Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Revolusi Drone dan AI Ubah Wajah Perang Modern

Perkembangan konflik bersenjata di berbagai kawasan dunia mulai dari Ukraina hingga Timur Tengah menandai babak baru dalam evolusi perang modern. Pola peperangan tidak lagi didominasi oleh mobilisasi besar-besaran pasukan darat dan penggunaan persenjataan konvensional, melainkan bergeser ke pemanfaatan teknologi canggih seperti drone dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Hal tersebut disampaikan oleh Prof. Harijono Djojodihardjo, Sc.D., IPU, ACPE, Penasihat Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), dalam diskusi CTIS yang digelar pada Rabu, 15 April 2026, bertajuk “Drone, Peluru Kendali, dan Roket: Pelajaran dari Konflik Timur Tengah.”

Perang modern kini bertumpu pada integrasi teknologi, khususnya AI, sensor canggih, dan sistem kendali otonom yang memungkinkan respons cepat dan akurat di medan tempur
Prof. Harijono Djojodihardjo, Sc.D., IPU, ACPE, (kiri), Penasihat Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), dalam diskusi CTIS yang digelar pada Rabu, 15 April 2026, bertajuk “Drone, Peluru Kendali, dan Roket: Pelajaran dari Konflik Timur Tengah.” (dok CTIS)

Menurut Harijono, negara-negara yang terlibat konflik maupun yang memiliki potensi konflik tinggi seperti Amerika Serikat, Israel, Tiongkok, Iran, dan Rusi telah melakukan transformasi besar dalam pembangunan kekuatan militernya. Fokus utama tidak lagi semata pada jumlah pasukan, melainkan pada penguatan sumber daya manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (SDM IPTEK) untuk menghasilkan alat utama sistem senjata (alutsista) yang lebih canggih, presisi, dan efisien.

“Perang modern kini bertumpu pada integrasi teknologi, khususnya AI, sensor canggih, dan sistem kendali otonom yang memungkinkan respons cepat dan akurat di medan tempur,” ujar Harijono.

Konflik antara Amerika Serikat yang didukung Israel melawan Iran menjadi salah satu contoh nyata bagaimana teknologi menjadi pusat strategi militer. Konflik tersebut tidak hanya menjadi ajang konfrontasi geopolitik, tetapi juga “etalase global” bagi perkembangan teknologi persenjataan mutakhir.

Salah satu fenomena paling mencolok adalah revolusi penggunaan drone. Jika pada awalnya drone hanya berfungsi sebagai pesawat tanpa awak untuk misi pengintaian, kini teknologi tersebut telah berkembang menjadi sistem tempur terintegrasi berbasis AI.

“Kita menyaksikan evolusi drone yang sangat signifikan. Saat ini drone tidak hanya sebagai alat bantu, tetapi menjadi aktor utama dalam operasi militer,” jelasnya.

Sebagai ilustrasi, Iran menggunakan drone loitering seperti Shahed-136 yang relatif murah sekitar 20 ribu dolar AS dalam strategi serangan bergelombang atau swarm attack. Taktik ini dirancang untuk membanjiri sistem pertahanan lawan dengan jumlah serangan yang besar secara simultan.

Perang modern kini bertumpu pada integrasi teknologi, khususnya AI, sensor canggih, dan sistem kendali otonom yang memungkinkan respons cepat dan akurat di medan tempur
Amerika Serikat mengandalkan drone berteknologi tinggi seperti MQ-9 Reaper. (dok US Auir Force via Wikipedia Public Common)

Di sisi lain, Amerika Serikat mengandalkan drone berteknologi tinggi seperti MQ-9 Reaper dan MQ-4C Triton yang digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, hingga serangan presisi. Perbandingan ini menunjukkan pergeseran menuju perang asimetris, di mana teknologi murah namun masif dapat menantang sistem persenjataan bernilai miliaran dolar.

Fenomena serupa juga terlihat dalam konflik Rusia-Ukraina, di mana peran drone baik produksi dalam negeri maupun pasokan global menjadi sangat dominan. Tiongkok, meskipun tidak terlibat langsung dalam konflik, disebut sebagai produsen drone konsumen terbesar di dunia dan pemasok penting komponen teknologi drone secara global.

Dalam perspektif teknologi, Harijono menjelaskan bahwa drone, peluru kendali (rudal), dan roket memiliki prinsip dasar yang serupa, terutama dalam aspek aerodinamika, sistem propulsi, serta mekanisme kendali. Ketiganya beroperasi berdasarkan hukum fisika yang sama untuk bergerak di atmosfer, namun dibedakan oleh tingkat kompleksitas sistem kendali dan misi operasionalnya.

Dalam praktik peperangan modern, ketiga sistem ini sering digunakan secara bersamaan dalam konsep pertahanan berlapis maupun serangan saturasi. Taktik ini dilakukan dengan meluncurkan sejumlah besar drone, roket, dan rudal secara simultan untuk melumpuhkan sistem pertahanan lawan, baik dari sisi teknologi maupun psikologis.

“Perang saturasi menjadi ciri khas konflik abad ke-21. Tujuannya bukan hanya menghancurkan target fisik, tetapi juga melemahkan kapasitas respons dan mental lawan,” ungkapnya.

Perang modern kini bertumpu pada integrasi teknologi, khususnya AI, sensor canggih, dan sistem kendali otonom yang memungkinkan respons cepat dan akurat di medan tempur,
Prof. Harijono Djojodihardjo, Sc.D., IPU, ACPE, Penasihat Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) (bertopi) dalam diskusi CTIS yang digelar pada Rabu, 15 April 2026, bertajuk “Drone, Peluru Kendali, dan Roket: Pelajaran dari Konflik Timur Tengah.” (dok CTIS)

Lebih jauh, Harijono menekankan bahwa kemajuan teknologi militer tidak terlepas dari kualitas SDM IPTEK yang dimiliki suatu negara. Negara-negara seperti Iran, Tiongkok, Israel, dan Amerika Serikat telah melakukan investasi besar dalam pengembangan pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), riset inovasi, serta pembangunan ekosistem teknologi yang berkelanjutan.

Ia mencontohkan Iran sebagai negara yang mampu mengembangkan kapasitas teknologi pertahanannya meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Menurutnya, hal tersebut didukung oleh kebijakan negara yang fokus pada penguatan pendidikan sains sejak dini, peningkatan kualitas gizi masyarakat, serta pembentukan budaya literasi yang kuat.

“Pengembangan SDM IPTEK tidak bisa instan. Ini dimulai dari pendidikan dasar, budaya membaca, hingga dukungan riset yang konsisten,” ujarnya.

Saat ini, Iran diketahui mengembangkan teknologi AI, nanoteknologi, serta sistem pertahanan berbasis drone dan rudal sebagai bagian dari strategi kemandirian teknologi.

Harijono menegaskan bahwa kehadiran drone dan AI telah mengubah secara fundamental doktrin perang. Jika sebelumnya peperangan bergantung pada kekuatan manusia dan jumlah pasukan, kini peran tersebut semakin digantikan oleh mesin cerdas yang mampu mengambil keputusan secara cepat dan terhubung dalam jaringan tempur digital.

“Inovasi asimetris membuktikan bahwa biaya rendah tidak selalu berarti inferior. Dalam banyak kasus, sistem sederhana namun masif justru mampu mengungguli teknologi mahal,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya konsep pertahanan berlapis yang didukung oleh AI triage yakni kemampuan sistem untuk memprioritaskan ancaman secara otomatis sebagai respons terhadap dinamika perang modern.

Perang modern kini bertumpu pada integrasi teknologi, khususnya AI, sensor canggih, dan sistem kendali otonom yang memungkinkan respons cepat dan akurat di medan tempur
Drone Black Eagle atau Elang Hitam produksi PT Dirgantara Indonesia. (dok PTDI)

Menutup paparannya, Harijono mengingatkan bahwa Indonesia perlu segera mengambil langkah strategis untuk tidak tertinggal dalam transformasi ini. Sebagai negara dengan wilayah geografis yang luas dan tantangan keamanan yang kompleks, Indonesia dinilai perlu membangun ekosistem drone nasional, memperkuat industri pertahanan mandiri, serta meningkatkan kualitas SDM IPTEK.

“Indonesia harus membangun fondasi dari sekarang mulai dari pendidikan STEM, riset inovasi, hingga industri pertahanan berbasis teknologi. Kemandirian adalah kunci dalam menghadapi tantangan keamanan masa depan,” pungkasnya. ***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Gemini Asisten AI Ubah Cara UMKM Bekerja

Kemajuan di bidang Artificial intelligence telah dimanfaatkan banyak perusahan teknologi informasi digital sebagai penyedia data dan informasi yang lebih lengkap karena me-remake apa yang dipikirkan oleh manusia.

Seperti perusahaan Google yang dikenal sebagai perusahaan mesin pencari data, kini mengembangkan Google Gemini.

Diskusi yang digelar oleh CTIS pada Rabu (14/5) mengangkat tema Aplikasi AI untuk Pemberdayaan UMKM Masyarakat di Indonesia dengan nara sumber Sugianto Yoannatan W selaku Education Lead Google Cloud Indonesia dan moderator Dr Ir Jarot S Suroso, MEng.IPU yang juga pengurus CTIS dan Sekjen IATI.

 perusahaan Google yang dikenal sebagai perusahaan mesin pencari data, kini mengembangkan Gemini untuk Google Workspace.
Diskusi CTIS dengan tema Aplikasi AI untuk Pemberdayaan UMKM Masyarakat di Indonesia

Sugianto Yoannatan W menjelaskan bahwa Google menghadirkan Gemini untuk Google Workspace, sebuah inovasi asisten bertenaga kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk merevolusi cara pengguna bekerja sehari-hari.

Terintegrasi dengan aplikasi Google Workspace yang familiar seperti Gmail, Google Docs, Google Sheets, Google Slides, dan Google Meet, Gemini hadir sebagai mitra cerdas yang siap membantu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

Sugi memaparkan beberapa keuntungan spesifik Gemini bagi UMKM, yaitu peningkatan. produktivitas dan efisiensi operasional.

UMKM saat mempromosikan produk melalui website, Gemini akan membantu banyak hal.

Mulai dari menyusun email promosi, membantu menjawab pertanyaan pelanggan, dan membuat pengumuman dengan profesional.

 Google yang dikenal sebagai perusahaan mesin pencari data, kini mengembangkan Gemini untuk Google Workspace.
logo Gemini

 

Membuat konten pemasaran yang lebih mudah. Gemini membantu menghasilkan ide konten, draft postingan di media sosial, deskripsi produk hingga presentasi penjualan yang menarik.

Gemini juga membantu menganalisis data sederhana untu penjualan dan pelanggan di Google Sheets. Hal ini memudahkan pengusaha UMKM untuk mengidentifikasi tren di pasar.

AI buatan Google ini membuat ringkasan informasi penting dengan cepat. Pemilik UMKM mudah memahami poin-poin utama dari email, dokumen, dan transkrip rapat tanpa membuang banyak waktu.

Adanya Gemini,  secara tidak langsung membebaskan waktu pemilik UMKM untuk fokus pada strategi dan pengembangan bisnis.

Tidak kalah menariknya adalah Gemini membantu membangun komunikasi antara pengusaha UMKM dengan konsumen.

Kecerdasan buatan ini membantu merespons pertanyaan dan permintaan pelanggan lebih cepat, personal dan profesional.

Google yang dikenal sebagai perusahaan mesin pencari data, kini mengembangkan Gemini untuk Google Workspace.
Diskusi CTIS dengan tema Aplikasi AI untuk Pemberdayaan UMKM Masyarakat di Indonesia menghadirkan narasumber Sugianto Yoannatan W selaku Education Lead Google Cloud Indonesia (duduk nomor 3 dari kanan)

Bahkan sebagai asisten, Gemini bisa membuat materi promosi lebih menarik dengan ide-ide kreatif dituangkan untuk brosur, postingan di media sosial dan presentasi.

Di tengah maraknya konten-konten promosi produk, Gemini menyumbang ide konten pemasaran yang segar yang menjangkau pasar. Bahkan membantu menuliskan deskripsi produk lebih informatif untuk toko online atau katalog.

“Dan kami menggunakan data-data dari Google untuk membantu semua pengguna Gemini,” ujarnya.

Dengan kata lain hadirnya AI Gemini ini lebih efisien dalam pengoperasian sebuah UMKM.

Sugi mengingatkan bahwa Gemini adalah alat bantu, dan hasil yang dihasilkan tetap memerlukan peninjauan dan penyesuaian sesuai dengan kebutuhan bisnis.

“Secara keseluruhan, Gemini untuk Google Workspace memiliki potensi besar untuk menjadi aset berharga bagi UMKM,” kata Sugi.

Dengan kemampuannya memberdayakan pengguna dengan bantuan AI di berbagai aspek pekerjaan, Gemini diharapkan dapat membantu UMKM bekerja lebih cerdas, meningkatkan efisiensi, dan membuka jalan menuju pertumbuhan lebih signifikan tanpa memerlukan investasi besar. ***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Kecerdasan Artifisial Merambah Kehidupan Sehari-hari

Kecerdasan Artifisial atau Artifical Intelligence (AI) berkembang sangat pesat akhir akhir ini, dan telah mulai merambah pula pada kehidupan sehari hari masyarakat Indonesia.

Tidak terasa, AI telah diterapkan dalam kehidupan sehari hari, dari kegiatan transaksi perbankan, jual-beli secara daring hingga deteksi virus Covid-19, kegiatan pertanian pintar, kegiatan kelautan pintar, penanggulangan bencana dan masih banyak lagi.

Menurut Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), Profesor Hammam Riza, yang juga Ketua Komite AI Center for Technology & Innovation Studies (CTIS), perkembangan AI di Indonesia dilaksanakan oleh Quad-Helix, melibatkan pihak akademisi, bisnis, komunitas dan Pemerintah.

kecerdasan artifisial saat ini sudah masuk dalam kehidupan sehari-hari
Ketua Kolaborasi Riset dan Inovasi Kecerdasan Artifisial Indonesia (KORIKA), Profesor Hammam Riza, yang juga Ketua Komite AI Center for Technology & Innovation Studies (CTIS). (dok KORIKA)

Tercatat, saat ini ada 11 Lembaga Litbang Pemerintah, 11 Universitas, 6 Komunitas dan 9 Industri yang sudah terjun dalam pengembangan Artificial Intelligence (AI) di Indonesia.

Apalagi dengan munculnya teknologi AI Chatbot yang bergerak sangat cepat diakhir triwulan IV,Tahun 2022 lalu, seperti Chat GPT4, LiaMA, LaMDA dan Megatron Turing.

Dalam rangka menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional, 10-12 Agustus 2023, yaitu memperingati terbang perdananya pesawat N-250 Gatotkoco karya putra-putri Indonesia, pada 10 Agustus 1995 lalu (Keppres No.71/Th.1995), maka KORIKA didukung CTIS akan menggelar Artifical IntelligenceInnovation Summit 2023 (AIIS 2023) bertempat di Jakarta International Expo.

AIIS 2023 yang mengambil tema “Democratizing Artificial Intelligence For All” akan membahas penerapan AI pada bidang kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, Smart Mobility & Smart City.

Topik-topik menarik dibidang kesehatan, misalnya yang berkaitan dengan diagnosa kesehatan, data farmasi, data X-ray, data CT-Scan dan beragam peralatan kesehatan yang sudahm memanfaatkan AI didalamnya.

Di bidang pertanian, sudah mulai diterapkan SMART Agriculture, dari metoda pembibitan, penanaman, pemupukan hingga pemanenan yang kesemuanya sudah menggunakan teknologi AI.

Hal ini juga tampak di bidang kelautan dan perikanan, dari penentuan lokasi kumpulan ikan di laut dari satelit, metoda penangkapan ikan hingga metoda budidaya perikanan yang kesemuanya telah mulai memanfaatkan AI.

Memang teknologi AI juga memiliki dampak negatif, terbukti dengan adanya petisi yang ditanda-tangani 20.000 pegiat pengembangan AI, yang menyatakan agar pengembangan Generative AI dapat dihentikan dahulu selama 6 bulan.

Hal ini agar pengembangan teknologi AI dilaksanakan dengan mempertimbangkan resiko yang ditimbulkan, sehingga AI dapat terkelola dengan baik serta memunculkan dampak yang positif.

“Inilah yang akan kita bahas pula pada AIIS 2023 nanti, karena bagaimanapun dampak teknologi AI lebih banyak positifnya daripada aspek negative-nya”, demikan ditegaskan Professor Bambang Riyanto Trilaksono, anggota Dewan Pengarah AIIS 2023, yang juga Guru Besar ITB-Bandung.

dok KORIKA

Memang, akhir akhir ini muncul teknologi deep learning yang memungkinkan dibuatnya algoritma AI dengan kemampuan membuat analisis, laju (trend) dan kesimpulan untuk pengambilan kebijakan dari mega-data yang dihimpun, baik data angka, data verbal, data gambar, data spatial, data suara dan data video.

Aplikasi ini menarik, misalnya, untuk membuat beragam analisis terhadap data digital yang terhimpun, juga hasil survey dan polling, menuju Pemilu 2024.

Algoritma AI untuk Deep Learning ini dapat “dilatih” secara terus-menerus dengan masukan beragam data dan informasi yang semakin banyak dan semakin rinci, sehingga kebijakan yang diambil dapat mendekati tingkat ketepatan di atas 90%.

Tentu aspek negatif, algoritma AI Deep Learning ini adalah bisa dibuatnya kebijakan atau video serta gambar yang deep fake. Hal hal seperti inilah yang nanti akan dibahas bersama sama saat AIIS 2023.

Ketua CTIS, Wendy Aritenang, menyambut baik kerjasama KORIKA dan CTIS dalam kegiatan AIIS 2023, karena ini akan membuka pengetahuan masyarakat tentang teknologi AI menjadi lebih luas.

Apalagi, pada AIIS 2023 digelar pula Kompetisi Dunia Kreatif Dengan Generative AI, yang akan memunculkan talenta talenta muda Indonesia yang terjun membangun Negeri melalui Teknologi AI.