Categories
Domestic S&T News

Aplikasi Jejaku Menghitung Jejak Karbon Transportasi Berbasis Data Indonesia

Kenaikan suhu permukaan bumi yang memicu perubahan iklim mendorong berbagai upaya mitigasi, salah satunya melalui penghitungan jejak karbon. Di Indonesia, kini hadir aplikasi bernama Jejaku yang dirancang khusus untuk menghitung jejak karbon sektor transportasi dengan menggunakan basis data nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Wendy Aritenang, ahli lingkungan transportasi sekaligus Ketua Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), dalam diskusi CTIS bertema Pengembangan Indonesia Transport Carbon Calculator Jejaku yang digelar pada Rabu, 29 April 2026.

 Di Indonesia, kini hadir aplikasi bernama Jejaku yang dirancang khusus untuk menghitung jejak karbon sektor transportasi dengan menggunakan basis data nasional.
Wendy Aritenang (tengah), ahli lingkungan transportasi sekaligus Ketua Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), dalam diskusi CTIS bertema Pengembangan Indonesia Transport Carbon Calculator Jejaku yang digelar pada Rabu, 29 April 2026. (dok CTIS)

Diskusi tersebut dimoderatori oleh Bambang Goeritno, Ketua Komite Infrastruktur CTIS, dengan pengantar dari Soekotjo Soeparto. Dalam pemaparannya, Wendy menjelaskan bahwa pengembangan aplikasi Jejaku telah dilakukan selama tiga tahun dan saat ini sudah tersedia untuk diunduh melalui App Store dan Play Store.

Menurut Wendy, Jejaku diinisiasi bersama Bambang Goeritno dan komunitas teknologi informasi sebagai upaya mendorong penggunaan transportasi ramah lingkungan di Indonesia. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pengguna melacak, menghitung, sekaligus mengimbangi (carbon offsetting) jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari, khususnya di sektor transportasi.

“Selama ini, kalkulator karbon yang tersedia umumnya hanya berfokus pada satu moda transportasi, seperti kendaraan bermotor, kereta api, atau pesawat saja. Jejaku hadir sebagai solusi yang mampu menghitung jejak karbon dari berbagai moda transportasi, mulai dari kereta api, bus, taksi, kapal, hingga pesawat,” jelasnya.

Khusus untuk sektor penerbangan, Jejaku mengadopsi data dari organisasi penerbangan internasional, sementara untuk moda transportasi lainnya menggunakan data yang dikembangkan di dalam negeri. Hal ini menjadi keunggulan utama Jejaku dibandingkan platform serupa dari luar negeri.

Jejaku yang dirancang khusus untuk menghitung jejak karbon sektor transportasi dengan menggunakan basis data nasional.
Aplikasi Jejaku menyediakan fitur kalkulator emisi yang memungkinkan pengguna menghitung jumlah karbon dari setiap perjalanan. (dok CTIS)

Aplikasi ini menyediakan fitur kalkulator emisi yang memungkinkan pengguna menghitung jumlah karbon dari setiap perjalanan. Selain itu, pengguna juga dapat mengimbangi emisi yang dihasilkan melalui program carbon offsetting, seperti kontribusi pada penanaman pohon di Indonesia.

Wendy menegaskan bahwa penggunaan data lokal menjadi aspek penting dalam pengembangan Jejaku. Pasalnya, karakteristik transportasi di Indonesia berbeda dengan negara lain, baik dari jenis kendaraan, pola penggunaan, maupun tingkat emisi yang dihasilkan.

“Platform dari luar negeri umumnya menggunakan data dari Eropa atau Inggris, yang tentu tidak sepenuhnya relevan dengan kondisi di Indonesia. Jejaku menggunakan data nasional dengan pengembangan oleh talenta dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti aspek kedaulatan data dalam pengelolaan jejak karbon. Menurutnya, jika data dikelola oleh pihak luar, maka potensi manfaat ekonomi dari perdagangan karbon (carbon trading) juga cenderung mengalir ke luar negeri.

Sebaliknya, melalui Jejaku, hasil dari program offset karbon diharapkan dapat disalurkan untuk mendukung program lingkungan hidup di Indonesia.

Jejaku yang dirancang khusus untuk menghitung jejak karbon sektor transportasi dengan menggunakan basis data nasional.
Jejaku yang dirancang khusus untuk menghitung jejak karbon sektor transportasi dengan menggunakan basis data nasional. (dok CTIS)

Selain sebagai alat hitung, Jejaku juga berfungsi sebagai sarana edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak emisi karbon dari aktivitas transportasi. Pengguna cukup mengunduh aplikasi, membuat akun, dan memasukkan data perjalanan untuk mengetahui besaran emisi yang dihasilkan.

Dengan pendekatan tersebut, Jejaku diharapkan mampu mendorong partisipasi individu dalam mengurangi emisi karbon serta mendukung terciptanya ekosistem transportasi yang lebih berkelanjutan.

Dalam sesi diskusi, Nadirah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti tantangan dalam standarisasi penghitungan jejak karbon. Ia mencontohkan perbedaan emisi pada transportasi kereta rel listrik (KRL) antara jam sibuk dan non-sibuk yang masih menjadi perdebatan.

Isu tersebut, menurut para peserta diskusi, masih memerlukan kajian lebih lanjut guna menghasilkan metodologi penghitungan yang lebih akurat dan representatif. ***