Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Teknologi Konstruksi Jembatan dan Faktor Keselamatan Struktur

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil. Berbagai inovasi tersebut menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur yang aman, kuat, dan berkelanjutan.

Hal itu menjadi topik utama diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita. Diskusi menghadirkan Ketua CTIS, Wendy Aritenang, sebagai narasumber.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita menghadirkan Wendy Aritenang (nomor 2 dari kiri) sebagai narasumber. (dok CTIS)

Wendy menjelaskan bahwa pembangunan jembatan tidak hanya berkaitan dengan aspek konstruksi, tetapi juga melibatkan berbagai pertimbangan teknis, mulai dari pemilihan jenis jembatan, komponen struktur, faktor keselamatan, hingga pembelajaran dari berbagai kasus kegagalan jembatan di dunia.

“Banyak teknologi perancangan konstruksi serta berbagai pertimbangan struktural pada jembatan, termasuk jenis-jenis jembatan, komponen penyusunnya, faktor keselamatan, hingga studi kasus kegagalan jembatan yang menjadi pelajaran penting dalam dunia teknik sipil,” ujar Wendy.

Ia menjelaskan, infrastruktur transportasi memiliki beragam bentuk, seperti jembatan, jalan layang (flyover), terowongan bawah jalan (underpass), hingga perlintasan kereta api. Masing-masing memiliki fungsi dan pertimbangan desain yang berbeda sesuai kondisi lapangan.

Menurut Wendy, jembatan dibangun untuk mengatasi hambatan alam maupun buatan, seperti sungai, selat, lembah, hingga persimpangan jalan. Panjang dan bentang jembatan disesuaikan dengan karakteristik lokasi.

Sementara itu, pembangunan flyover dan underpass bertujuan menghilangkan perlintasan sebidang kereta api, mengurangi kemacetan, serta mengoptimalkan pemanfaatan ruang perkotaan. Sebagai contoh, ia menyinggung pembangunan jalur MRT dan LRT di sejumlah kota.

Komponen Penting Jembatan

Wendy memaparkan sejumlah komponen utama dalam pembangunan jembatan, di antaranya box girder, hawk box girder, rigid body roller, pier head (kepala pilar), pile cap, serta pondasi.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita. (dok CTIS)

Selain itu terdapat elemen struktur lain seperti girder baja berbentuk U, diafragma internal dan eksternal, serta pelat beton. Seluruh komponen tersebut berfungsi mendistribusikan beban sekaligus menjaga stabilitas struktur jembatan.

Struktur pilar (pier) sendiri terdiri atas pier head, pile cap, pondasi, dan kolom penyangga yang dipadukan dengan berbagai tipe girder sesuai kebutuhan konstruksi.

Dalam perancangan jembatan, insinyur juga harus memperhitungkan berbagai jenis beban, mulai dari beban mati, beban hidup, beban kejut, gaya horizontal seperti gaya sentrifugal, gaya lateral, gaya pengereman, hingga gaya longitudinal.

Selain itu, terdapat pula beban angin, gempa bumi, tekanan air, serta tekanan tanah aktif yang harus menjadi bagian dari perhitungan desain.

“Fenomena aerodinamika seperti vortex shedding dan flutter menjadi perhatian khusus pada jembatan gantung maupun cable-stayed karena dapat mengganggu stabilitas struktur,” jelasnya.

Belajar dari Kasus Keruntuhan Jembatan

Wendy juga mengulas sejumlah kasus keruntuhan jembatan di berbagai negara sebagai pembelajaran bagi dunia teknik sipil.

Salah satunya adalah runtuhnya Jembatan Tacoma di Amerika Serikat. Saat kejadian, kecepatan angin sekitar 42 mph atau 67 km/jam memicu osilasi torsi yang semakin besar hingga menyebabkan jembatan ambruk.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas struktur dan desain aerodinamika merupakan aspek yang sangat penting untuk mencegah kegagalan konstruksi.

Contoh lainnya adalah Jembatan Laagen River di Norwegia yang ambruk akibat kerusakan pondasi. Sementara itu, Jembatan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur runtuh karena kegagalan kabel hanger yang dipicu kelemahan struktur dan minimnya pemeliharaan.

Ia juga menyoroti penggunaan besi cor (cast iron) yang rapuh pada beberapa konstruksi lama, yang dinilai memiliki kekuatan lebih rendah dibandingkan baja.

Selain itu, jembatan gantung di China dilaporkan ambruk akibat retakan struktur dan pergeseran tanah. Sementara jembatan rangka baja jalur kereta api di atas Sungai Glagah, Tonjong, Brebes, runtuh akibat banjir, usia struktur yang telah tua, serta benturan material hanyut.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
Jembatan Ampera. (dok Pemkot Palembang)

Pondasi Menjadi Kunci Kekuatan Struktur

Menurut Wendy, pondasi merupakan elemen terpenting dalam pembangunan jembatan maupun gedung bertingkat.

Ia mengibaratkan pondasi tiang sebagai paku raksasa yang menembus lapisan tanah lunak hingga mencapai batuan dasar (bedrock), sehingga mampu menopang beban struktur yang sangat besar.

Saat ini, penggunaan tiang pancang beton modern semakin banyak diterapkan untuk menjamin stabilitas konstruksi berskala besar.

“Keberadaan pondasi sangat menentukan kekuatan struktur, terutama pada wilayah dengan kondisi tanah lunak atau tidak stabil. Lapisan batuan dasar (bedrock) memberikan daya dukung yang tinggi bagi bangunan maupun jembatan bertingkat besar,” kata Wendy.

Perancangan pondasi yang baik, lanjutnya, dapat mencegah berbagai kegagalan struktur, termasuk pergeseran maupun penurunan pondasi yang menjadi penyebab sejumlah kasus keruntuhan jembatan.

Di akhir diskusi, Wendy menegaskan bahwa kelemahan struktur, cacat material, dan kurangnya pemeliharaan merupakan penyebab utama runtuhnya jembatan.

Ia menambahkan, fenomena aerodinamika seperti vortex shedding dan flutter juga dapat memicu keruntuhan apabila tidak diantisipasi sejak tahap perancangan.

Karena itu, desain aerodinamika yang baik, pemilihan material yang tepat, inspeksi rutin, serta pemeliharaan berkala menjadi faktor penting untuk menjamin keselamatan dan umur layanan jembatan.

“Integritas pondasi harus selalu dijaga karena kerusakan pondasi dapat menyebabkan kegagalan struktur secara keseluruhan. Pemantauan berkelanjutan serta kepatuhan terhadap standar rekayasa teknik sangat diperlukan untuk mencegah kecelakaan dan menjamin umur layanan jembatan,” pungkasnya.

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Pembangunan Infrastruktur Jalan di Indonesia Mahal dan Tidak Efisien

Pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius. Salah satu sorotan utama adalah tingginya biaya penyelenggaraan jalan yang dinilai lebih mahal dibandingkan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Malaysia.

Ketua V Bidang Perkerasan Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI), Ir. Purnomo, menyatakan bahwa perbaikan jalan di Indonesia dilakukan terlalu sering akibat kualitas infrastruktur yang rendah.

Pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius.
Narasumber diskusi CTIS Ketua V Bidang Perkerasan Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI), Ir. Purnomo (jaket biru). (Dok CTIS)

“Biaya penyelenggaraan jalan di Indonesia mahal karena jalan cepat rusak. Sementara di negara lain bisa bertahan hingga 25–30 tahun, di sini setiap 4–5 tahun harus diperbaiki,” ungkap Purnomo dalam diskusi CTIS bertema “Tantangan Penyelenggaraan Infrastruktur Jalan di Indonesia”, Rabu (28/5).

Purnomo mencontohkan Tol Jagorawi yang diresmikan pada 1978 sebagai tol terbaik karena tidak pernah mengalami kerusakan signifikan. Ia menilai tol-tol baru yang dibangun dalam 10 tahun terakhir belum mampu menandingi kualitasnya.

Menurutnya, agar anggaran tidak terbuang percuma, perlu ada solusi konkret mulai dari peningkatan mutu konstruksi, perbaikan sistem drainase, hingga penanganan masalah truk ODOL (Over Dimension Over Load).

Selama 10 tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo, anggaran jalan nasional mencapai Rp57 triliun, dengan 50% dialokasikan untuk pemeliharaan. Namun, pada 2025 anggaran tersebut turun drastis menjadi Rp28 triliun. “Anggaran terbesar justru habis untuk pemeliharaan karena jalan terus-menerus rusak,” ujar Purnomo.

Salah satu indikator kerusakan jalan adalah nilai International Roughness Index (IRI). Di Indonesia, nilai IRI pada banyak jalan tol mencapai angka 8 m/km, jauh di atas batas maksimal 4 m/km sesuai standar pelayanan minimal (SPM) yang ditetapkan Dirjen Bina Marga.

“Analisis saya terhadap kondisi jalan periode 2015–2024 menunjukkan kerusakan dini. Dalam lima tahun seharusnya nilai IRI masih 3, tapi kenyataannya sudah 8. Ini menunjukkan mutu pekerjaan belum optimal,” tegasnya.

 Pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius
Longsor di Tol Cikopo-Palimanan (Cipali). (Dok Kementerian PUPR)

Ia memperkirakan, jika mutu pembangunan jalan ditingkatkan, penghematan anggaran bisa mencapai Rp5 triliun hingga Rp10 triliun per tahun. Dari simulasi IRI 5,05 m/km, uang publik yang ‘menguap’ setiap tahun diperkirakan mencapai Rp2.467,97 triliun. Jika diturunkan ke IRI 3,79 m/km, kerugian bisa ditekan menjadi Rp2.149,61 triliun.

Selain kualitas konstruksi, masalah ODOL menjadi faktor lain yang mempercepat kerusakan jalan. Kementerian PUPR mencatat kerugian akibat ODOL mencapai Rp43 triliun per tahun. Meski Road Map Zero ODOL sudah dirancang sejak 2020 dan dijadwalkan berlaku 2023, implementasinya terus mundur hingga kini.

“Sudah 50 tahun masalah ODOL tidak terselesaikan. Saya dengar Menko Infrastruktur AHY menargetkan penyelesaian pada 2026. Kita tunggu komitmen itu,” ujarnya.

Ia juga menyayangkan maraknya praktik ‘damai’ di lapangan. “Banyak truk tetap beroperasi dalam kondisi ODOL karena membayar koordinator jalan sebesar Rp1,5 juta per bulan,” katanya.

Dampaknya, biaya logistik di Indonesia terus melonjak, bahkan tertinggi di Asia yakni 23,5% dari PDB. Pemerintah berambisi menurunkannya menjadi 14,1%, namun angka ini hanya mencerminkan biaya logistik domestik. Biaya logistik ekspor sendiri mencapai 8,98% dari PDB.

“Jadi, tantangan kita masih besar untuk benar-benar menurunkan beban logistik secara menyeluruh,” tutup Purnomo.

Pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia hingga kini terus menuai masalah yang nampaknya tidak pernah terselesaikan.
Diskusi CTIS bertema “Tantangan Penyelenggaraan Infrastruktur Jalan di Indonesia”, Rabu (28/5) dengan narasumber Ketua V Bidang Perkerasan Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI), Ir. Purnomo (jaket biru). (Dok CTIS)

 

Solusi ODOL

Masalah ODOL ini menurut Purnomo konsepnya sederhana yaitu dengan menambah atau memperkuat sumbu. Contohnya dari dua sumbu menjadi tiga atau empat dan lima sumbu.

Dengan lebih banyak sumbu, beban muatan dapat tersebar lebih merata di seluruh kendaraan, Juga mengurangi tekanan pada setiap sumbu dan meminimalkan risiko kelebihan muatan.

Penggunaan truk dengan banyak sumbu dapat meningkatkan efisiensi transportasi, mengurangi biaya per ton dan mengurangi jumlah perjalanan yang dibutuhkan.

Bila cara itu masih kurang ampuh karena perusahaan masih bertahan dengan truk dua sumbu arau tiga sumbu, maka bisa menggunakan Weight In Motion (WIM) System.

Sistem ini sudah dilaksanakan diThailand sejak 2015, China pada 2018 dan Malaysia sejak 2020. Negara-negara tersebut menggunakan  Weight In Motion (WIM) System. Bukan lagi menggunakan jembatan timbang atau cegatan di jalan oleh polisi.

WIM System adalah sistem mengukur berat kendaraan saat sedang bergerak. Sistem ini umumnya dipasang di jalan raya, pelabuhan, dan area lain.

WIM menggunakan sensor khusus yang ditempatkan di permukaan jalan untuk mengukur beban roda kendaraan.

Petugas cukup memantau semua kendaraan yang melintas di area dipasangi WIM System ini di ruang kendali, Kemudian mereka akan mencatat siapa saja truk yang melanggar. Sistem ini mirip dengan tilang elektronik.

 Pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius.
proyek Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS), termasuk Ruas Rengat-Pekanbaru seksi Lingkar Pekanbaru sepanjang 30,57 km. (dok HK)

Perataan, Pengerasan dan Pemadatan Tanah

Dalam menangani kerusakan jalan maka harus diperhatikan adalah perataan tanah.

Mengapa perataan tanah penting karena untuk menciptakan permukaan yang rata sesuai dengan desain, menghilangkan tonjolan, cekungan yang bisa membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Tingkat kerataan jalan mengacu pada IRI merupakan faktor penting untuk memastikan kualitas konstruksi jalan yang sesuai dan untuk kenyamanan pengemudi.

Prosesnya melibatkan pengukuran dan penentuan perbesaan ketinggian antara ttik-titik permukaan tanah. Data elevasi yang akurat sangat penting untuk konstruksi jalan, sistem drainase dan proyek infrastruktur lainnya.

Sistem perataan tanah harus memiliki persyaratan teknis jalan seperti memiliki kekuatan sesuai dengan umur rencana, mudah pemeliharaannya dan dilengkapi sistem drainase.

Selain perataan juga pemadatan tanah untuk memastikan kekuatan dan stabilitas tanah dasar (subgrade) sebelun konstruksi jalan.

Nilai CBR tanah dasar harus sesuai dengan standar perkerasan jalan dengan lalu lintas terntentu.

jalan.Perkerasan yang baik  dan fleksibel menurut Purnomo, didesain dengan umur rencana 20 tahun dan perkerasan rigid didesain dengan umur rencana 40 tahun.

Peralatan yang digunakan adalah alat leveling rod, total station atau theodolite untuk pengukuran perbedaan ketinggian. Bahkan di AS peralatan yang digunakan masih menggunakan alat-alat lama. ***