Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.

Eksosom Sel Punca Buka Harapan Baru Terapi Cedera Saraf Tulang Belakang dan Stroke

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.

Salah satu pendekatan yang tengah banyak dikaji adalah pemanfaatan secretome dan eksosom yang dihasilkan Mesenchymal Stem Cells (MSCs).

Potensi tersebut dibahas dalam Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (7/10/2026), dengan tema “Spinal Cord Injury and Stroke Could Paralysis Be Cured? Animal Study and Cases Report”.

Diskusi diawali Ketua CTIS Wendy Aritenang dan menghadirkan Dr. dr. A. Bambang Darwono, SpB, SpOT, FICS, konsultan spine orthopaedic di Gading Pluit Hospital sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara. Diskusi dimoderatori Advisor CTIS Susanto Sutoyo.

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.
Diskusi Centre for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu (7/10/2026), dengan tema “Spinal Cord Injury and Stroke Could Paralysis Be Cured? Animal Study and Cases Report”. (dok CTIS)

Dalam paparannya, Bambang menjelaskan perkembangan riset mengenai secretome dan eksosom sebagai bagian dari mekanisme komunikasi antar-sel.

“Jika sebelumnya vesikel yang dikeluarkan sel lebih banyak dipandang sebagai produk sisa metabolisme, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa vesikel tersebut dapat membawa berbagai molekul yang berperan dalam komunikasi dan respons biologis,” kata Bambang.

Secretome merupakan kumpulan molekul yang disekresikan sel ke ruang ekstraseluler. Salah satu komponennya adalah eksosom, yaitu vesikel ekstraseluler berukuran nano yang membawa berbagai cargo biologis, termasuk protein serta RNA seperti messenger RNA (mRNA) dan microRNA (miRNA).

Eksosom dapat berperan dalam komunikasi antar-sel melalui sejumlah mekanisme, antara lain interaksi dengan reseptor permukaan sel, peleburan membran, maupun proses internalisasi seperti endocytosis. Setelah memasuki sel target, kandungan eksosom dapat memengaruhi berbagai proses biologis.

Karakteristik berukuran sekitar 30–150 nanometer membuat eksosom menarik untuk dikembangkan sebagai nanoplatform dalam kedokteran regeneratif maupun sebagai sistem penghantaran molekul terapeutik.

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.
Ilustrasi cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury). (dok We Are Spine)

Potensi untuk Cedera Saraf Tulang Belakang

Salah satu bidang yang menjadi perhatian Bambang adalah penanganan spinal cord injury (SCI) atau cedera saraf tulang belakang.

“SCI merupakan kondisi kompleks karena kerusakan tidak hanya terjadi pada saat trauma awal, tetapi dapat berlanjut melalui proses cedera sekunder. Proses tersebut antara lain melibatkan iskemia, eksitotoksisitas, inflamasi dan apoptosis sel saraf,” jelasnya.

Karena itu, penanganan SCI tidak hanya diarahkan untuk mengatasi kerusakan awal, tetapi juga mencegah berkembangnya kerusakan sekunder dan mendorong proses pemulihan jaringan saraf.

Bambang memaparkan bahwa tubuh sebenarnya memiliki sejumlah mekanisme respons endogen setelah terjadi cedera. Di antaranya proliferasi sel progenitor, axonal sprouting, remielinisasi dan angiogenesis.

Namun, respons tersebut juga dapat disertai perubahan pada jaringan saraf, salah satunya astrogliosis, yaitu perubahan respons astrosit setelah terjadi cedera pada sistem saraf pusat.

Dalam konteks terapi regeneratif, mekanisme tersebut menjadi salah satu dasar penelitian untuk mencari cara agar lingkungan jaringan yang mengalami cedera dapat mendukung proses regenerasi saraf.

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.
Diskusi diawali Ketua CTIS Wendy Aritenang dan menghadirkan Dr. dr. A. Bambang Darwono, SpB, SpOT, FICS, narasumber diskusi (tengah) didampingi moderator, Advisor CTIS Susanto Sutoyo. (dok CTIS)

MiRNA dan Remielinisasi

Salah satu materi yang menarik perhatian dalam pemaparan adalah peran microRNA, termasuk miRNA-219, dalam proses pemulihan sistem saraf.

MiRNA merupakan molekul RNA berukuran kecil yang dapat mengatur ekspresi gen. Dalam penelitian terkait sistem saraf, miRNA-219 antara lain dikaji karena keterkaitannya dengan diferensiasi oligodendrosit dan proses remielinisasi.

Remielinisasi penting dalam pemulihan fungsi saraf karena mielin berfungsi sebagai lapisan pelindung sekaligus membantu penghantaran sinyal pada serabut saraf.

Bambang mengaitkan miRNA-219 dengan pengaturan chondroitin sulfate proteoglycan (CSPG), salah satu komponen yang berhubungan dengan lingkungan penghambat regenerasi akson setelah cedera sistem saraf pusat.

Namun, potensi mekanisme tersebut masih perlu dilihat dalam konteks perkembangan bukti ilmiah secara keseluruhan. Hasil penelitian laboratorium dan hewan tidak serta-merta berarti terapi tersebut telah terbukti efektif untuk memulihkan kelumpuhan pada manusia.

Perkembangan kedokteran regeneratif membuka peluang baru dalam penanganan cedera saraf tulang belakang (spinal cord injury/SCI) dan stroke.
Inovasi treatment SCI. (dok National Library of Medicine).

Dari Penelitian Hewan hingga Kasus Klinis

Perkembangan riset yang dipaparkan dalam diskusi menunjukkan perjalanan panjang penelitian secretome dan eksosom.

Riset secretome di Lab Dermama disebut telah dimulai sejak 2012. Penelitian kemudian berkembang ke studi hewan pada mencit pada 2018 dan riset eksosom pada 2019.

Pada periode 2019–2025, penelitian diarahkan antara lain pada kasus SCI dan stroke. Penelitian lain mencakup studi multisenter COVID-19 bersama Kementerian Riset dan Teknologi pada 2020, studi hewan menggunakan kelinci pada 2022 serta penelitian bersama BRIN.

Pada 2025, penelitian juga mencakup studi menggunakan hewan primata Macaca.

Rangkaian penelitian tersebut menggambarkan bahwa pengembangan terapi regeneratif merupakan proses bertahap, mulai dari pemahaman mekanisme biologis, penelitian praklinis, hingga kebutuhan pembuktian keamanan dan efektivitas melalui penelitian klinis.

Tantangan Regulasi Terapi Sel Punca

Selain aspek ilmiah, perkembangan terapi berbasis sel punca dan produk turunannya juga menghadirkan tantangan regulasi. Produk terapi berbasis sel, terapi gen, maupun rekayasa jaringan membutuhkan standar keamanan, mutu dan efektivitas yang ketat sebelum dapat digunakan secara luas.

Dalam diskusi tersebut disinggung Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 8 Tahun 2025 yang menjadi salah satu kerangka evaluasi dan penilaian produk Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs).

Kerangka regulasi tersebut penting seiring berkembangnya teknologi terapi berbasis sel dan produk turunannya.

“Regulasi dibutuhkan agar inovasi kedokteran regeneratif tidak hanya berkembang secara ilmiah, tetapi juga memenuhi persyaratan keamanan dan efektivitas bagi pasien,” jelas Bambang.

Perkembangan eksosom MSCs sendiri menawarkan pendekatan yang berbeda dari terapi berbasis sel secara langsung.

Karena menggunakan produk yang dihasilkan sel, pendekatan ini sering disebut sebagai cell-free therapy. Namun, istilah tersebut tidak berarti risikonya otomatis lebih rendah atau efektivitasnya sudah terbukti; kualitas produk, mekanisme kerja, dosis, metode pemberian, keamanan jangka panjang dan bukti klinis tetap menjadi faktor penting.

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter