Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Hilirisasi dan Teknologi Buka Peluang Baru Sektor Pertanian

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global. Selain meningkatkan produksi untuk mencapai swasembada, pemerintah juga mendorong modernisasi usaha tani, pemanfaatan teknologi, pelibatan generasi muda, serta hilirisasi komoditas guna meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.

Hal tersebut menjadi pokok pemikiran Dr. Ir. Sam Herodian, MS, IPU, APEC Eng, Staf Khusus Menteri Pertanian RI, dalam diskusi digelar oleh Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu 30 September 2026.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Diskusi CTIS bertema Ketersediaan, Kemandirian, dan Swasembada Pangan, Rabu (30/9/2026). (dok CTIS)

Tema yang diangkat adalah Ketersediaan, Kemandirian, dan Swasembada Pangan, dengan pengantar oleh Ketua CTIS, Wendy Aritenang dan moderator Ketua Komisi Pertanian dan Pangan, Prof Tien R. Muchtadi.

Menurut Sam, upaya memperkuat ketahanan pangan perlu dilakukan secara menyeluruh. Peningkatan produksi harus diikuti pembenahan sistem usaha tani, penerapan teknologi modern, serta pengembangan industri pengolahan agar sektor pertanian mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia adalah dinamika pangan global yang dipengaruhi perubahan iklim, konflik geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas. Kondisi tersebut mendorong perlunya penguatan produksi dalam negeri sekaligus menjaga keberlanjutan sektor pertanian,” kata Sam.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Presiden Prabowo Subianto menyaksikan secara langsung panen raya tebu di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, pada Jumat, 17 Juli 2026. Foto: BPMI Setpres/Cahyo

Percepatan Swasembada dan Modernisasi Pertanian

Pemerintah Indonesia telah mempercepat target swasembada pangan. Target yang semula direncanakan dalam empat tahun pada Oktober 2024, kemudian dipercepat menjadi tiga tahun pada November 2024 dan satu tahun pada Januari 2025. Pemerintah selanjutnya menyatakan swasembada pangan tercapai pada 31 Desember 2025.

Dalam perkembangannya, pemerintah juga menyampaikan capaian swasembada delapan komoditas pangan utama, yakni beras, cabai besar, cabai rawit, jagung, gula konsumsi, daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang merah.

Namun, keberlanjutan capaian tersebut membutuhkan penguatan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah penerapan pertanian modern melalui mekanisasi dan pemanfaatan teknologi digital.

Penggunaan drone untuk penebaran benih, mesin pengolah tanah, serta mesin panen terintegrasi menjadi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi kegiatan pertanian. Modernisasi tersebut juga membuka peluang bagi generasi milenial dan Gen Z untuk terlibat dalam sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Pelibatan generasi muda menjadi relevan mengingat Indonesia tengah menikmati bonus demografi, dengan lebih dari 212 juta penduduk berada dalam kelompok usia produktif. Pemanfaatan sumber daya manusia tersebut diharapkan dapat mendukung regenerasi petani sekaligus mempercepat adopsi inovasi pertanian.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Dr. Ir. Sam Herodian, MS, IPU, APEC Eng, Staf Khusus Menteri Pertanian RI (duduk nomor 2 dari kiri) didampingi Ketua CTIS Wendy Aritenang dan moderator Prof Tien R Muchtadi. (dok CTIS)

Produktivitas Usaha Tani dan Kesejahteraan Petani

Modernisasi juga dapat dilihat dari perbandingan hasil analisis usaha tani tradisional dan modern dengan pendekatan PM-AAS yang dipaparkan dalam materi Sam.

Dalam perbandingan tersebut, produktivitas usaha tani modern mencapai 12,4 ton per hektare, sedangkan metode tradisional menghasilkan 5,2 ton per hektare. Dengan asumsi harga gabah Rp6.500 per kilogram, keuntungan bersih usaha tani modern tercatat Rp65,43 juta per hektare per musim, dibandingkan Rp20,79 juta pada metode tradisional.

Perbandingan tersebut menunjukkan potensi peningkatan produktivitas dan pendapatan melalui penerapan metode pertanian modern. Meski demikian, penerapannya tetap memerlukan perhitungan biaya, kesesuaian teknologi dengan kondisi lahan, serta dukungan sarana produksi.

Penguatan produktivitas juga perlu diikuti kebijakan yang menjaga kesejahteraan petani. Peningkatan hasil produksi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, tetapi juga harus memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku utama sektor pertanian.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
dok CTIS

Hilirisasi untuk Meningkatkan Nilai Tambah

Selain modernisasi usaha tani, Sam menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai bagian dari transformasi pertanian. Selama ini, sebagian komoditas pertanian masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi. Pengolahan lebih lanjut membuka peluang peningkatan nilai tambah sekaligus memperluas kesempatan kerja.

Sejumlah komoditas yang memiliki potensi pengembangan hilirisasi antara lain kelapa, kakao, kopi, tebu, kelapa sawit, mete, lada, ubi kayu, dan ayam.

Kelapa menjadi salah satu contoh komoditas yang dapat dikembangkan melalui pendekatan pemanfaatan seluruh bagian tanaman. Air kelapa dapat diolah menjadi nata de coco, cuka, kecap, dan minuman. Daging kelapa dapat diolah menjadi minyak goreng, virgin coconut oil (VCO), serta berbagai produk turunan lainnya.

Sementara itu, tempurung kelapa dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan arang dan arang aktif. Sabut kelapa dapat diolah menjadi cocopeat, serat, dan geotekstil. Bahkan, batang dan lidi kelapa juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi, tetapi juga pada diversifikasi produk dan optimalisasi pemanfaatan sumber daya.

Pengembangan industri pengolahan di sentra produksi juga berpotensi memperkuat keterkaitan antara petani, industri, dan pasar. Dengan demikian, rantai nilai pertanian tidak berhenti pada kegiatan budidaya, tetapi berlanjut hingga pengolahan dan pemasaran produk.

Transformasi sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting Indonesia dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan global.
Kelapa menjadi salah satu contoh komoditas yang dapat dikembangkan melalui pendekatan pemanfaatan seluruh bagian tanaman. (dok disbun.kokarkab.go.id)

Menghadapi Tantangan Pangan Global

Transformasi pertanian Indonesia berlangsung di tengah perubahan produksi pangan dunia. Berdasarkan proyeksi FAO tertanggal 18 Juni 2026, produksi beras global diperkirakan turun 1,6 persen, dari 561,6 juta ton menjadi 552,4 juta ton pada periode 2026/2027.

Sebaliknya, produksi beras Indonesia diproyeksikan meningkat 0,2 persen, dari 38,5 juta ton menjadi 38,6 juta ton. Dalam proyeksi tersebut, Indonesia menempati posisi produsen beras terbesar di ASEAN dan peringkat keempat dunia.

Selain peningkatan produksi, penguatan cadangan pangan dan perdagangan pertanian juga menjadi bagian dari strategi ketahanan pangan nasional. Diversifikasi produk serta pengembangan pasar ekspor dapat memperluas peluang ekonomi sektor pertanian.

“Ke depan, keterkaitan antara peningkatan produktivitas, modernisasi teknologi, regenerasi petani, dan hilirisasi menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pertanian Indonesia,” kata Sam.

Pemanfaatan teknologi di tingkat budidaya perlu berjalan beriringan dengan pengembangan industri pengolahan dan penguatan rantai pasok. Dengan pendekatan tersebut, pertanian tidak hanya berperan sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai sumber penciptaan nilai tambah, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.

Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memastikan peningkatan produksi dan investasi di sektor pertanian dapat berjalan berkelanjutan, sekaligus memperluas manfaatnya bagi petani dan masyarakat.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Bangkitkan Rusnas, Dorong Ekspor Buah Lokal

Indonesia dikenal memiliki kekayaan buah-buahan tropis lokal yang sangat beragam. Keunikan dan cita rasa eksotis buah-buah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara, sekaligus menjadi potensi unggulan dalam perdagangan global.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) tahun 2019 mencatat, Indonesia merupakan negara penyedia buah tropis terbesar kelima di dunia, setelah India, China, Thailand, dan Meksiko. Namun, dari total produksi nasional, ekspor buah Indonesia ke pasar global masih kurang dari 5 persen, dengan tujuan utama kawasan ASEAN, Australia, dan Timur Tengah. Komoditas andalan ekspor di antaranya manggis, salak, pepaya, dan mangga.

Isu ini menjadi perhatian dalam diskusi yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Rusnas dan Teknik Biocyclofarming”, pada Rabu, 18 Juni 2025. Hadir sebagai pembicara utama, Prof. Dr. Tien Muchtadi, Ketua Komite Agriculture CTIS sekaligus mantan Deputi Menristek.

 ekspor buah Indonesia ke pasar global masih kurang dari 5 persen, dengan tujuan utama kawasan ASEAN, Australia, dan Timur Tengah
Diskusi CTIS) bertajuk “Rusnas dan Teknik Biocyclofarming”, Rabu, 18 Juni 2025. Pembicara utama, Prof. Dr. Tien Muchtadi (duduk tengah), Ketua Komite Agriculture CTIS.

Tien mengungkapkan, saat menjabat sebagai Deputi Menristek di era Menteri Hatta Rajasa, pemerintah telah menyusun peta jalan teknologi (technology roadmap) untuk pengembangan buah tropis Indonesia. Peta jalan ini menjadi dasar lahirnya Riset Unggulan Strategis Nasional (Rusnas) sektor pertanian yang fokus pada pengembangan buah unggulan berbasis riset.

Inovasi Berbasis Pasar dan Potensi Lokal

Menurut Tien, peta jalan teknologi penting untuk memahami tantangan masa depan, memperkuat kolaborasi, serta mengurangi risiko investasi teknologi. Roadmap ini juga membantu mengidentifikasi teknologi kunci, menutup kesenjangan inovasi, dan memperluas akses industri terhadap hasil riset dan pengembangan (R&D).

“Inovasi yang dihasilkan harus terserap pasar dan bisa ditangkap oleh industri,” jelas Tien. Salah satu hasil nyata dari Rusnas adalah pengembangan pepaya varietas Calina yang lebih dikenal sebagai pepaya California. Varietas ini merupakan hasil pemuliaan peneliti IPB dan kini banyak ditanam petani di seluruh Indonesia karena tingginya permintaan dalam dan luar negeri.

ekspor buah Indonesia ke pasar global masih kurang dari 5 persen, dengan tujuan utama kawasan ASEAN, Australia, dan Timur Tengah
Pengembangan pepaya varietas Calina yang lebih dikenal sebagai pepaya California. (Dok IPB)

Selain pepaya, beberapa komoditas lain yang dikembangkan lewat Rusnas adalah nanas madu dan manggis tanpa biji. Manggis asal Indonesia dikenal luas karena rasanya manis dan ukuran daging buah yang besar. Produk-produk ini mulai mendominasi pasar modern dan tradisional serta menjadi komoditas ekspor andalan.

Tien menegaskan, Rusnas telah dirancang dengan tujuan besar menjadikan Indonesia sebagai produsen buah tropika terkemuka di ASEAN pada 2025, dan eksportir terbesar dunia pada 2045.

ekspor buah Indonesia ke pasar global masih kurang dari 5 persen, dengan tujuan utama kawasan ASEAN, Australia, dan Timur Tengah.
Pisang, buah tropis yang banyak ditemui di Indonesia merupakan salah satu buah tropika unggulan (dok IPB)

Pentingnya Keberlanjutan dan Dukungan Pemerintah

Sayangnya, menurut Tien, program Rusnas tidak dilanjutkan setelah pembubaran Kemenristek. Hal ini dikhawatirkan menghambat visi besar Indonesia di sektor buah tropis.

Sebagai perbandingan, Tien menyebut keberhasilan Kosta Rika yang dijuluki Banana Republic karena ekspor pisangnya mendominasi pasar dunia. Negara tersebut berhasil mengintegrasikan riset dan teknologi untuk menghasilkan pisang berkualitas ekspor. Contoh lain adalah Argentina yang telah menerapkan teknologi mutakhir untuk pemotongan sapi secara halal dan efisien.

Tien berharap, peta jalan teknologi dan program Rusnas bisa kembali dihidupkan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. “Saya ingin bertemu Presiden Prabowo agar ada kebijakan kelanjutan Rusnas. Beliau pernah memimpin HKTI dan sangat peduli terhadap isu ketahanan pangan,” ujarnya.

Peran Agro Techno Park dan UKM Teknologi

Dukungan terhadap hasil Rusnas juga sempat diwujudkan melalui pembangunan Agro Techno Park (ATP) di sejumlah daerah. ATP berfungsi sebagai pusat riset dan pengembangan teknologi pertanian, termasuk budidaya buah tropika.

“Bibit hasil riset kami ditanam di ATP hingga panen. Kemudian melalui mitra swasta, bibit tersebut dijual ke petani untuk dikembangkan di lahan mereka,” jelas Tien.

Tien menambahkan, Rusnas juga mengarah pada penguatan rantai pasok teknologi dan pengembangan klaster industri berbasis UKM, dengan sektor prioritas seperti budidaya kerapu, buah unggulan, pangan pokok, industri hilir sawit, dan small engine.

Namun tanpa keberlanjutan, potensi ini berisiko hilang. “Impian saya menjadikan pisang sebagai proyek padat karya nasional, seperti di Kosta Rika, belum terwujud,” ujar Tien penuh harap.***