Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Dari Tambang ke Geopolitik: Strategi Indonesia Mengelola Logam Tanah Jarang

Di balik percepatan transisi energi global dan pesatnya revolusi teknologi, terdapat mineral-mineral strategis yang menjadi fondasi peradaban modern. Salah satunya adalah logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE), sekelompok unsur yang menjadi komponen vital baterai kendaraan listrik, turbin angin, panel surya, semikonduktor, hingga sistem pertahanan canggih.

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.

Dalam konteks ini, Indonesia menyimpan potensi strategis yang belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi terbatas bertema Geostrategis Logam Tanah Jarang yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.
Diskusi terbatas bertema Geostrategis Logam Tanah Jarang yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3/2026). (Dok CTIS)

Forum mempertemukan pakar lintas sektor: Dr. Ridwan Djamaluddin dan Dr. Idwan Suhardi (CTIS); Dr. Mirzam Abdurrahman (IPTM-ITB); Prof. Dr. Joko Troyono (Universitas Indonesia); Dr. Fajar Nurjaman (Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN); Koesnohadi (Dewan Pakar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia); Arnazt Purba Andriyanto dan Abdul Bari (PT Aneka Tambang Tbk/Antam); Dr. Ing. M. Abdul Kholiq (Dewan Pertahanan Nasional Kementerian Pertahanan); serta tim peneliti CSIS Indonesia yang terdiri dari M. Habib Abiyan Dzakwan, Dandy Rafitrandi, dan Stefani.

Bayang-Bayang Dominasi Global

Selama dua dekade terakhir, rantai pasok LTJ dunia masih terkonsentrasi pada satu kekuatan utama: China. Negara tersebut tidak hanya unggul dalam produksi, tetapi juga menguasai teknologi pemisahan dan pemurnian mineral tahapan paling krusial yang menentukan nilai tambah industri.

Ketergantungan global pada satu negara memunculkan kekhawatiran strategis. Amerika Serikat, Jepang, hingga Uni Eropa kini berlomba membangun diversifikasi pasokan demi menjaga stabilitas industri teknologi dan pertahanan mereka.

Situasi ini membuka ruang bagi negara-negara pemilik cadangan mineral, termasuk Indonesia.

Cadangan LTJ Indonesia tersebar di berbagai wilayah seperti Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Kalimantan, dan Sulawesi. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan industri bernilai tambah tinggi.

Keterbatasan teknologi pemurnian, minimnya fasilitas hilirisasi, serta belum terbangunnya ekosistem industri berbasis advanced materials menjadi tantangan mendasar.

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.
Logam Tanah Jarang. (Dok CTIS)

Investasi Teknologi: Kunci Melompat

Dalam diskusi, Koesnohadi menegaskan bahwa penguasaan teknologi merupakan faktor pembeda antara negara pengekspor bahan mentah dan negara maju berbasis industri.

Menurutnya, lompatan kemajuan negara maju terjadi melalui investasi besar pada teknologi strategis jangka panjang. Indonesia pun dinilai perlu berani menanam investasi riset pada teknologi kunci yang relevan untuk satu dekade mendatang.

Ia juga menyoroti pentingnya mendorong peneliti domestik mengembangkan teknologi siap pakai agar dapat ditingkatkan ke skala industri.

Pandangan tersebut diperkuat Dr. Fajar Nurjaman yang memaparkan capaian Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam pengembangan teknologi ekstraksi LTJ sejak 2018.

Melalui fasilitas pilot plant di Yogyakarta dan Jakarta, BRIN telah mampu memisahkan unsur strategis seperti lantanum, serium, praseodimium, dan neodimium, material vital bagi industri magnet permanen, baterai kendaraan listrik, dan teknologi energi bersih.

Namun Fajar mengingatkan, penguasaan teknologi tidak berhenti pada kemampuan produksi.

“Indonesia harus mulai merancang teknologi masa depan. Penguatan SDM iptek dan dukungan anggaran riset menjadi faktor penentu,” tegasnya.

Fondasi Industrialisasi Modern

Sementara itu, Prof. Dr. Joko Troyono menempatkan pengembangan advanced materials sebagai fondasi revolusi industri modern. Negara dengan kemampuan sains material yang kuat cenderung memimpin inovasi teknologi global.

Menurutnya, strategi tersebut telah menjadi bagian dari kebijakan nasional, namun implementasinya perlu konsistensi lintas sektor.

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.
Tim peneliti CSIS Indonesia M. Habib Abiyan Dzakwan (nomor 2 dari kiri) dan Dandy Rafitrandi (nomor 1 dari kiri). (Dok CTIS)

Dari perspektif kebijakan strategis, M. Habib Abiyan Dzakwan menilai pengelolaan mineral kritis memerlukan visi negara yang terintegrasi dengan agenda kemandirian energi dan teknologi nasional.

Ia menekankan pentingnya evaluasi transfer teknologi dari kerja sama investasi asing agar tidak berhenti pada eksploitasi sumber daya semata.

Senada, Dandy Rafitrandi menyoroti absennya peta jalan teknologi nasional yang komprehensif.

“Kita belum memiliki pohon teknologi, baru sebatas pohon produk,” ujarnya.

Ia menilai identifikasi teknologi prioritas menjadi langkah mendesak, dengan skema kerja sama antar pemerintah (government-to-government) sebagai model pendanaan paling ideal bagi pengembangan teknologi strategis.

Diplomasi Mineral dan Kesejahteraan

Dr. Ridwan Djamaluddin memandang rivalitas geopolitik Amerika Serikat dan China menjadikan mineral kritis sebagai alat tawar ekonomi-politik global. Dalam situasi tersebut, Indonesia berpeluang memposisikan diri sebagai mitra strategis alternatif melalui diplomasi mineral yang seimbang.

Langkah tersebut perlu diperkuat melalui kebijakan hilirisasi yang konsisten guna meningkatkan nilai tambah dalam negeri.

Di sisi lain, Dr. Idwan Suhardi mengingatkan bahwa pengembangan LTJ tidak boleh berhenti pada ambisi geopolitik dan industri semata.

Pemanfaatan mineral strategis harus mampu mendorong inovasi yang berdampak pada ekonomi mikro serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.

Kebutuhan dunia yang terus meningkat terhadap teknologi bersih dan industri berbasis inovasi menjadikan LTJ bukan sekadar komoditas tambang, melainkan instrumen geopolitik global.
Diskusi terbatas bertema Geostrategis Logam Tanah Jarang yang diselenggarakan Center for Technology and Innovation Studies (CTIS) bekerja sama dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3/2026). (Dok CTIS)

Momentum Naik Kelas

Diskusi tersebut menyimpulkan satu benang merah: logam tanah jarang merupakan pintu masuk Indonesia untuk naik kelas dalam rantai pasok global.

Dari sekadar pemasok bahan mentah, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama industri teknologi tinggi dan energi bersih dunia.

Namun peluang itu mensyaratkan visi jangka panjang, keberanian investasi riset, penguatan SDM iptek, serta konsistensi kebijakan hilirisasi nasional.

Di tengah persaingan geopolitik mineral kritis yang semakin tajam, penguasaan LTJ bukan lagi sekadar isu pertambangan melainkan strategi besar menuju kedaulatan teknologi dan ketahanan ekonomi bangsa. ***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Tata Kelola Logam Tanah Jarang, Fokus Hilirisasi dan Industri Pertahanan

Indonesia dikenal sebagai produsen utama nikel, bauksit, timah, dan tembaga. Di dalam sumber-sumber mineral tersebut, terdapat mineral ikutan bernilai tinggi, termasuk mineral kritis, mineral strategis, serta Logam Tanah Jarang (LTJ).

Pemerintah kini memperkuat reformasi tata kelola mineral dengan fokus khusus pada LTJ dan mineral radioaktif, agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan kementerian dan lembaga terkait menyiapkan tata kelola LTJ dan radioaktif secara terpadu dari hulu hingga hilir.

Pemerintah kini memperkuat reformasi tata kelola mineral dengan fokus khusus pada LTJ dan mineral radioaktif untuk perekonomian nasional
Diskusi CTIS pada Rabu, 10 Desember 2025, menghadirkan Dr. Julian Ambassadur S., ST., MT., Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Industri Mineral (BIM) (duduk no 3 dari kanan), yang membawakan tema “Tata Kelola Industri LTJ dan Radioaktif.” (Dok CTIS)

Isu tersebut menjadi fokus diskusi yang digelar CTIS pada Rabu, 10 Desember 2025, menghadirkan Dr. Julian Ambassadur S., ST., MT., Deputi Sistem dan Tata Kelola Badan Industri Mineral (BIM), yang membawakan tema “Tata Kelola Industri LTJ dan Radioaktif.”

Potensi LTJ Indonesia

Julian mengungkapkan, hasil pemetaan menunjukkan LTJ telah teridentifikasi di 28 lokasi. Sebanyak 9 lokasi telah dieksplorasi awal, dan 3 di antaranya sudah dipetakan secara detail, mencakup wilayah Bangka Belitung dan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Secara global, rantai pasok LTJ saat ini masih dikuasai China. Situasi geopolitik, termasuk perang Rusia-Ukraina, juga berdampak pada pasokan mineral strategis ini. Julian menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump sebelumnya memasukkan isu eksplorasi LTJ dalam poin negosiasi perdamaian Rusia-Ukraina, dan LTJ menjadi bagian dari kebijakan pengurangan tarif dagang untuk Indonesia.

Di sisi lain, embargo AS terhadap China menciptakan krisis akses LTJ. Negara-negara seperti AS dan Uni Eropa kini mendorong investasi daur ulang limbah elektronik untuk mengekstraksi unsur LTJ. “Banyak negara tanpa sumber daya mineral lebih memilih membeli bahan mentah daripada membangun smelter,” jelas Julian.

Pemerintah kini memperkuat reformasi tata kelola mineral dengan fokus khusus pada LTJ dan mineral radioaktif, untuk perekonomian nasional
Logam Tanah Jarang

Indonesia Dorong Hilirisasi

Dengan dinamika global tersebut, Indonesia berupaya mencegah hilangnya potensi LTJ yang terkandung sebagai mineral ikutan, sekaligus mempercepat hilirisasi dan industrialisasi material maju sebagai fondasi kemajuan bangsa.

“Pemerintah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) untuk mengoptimalkan nilai tambah mineral strategis dan memperkuat perekonomian nasional,” kata Julian.

BIM merupakan lembaga non-struktural baru yang dibentuk Presiden Prabowo pada Agustus 2025 untuk mengelola mineral strategis, termasuk LTJ dan mineral radioaktif. Brian Yuliarto ditunjuk sebagai Kepala BIM.

Lembaga ini berperan mendukung industri pertahanan, hilirisasi, serta riset dan pengembangan teknologi pengolahan mineral bernilai tinggi.

Payung Regulasi LTJ dan Radioaktif

Sejumlah aturan terkait LTJ sudah tersedia, di antaranya:

  • Kepmen ESDM No. 296.K/MB.01/MEM.B/2023: menetapkan 47 mineral kritis, termasuk LTJ.
  • PP 96/2021: memasukkan LTJ sebagai mineral logam.
  • PP 39/2025 Pasal 18A: mengamanatkan pengusahaan dan pemanfaatan LTJ yang akan diatur lebih lanjut dalam Permen.
  • Permen ESDM No. 18/2025 Pasal 4: memberi mandat kepada BUMN untuk mengelola LTJ dan memprioritaskan pemanfaatannya di dalam negeri.

Untuk mineral radioaktif, regulasi mengacu pada PP 27/2002 dan PP 39/2025 tentang pemanfaatan mineral radioaktif sebagai sumber energi baru. Julian menegaskan, “Perpres khusus LTJ sedang dipersiapkan. Prinsipnya, pengelolaan tidak diserahkan langsung ke swasta, tetapi melalui kerja sama dengan BUMN Perminas.”

Pemerintah kini memperkuat reformasi tata kelola mineral dengan fokus khusus pada LTJ dan mineral radioaktif untuk perekonomian nasional

Tantangan: Data, Teknologi, dan SDM

Julian menekankan bahwa pengembangan LTJ membutuhkan identifikasi sumber daya yang akurat, baik sumber primer maupun sekunder. Saat ini, data nasional mengenai sebaran LTJ dan status pemanfaatannya masih terbatas. “Pemetaan dan uji unsur menjadi prioritas utama,” ujarnya.

Tantangan lain adalah teknologi pemisahan LTJ, yang di Indonesia masih berada pada level laboratorium. Upaya pilot project sudah dilakukan, antara lain kerja sama Tekmira ESDM dan PT Timah untuk pemurnian dari hidroksida ke oksida.

Dubes RI untuk AS, Indroyono Soesilo, yang hadir melalui Zoom, menyoroti pentingnya pengembangan SDM dan peluang kolaborasi riset. “Universitas Iowa sudah menyiapkan laboratorium untuk joint research. Skema pendanaan bisa cost sharing antara LPDP dan mitra AS. AS sudah siap; sekarang giliran Indonesia menentukan posisi,” ujarnya.

Prof. Budi Susilo Soepandji, Gubernur Lemhannas 2011-2016, menambahkan bahwa pengembangan LTJ dalam skala pilot membutuhkan dana besar, yang akan didukung oleh Danantara. Ia juga menyoroti bahwa sejumlah kebijakan politik terkait mineral strategis masih menunggu penandatanganan di tingkat presiden.

Arah Pengembangan ke Depan

Julian menjelaskan bahwa pemetaan lanjutan LTJ tengah dilakukan di Mamuju dan Bangka Belitung, termasuk pengeboran 30 sumur untuk karakterisasi. Metode pemisahan LTJ masih dikaji untuk menentukan biaya dan teknologi terbaik sebelum diajukan ke pemerintah.

“Fokus kami adalah kejelasan data, penguasaan teknologi, dan tata kelola yang kokoh. Semuanya menentukan keberhasilan Indonesia dalam membangun industri LTJ,” tutup Julian. ***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Logam Tanah Jarang Jadi Fokus Baru Pemerintah Indonesia

Indonesia memasuki fase baru dalam pengelolaan mineral kritis. Logam tanah jarang (LTJ), komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional. Dorongan ini semakin kuat sejak pemerintah membentuk Badan Industri Mineral (BIM) pada 2025, lembaga yang bertugas mengoordinasikan strategi pengembangan mineral strategis, termasuk LTJ.

Isu LTJ mengemuka dalam diskusi ilmiah yang digelar CTIS pada Rabu, 26 November 2025, bertema “Logam Tanah Jarang: Kita Kaya?”. Salah satu pembicara, ahli geologi sekaligus mantan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Ridwan Djamaludin, PhD, menyatakan bahwa perhatian pemerintah terhadap LTJ dalam beberapa pekan terakhir meningkat signifikan.

 Logam tanah jarang (LTJ)—komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional.
Ahli geologi sekaligus mantan Dirjen Minerba Kementerian ESDM, Ridwan Djamaludin, PhD (duduk no 4 dari kiri) narasumber diskusi digelar CTIS, Rabu, 26 November 2025, bertema Logam Tanah Jarang: Kita Kaya?. (Dok CTIS)

“Jarang geologi mendapat perhatian presiden. Namun untuk logam tanah jarang ini, presiden benar-benar memberi fokus, dan kami memberi masukan agar arahan tersebut bisa diwujudkan,” ujar Ridwan.

Seminar Nasional ITB: Menyatukan Ilmuwan dan Pembuat Kebijakan

Sebelumnya, pada 1 November 2025, ITB menggelar seminar nasional bertema prospek LTJ, menghadirkan Kepala BIM Brian Yuliarto, Rektor ITB, serta Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya. Dalam forum tersebut, Brian menegaskan bahwa LTJ bukan mineral yang berdiri sendiri, melainkan hadir sebagai mineral ikutan pada penambangan timah, nikel, bauksit, dan tembaga.

LTJ memiliki peran strategis dalam berbagai teknologi modern—dari magnet permanen, baterai kendaraan listrik dan hybrid, katalis industri, perangkat elektronik, hingga aplikasi pertahanan dan nuklir. “Potensi ekonominya sangat besar bila dikelola dengan benar,” ujar Ridwan.

Sebutan “jarang” merujuk pada kesulitannya diekstraksi dan dimurnikan, bukan pada kelangkaan absolut di alam. China hingga saat ini menguasai rantai pasok LTJ global, dari hulu hingga hilir, berkat teknologi pemisahan yang paling maju di dunia.

Unsur-unsur utama dalam LTJ meliputi cerium, lanthanum, neodymium, praseodymium, dan yttrium, unsur kunci dalam magnet berenergi tinggi dan komponen elektronik canggih.

Logam tanah jarang (LTJ)—komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional.

Apakah Indonesia Benar-Benar Kaya LTJ?

Menurut Ridwan, berbagai survei global pada 2011–2019 memang mengidentifikasi potensi sumber daya LTJ di Indonesia. Namun hingga kini, Indonesia belum memiliki cadangan LTJ yang diakui bernilai ekonomis.

Hal ini berbeda dengan negara seperti Vietnam, India, Australia, dan Brasil, yang cadangannya sudah tervalidasi dan dieksploitasi secara industri. “Kesimpulannya, belum ada eksplorasi sistematis yang benar-benar ditujukan untuk target REE di Indonesia,” tegas Ridwan.

Di kawasan Asia Pasifik, distribusi cadangan LTJ saat ini diperkirakan sebagai berikut:

  • China: 44 juta ton
  • Vietnam: 22 juta ton
  • India: 6,9 juta ton
  • Australia: 3,4 juta ton

Sementara itu, Brasil memimpin di Amerika dengan 22 juta ton, disusul Amerika Serikat dengan 1,4 juta ton. Rusia memiliki sekitar 12 juta ton di Eropa.

Menariknya, Malaysia yang tidak tercatat sebagai negara dengan cadangan besar justru menjadi pemain penting dalam industri pengolahan LTJ melalui kerja sama dengan Amerika Serikat dan juga China.

 Logam tanah jarang (LTJ)—komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional.
Wujud Logam Tanah Jarang. (Dok CTIS)

Peta Indonesia: Potensi Ada, Cadangan Belum Terkonfirmasi

Berdasarkan pemetaan Badan Geologi pada 2019, terdapat 28 lokasi yang mengindikasikan keberadaan LTJ, dengan 9 lokasi sudah dieksplorasi awal. Daerah yang dianggap paling prospektif mencakup: Bangka Belitung, Sulawesi, Kalimantan dan Papua

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, mencatat bahwa estimasi potensi Indonesia bisa mencapai 300 ribu ton LTJ, meski angka ini berbeda antara lembaga seperti MIND ID dan Kementerian ESDM. Intinya, Indonesia memiliki sumber daya, tetapi belum ada cadangan.

Indonesia juga belum memiliki IUP khusus LTJ ataupun wilayah izin khusus untuk komoditas tersebut. Meski demikian, ada preseden penting: pilot plant LTJ PT Timah di Bangka, yang pernah berjalan sebelum dihentikan. “Kita punya cikal bakal yang bisa dihidupkan lagi,” ujar Ridwan.

BIM sendiri mendapat dukungan dari Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), BUMN baru yang ditugaskan mendorong hilirisasi LTJ.

Kerja Sama Internasional: Peluang dengan Amerika Serikat

Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang hadir secara daring, menilai Indonesia berpotensi membuka kerja sama eksplorasi bersama AS. Negara-negara lain seperti Jepang, Australia, Thailand, dan Malaysia sudah menandatangani MoU dengan Washington terkait pengembangan LTJ.

“Indonesia seharusnya bisa melakukan hal yang sama. Amerika pasti tertarik, asal jangan memberikan terlalu banyak syarat,” ujarnya. Ia menyarankan kerja sama dimulai dari joint exploration, tanpa harus menunggu kesiapan pabrik pengolahan atau regulasi lengkap.

Menurut Indroyono, data potensi LTJ nasional juga perlu diperbarui, mengingat keterkaitannya dengan mineral “saudara” seperti tembaga, nikel, bauksit, dan timah. Ia menekankan pentingnya melihat potensi regional lintas batas seperti:

  • Sulawesi dan Papua terhubung dengan Filipina
  • Kalimantan terhubung secara geologi dengan Malaysia

Dari Kedutaan Besar RI di Washington DC, Ibrani menambahkan bahwa isu LTJ kini berada di jantung geopolitik global, terutama setelah AS memasukkan LTJ dalam agenda pertahanan nasional. “Peluang sinergi resources Indonesia-AS sangat relevan dan strategis,” ujarnya.

 Logam tanah jarang (LTJ)—komponen penting dalam industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik presisi, hingga teknologi pertahanan, resmi menjadi salah satu fokus kebijakan nasional.

Membangun Kemampuan Teknologi Dalam Negeri

Ketua CTIS Wendy Aritenang, PhD, menegaskan kesiapan institusinya untuk mendukung arahan Presiden dengan menyusun rekomendasi ilmiah. Sementara itu, moderator diskusi Idwan Suhardi, PhD, menekankan bahwa kemampuan mengolah LTJ akan menentukan daya saing Indonesia dalam teknologi tinggi.

“Penguasaan teknologi pemisahan LTJ bukan hanya soal industri, tetapi fondasi untuk kemandirian teknologi nasional,” ujar Idwan.

Keberhasilan Indonesia akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara mempercepat eksplorasi, menguasai teknologi pemurnian, dan menarik investasi ke industri hilirisasi berbasis LTJ. ***

Kategori
Berita IPTEK Dalam Negeri

Logam Tanah Jarang Bisa Dukung Industri Baterai Listrik di Indonesia, Apa Itu?

Ketika Presiden Jokowi berbicara tentang potensi “harta karun” mineral logam tanah jarang (LTJ) yang dimiliki Indonesia, 30 Mei 2023 lalu, banyak orang yang mengerenyitkan dahi.  Mineral apa ini? Ternyata inilah mineral yang dikenal sebagai Rare-Earth Minerals, yaitu mineral ikutan di tambang-tambang timah.

Bila saat ini Indonesia menambang bijih timah dari mineral Cassiterite (SnO2), maka ternyata banyak mineral ikutannya, seperti Monasit,  Zirkon (ZrSOI4),  Ilemenit (TiO3), Rutil (TiO2), Pasir Kwarsa (SiO2) dan  Xenotime (YPO4).  Dari mineral-mineral ikutan tadi, terutama mineral Monasit, dapat dihimpun 17 unsur kimia logam tanah jarang (LTJ), antara lain Er, Eu, Gd, Ho, La, Lu, Nd, Pr, Sm, Tb, Tm dan Yb.

para ahli Indonesia sudah mulai memanfaatkan ogam tanah jarang untuk mendukung industri baterai listrik di Indonesia. 
Ahli Logam Tanah Jarang (LTJ), Purwadi Kasino Putri (No.4 dari kanan) pada Paparan di Center for Technology & Innovation Studies (CTIS), Rabu, 8 Mei 2024. /CTIS/

Ternyata para ahli Indonesia sudah mulai memanfaatkan LTJ untuk mendukung industri baterai listrik di Indonesia.  Demikian dipaparkan pada diskusi yang digelar Center for Technology and Innovation Studies (CTIS), Rabu, 8 Mei 2024,

Ahli nuklir Indonesia, Purwadi Kasino Putro dari Prime Energi Terbarukan  dalam paparannya yang berjudul “Baterai Untuk Kendaraan Listrik dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Berbasis Logam Tanah Jarang (LTJ), Menuju Kemandirian Energi di Indonesia”, memperlihatkan bahwa proses pemisahan LTJ dari mineral Cassiterite sudah bisa dilaksanakan di Indonesia. Beragam purwa rupa baterai dari LTJ juga sudah bisa diproduksi di tanah air.

Purwadi, yang insinyur teknik nuklir lulusan Universitas Gadjah Mada dan ahli bahan bakar nuklir lulusan Universitas di Jerman itu menegaskan bahwa dengan mencampurkan LTJ pada komponen baterai listrik berbasis Nikel yaitu NMC (Lithium, Manganese, Cobalt Oxide ) atau baterai yang berbasis Lithium, yaitu Lithium Iron Phsophate (LFP), maka baterai listrik ini akan memiliki energi yang lebih kuat, efisiensi yang tinggi, juga baterai akan berusia  lebih panjang.

Secara ekonomis, ini akan sangat menguntungkan Dalam presentasi yang dipandu oleh Dr. Arie Rahmadi, Peneliti Senior BRIN, Purwadi menyampaikan bahwa bahan baku LTJ di Indonesia sangat melimpah, namun  belum dimanfaatkan sebagai bahan baku bernilai tinggi.  Sebagai contoh, pasir kwarsa yang merupakan hasil sampingan produk timah, diekspor keluar negeri sebagai bahan tambang galian C.

“harta karun” mineral logam tanah jarang  yang dimiliki Indonesia
Logam Tanah Jarang (LTJ)

Padahal di situ banyak dijumpai mineral LTJ. Purwadi juga menyatakan bahwa tahap berikutnya dalam pembangunan baterai berbasis LTJ adalah membuat baterai dengan campuran komponen NMC dan LTJ yang siap mengisi pasar baterai mobil listrik dan sepeda motor listrik di tanah air.  Sumberdaya nikel dan LTJ sudah ada di Indonesia.  Tidak itu saja, baterai jenis ini juga dapat mengisi kebutuhan baterai di kapal-kapal nelayan yang sudah tidak menggunakan minyak solar lagi, namun sudah menggunakan motor listrik.

Dalam rangka transisi energi dan penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) maka ada potensi sangat besar untuk penggunaan baterai NMC-LTJ untuk PLTS di tanah air. Menurut Purwadi, target awal industri baterai berbasis LTJ mencapai produksi 7 MegaWatt per-harinya. Apalagi, Pemerintah sudah mematok Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk mobil listrik dan motor listrik pada tahun 2026 adalah 80%.

Seperti diketahui, salah satu komponen bernilai ekonomi terbesar pada mobil listrik dan sepeda motor listrik adalah pada komponen baterainya.  Inilah pasar yang dibidik dari industri baterai berbasis LTJ di Indonesia. *

Sumber: https://seputarcibubur.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-1788078581/logam-tanah-jarang-bisa-dukung-industri-baterai-listrik-di-indonesia-apa-itu?page=all