whoosh.

Integrasi dengan Kota masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Sorotan lain disampaikan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM periode 2020-2023, Ridwan Djamaluddin, yang menilai lokasi stasiun akhir di Padalarang belum sepenuhnya terintegrasi dengan pusat Kota Bandung sehingga masih membutuhkan perpindahan moda transportasi dan tidak efisien dari segi biaya.

Devin menjelaskan bahwa Padalarang dipilih setelah perubahan rencana dari Walini dan sekaligus menjadi bagian dari pengembangan kawasan Kota Baru Parahyangan.

Sementara itu, Ketua CTIS Wendy Aritenang menilai pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa sistem kereta cepat idealnya mampu terhubung langsung dengan kawasan perkotaan tanpa mengurangi efisiensi perjalanan.

“Di banyak negara, kereta cepat dapat memasuki wilayah perkotaan dengan kecepatan yang disesuaikan tanpa harus memindahkan penumpang ke jalur lain. Hal ini menjadi salah satu pelajaran penting untuk pengembangan jaringan kereta cepat Indonesia ke depan,” ujarnya.

Kehadiran Kereta Cepat Whoosh dinilai telah membawa perubahan besar bagi sistem transportasi nasional melalui peningkatan mobilitas, efisiensi perjalanan, dan pengurangan emisi karbon.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Asset Management of Infrastructure: Indonesia High Speed Railway (Whoosh)”, yang digelar, Rabu (29/7/2026). (dok CTIS)

Mengandalkan Teknologi High-Speed Rail Modern

Secara teknologi, Whoosh mengadopsi sistem High-Speed Rail (HSR) berbasis platform CR400AF Fuxing yang dikembangkan di China dan telah disesuaikan dengan kondisi geografis Indonesia.

Rangkaian kereta menggunakan teknologi Electric Multiple Unit (EMU), sehingga motor penggerak tersebar di beberapa gerbong untuk menghasilkan akselerasi yang lebih baik, efisiensi energi yang tinggi, serta stabilitas pada kecepatan tinggi.

Pada aspek keselamatan, Whoosh menerapkan sistem persinyalan digital China Train Control System Level 3 (CTCS-3) yang dipadukan dengan Automatic Train Protection (ATP). Kedua teknologi tersebut memungkinkan pengawasan perjalanan secara real time, pengaturan kecepatan otomatis, serta pengereman darurat apabila terdeteksi kondisi yang berpotensi membahayakan.

Seluruh operasional kereta dipantau melalui Operation Control Center (OCC) yang mengendalikan pergerakan kereta, sistem kelistrikan, persinyalan, hingga kondisi operasional secara menyeluruh.

Diskusi CTIS menyimpulkan bahwa Whoosh tidak hanya harus dipandang sebagai proyek transportasi, tetapi juga sebagai laboratorium pembelajaran teknologi bagi Indonesia.

Selain memberikan manfaat nyata bagi mobilitas, ekonomi, dan lingkungan, proyek ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas nasional dalam penguasaan teknologi perkeretaapian berkecepatan tinggi.

Pengembangan jaringan kereta cepat di masa depan tidak hanya menghasilkan infrastruktur modern, tetapi juga meningkatkan kompetensi sumber daya manusia dan kemandirian teknologi nasional.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

ALPHA-COPTER, Konsep Gyrocopter Modern untuk Mobilitas Udara Masa Depan

Pengembangan teknologi mobilitas udara masa depan tidak selalu harus dilakukan melalui sistem yang kompleks.

Hal itu menjadi pembahasan diskusi CTIS, Rabu (22/7/2026) dengan menghadirkan narasumber Daniel Y. Spring, Founder dan CEO Alphacapter Switzerland dengan mengangkat tema Next‑Gen Rotary Power for Indonesia’s Sovereign Defence. Dengan pengantar Wendy Aritenang selaku Ketua CTIS dan Alex Ludi, Head of policy and technology Pusat Studi Air Power Indonesia sebagai moderator.

 konsep gyrocopter generasi baru yang mengedepankan kesederhanaan, keselamatan, efisiensi, dan teknologi modern.
Diskusi CTIS, Rabu (22/7/2026) dengan menghadirkan narasumber Daniel Y. Spring, Founder dan CEO Alphacapter Switzerland dengan mengangkat tema Next‑Gen Rotary Power for Indonesia’s Sovereign Defence. (dok CTIS)

Pendekatan berbeda ditawarkan Daniel Y. Spring, Founder and CEO Alphacopter, Switzerland, melalui ALPHA-COPTER, sebuah konsep gyrocopter generasi baru yang mengedepankan kesederhanaan, keselamatan, efisiensi, dan teknologi modern.

Spring memperkenalkan ALPHA-COPTER sebagai advanced gyrocopter yang dikembangkan dengan teknologi baru dan rekayasa cerdas. Konsep tersebut mengusung prinsip KISS (Keep It Simple & Safe), yakni menjaga teknologi tetap sederhana sekaligus mengutamakan aspek keselamatan.

Menurut Spring, pendekatan tersebut menjadi penting di tengah perkembangan pesat teknologi electric Vertical Take-Off and Landing (eVTOL).

“Kendaraan eVTOL saat ini banyak dikembangkan sebagai solusi mobilitas udara perkotaan masa depan, tetapi teknologi tersebut masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kompleksitas sistem, kebutuhan energi, teknologi baterai, biaya pengembangan, hingga regulasi dan sertifikasi,” kata Spring.

ALPHA-COPTER mencoba menawarkan pendekatan berbeda dengan mengembangkan kembali konsep gyrocopter menggunakan teknologi modern.

Salah satu keunggulan yang ditawarkan adalah penggunaan rotor berukuran besar. Dalam presentasinya, Spring menjelaskan bahwa rotor berukuran besar memiliki efisiensi daya angkat yang lebih baik dibandingkan penggunaan banyak rotor berukuran kecil.

Konsep tersebut berbeda dengan sejumlah desain eVTOL yang menggunakan banyak motor dan baling-baling kecil untuk menghasilkan gaya angkat dan melakukan penerbangan.

“Gyrocopter sangat efisien. Rotor yang lebih besar memberikan rasio daya angkat terhadap tenaga yang lebih baik,” demikian kata Spring.

Menurutnya ALPHA-COPTER berusaha menggabungkan efisiensi rotor besar dengan sistem penerbangan yang lebih sederhana.

Mengurangi Sistem yang Kompleks

Kesederhanaan menjadi salah satu prinsip utama dalam desain ALPHA-COPTER.

Dalam presentasinya, Spring menjelaskan bahwa ALPHA-COPTER dirancang tanpa sejumlah sistem kompleks yang terdapat pada helikopter konvensional.

Konsep tersebut antara lain tidak menggunakan tail rotor, tidak membutuhkan sistem cyclic pitch, serta mengurangi ketergantungan pada sistem kontrol rotor hidraulis.

Penyederhanaan desain tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah komponen, mempermudah pemeliharaan, serta menekan biaya operasional dan pengembangan.

Pendekatan ini juga ditujukan untuk mengurangi kompleksitas yang selama ini menjadi tantangan dalam pengembangan kendaraan udara generasi baru.

“Keep It Simple & Safe” menjadi filosofi yang ingin diterapkan ALPHA-COPTER, dengan harapan teknologi yang lebih sederhana dapat memberikan tingkat keselamatan dan keandalan yang lebih baik.

 konsep gyrocopter generasi baru yang mengedepankan kesederhanaan, keselamatan, efisiensi, dan teknologi modern.
Daniel Y. Spring, Founder dan CEO Alphacapter Switzerland didampingi moderator Alex Ludi, Head of policy and technology Pusat Studi Air Power Indonesia. (Dok CTIS)

Bukan eVTOL Konvensional

Meski menggunakan motor listrik, ALPHA-COPTER tidak sepenuhnya dikategorikan sebagai eVTOL konvensional.

Spring menjelaskan bahwa ALPHA-COPTER memiliki elemen elektrifikasi karena menggunakan motor listrik. Namun, teknologi yang dikembangkan berbeda dari konsep eVTOL yang mengandalkan banyak rotor listrik untuk melakukan lepas landas dan pendaratan secara vertikal.

ALPHA-COPTER mengembangkan pendekatan teknologi hybrid yang diklaim dapat menghindari sejumlah persoalan kompleks dan mahal dalam pengembangan eVTOL.

Dengan pendekatan tersebut, ALPHA-COPTER diposisikan sebagai alternatif untuk menuju mobilitas udara masa depan, dengan memanfaatkan teknologi gyrocopter yang sudah dikenal dan mengintegrasikannya dengan teknologi propulsi modern.

Klaim Efisiensi Biaya R&D

Salah satu klaim yang disampaikan Spring dalam presentasinya adalah tingginya tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) ALPHA-COPTER.

Spring menyebut tingkat kesiapan teknologi tersebut dapat menjadi keunggulan dalam proses pengembangan dan komersialisasi.

Ia juga menyampaikan bahwa pendekatan ALPHA-COPTER berpotensi menekan biaya penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) hingga 97 persen untuk business case yang serupa dibandingkan pengembangan teknologi eVTOL dengan kompleksitas yang lebih tinggi.

Selain itu, perusahaan tersebut diklaim memiliki peluang untuk dapat dioperasikan berdasarkan regulasi penerbangan yang berlaku saat ini.

Klaim tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dikaji lebih lanjut karena regulasi dan sertifikasi merupakan tantangan penting dalam pengembangan kendaraan udara generasi baru.

 

 konsep gyrocopter generasi baru yang mengedepankan kesederhanaan, keselamatan, efisiensi, dan teknologi modern.
dok Alpha-Copter

Teknologi Masa Depan Tidak Harus Rumit

Konsep yang ditawarkan ALPHA-COPTER menunjukkan adanya pendekatan berbeda dalam pengembangan mobilitas udara.

Jika sebagian pengembang berfokus pada pengembangan eVTOL dengan sistem elektrifikasi penuh dan teknologi yang semakin kompleks, ALPHA-COPTER justru mencoba menggabungkan teknologi yang telah terbukti dengan inovasi baru.

Pendekatan tersebut berangkat dari gagasan bahwa teknologi mobilitas udara masa depan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kecanggihan, tetapi juga oleh kemampuan teknologi tersebut untuk memenuhi aspek keselamatan, efisiensi, biaya, kemudahan pengoperasian, serta kesesuaian dengan regulasi.

Melalui ALPHA-COPTER, Daniel Y. Spring menawarkan sebuah perspektif bahwa inovasi tidak selalu berarti menambah kompleksitas. Sebaliknya, inovasi dapat dilakukan dengan menyederhanakan teknologi yang ada, meningkatkan efisiensi, dan mengintegrasikannya dengan teknologi baru secara cerdas.

Konsep ini membuka ruang diskusi mengenai pilihan teknologi transportasi udara masa depan, khususnya bagi negara-negara yang membutuhkan solusi mobilitas udara yang lebih efisien, aman, terjangkau, dan realistis untuk diterapkan.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Menuju Smart Railway Indonesia: Pelajaran dari Tragedi Bekasi Timur

Tragedi kereta api di Bekasi Tinur pada April 2026 bukan sekadar kecelakaan lalu lintas, melainkan cerminan bahwa sistem keselamatan perkeretaapian Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan teknologi, regulasi, dan tata kelola kelembagaan.

Di era transformasi digital, keselamatan transportasi tidak lagi cukup mengandalkan palang pintu dan kepatuhan pengguna jalan, tetapi memerlukan sistem yang cerdas, terhubung, dan mampu mendeteksi risiko secara real time.

Tragedi kereta api di Bekasi Tinur pada April 2026 bukan sekadar kecelakaan lalu lintas, melainkan cerminan bahwa sistem keselamatan perkeretaapian Indonesia masih menghadapi tantangan
Kereta api melintas di perlintasan sebidang.

Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa satu gangguan kecil pada sistem transportasi dapat memicu efek domino yang berujung pada bencana besar. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keselamatan perlintasan kereta api tidak cukup hanya mengandalkan kepatuhan pengguna jalan, tetapi memerlukan sistem keselamatan yang terintegrasi.

Perlintasan Sebidang Masih Menjadi Titik Rawan

Kecelakaan kendaraan yang mogok atau menerobos perlintasan kereta sebenarnya bukan fenomena baru. Berbagai insiden serupa telah berulang kali terjadi di sejumlah daerah.

Berdasarkan data PT Kereta Api Indonesia (KAI), Indonesia memiliki sekitar 3.703 perlintasan sebidang. Sebagian telah dilengkapi palang pintu dan petugas, sementara ratusan lainnya masih belum dijaga.

Namun, keberadaan palang pintu bukanlah jaminan mutlak keselamatan. Perlintasan yang dijaga maupun tidak dijaga tetap memiliki tingkat risiko tinggi apabila tidak didukung oleh desain infrastruktur yang memadai, sistem informasi yang andal, sumber daya manusia yang kompeten, serta penegakan hukum yang konsisten.

Regulasi Sudah Lengkap, Implementasi Belum Optimal

Secara regulasi, Indonesia sebenarnya telah memiliki perangkat hukum yang cukup memadai.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian menegaskan bahwa pembangunan prasarana, sarana, serta penyelenggaraan perkeretaapian menjadi kewenangan Pemerintah Pusat. Hal tersebut mencakup pembangunan jalur rel, stasiun, depo, hingga perlintasan kereta, baik sebidang maupun tidak sebidang.

Pada Pasal 124 ditegaskan bahwa setiap pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api ketika melintasi perlintasan sebidang.

Ketentuan tersebut diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mewajibkan setiap pengguna jalan berhenti ketika sinyal berbunyi atau palang pintu mulai ditutup. Pelanggaran terhadap ketentuan ini juga memiliki konsekuensi pidana.

Selain itu, Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2015 tentang Standar Keselamatan Perkeretaapian (SKP) dan Peraturan Menteri Nomor 69 Tahun 2018 tentang Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian (SMKP).

Kedua regulasi tersebut dirancang untuk memastikan seluruh aspek keselamatan berjalan secara sistematis, terencana, dan terintegrasi.Masalahnya, implementasi di lapangan masih jauh dari ideal.

Keselamatan Tidak Hanya Ditentukan oleh Palang Pintu

Perlintasan sebidang pada dasarnya merupakan solusi infrastruktur yang paling ekonomis dibandingkan pembangunan flyover maupun underpass.

Tragedi kereta api di Bekasi Tinur pada April 2026 bukan sekadar kecelakaan lalu lintas, melainkan cerminan bahwa sistem keselamatan perkeretaapian Indonesia masih menghadapi tantangan
Teknologi panel perlintasan berbasis karet alam buatan Pusat Riset Komposit dan Biomaterial, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (Dok BRIN)

Dengan jumlah perlintasan yang mencapai ribuan serta keterbatasan anggaran pemerintah, pembangunan perlintasan tidak sebidang tentu tidak dapat dilakukan secara serentak.

Karena itu, perlintasan sebidang tetap akan menjadi bagian penting dari sistem transportasi nasional dalam waktu yang cukup lama.Konsekuensinya, standar keselamatan harus diterapkan secara ketat.

Pendekatan keselamatan tidak boleh hanya berhenti pada pemasangan palang pintu, tetapi juga mencakup desain geometrik jalan, sistem peringatan dini berbasis teknologi, kamera pemantau, sensor kendaraan, integrasi informasi perjalanan kereta secara real time, hingga kompetensi petugas yang mengoperasikan perlintasan. Itulah konsep smart railway.

Konsep ini merupakan merupakan transformasi sistem perkeretaapian yang mengintegrasikan infrastruktur fisik dengan teknologi digital, seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sensor pintar, komunikasi data real time, dan analisis big data.

Tujuannya bukan hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membangun sistem keselamatan yang mampu mendeteksi risiko sebelum berubah menjadi kecelakaan.

Dengan teknologi tersebut, kendaraan yang berhenti terlalu lama di atas rel dapat dideteksi lebih cepat sehingga informasi dapat diteruskan kepada masinis maupun pusat kendali perjalanan kereta dalam hitungan detik.

Penerapan teknologi tersebut tentu tidak dapat berdiri sendiri. Keberhasilannya ditentukan oleh interoperabilitas antarsistem, kualitas data, standar keamanan siber, kesiapan sumber daya manusia, serta tata kelola kelembagaan yang memungkinkan seluruh pemangku kepentingan bekerja dalam satu ekosistem keselamatan.

Tragedi kereta api di Bekasi Tinur pada April 2026 bukan sekadar kecelakaan lalu lintas, melainkan cerminan bahwa sistem keselamatan perkeretaapian Indonesia masih menghadapi tantangan
Perlintasan sebidang di jalur kereta api rawan kecelakaan. (dok PT KAI)

Kerancuan Kewenangan Masih Menjadi Persoalan

Persoalan lain yang perlu mendapat perhatian adalah pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Jalur rel dan operasional perkeretaapian merupakan tanggung jawab Pemerintah Pusat. Namun kawasan di sekitar stasiun dan perlintasan merupakan bagian dari wilayah yang dikelola pemerintah daerah.

Dalam praktiknya, sering muncul pertanyaan mengenai siapa yang bertanggung jawab terhadap pengawasan perlintasan, penyediaan petugas, pengaturan lalu lintas sekitar rel, hingga pembiayaan operasional di lapangan.

Kerancuan tersebut dapat menghambat koordinasi ketika terjadi kondisi darurat maupun dalam upaya peningkatan keselamatan secara berkelanjutan.

Padahal setiap stasiun merupakan simpul transportasi strategis yang memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Di negara maju seperti Jepang, kawasan stasiun dikembangkan melalui konsep Transit Oriented Development (TOD), yaitu pengembangan kawasan berbasis transportasi publik yang terintegrasi dengan aktivitas ekonomi, permukiman, dan layanan publik.

Jepang telah mengintegrasikan sensor, kamera beresolusi tinggi, pusat kendali digital, serta sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan pada banyak perlintasan sebidang. Ketika terdapat hambatan di atas rel, informasi dikirim secara otomatis kepada pusat kendali dan masinis sehingga risiko kecelakaan dapat ditekan.

Dengan demikian, stasiun tidak lagi dipandang sekadar tempat naik dan turun penumpang, tetapi menjadi simpul mobilitas, pusat aktivitas ekonomi, sekaligus laboratorium penerapan teknologi perkotaan (urban mobility innovation).

Pengembangan TOD umumnya menjadi kewenangan pemerintah daerah karena berada di luar prasarana utama perkeretaapian.

Artinya, koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menjadi syarat mutlak agar pengembangan kawasan tidak mengorbankan aspek keselamatan.

Perlu Reformasi Tata Kelola Keselamatan

Belajar dari tragedi Bekasi Timur, evaluasi tidak cukup hanya berhenti pada penyebab langsung kecelakaan.Yang lebih penting adalah melakukan pembenahan sistem secara menyeluruh.

Pertama, pemerintah perlu menyempurnakan implementasi Peraturan Menteri Nomor 24 Tahun 2015 dan Peraturan Menteri Nomor 69 Tahun 2018 agar pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah menjadi lebih jelas, terutama terkait pengelolaan perlintasan, kelembagaan, pembiayaan, serta sumber daya manusia.

Kedua, pemerintah daerah perlu diberi ruang yang lebih besar dalam pengelolaan kawasan sekitar jalur rel karena mereka memahami karakteristik wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat.

Ketiga, pemanfaatan teknologi keselamatan berbasis digital harus menjadi prioritas nasional, sehingga sistem keselamatan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada faktor manusia.

Keempat, PT KAI sebagai operator perkeretaapian dapat membangun pola kemitraan yang lebih erat dengan pemerintah daerah, baik dalam pengembangan kawasan stasiun maupun peningkatan keselamatan di sepanjang jalur rel.

Keselamatan Adalah Investasi

Setiap kecelakaan seyogianya menjadi sumber data untuk membangun sistem pembelajaran nasional (national safety learning system), sehingga kebijakan keselamatan tidak lagi bersifat reaktif, melainkan berbasis bukti (evidence-based policy).

Transformasi perkeretaapian Indonesia tidak cukup diukur dari bertambahnya jalur rel atau hadirnya kereta berkecepatan tinggi. Yang lebih penting adalah kemampuan membangun ekosistem Smart Railway yang mengintegrasikan teknologi digital, tata kelola kelembagaan, regulasi adaptif, dan kolaborasi lintas sektor.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, operator, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset akan menentukan keberhasilan transformasi tersebut. Tragedi Bekasi Timur seharusnya menjadi momentum untuk mempercepat lahirnya sistem perkeretaapian yang lebih cerdas, lebih tangguh, dan lebih berorientasi pada keselamatan masyarakat.***

Tragedi kereta api di Bekasi Tinur pada April 2026 bukan sekadar kecelakaan lalu lintas, melainkan cerminan bahwa sistem keselamatan perkeretaapian Indonesia masih menghadapi tantangan
 

Tulisan opini ini ditulis oleh:

Dr. Bambang S. Pujantiyo, B.Eng., M.Eng, Komite Transportasi CTIS

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

CTIS: Indonesia Hadapi Kegagalan Pasar di Sektor Pengetahuan

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural mendasar dalam pembangunan ekonomi, yakni kegagalan pasar di sektor pengetahuan. Kondisi ini tercermin dari rendahnya investasi pada pendidikan berkualitas, penelitian dan pengembangan (R&D), serta inovasi.

Isu tersebut menjadi sorotan dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (15/7/2026) dengan tema Kegagalan Pasar di Sektor Pengetahuan. Diskusi menghadirkan anggota CTIS sekaligus staf khusus Menteri PPN/Kepala Bappenas era Menteri Suharso Manoarfa, Chairil Abdini, Ph.D., sebagai narasumber utama.

Acara dipandu oleh moderator Bambang Goeritno dengan pengantar dari Soekotjo Soeparto yang juga merupakan pengurus CTIS.

“Fenomena ini tercermin dari rendahnya investasi dalam pendidikan berkualitas, penelitian dan pengembangan, serta inovasi,” kata Chairil dalam paparannya.

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural mendasar dalam pembangunan ekonomi, yakni kegagalan pasar di sektor pengetahuan
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (15/7/2026) dengan tema Kegagalan Pasar di Sektor Pengetahuan. Diskusi menghadirkan anggota CTIS sekaligus mantan staf khusus Menteri Bappenas, Chairil Abdini, Ph.D., (nomor 2 dari kanan) sebagai narasumber utama. (dok CTIS)

Menurut dia, sejumlah indikator menunjukkan kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) juga masih rendah, sementara kapasitas inovasi nasional belum mampu mendorong transformasi ekonomi secara berkelanjutan.

Dalam kondisi tersebut, mekanisme pasar dinilai belum cukup kuat untuk mengalokasikan sumber daya secara optimal ke sektor pengetahuan sehingga muncul kesenjangan antara potensi dan realisasi pembangunan berbasis pengetahuan.

Sekjen Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) itu menjelaskan kegagalan pasar di sektor pengetahuan memiliki dampak luas terhadap perekonomian nasional. Pendidikan belum mampu menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri, sementara sektor industri kesulitan naik kelas menuju aktivitas bernilai tambah tinggi.

Akibatnya, ekonomi Indonesia masih bertumpu pada sektor berbasis sumber daya alam.

“Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, Indonesia berisiko terjebak dalam pola pertumbuhan yang tidak berkelanjutan dan kehilangan momentum menuju ekonomi maju berbasis inovasi,” ujarnya.

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural mendasar dalam pembangunan ekonomi, yakni kegagalan pasar di sektor pengetahuan.
Chairil Abdini, Ph.D., sebagai narasumber utama (kanan). Dan dipandu oleh moderator Bambang Goeritno (tengah) dengan pengantar dari Soekotjo Soeparto yang juga merupakan pengurus CTIS. (dok CTIS

Ia menambahkan, akar persoalan tersebut terletak pada karakteristik pengetahuan sebagai barang publik (public goods). Pengetahuan menghasilkan manfaat luas bagi masyarakat, tetapi tidak seluruh manfaat tersebut dapat dinikmati secara langsung oleh individu atau perusahaan yang berinvestasi di dalamnya.

Kondisi tersebut membuat insentif untuk berinvestasi pada pendidikan, riset, dan inovasi menjadi lebih rendah dibanding kebutuhan yang sebenarnya.

Di Indonesia, persoalan tersebut diperparah oleh lemahnya mekanisme yang mampu menginternalisasi manfaat sosial ke dalam sistem insentif ekonomi. Selain itu, individu maupun pelaku usaha sering kali tidak memiliki informasi memadai mengenai manfaat jangka panjang investasi pada pendidikan STEM maupun teknologi baru.

“Hal ini menyebabkan keputusan investasi yang suboptimal, baik di tingkat rumah tangga maupun sektor swasta,” kata Chairil.

Dampak kegagalan pasar tersebut terlihat nyata pada sistem pendidikan nasional. Lulusan yang dihasilkan belum sepenuhnya relevan dengan kebutuhan industri, terutama pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Di sektor industri, kondisi tersebut tercermin dari rendahnya tingkat inovasi dan adopsi teknologi. Industri nasional masih didominasi aktivitas bernilai tambah rendah dan bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.

Secara makroekonomi, dampak kumulatifnya adalah rendahnya produktivitas dan terbatasnya daya saing Indonesia di tingkat global. Pertumbuhan ekonomi masih lebih banyak ditopang oleh akumulasi faktor produksi tradisional seperti tenaga kerja dan modal dibanding peningkatan efisiensi dan inovasi.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Chairil menilai pemerintah perlu mengambil peran yang lebih aktif melalui kebijakan yang terarah dan terintegrasi.

“Pemerintah perlu memainkan peran aktif dalam memperbaiki insentif ekonomi agar investasi dalam pendidikan, penelitian, dan inovasi menjadi lebih menarik dan berkelanjutan,” ujarnya.

Salah satu langkah yang dinilai penting adalah meningkatkan belanja penelitian dan pengembangan secara signifikan serta menciptakan insentif fiskal yang mendorong sektor swasta berinvestasi pada inovasi.

Selain itu, reformasi pendidikan juga harus menjadi prioritas utama melalui penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri masa depan, terutama penguatan kompetensi STEM dan keterampilan abad ke-21.

Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan struktural mendasar dalam pembangunan ekonomi, yakni kegagalan pasar di sektor pengetahuan.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (15/7/2026) dengan tema Kegagalan Pasar di Sektor Pengetahuan. (dok CTIS)

Di sisi kelembagaan, perbaikan regulasi dan penguatan perlindungan hak kekayaan intelektual dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dalam berinvestasi pada inovasi.

Pemerintah juga didorong mengurangi hambatan masuk pasar (barrier to entry) dan meningkatkan tingkat persaingan agar perusahaan terdorong untuk terus berinovasi.

“Pembangunan ekonomi masa depan tidak dapat lagi bertumpu pada sumber daya alam semata. Keberhasilan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuannya mengelola, memproduksi, dan memanfaatkan pengetahuan sebagai sumber utama pertumbuhan,” kata Chairil.

Paparan tersebut mendapat tanggapan dari pakar penerbangan dan energi sekaligus guru besar bidang Aeronautical Engineering, Anton Adibroto. Ia menyoroti masih lemahnya penguasaan STEM di kalangan mahasiswa teknik penerbangan.

“Saat ini mahasiswa yang kuliah di bidang teknik penerbangan masih belum kuat di bidang STEM. Menghitung angka-angka matematika masih dibantu dengan kalkulator,” ujarnya sambil tertawa.

Sementara itu, mantan Duta Besar RI untuk Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Susanto Sutoyo, menilai tingginya angka putus sekolah di Indonesia turut memengaruhi kualitas sumber daya manusia dan memperburuk kegagalan pasar di sektor pengetahuan.

Pandangan serupa disampaikan Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Dr. Ali. Menurutnya, pelaku UMKM harus mampu naik kelas dengan terus mengembangkan inovasi produk agar dapat bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Indonesia Harus Hitung Emisi Karbon Sendiri untuk Perdagangan Global

Perdagangan karbon kini menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari setelah negara-negara di dunia menyepakati komitmen penurunan emisi melalui Paris Agreement. Kesepakatan tersebut menegaskan bahwa negara maju maupun negara berkembang memiliki tanggung jawab bersama dalam menekan emisi gas rumah kaca.

Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (8/7/2026), yang menghadirkan Peneliti Utama BRIN, Prof. Dr. Irhan Febijanto, dengan tema Life Cycle Assessment (LCA), Emisi Gas Rumah Kaca, dan Perdagangan Karbon.

Perdagangan karbon kini menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari setelah negara-negara di dunia menyepakati komitmen penurunan emisi melalui Paris Agreement
Peneliti Utama BRIN, Prof. Dr. Irhan Febijanto (tengah) didampingi Dewan Pembina CTIS, Soekotjo Soeparto (kiri) dan moderator Jarot S Suroso. (dok CTIS)

Irhan mengungkapkan dirinya telah meneliti dan mengembangkan metode penghitungan emisi karbon sejak awal tahun 2000-an. Saat itu, isu karbon belum menjadi perhatian utama dunia industri maupun perdagangan internasional.

“Pada awal 2000-an yang banyak dibahas adalah emisi COx dan SOx sebagai polutan. Karbon saat itu hanya dianggap angka emisi biasa. Sekarang produk ekspor tidak bisa masuk ke pasar internasional tanpa perhitungan jejak karbon,” ujarnya.

Menurut Irhan, penghitungan karbon kini telah menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan, terutama yang memiliki orientasi ekspor atau berhubungan dengan pasar global. Bahkan sektor perbankan mulai meminta laporan LCA sebagai bagian dari penilaian keberlanjutan perusahaan.

LCA sendiri merupakan metode untuk menghitung emisi gas rumah kaca dari seluruh siklus hidup produk, mulai dari bahan baku, proses produksi, distribusi, penggunaan, hingga pembuangan akhir. Dari penghitungan tersebut kemudian lahir berbagai instrumen ekonomi karbon seperti investasi karbon, pembelian sertifikat karbon, hingga perdagangan kuota emisi.

Komitmen pengurangan emisi kemudian diterjemahkan oleh masing-masing negara ke dalam target Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai kebijakan nasional.

Irhan menjelaskan, pada 2023 pemerintah sempat membatasi penjualan karbon ke luar negeri untuk memastikan kebutuhan domestik terpenuhi terlebih dahulu. Karena itu, transaksi karbon diarahkan melalui pasar karbon Indonesia.

“Permintaan karbon di Indonesia cukup besar dan banyak pihak lebih memilih membeli kredit karbon dari Indonesia karena lebih murah dibandingkan melakukan mitigasi emisi di negara maju,” katanya.

Indonesia juga dinilai memiliki keunggulan karena memiliki sumber daya hutan yang besar sebagai penyerap karbon alami. Sejak 2024, pemerintah mulai membuka peluang penjualan karbon ke luar negeri dengan syarat target NDC nasional telah terpenuhi.

Perdagangan karbon kini menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari setelah negara-negara di dunia menyepakati komitmen penurunan emisi melalui Paris Agreement
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (8/7/2026), yang menghadirkan Peneliti Utama BRIN, Prof. Dr. Irhan Febijanto, (no 3 dari kanan) dengan tema Life Cycle Assessment (LCA), Emisi Gas Rumah Kaca, dan Perdagangan Karbon. (dok CTIS)

Dalam perdagangan karbon internasional, salah satu instrumen penting adalah Monitoring, Reporting and Verification (MRV), yakni sistem pengukuran dan pelaporan emisi karbon yang menjadi dasar pengakuan kredit karbon.

Namun demikian, implementasi MRV di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah harmonisasi metode penghitungan dengan standar internasional seperti Verra.

Selain MRV, Indonesia juga telah memiliki Sistem Registri Nasional (SRN) yang menjadi pintu utama dalam perdagangan karbon nasional.

Irhan menambahkan, perhatian terhadap isu karbon kini juga datang dari sektor keuangan. Lembaga keuangan mulai memberikan insentif dan perhatian lebih kepada perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan yang baik.

Di sisi lain, regulasi internasional seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dari Uni Eropa mewajibkan produk impor memiliki informasi mengenai jejak karbon.

Ia mencontohkan, produk air minum dalam kemasan dari Indonesia yang diekspor ke Eropa harus memenuhi batas jejak karbon tertentu. Apabila emisi yang dihasilkan melebihi standar yang ditetapkan, maka eksportir wajib membeli sertifikat karbon sebagai kompensasi.

“Dengan membeli sertifikat karbon yang diakui di Eropa, maka produk tersebut dapat tetap dipasarkan di sana,” jelasnya.

Saat ini pemerintah telah menetapkan enam sektor prioritas yang wajib melakukan sertifikasi karbon melalui pendekatan LCA, yakni semen, pupuk, baja, hidrogen, listrik, dan aluminium.

Irhan menjelaskan bahwa LCA bekerja dengan menghitung seluruh input dan output dalam suatu sistem produksi. Metode ini juga pernah digunakan untuk menjawab kritik terhadap program cofiring biomassa di PLTU batu bara yang dituding meningkatkan emisi karbon hingga 26 juta ton CO2.

“Tuduhan tersebut muncul karena asumsi yang digunakan adalah biomassa berasal dari hutan primer yang ditebang. Padahal yang digunakan PLN selama ini adalah limbah biomassa atau waste, bukan dari hutan primer,” katanya.

Perdagangan karbon kini menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari setelah negara-negara di dunia menyepakati komitmen penurunan emisi melalui Paris Agreement.
PLTU Surayala. (dok PLN)

Menurut dia, keterbatasan data nasional menjadi tantangan utama dalam penghitungan emisi karbon Indonesia. Selama ini banyak penghitungan masih menggunakan basis data dari Eropa yang belum tentu sesuai dengan kondisi dalam negeri.

“Kalau menggunakan data Eropa, hasil perhitungan emisi Indonesia bisa terlihat lebih tinggi. Korea pernah mengalami hal serupa dan setelah menggunakan data sendiri angkanya turun sekitar 32 persen,” ujarnya.

Ia menilai pengembangan basis data emisi nasional akan sangat membantu Indonesia dalam mempercepat pencapaian target net zero emission tanpa harus menunggu hingga 2060.

Selain perdagangan karbon berbasis pasar, Irhan juga menyinggung mekanisme kerja sama internasional seperti Joint Crediting Mechanism (JCM) yang dikembangkan Jepang. Skema tersebut menggunakan model investasi karbon berbasis hibah dengan pembagian manfaat antara Indonesia dan Jepang.

Di sisi lain, perdagangan karbon domestik saat ini masih didominasi oleh transaksi antarperusahaan pembangkit listrik untuk memenuhi kewajiban pengurangan emisi dan target keberlanjutan perusahaan.

Konsep jejak karbon produk juga semakin berkembang di tingkat global. Bahkan secangkir kopi kini dapat dihitung emisinya, mulai dari proses penanaman, distribusi, hingga disajikan di meja kafe.

“Ini sudah menjadi bagian dari daya saing produk di pasar internasional dan sekaligus instrumen perdagangan baru,” katanya.

Perdagangan karbon kini menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari setelah negara-negara di dunia menyepakati komitmen penurunan emisi melalui Paris Agreement
KRL Commuter Jabodetabek

Indonesia sendiri telah melakukan penghitungan jejak karbon untuk layanan KRL Jabodetabek dengan hasil emisi sebesar 34,03 gram CO2e per penumpang-kilometer. Tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh sumber listrik nasional yang masih didominasi pembangkit berbasis batu bara.

Karena itu, Irhan menilai Indonesia harus membangun sistem penghitungan emisi sendiri agar memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam perdagangan karbon internasional.

Apalagi pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional yang menggantikan Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021.

Regulasi tersebut diharapkan dapat memperluas skema perdagangan karbon nasional sekaligus mendukung pencapaian target NDC Indonesia.

Irhan bersama tim BRIN saat ini juga terlibat dalam sejumlah proyek karbon strategis nasional. Salah satunya adalah proyek karbon panas bumi bersertifikat SRN terbesar di Indonesia.

Selain itu, timnya juga memantau operasional PLTGU terbesar di Asia Tenggara setelah memperoleh persetujuan SRN serta mendorong pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga air melalui mekanisme Pasal 6.4 UNFCCC.

“Hingga saat ini sudah ada sekitar 10 perusahaan yang kami dampingi. Berikutnya adalah pengembangan proyek PLTS grid terbesar di Indonesia,” pungkasnya.***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Teknologi Konstruksi Jembatan dan Faktor Keselamatan Struktur

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil. Berbagai inovasi tersebut menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur yang aman, kuat, dan berkelanjutan.

Hal itu menjadi topik utama diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita. Diskusi menghadirkan Ketua CTIS, Wendy Aritenang, sebagai narasumber.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita menghadirkan Wendy Aritenang (nomor 2 dari kiri) sebagai narasumber. (dok CTIS)

Wendy menjelaskan bahwa pembangunan jembatan tidak hanya berkaitan dengan aspek konstruksi, tetapi juga melibatkan berbagai pertimbangan teknis, mulai dari pemilihan jenis jembatan, komponen struktur, faktor keselamatan, hingga pembelajaran dari berbagai kasus kegagalan jembatan di dunia.

“Banyak teknologi perancangan konstruksi serta berbagai pertimbangan struktural pada jembatan, termasuk jenis-jenis jembatan, komponen penyusunnya, faktor keselamatan, hingga studi kasus kegagalan jembatan yang menjadi pelajaran penting dalam dunia teknik sipil,” ujar Wendy.

Ia menjelaskan, infrastruktur transportasi memiliki beragam bentuk, seperti jembatan, jalan layang (flyover), terowongan bawah jalan (underpass), hingga perlintasan kereta api. Masing-masing memiliki fungsi dan pertimbangan desain yang berbeda sesuai kondisi lapangan.

Menurut Wendy, jembatan dibangun untuk mengatasi hambatan alam maupun buatan, seperti sungai, selat, lembah, hingga persimpangan jalan. Panjang dan bentang jembatan disesuaikan dengan karakteristik lokasi.

Sementara itu, pembangunan flyover dan underpass bertujuan menghilangkan perlintasan sebidang kereta api, mengurangi kemacetan, serta mengoptimalkan pemanfaatan ruang perkotaan. Sebagai contoh, ia menyinggung pembangunan jalur MRT dan LRT di sejumlah kota.

Komponen Penting Jembatan

Wendy memaparkan sejumlah komponen utama dalam pembangunan jembatan, di antaranya box girder, hawk box girder, rigid body roller, pier head (kepala pilar), pile cap, serta pondasi.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita. (dok CTIS)

Selain itu terdapat elemen struktur lain seperti girder baja berbentuk U, diafragma internal dan eksternal, serta pelat beton. Seluruh komponen tersebut berfungsi mendistribusikan beban sekaligus menjaga stabilitas struktur jembatan.

Struktur pilar (pier) sendiri terdiri atas pier head, pile cap, pondasi, dan kolom penyangga yang dipadukan dengan berbagai tipe girder sesuai kebutuhan konstruksi.

Dalam perancangan jembatan, insinyur juga harus memperhitungkan berbagai jenis beban, mulai dari beban mati, beban hidup, beban kejut, gaya horizontal seperti gaya sentrifugal, gaya lateral, gaya pengereman, hingga gaya longitudinal.

Selain itu, terdapat pula beban angin, gempa bumi, tekanan air, serta tekanan tanah aktif yang harus menjadi bagian dari perhitungan desain.

“Fenomena aerodinamika seperti vortex shedding dan flutter menjadi perhatian khusus pada jembatan gantung maupun cable-stayed karena dapat mengganggu stabilitas struktur,” jelasnya.

Belajar dari Kasus Keruntuhan Jembatan

Wendy juga mengulas sejumlah kasus keruntuhan jembatan di berbagai negara sebagai pembelajaran bagi dunia teknik sipil.

Salah satunya adalah runtuhnya Jembatan Tacoma di Amerika Serikat. Saat kejadian, kecepatan angin sekitar 42 mph atau 67 km/jam memicu osilasi torsi yang semakin besar hingga menyebabkan jembatan ambruk.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas struktur dan desain aerodinamika merupakan aspek yang sangat penting untuk mencegah kegagalan konstruksi.

Contoh lainnya adalah Jembatan Laagen River di Norwegia yang ambruk akibat kerusakan pondasi. Sementara itu, Jembatan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur runtuh karena kegagalan kabel hanger yang dipicu kelemahan struktur dan minimnya pemeliharaan.

Ia juga menyoroti penggunaan besi cor (cast iron) yang rapuh pada beberapa konstruksi lama, yang dinilai memiliki kekuatan lebih rendah dibandingkan baja.

Selain itu, jembatan gantung di China dilaporkan ambruk akibat retakan struktur dan pergeseran tanah. Sementara jembatan rangka baja jalur kereta api di atas Sungai Glagah, Tonjong, Brebes, runtuh akibat banjir, usia struktur yang telah tua, serta benturan material hanyut.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
Jembatan Ampera. (dok Pemkot Palembang)

Pondasi Menjadi Kunci Kekuatan Struktur

Menurut Wendy, pondasi merupakan elemen terpenting dalam pembangunan jembatan maupun gedung bertingkat.

Ia mengibaratkan pondasi tiang sebagai paku raksasa yang menembus lapisan tanah lunak hingga mencapai batuan dasar (bedrock), sehingga mampu menopang beban struktur yang sangat besar.

Saat ini, penggunaan tiang pancang beton modern semakin banyak diterapkan untuk menjamin stabilitas konstruksi berskala besar.

“Keberadaan pondasi sangat menentukan kekuatan struktur, terutama pada wilayah dengan kondisi tanah lunak atau tidak stabil. Lapisan batuan dasar (bedrock) memberikan daya dukung yang tinggi bagi bangunan maupun jembatan bertingkat besar,” kata Wendy.

Perancangan pondasi yang baik, lanjutnya, dapat mencegah berbagai kegagalan struktur, termasuk pergeseran maupun penurunan pondasi yang menjadi penyebab sejumlah kasus keruntuhan jembatan.

Di akhir diskusi, Wendy menegaskan bahwa kelemahan struktur, cacat material, dan kurangnya pemeliharaan merupakan penyebab utama runtuhnya jembatan.

Ia menambahkan, fenomena aerodinamika seperti vortex shedding dan flutter juga dapat memicu keruntuhan apabila tidak diantisipasi sejak tahap perancangan.

Karena itu, desain aerodinamika yang baik, pemilihan material yang tepat, inspeksi rutin, serta pemeliharaan berkala menjadi faktor penting untuk menjamin keselamatan dan umur layanan jembatan.

“Integritas pondasi harus selalu dijaga karena kerusakan pondasi dapat menyebabkan kegagalan struktur secara keseluruhan. Pemantauan berkelanjutan serta kepatuhan terhadap standar rekayasa teknik sangat diperlukan untuk mencegah kecelakaan dan menjamin umur layanan jembatan,” pungkasnya.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Profesionalisme dan Sertifikasi Jadi Kunci Daya Saing Insinyur Indonesia

Ketua IV Koordinator Infrastruktur Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Ir Bambang Goeritno MSc., menegaskan pentingnya penguatan profesionalisme dan kompetensi insinyur dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional, transformasi digital, serta transisi energi. Hal itu disampaikannya dalam diskusi CTIS bertajuk Profesi Insinyur dan Perannya dalam Pembangunan, Rabu (24/6/2026).

Ketua IV Koordinator Infrastruktur CTIS, Bambang Goeritno, menegaskan pentingnya penguatan profesionalisme dan kompetensi insinyur dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional
Ketua IV Koordinator Infrastruktur CTIS, Ir. Bambang Goeritno, MSc. MPA.IPU, narasumber diskusi CTIS bertajuk Profesi Insinyur dan Perannya dalam Pembangunan, Rabu (24/6/2026). (Dok CTIS)

Menurut Bambang, profesi insinyur di Indonesia memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Regulasi tersebut mengatur praktik keinsinyuran sekaligus memastikan perlindungan bagi masyarakat melalui penerapan standar kompetensi dan etika profesi.

“Keinsinyuran adalah kegiatan teknik yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan nilai tambah dan daya guna bagi masyarakat. Profesi ini menerapkan prinsip-prinsip sains dan matematika dalam merancang, membangun, serta menguji berbagai solusi, sistem, maupun infrastruktur secara aman dan efisien,” ujar Bambang.

Ia menjelaskan bahwa praktik keinsinyuran mencakup berbagai bidang, mulai dari teknik sipil, kebumian, teknologi kelautan, kedirgantaraan, pertanian, hingga pengelolaan sumber daya alam.

Bambang menambahkan, gelar Insinyur (Ir.) saat ini merupakan gelar profesi yang diperoleh melalui Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) yang terakreditasi dan teregistrasi di Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

“Di Indonesia, gelar Insinyur (Ir.) kini setara dengan gelar profesi seperti dokter, akuntan, atau advokat, bukan lagi gelar akademik,” katanya.

Selain mengatur praktik profesi, UU Keinsinyuran juga mengakomodasi berbagai aspek strategis, antara lain peningkatan daya saing global, keselamatan publik dan lingkungan, penguatan peran insinyur dalam industri, pengelolaan tenaga insinyur asing, pengembangan inovasi, serta pemutakhiran pengetahuan dan kompetensi.

Profesionalisme dan Etika Profesi

Dalam paparannya, Bambang menekankan bahwa profesionalisme keinsinyuran tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga mencakup tanggung jawab moral dan sosial.

Ketua IV Koordinator Infrastruktur CTIS, Bambang Goeritno, menegaskan pentingnya penguatan profesionalisme dan kompetensi insinyur dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional
Diskusi CTIS bertajuk Profesi Insinyur dan Perannya dalam Pembangunan, Rabu (24/6/2026). (dok CTIS)

“Profesionalisme keinsinyuran adalah komitmen moral, keahlian teknis, dan tanggung jawab sosial seorang insinyur dalam menerapkan ilmu pengetahuannya. Hal ini diwujudkan melalui kepatuhan terhadap standar keselamatan publik, integritas tinggi, serta dedikasi untuk memberikan solusi berkelanjutan yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa standar profesionalisme insinyur di Indonesia bertumpu pada beberapa pilar utama, yaitu Sapta Dharma Insinyur Indonesia, kepemilikan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) sebagai bukti kompetensi profesi, serta pendidikan dan pelatihan berkelanjutan guna mengikuti perkembangan teknologi dan regulasi.

Menurut Bambang, seorang insinyur profesional harus memiliki kompetensi teknis yang kuat, kreativitas dan inovasi dalam menyelesaikan persoalan, integritas tinggi, serta kepedulian terhadap dampak sosial dan lingkungan dari setiap proyek yang dikerjakan.

“Profesionalisme bukan hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga bagaimana seorang insinyur mampu menjaga standar moral dan memberikan layanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya kode etik profesi sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan profesional sekaligus untuk mencegah tindakan yang dapat merugikan masyarakat maupun lingkungan.

Ketua IV Koordinator Infrastruktur CTIS, Bambang Goeritno, menegaskan pentingnya penguatan profesionalisme dan kompetensi insinyur dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional
Pembangunan ruas jalan tol karya insinyur Indonesia. (dok PUPR )

Tantangan dan Peluang

Bambang menyoroti bahwa sejumlah kegagalan proyek infrastruktur yang pernah terjadi menunjukkan pentingnya profesionalisme dan kepatuhan terhadap kode etik.

“Kurangnya profesionalisme dan pelanggaran kode etik dapat berdampak pada kerugian finansial, risiko keselamatan publik, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap profesi insinyur,” ujarnya.

Meski demikian, masih terdapat sejumlah tantangan dalam meningkatkan profesionalisme insinyur di Indonesia, seperti standar sertifikasi yang perlu terus diperkuat, keterbatasan pelatihan berkelanjutan, serta rendahnya kesadaran terhadap pentingnya kode etik dalam praktik keinsinyuran.

Sertifikasi Internasional dan Penguasaan Teknologi

Ketua IV Koordinator Infrastruktur CTIS, Bambang Goeritno, menegaskan pentingnya penguatan profesionalisme dan kompetensi insinyur dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional.
Peserta diskusi CTIS bertajuk Profesi Insinyur dan Perannya dalam Pembangunan, Rabu (24/6/2026) berfoto bersama Ketua V Bidang Pangan dan Pertanian CTIS, Prof Dr Tien R Muchtadi yang hadir secara daring. (dok CTIS)

Di akhir diskusi, Bambang menegaskan bahwa penguatan kompetensi insinyur menjadi amanat penting dalam UU Keinsinyuran.

“Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 mengamanatkan penguatan kompetensi Insinyur Indonesia melalui sertifikasi Insinyur Profesional (Professional Engineer/PE) dan program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (Continuing Professional Development/CPD),” katanya.

Ia menambahkan bahwa daya saing global insinyur Indonesia perlu diperkuat melalui sertifikasi internasional yang difasilitasi PII, baik melalui Mutual Recognition Agreement (MRA) antarnegara maupun kerja sama dalam berbagai aliansi keinsinyuran internasional.

“Insinyur profesional perlu menguasai digitalisasi dan otomatisasi agar mampu memberikan layanan jasa keinsinyuran yang berkualitas tinggi dengan proses yang lebih cepat dan efisien,” ujarnya.

Lebih lanjut, Bambang menilai peran insinyur Indonesia akan semakin strategis dalam era transisi energi.

“Peran Insinyur Indonesia pada era transisi energi semakin dominan dan strategis dalam mendukung pencapaian target Net Zero Emission (NZE),” pungkasnya.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Potensi Industri Ban Pesawat Nasional, Peluang Baru bagi Karet Indonesia

Indonesia memiliki peluang besar membangun industri ban pesawat nasional berbasis karet alam. Selain didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, Indonesia juga merupakan produsen karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand.

Ahli Perekayasa Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ir. Lies Agustine Wisojodharmo, mengatakan hingga kini sekitar 80 persen produksi karet alam Indonesia masih diekspor dalam bentuk bahan baku mentah. Kondisi tersebut membuat nilai tambah yang diperoleh di dalam negeri masih rendah.

Indonesia memiliki peluang besar membangun industri ban pesawat nasional berbasis karet alam.
Ahli Perekayasa Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ir. Lies Agustine Wisojodharmo

Menurut Lies, pengembangan industri hilir yang mengolah karet alam menjadi produk bernilai tinggi menjadi kebutuhan strategis, salah satunya melalui pengembangan industri ban pesawat terbang nasional.

“Ban pesawat menjadi salah satu produk industri yang potensial untuk meningkatkan pemanfaatan karet alam di dalam negeri,” ujar Lies dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema Potensi Industri Ban Pesawat di Indonesia untuk Meningkatkan Konsumsi Karet Alam Dalam Negeri, Rabu (17/6/2026).

Ban pesawat merupakan komponen vital yang menentukan keselamatan penerbangan, terutama saat proses take off dan landing. Saat ini sebagian besar maskapai di Indonesia menggunakan ban hasil retread atau vulkanisir ulang karena kualitas dan tingkat keamanannya setara dengan ban baru serta telah memenuhi standar pengujian yang sama.

Berdasarkan Surat Edaran Nomor DSKU/2886/STD/2007, proses retread ban pesawat dapat dilakukan hingga tiga kali (R-3). Pasokan ban retread di kawasan Asia saat ini didominasi perusahaan global seperti Goodyear, Goodrich, Bridgestone, dan Michelin yang memiliki fasilitas produksi di Hong Kong dan Thailand.

Reverse Engineering Ban Boeing

Lies mengungkapkan, upaya pengembangan ban pesawat nasional dimulai sejak 2013 ketika masih bertugas di Pusat Teknologi Material BPPT. Saat itu, tim peneliti mencoba menjalin kerja sama lisensi dengan produsen ban pesawat luar negeri, namun tidak mendapatkan respons positif.

Indonesia memiliki peluang besar membangun industri ban pesawat nasional berbasis karet alam.
Proses witness prototipe setelah di keluarkan dr “Climatic Chamber” setelah disimpan selama 24 jam pd temperatur dingin (- 40 ºC) dan temperatur panas (+72 ºC). (dok BPPT)

Sebagai alternatif, BPPT melakukan pendekatan reverse engineering dengan membeli ban baru pesawat Boeing 737-800 dan membongkar struktur materialnya untuk dipelajari.

“Dari proses reverse engineering tersebut diketahui bahwa komponen tapak atau tread ban pesawat membutuhkan porsi karet alam yang cukup besar,” kata Lies.

Sejak 2014, BPPT mulai merumuskan struktur lapisan ban pesawat dan mengembangkan berbagai formulasi kompon karet. Tim riset berhasil menghasilkan 12 formula kompon karet dan memilih formulasi terbaik untuk digunakan sebagai tapak ban pesawat.

Selain itu, berbagai peralatan produksi dan karakterisasi material juga dikembangkan untuk mendukung riset ban pesawat berbasis karet alam.

Potensi Pasar Mencapai Rp100 Miliar

Lies menilai prospek pasar ban pesawat di Indonesia cukup besar. Ban pesawat umumnya memiliki umur pakai sekitar 180-200 siklus penerbangan sehingga membutuhkan proses retread secara berkala.

Indonesia memiliki peluang besar membangun industri ban pesawat nasional berbasis karet alam.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertema Potensi Industri Ban Pesawat di Indonesia untuk Meningkatkan Konsumsi Karet Alam Dalam Negeri, Rabu (17/6/2026). (Dok CTIS)

Untuk pesawat Boeing 737-800 dan 737-900 saja, kebutuhan retread ban di Indonesia diperkirakan mencapai hampir 5.000 unit per tahun dengan nilai pasar sekitar Rp100 miliar.

Sementara itu, peluang juga terbuka pada segmen pesawat perintis dan general aviation seperti Twin Otter dan Cessna.

Indonesia saat ini mengoperasikan sekitar 75 unit pesawat Twin Otter yang membutuhkan sekitar 900 ban retread setiap tahun. Harga satu ban baru Twin Otter mencapai sekitar Rp30 juta, sedangkan biaya retread di luar negeri berikut transportasinya sekitar Rp16,5 juta per unit.

Menurut Lies, biaya produksi retread di dalam negeri diperkirakan hanya sekitar Rp3 juta per ban.

“Potensi penghematan devisa dari industri retread ban pesawat Twin Otter di Indonesia dapat mencapai lebih dari Rp12 miliar,” ujarnya.

Tantangan Sertifikasi

Perjalanan riset tidak selalu berjalan mulus. Prototipe ban retread untuk Boeing dan Twin Otter yang dikembangkan BPPT telah menjalani berbagai pengujian, termasuk uji take-off cycle di Lanyu Tire Aircraft Development Co., Guilin, China, pada 2020.

Indonesia memiliki peluang besar membangun industri ban pesawat nasional berbasis karet alam.
DKPPU Kementerian Perhubungan mengecek kondisi ban. (Dok BPPT)

Dalam pengujian tersebut, prototipe awal masih mengalami kegagalan sehingga tim peneliti melakukan berbagai penyempurnaan pada proses retreading dan formulasi material.

Hasil evaluasi menunjukkan karakteristik kompon karet yang dikembangkan BPPT memiliki performa yang mendekati produk ban pesawat komersial buatan Goodyear.

Tim peneliti juga telah berhasil menghasilkan tiga unit prototipe ban Twin Otter serta memperoleh paten untuk teknologi kompon tapak ban pesawat berbasis karet alam.

Namun hingga kini, teknologi tersebut masih menghadapi tantangan pada tahap sertifikasi dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan sebelum dapat diproduksi secara komersial.

“Saya berharap riset ini dapat dilanjutkan hingga memperoleh sertifikasi sehingga bisa dikomersialkan dan industri ban pesawat nasional dapat dibangun di Indonesia,” kata Lies.

Peluang Kolaborasi Internasional

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menyambut positif capaian riset tersebut dan menyatakan kesediaannya membantu membuka peluang kerja sama dengan universitas maupun lembaga riset di Amerika Serikat yang memiliki kompetensi di bidang teknologi ban pesawat.

Beberapa institusi yang dinilai potensial untuk dijajaki kerja sama antara lain University of Akron, University of Connecticut, serta Goodyear Tire  & Rubber Company.

“Saya akan mencoba menghubungi universitas dan lembaga riset tersebut untuk membuka peluang kolaborasi,” ujar Indroyono.

Sementara itu, Ketua I Koordinator Bidang Industri Manufaktur CTIS, Anton Adibroto, mendukung rencana kerja sama dengan Goodyear mengingat pengalaman panjang perusahaan tersebut dalam industri ban pesawat global.

Pengembangan industri ban pesawat nasional dinilai tidak hanya dapat meningkatkan konsumsi karet alam dalam negeri, tetapi juga memperkuat ekosistem industri penerbangan, menghemat devisa, serta meningkatkan kesejahteraan petani karet Indonesia.