Categories
Domestic S&T News

BRIN Percepat Hilirisasi Riset Pangan dan Pertanian untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mempercepat hilirisasi riset pangan dan pertanian agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan langsung oleh industri dan masyarakat.

Komitmen tersebut disampaikan Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, Ph.D, dalam diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Outlook Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2025–2026: Invensi dan Inovasi Bidang Pangan dan Pertanian”, Rabu (5/8/2026).

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS) bertajuk “Outlook Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 2025–2026: Invensi dan Inovasi Bidang Pangan dan Pertanian”, Rabu (5/8/2026). (dok CTIS)

Diskusi dibuka Ketua CTIS Wendy Aritenang, Ph.D, serta dimoderatori Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi.

Puji menjelaskan, Outlook BRIN 2025–2026 di bidang pangan dan pertanian berfokus pada hilirisasi riset dari hulu hingga hilir, penerapan smart farming berbasis kecerdasan buatan (AI) dan Internet of Things (IoT), mitigasi perubahan iklim, serta penguatan kemandirian pangan nasional.

“Riset tidak boleh berhenti di laboratorium. Hasil riset harus mampu menjawab kebutuhan industri sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Puji.

Menurutnya, fokus tersebut dijalankan melalui ORPP BRIN yang membawahi tujuh pusat riset, yakni Pusat Riset Tanaman Pangan, Hortikultura, Tanaman Perkebunan, Peternakan, Budidaya Air Tawar, Budidaya Air Laut, serta Teknologi dan Proses Pangan.

Dukung Program MBG

Selain memperkuat ketahanan pangan, ORPP BRIN juga mendukung program pencegahan stunting dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengembangan teknologi pengolahan pangan berbasis bahan baku lokal.

Beberapa inovasi yang telah dikembangkan antara lain beras analog sebagai alternatif beras berbahan sumber karbohidrat lokal, daging analog berbasis protein nabati, serta produk fermentasi tempe non-kedelai yang memiliki kandungan protein tinggi.

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Puji Lestari, Ph.D, (kiri) bersama moderator Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi.
(dok CTIS)

Di sektor pangan laut, BRIN juga mengembangkan berbagai inovasi, seperti nori berbahan rumput laut lokal, pewarna makanan alami berwarna biru dari spirulina, hingga pemanfaatan mikroalga dan makroalga sebagai sumber protein masa depan.

Hasilkan 12 Varietas Unggul Baru

Puji mengungkapkan ORPP BRIN juga telah menghasilkan 12 Varietas Unggul Baru (VUB) tanaman perkebunan yang telah disetujui untuk dilepas oleh Tim Penilaian Varietas (TPV).

Varietas tersebut meliputi tiga varietas kelapa, dua varietas kakao, lima varietas tembakau unggul asal Lombok Barat, serta dua varietas sagu unggul.

Selain itu, BRIN juga berhasil mengembangkan tomat partenokarpik serta cabai yang tahan terhadap serangan kutu daun (Aphis gossypii), salah satu hama utama penyebab penurunan produktivitas sekaligus penyebar berbagai virus tanaman.

Ketahanan pangan dan inovasi di sektor pangan menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Lima varietas tembakau unggul Lombok Barat hasil riset inovasi ORPP BRIN yaitu Eskot, Layur Besar Gerung, Beboro Labuapi, Kasturi Kediri, dan Layur Kediri. (dok BRIN)

Jawab Tantangan Perubahan Iklim

Puji mengatakan sektor pertanian kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari penyusutan lahan produktif, degradasi tanah, keterbatasan sumber daya air, hingga dampak perubahan iklim yang meningkatkan ancaman hama dan penyakit tanaman.

Karena itu, pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap suhu tinggi maupun serangan organisme pengganggu tanaman menjadi salah satu prioritas riset BRIN.

“Melalui inovasi pemuliaan tanaman, kami berharap dapat menghasilkan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026–2045

Dalam kesempatan tersebut, Puji juga memaparkan Peta Jalan Ketahanan Pangan 2026–2045 yang mencakup enam bidang strategis, yakni:

  • Inovasi teknologi produksi pangan berbasis karbohidrat dan protein;
  • Kemandirian pangan nasional;
  • Inovasi teknologi hilirisasi produksi;
  • Kedaulatan benih dan bibit nasional;
  • Smart Farming Pertanian 4.0;
  • Kebijakan pangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan petani.

Menurut Puji, produksi pangan nasional harus terus ditingkatkan di tengah semakin menyusutnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor sejumlah komoditas pangan sehingga ketahanan pangan nasional masih rentan.

“Digitalisasi dan inovasi pertanian menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat hilirisasi hasil riset agar memberi dampak nyata bagi industri dan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Komisi Pangan dan Pertanian CTIS, Prof. Tien R. Muchtadi, menegaskan hilirisasi riset pangan dan pertanian harus menjadi prioritas nasional.

Menurutnya, Indonesia akan terus mengalami kerugian apabila ketergantungan terhadap impor pangan tidak segera dikurangi melalui penguatan inovasi dan pemanfaatan hasil riset dalam negeri.