Categories
Domestic S&T News

Limbah Sawit Berpotensi Jadi Bahan Bakar Pesawat Ramah Lingkungan, CTIS Soroti Peluang SAF di Indonesia

Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor penerbangan global. SAF dirancang untuk menggantikan atau dicampur dengan avtur konvensional berbasis fosil dengan bahan baku yang lebih ramah lingkungan.

Isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam diskusi yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (13/5/2026), bertema “Limbah Cair dan Batang Eks Kelapa Sawit Sebagai Bio-Avtur Ramah Lingkungan (Sustainable Aviation Fuel/SAF): Peluang dan Perjuangan Indonesia.”

Diskusi menghadirkan Wendy Aritenang, tenaga ahli Indonesia di Working Group Fuel International Civil Aviation Organization sekaligus Ketua CTIS. Acara dibuka oleh Dewan Pembina CTIS Sukotjo Soeparto dan dimoderatori Wakil Ketua CTIS Idwan Suhardi.

Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor penerbangan global.
Diskusi diselenggarakan oleh Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (13/5/2026), bertema “Limbah Cair dan Batang Eks Kelapa Sawit Sebagai Bio-Avtur Ramah Lingkungan (Sustainable Aviation Fuel/SAF): Peluang dan Perjuangan Indonesia.” (dok CTIS)

Wendy menjelaskan, SAF memiliki fungsi yang sama dengan avtur konvensional untuk pesawat terbang, namun diproduksi dari sumber energi berkelanjutan seperti minyak jelantah, biomassa, limbah pertanian, hingga limbah industri sawit.

“Karena berasal dari sumber nonfosil atau sumber yang dapat diperbarui, SAF dianggap mampu mengurangi jejak karbon penerbangan dibanding bahan bakar jet konvensional,” ujarnya.

Menurut Wendy, pengembangan SAF kini menjadi perhatian dunia. Organisasi seperti International Air Transport Association dan ICAO mendorong penggunaan SAF untuk membantu mencapai target net zero emission industri penerbangan pada 2050.

Potensi Besar Limbah Sawit

Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengembangkan SAF karena memiliki sumber biomassa dan minyak nabati melimpah, khususnya dari industri kelapa sawit.

“Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan SAF karena kaya sumber biomassa dan minyak nabati,” kata Wendy.

Ia menjelaskan, salah satu sumber utama SAF adalah limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME). Selama bertahun-tahun, POME dikenal sebagai limbah industri yang menimbulkan pencemaran dan emisi metana.

Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor penerbangan global.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar mengembangkan SAF karena memiliki sumber biomassa dan minyak nabati melimpah, khususnya dari industri kelapa sawit. (dok Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia/Gapki)

Namun pada akhir November 2025, ICAO mengakui POME sebagai bahan baku resmi SAF internasional. Pengakuan tersebut membuka peluang besar bagi Indonesia untuk masuk dalam rantai pasok bahan bakar penerbangan berkelanjutan dunia.

Selain itu, emisi karbon SAF berbasis POME disebut jauh lebih rendah dibanding avtur fosil. Emisi SAF berbasis POME sekitar 18,1 gCOe/MJ, sedangkan avtur konvensional mencapai sekitar 89 gCOe/MJ. Artinya, pengurangan emisi karbon dapat mencapai hampir 80 persen.

Batang Sawit Eks Replanting Bisa Jadi Bioavtur

Potensi lain juga berasal dari biomassa sawit, termasuk batang pohon sawit tua hasil peremajaan atau replanting. Indonesia setiap tahun melakukan replanting jutaan hektare kebun sawit yang menghasilkan limbah biomassa dalam jumlah besar seperti batang, pelepah, dan tandan kosong.

Wendy menjelaskan, batang eks kelapa sawit mengandung lignoselulosa yang dapat diolah menjadi biofuel generasi kedua, termasuk SAF melalui teknologi gasifikasi maupun alcohol-to-jet (ATJ).

Meski demikian, pengolahan batang sawit menjadi SAF dinilai lebih kompleks dibanding pemanfaatan POME karena membutuhkan teknologi lebih mahal dan infrastruktur industri yang lebih maju.

“Namun bila dikembangkan serius, Indonesia bukan hanya bisa menghasilkan biodiesel seperti saat ini, tetapi juga bioavtur untuk sektor penerbangan internasional,” ujarnya.

Tantangan Industri SAF

Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan dinilai menjadi salah satu solusi penting dalam menekan emisi karbon sektor penerbangan global.
Diskusi menghadirkan Wendy Aritenang, tenaga ahli Indonesia di Working Group Fuel International Civil Aviation Organization sekaligus Ketua CTIS (tengah). Acara dibuka oleh Dewan Pembina CTIS Sukotjo Soeparto (kiri) dan dimoderatori Wakil Ketua CTIS Idwan Suhardi. (dok CTIS)

Dalam diskusi tersebut, Wendy juga mengingatkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi pengembangan SAF di Indonesia.

Menurutnya, produksi SAF membutuhkan investasi besar untuk pembangunan kilang dan teknologi pengolahan. Selain itu, pasar global juga sangat sensitif terhadap isu lingkungan, terutama deforestasi.

Karena itu, ia menegaskan pengembangan SAF sawit Indonesia harus benar-benar berbasis limbah dan tidak berasal dari pembukaan lahan baru.

“Lahan sawit yang sudah ada harus dimaksimalkan untuk pengembangan SAF, tidak perlu membuka hutan baru,” katanya.

Ia juga menilai pemerintah perlu membangun infrastruktur industri SAF dan memberikan kepastian regulasi agar investor tertarik menanamkan modal di sektor ini.

Peluang Hilirisasi Baru Indonesia

Di tengah meningkatnya tekanan global untuk menurunkan emisi karbon penerbangan, industri SAF diperkirakan akan menjadi pasar bernilai miliaran dolar dalam dua dekade mendatang.

Negara-negara seperti Singapura, Amerika Serikat, dan berbagai negara Uni Eropa mulai agresif membangun rantai pasok SAF untuk memenuhi kebutuhan maskapai penerbangan global.

Indonesia dinilai memiliki keunggulan kompetitif karena bahan baku sawit melimpah, limbah tersedia sepanjang tahun, industri sawit telah mapan, serta pengalaman panjang dalam pengembangan biofuel.

Karena itu, SAF disebut berpotensi menjadi babak baru hilirisasi sawit nasional, bukan sekadar ekspor crude palm oil (CPO) mentah.

Ke depan, apabila Indonesia mampu menggabungkan industri sawit, teknologi energi hijau, dan kebijakan keberlanjutan secara serius, limbah sawit berpotensi berubah menjadi sumber devisa baru sekaligus instrumen diplomasi energi hijau Indonesia di tingkat global. ***

Categories
Domestic S&T News

Menuju Net Zero Emission 2060, Biomassa dan Biofuel Dukung Transisi Energi

Tahun 2015 lalu, di Paris, Perancis, Presiden Joko Widodo mewakili Indonesia, bersama para Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan dari seluruh Dunia, menandatangani Perjanjian Paris Untuk Perubahan Iklim.  Kala itu, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan akan mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, atau lebih cepat.  Mulai saat itu, proses transisi energi dari energi berbahan baku fosil menuju energi baru dan terbarukan (EBT) mulai berjalan.

Dalam diskusi di Center for Technology & Innovation Studies (CTIS), Rabu 14 Agustus 2024,  Dr Unggul Priyanto, Ketua Komite Energi CTIS, yang juga mantan Kepala Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi (BPPT), memaparkan tentang Prospek dan Tantangan Penggunaan Energi Baru dan Terbarukan.  Bertindak sebagai moderator, Ketua Komite Aeronautika dan Teknologi Penerbangan CTIS, Professor Anton Adibroto.

diskusi di Center for Technology & Innovation Studies (CTIS), Rabu 14 Agustus 2024,  Dr Unggul Priyanto, Ketua Komite Energi CTIS, yang juga mantan Kepala Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi (BPPT) (kelima dari kiri), memaparkan tentang Prospek dan Tantangan Penggunaan Energi Baru dan Terbarukan.  

Menurut Unggul, yang alumnus ITB dan Kyushu University-Jepang, Indonesia memiliki potensi EBT yang besar, seperti energi hidro, panas bumi, fotovoltaik, biomassa, energi angin, biofuel, bahkan potensi energi nuklir, energi dari limbah dan energi batubara berteknologi Carbon Capture Storage (CCS).

Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan akan mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060
PLTB Sidrap 1 dengan kapasitas 75 MW dari total 30 turbin, listrik yang dihasilkan dapat mengaliri kurang lebih 67.000 s.d 72.000 pelanggan listrik.(Dok PLN)

Oleh sebab itu, peta jalan transisi energi menuju net zero emission Indonesia 2060 perlu disusun dan diimplementasikan.  Tentu prioritas yang perlu dibangun adalah penerapan EBT dengan potensi besar seperti panas bumi, hidro, nuklir dan batubara CCS, kesemuanya ini mencakup 80%.  Sedang 20% lainnya diperoleh dari energi angin, fotovoltaik, biomassa, biofuel dan kedepannya menerapkan energi hidrogen.

Dalam peta jalan transisi energi ini, telah disepakati penghentian pemberian izin pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan baku batubara pada tahun 2030 dan sudah dimulai proses penghapusan operasionalisasi PLTU batubara secara bertahap.

Dalam jangka pendek, PLTU-PLTU batubara dicampur dengan bahan baku biomassa, antara 5 – 10%, melalui proses Co-firing.  Juga penggunaan biofuel untuk campuran BBM ditingkatkan hingga 35%, menggunakan bahan baku minyak sawit.  Disamping itu, penggunaan mobil listrik digencarkan.

Pada kurun 2031 – 2035, selain meningkatkan campuran biofuel dalam BBM hingga 40% dan kendaraan listrik digunakan secara masif, maka penerapan energi hidrogen untuk transportasi mulai pula digencarkan. Saat ini sudah tersedia satu Stasiun Pengisi Bahan Bakar Gas Hidrogen di Ibukota Jakarta dan rencanakan dalam waktu dekat siap beroperasi lagi 13 Stasiun Pengisi Gas Hidrogen lainnya di wilayah Jabodetabek.

Stasiun Pengisian Hidrogen Hijau pertama resmi beroperasi. (dok ESDM)

Pada kurun tahun 2035 – 2040, direncanakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sudah mulai beroperasi di Indonesia, diawali dengan pembangkit berkekuatan 250 MW.  Ditargetkan, pada kurun tahun 2041 – 2050 bauran energi di Indonesia sudah didominasi oleh EBT, termasuk telah tersedia energi Green Hydrogen.  Pada kurun tahun 2051 – 2060, ditargetkan semua listrik sudah dihasilkan dari PLT EBT, dan emisi tersisa tinggal 129 juta ton CO2 saja.

Potensi tenaga air di Nusantara mulai direalisasikan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), seperti PLTA Kayan di Provinsi Kalimantan Utara dengan pembangkit sebesar 9.000 MW.

Lalu ada PLTA Mentarang di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara dengan pembangkit sebesar 1.375 MW, PLTA Nunukan di Kalimantan Utara dengan pembangkit sebesar 250 MW, PLTA Bahao, 1375 MW di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, serta PLTA Mamberamo I, 6630 MW dan PLTA Mamberamo II, 995 MW, keduanya di Papua.  Diharapkan, dengan terbangunnya PLTA-PLTA tadi, maka kawasan kawasan industri baru akan muncul di Indonesia Bagian Timur.

Dalam tahapan transisi energi menuju EBT ini, Unggul menyampaikan saran dan harapan, kiranya industri pembangkit listrik tenaga surya, baterai listrik dan panel fotovoltaik di dalam negeri agar bisa segera dibangun sehingga kandungan lokal pada produk-produk EBT listrik surya di tanah air ini bisa semakin meningkat.

Ia juga mengharapkan kiranya penerapan energi nuklir agar diberikan porsi lebih besar dengan dukungan teknologi PLTN mutakhir, mengingat hingga saat ini harga listrik produk PLTN adalah yang paling murah dibanding dengan Pembangkit Listrik Pembangkit Listrik dengan bahan baku EBT lainnya. ***

sumber : https://agroindonesia.co.id/menuju-net-zero-emission-2060-biomassa-dan-biofuel-dukung-transisi-energi/