Categories
Domestic S&T News

Preservasi dan Monitoring Berbasis Teknologi Penting Cegah Keruntuhan Jembatan

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan. Langkah tersebut perlu dilakukan melalui inspeksi rutin, pemeliharaan preventif, monitoring, serta penanganan berdasarkan tingkat kerusakan dan risiko.

Hal tersebut disampaikan Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU, dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (19/8/2026).

Diskusi bertema “Memastikan Jembatan (Selalu) Dalam Kondisi Optimal” tersebut diawali pengantar Ketua CTIS Wendy Aritenang dan dimoderatori Ketua IV Bidang Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Diskusi CTIS bertema “Memastikan Jembatan (Selalu) Dalam Kondisi Optimal”, Rabu (19/8/2026) dengan narasumber Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU (tengah kemeja putih). (Dok CTIS)

Dalam paparannya, Herry menjelaskan, kegagalan jembatan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesalahan perencanaan dan pelaksanaan konstruksi, buruknya pemeliharaan, hingga pengelolaan aset yang belum optimal.

“Dalam fase pascakonstruksi, keruntuhan dapat disebabkan sistem daya dukung, kendaraan dengan muatan berlebih atau over dimension over load (ODOL), beban luar, kesalahan penanganan, serta perubahan pemanfaatan jembatan,” kata Herry.

Menurut dia, pengelolaan aset jembatan yang baik membutuhkan data yang mencukupi, akurat, dan diperbarui secara berkala. Data tersebut harus didukung prosedur inspeksi, pemeliharaan, monitoring, dan evaluasi yang andal, termasuk kriteria penilaian kondisi struktur maupun fungsi jembatan.

Preservasi Perpanjang Umur Jembatan

Herry menjelaskan, preservasi jembatan merupakan strategi untuk mencegah, memperlambat, atau mengurangi kerusakan elemen jembatan, mengembalikan fungsi eksisting, menjaga kondisi jembatan tetap baik, sekaligus memperpanjang umur layanan.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Penata Kelola Ahli Utama Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. (Eng). Ir. Herry Vaza, ST., MEngSc., IPU (tengah) didampingi Ketua CTIS Wendy Aritenang (kanan) dan moderator Ketua IV Bidang Infrastruktur CTIS Bambang Goeritno. (dok CTIS)

Salah satu bagian penting dalam preservasi adalah pemeliharaan preventif. Langkah ini dilakukan ketika kondisi jembatan masih relatif baik sehingga penurunan kualitas dapat diperlambat dan kebutuhan biaya besar untuk penggantian jembatan dapat dihindari.

Pemeliharaan preventif antara lain berupa pembersihan struktur, perbaikan sambungan siar-muai, pembersihan drainase, pengecatan baja, pembersihan sungai dari endapan dan sampah, pengamanan terhadap gerusan, serta pelumasan landasan.

Menurut Herry, langkah tersebut penting karena proses kerusakan jembatan tidak selalu langsung terlihat. Pada fase awal, kerusakan dapat belum menunjukkan tanda yang jelas, tetapi kemudian berkembang dengan cepat.

89.000 Jembatan Perlu Dikelola

Dalam paparannya disebutkan, Indonesia memiliki sekitar 89.000 jembatan dengan panjang total sekitar 1.060 kilometer. Dari jumlah tersebut, 46 persen berada dalam kondisi baik, 22 persen mengalami kerusakan ringan, 15 persen kerusakan sedang, 8 persen kerusakan berat, 6 persen kritis, dan 3 persen gagal.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan
Jembatan Balerang 1

Dengan jumlah aset yang besar, sistem manajemen jembatan menjadi penting untuk menentukan prioritas penanganan.

Inspeksi merupakan dasar untuk memperbarui informasi kondisi jembatan. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, membangun sistem peringatan dini, serta menyusun strategi pengelolaan aset dan pembiayaan.

Penilaian kondisi jembatan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan. Nilai kondisi 0-2 dikategorikan baik hingga rusak ringan dan umumnya ditangani melalui pemeriksaan atau pemeliharaan rutin. Nilai 3 masuk kategori rusak berat dan membutuhkan rehabilitasi, sedangkan nilai 4 dan 5 dikategorikan kritis atau runtuh sehingga membutuhkan penggantian.

Selain inspeksi visual, Herry menyoroti pentingnya pemanfaatan instrumentasi atau metode non-destructive test (NDT). Pengukuran respons dinamis, misalnya, dapat digunakan untuk mengetahui perubahan kondisi struktural berdasarkan frekuensi alami jembatan.

Metode tersebut memiliki keunggulan dari sisi kecepatan pengumpulan data, konsistensi, serta efektivitas biaya sepanjang siklus umur jembatan.

Monitoring Koridor Sungai

Selain kondisi struktur, jembatan yang berada di koridor sungai dan perairan menghadapi risiko tambahan berupa lalu lintas kapal, banjir, arus, gerusan, serta perubahan muka air.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan
Jembatan Musi II di Palembang, Sumatra Selatan. (dok (Baka neko baka/Wikipedia)

Berdasarkan data dalam paparan, faktor hidrologi menjadi salah satu penyebab dominan keruntuhan jembatan. Banjir tercatat menyumbang 24,7 persen dan scouring atau gerusan mencapai 15,2 persen. Sementara faktor desain dan konstruksi mencapai 16,3 persen dan overload 19,1 persen.

Risiko tumbukan kapal juga ditunjukkan melalui sejumlah kasus, antara lain Jembatan Barelang 2 atau Nara Singa. Pada 23 Januari 2019, kapal tanker MT Eastern Glory terbawa arus ketika sedang ditarik dan menabrak jembatan. Insiden tersebut menyebabkan abutment gagal sehingga struktur tidak aman untuk lalu lintas.

Kasus lainnya terjadi di Jembatan Barelang 6 atau Raja Kecil pada 6 Juni 2012. Kapal crane tak bermesin yang terbawa arus menabrak bentang jembatan dan menyebabkan pergeseran tumpuan girder sekitar 1,3 meter serta retak pada area tumpuan.
Dari kasus tersebut, Herry menekankan perlunya pemeriksaan menyeluruh setelah terjadi tumbukan karena dampak benturan dapat menyebar ke elemen struktur lainnya.

“Monitoring perlu diintegrasikan dengan sistem kesehatan struktur jembatan (SHMS) dan inspeksi rutin,” jelasnya.

Monitoring juga perlu mencakup muka air, arus, gerusan, serta clearance atau jarak bebas antara jembatan dan permukaan air maupun kapal.

Teknologi Deteksi Dini

Herry menyoroti karakteristik sejumlah koridor sungai di Indonesia yang memiliki risiko berbeda.

Preservasi dan manajemen aset jembatan perlu diperkuat untuk mencegah kerusakan berkembang menjadi kegagalan bangunan hingga keruntuhan.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah mempercepat perbaikan Jembatan Bailey di Jembatan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. (dok Kementerian PU)

Di Palembang, kepadatan lalu lintas air, ruang gerak yang sempit, dan kondisi arus musiman menjadi faktor risiko. Sistem AIS (Automatic Identification System) dan VTS (Vessel Traffic Service) dapat dimanfaatkan untuk membantu mendeteksi lintasan kapal yang mendekati zona berbahaya di sekitar pilar jembatan.

Di Samarinda, belokan sungai, arus pasang-surut, dan pergerakan tongkang meningkatkan risiko tumbukan terhadap pilar. Karena itu, pemanduan pada segmen kritis, pembatasan operasi saat arus ekstrem, serta pemasangan sistem perlindungan pilar perlu diprioritaskan.

Sementara di koridor Martadipura/Kutai, perubahan muka air dan keberadaan kapal dengan objek tinggi menuntut pengawasan vertical clearance secara real time. Sensor muka air dan clearance digital diperlukan untuk memberikan peringatan sebelum kondisi kritis tercapai.

Secara umum, setelah terjadi dugaan tumbukan, pemeriksaan perlu mencakup pilar, fender, perletakan, sambungan, gelagar bawah, retak lokal, hingga perbedaan elevasi lantai jembatan. Keputusan membuka atau menutup lalu lintas harus didasarkan pada inspeksi cepat, pengukuran deformasi, dan evaluasi keamanan sementara.

Untuk lima jembatan pada koridor sungai atau perairan, rekomendasi mitigasi meliputi pemasangan fender dolphin dan pemanduan wajib di Jembatan Mahakam, pembatasan muatan dan pos pengawasan terpadu di Musi II, VTS serta sensor cuaca di Jembatan Merah Putih, optimalisasi lampu pilar dan modernisasi fender di Ampera, serta sensor clearance real time dan pelarangan pelayaran pada level muka air kritis di Martadipura.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa menjaga jembatan tetap dalam kondisi optimal tidak cukup hanya dengan memperbaiki kerusakan setelah terjadi. Preservasi, inspeksi berbasis data, pemeliharaan preventif, instrumentasi, serta sistem monitoring dan peringatan dini perlu menjadi bagian dari manajemen aset jembatan sepanjang umur layan.

Dengan pendekatan tersebut, risiko kegagalan dapat dideteksi lebih dini, penanganan dapat diprioritaskan berdasarkan tingkat risiko, dan keberlanjutan fungsi jembatan bagi masyarakat dapat lebih terjamin.

Categories
Domestic S&T News

Teknologi Konstruksi Jembatan dan Faktor Keselamatan Struktur

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil. Berbagai inovasi tersebut menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur yang aman, kuat, dan berkelanjutan.

Hal itu menjadi topik utama diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita. Diskusi menghadirkan Ketua CTIS, Wendy Aritenang, sebagai narasumber.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita menghadirkan Wendy Aritenang (nomor 2 dari kiri) sebagai narasumber. (dok CTIS)

Wendy menjelaskan bahwa pembangunan jembatan tidak hanya berkaitan dengan aspek konstruksi, tetapi juga melibatkan berbagai pertimbangan teknis, mulai dari pemilihan jenis jembatan, komponen struktur, faktor keselamatan, hingga pembelajaran dari berbagai kasus kegagalan jembatan di dunia.

“Banyak teknologi perancangan konstruksi serta berbagai pertimbangan struktural pada jembatan, termasuk jenis-jenis jembatan, komponen penyusunnya, faktor keselamatan, hingga studi kasus kegagalan jembatan yang menjadi pelajaran penting dalam dunia teknik sipil,” ujar Wendy.

Ia menjelaskan, infrastruktur transportasi memiliki beragam bentuk, seperti jembatan, jalan layang (flyover), terowongan bawah jalan (underpass), hingga perlintasan kereta api. Masing-masing memiliki fungsi dan pertimbangan desain yang berbeda sesuai kondisi lapangan.

Menurut Wendy, jembatan dibangun untuk mengatasi hambatan alam maupun buatan, seperti sungai, selat, lembah, hingga persimpangan jalan. Panjang dan bentang jembatan disesuaikan dengan karakteristik lokasi.

Sementara itu, pembangunan flyover dan underpass bertujuan menghilangkan perlintasan sebidang kereta api, mengurangi kemacetan, serta mengoptimalkan pemanfaatan ruang perkotaan. Sebagai contoh, ia menyinggung pembangunan jalur MRT dan LRT di sejumlah kota.

Komponen Penting Jembatan

Wendy memaparkan sejumlah komponen utama dalam pembangunan jembatan, di antaranya box girder, hawk box girder, rigid body roller, pier head (kepala pilar), pile cap, serta pondasi.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
diskusi Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) yang digelar pada Rabu (1/7/2026) dengan tema Mengenal Konstruksi Jembatan dan Gedung di Sekitar Kita. (dok CTIS)

Selain itu terdapat elemen struktur lain seperti girder baja berbentuk U, diafragma internal dan eksternal, serta pelat beton. Seluruh komponen tersebut berfungsi mendistribusikan beban sekaligus menjaga stabilitas struktur jembatan.

Struktur pilar (pier) sendiri terdiri atas pier head, pile cap, pondasi, dan kolom penyangga yang dipadukan dengan berbagai tipe girder sesuai kebutuhan konstruksi.

Dalam perancangan jembatan, insinyur juga harus memperhitungkan berbagai jenis beban, mulai dari beban mati, beban hidup, beban kejut, gaya horizontal seperti gaya sentrifugal, gaya lateral, gaya pengereman, hingga gaya longitudinal.

Selain itu, terdapat pula beban angin, gempa bumi, tekanan air, serta tekanan tanah aktif yang harus menjadi bagian dari perhitungan desain.

“Fenomena aerodinamika seperti vortex shedding dan flutter menjadi perhatian khusus pada jembatan gantung maupun cable-stayed karena dapat mengganggu stabilitas struktur,” jelasnya.

Belajar dari Kasus Keruntuhan Jembatan

Wendy juga mengulas sejumlah kasus keruntuhan jembatan di berbagai negara sebagai pembelajaran bagi dunia teknik sipil.

Salah satunya adalah runtuhnya Jembatan Tacoma di Amerika Serikat. Saat kejadian, kecepatan angin sekitar 42 mph atau 67 km/jam memicu osilasi torsi yang semakin besar hingga menyebabkan jembatan ambruk.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas struktur dan desain aerodinamika merupakan aspek yang sangat penting untuk mencegah kegagalan konstruksi.

Contoh lainnya adalah Jembatan Laagen River di Norwegia yang ambruk akibat kerusakan pondasi. Sementara itu, Jembatan Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur runtuh karena kegagalan kabel hanger yang dipicu kelemahan struktur dan minimnya pemeliharaan.

Ia juga menyoroti penggunaan besi cor (cast iron) yang rapuh pada beberapa konstruksi lama, yang dinilai memiliki kekuatan lebih rendah dibandingkan baja.

Selain itu, jembatan gantung di China dilaporkan ambruk akibat retakan struktur dan pergeseran tanah. Sementara jembatan rangka baja jalur kereta api di atas Sungai Glagah, Tonjong, Brebes, runtuh akibat banjir, usia struktur yang telah tua, serta benturan material hanyut.

Perancangan, konstruksi, dan pertimbangan struktur jembatan di Indonesia terus berkembang seiring kemajuan dunia teknik sipil.
Jembatan Ampera. (dok Pemkot Palembang)

Pondasi Menjadi Kunci Kekuatan Struktur

Menurut Wendy, pondasi merupakan elemen terpenting dalam pembangunan jembatan maupun gedung bertingkat.

Ia mengibaratkan pondasi tiang sebagai paku raksasa yang menembus lapisan tanah lunak hingga mencapai batuan dasar (bedrock), sehingga mampu menopang beban struktur yang sangat besar.

Saat ini, penggunaan tiang pancang beton modern semakin banyak diterapkan untuk menjamin stabilitas konstruksi berskala besar.

“Keberadaan pondasi sangat menentukan kekuatan struktur, terutama pada wilayah dengan kondisi tanah lunak atau tidak stabil. Lapisan batuan dasar (bedrock) memberikan daya dukung yang tinggi bagi bangunan maupun jembatan bertingkat besar,” kata Wendy.

Perancangan pondasi yang baik, lanjutnya, dapat mencegah berbagai kegagalan struktur, termasuk pergeseran maupun penurunan pondasi yang menjadi penyebab sejumlah kasus keruntuhan jembatan.

Di akhir diskusi, Wendy menegaskan bahwa kelemahan struktur, cacat material, dan kurangnya pemeliharaan merupakan penyebab utama runtuhnya jembatan.

Ia menambahkan, fenomena aerodinamika seperti vortex shedding dan flutter juga dapat memicu keruntuhan apabila tidak diantisipasi sejak tahap perancangan.

Karena itu, desain aerodinamika yang baik, pemilihan material yang tepat, inspeksi rutin, serta pemeliharaan berkala menjadi faktor penting untuk menjamin keselamatan dan umur layanan jembatan.

“Integritas pondasi harus selalu dijaga karena kerusakan pondasi dapat menyebabkan kegagalan struktur secara keseluruhan. Pemantauan berkelanjutan serta kepatuhan terhadap standar rekayasa teknik sangat diperlukan untuk mencegah kecelakaan dan menjamin umur layanan jembatan,” pungkasnya.